The Riot

The Riot
I'm Done



Setelah menelusuri kurang lebih ke lima toko yang


berbeda, pada akhirnya Agatha dan Arjuna berhasil mengumpulkan bukti yang


mereka perlukan. Rekaman-rekaman dari kamera pengawas itu dijadikan satu.


Setiap kamera pasti menyorot kejadian tadi malam dari sudut pandang yang


berbeda. Sehingga mereka juga tidak hanya melihat kecelakaan tersebut hanya


dari satu sudut pandang saja.


Sebelum menyimpulkan sesuatu, ada baiknya dilakukan


pengecekan berulang kali. Untuk menghindari kesalahan yang tak terduga. Apalagi


sebagai petugas keamanan, mereka harus bisa mempertanggung jawabkan hasil


analisisnya sendiri. Tidak bisa asal. Bahkan orang biasa saja selalu dituntut


untuk memegang kata-katanya sendiri.


Tim ini telah melakukan pekerjaannya dengan sangat


baik. Semuanya berhasil terkumpul dalam waktu yang terbilang cukup singkat. Ini


adalah salah satu kelebihan jika bekerja sama di dalam tim. Semua akan terasa


jauh lebih ringan dan juga mudah karena dikerjakan bersmaa-sama.


“Kalian kembali lah lebih dulu ke kantor dan bawa


semua bukti yang sudah ditemukan sejauh ini. Jangan sampai ada yang


terlewatkan,” pesan sang pimpinan. Siapa lagi memangnya jika bukan Arjuna.


“Baik!” balas Jeff.


“Tapi, omong-omong memangnya kau mau kemana? Kenapa


menyuruh kami untuk kembali lebih dulu?” tanya Robi kemudian.


Pria  itu


langsung menyuguhinya dengan dua pertanyaan secara sekaligus. Anggap saja yang


kali ini setimpal. Karena selama ini Arjuna juga bersikap demikian. Dia suka


sekali membuat orang lain kebingungan dengan pertanyaannya. Sekarang Robi akan


memutar balikkan situasi tersebut kepada Arjuna.


“Aku harus pergi ke rumah sakit untuk mengambil


hasil uji laboratoriumnya,” ungkap Arjuna dengan apa adanya.


“Mungkin aku akan menjenguk gadis itu juga. Dia


harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sudah merusak fasilitas publik


dan mengganggu kenyamanan umum,” jelasnya kemudian.


“Baiklah kalau begitu,” balas Robi.


“Ku dengar di masih duduk di bangku kuliah. Kalau tidak


salah sedang berada di semester enam,” beber Jeff.


Entah darimana ia tahu soal informasi tersebut.


Tapi, tampaknya tidak ada satu pun dari mereka yang meragukan hal tersebut.


Terlepas dari benar atau tidaknya jika gadis itu merupakan seorang mahasiswi


semester enam, yang jelas ia masih sangat muda. Meski sudah memiliki surat izin


mengemudi dan memiliki umur yang legal, tapi tetap saja berkendara dalam


kondisi mabuk tidak diperkenankan sama sekali. Selain dapat membahayakan nyawa


dirinya sendiri, tidak menutup kemungkinan untuk membahayakan orang lain juga.


“Biasanya orang mabuk-mabukan seperti itu karena


sedang ada masalah!” celetuk Jeff secara tiba-tiba.


“Bagaimana bisa kau menyimpulkan hal seperti itu?”


tanya Agatha penasaran.


“Begini, jika mereka memang hanya ingin minum, pasti


sedikit saja cukup. Tidak sampai berlebihan seperti itu dan berujung mabuk,”


jelas pria itu dengan panjang lebar.


“Kau tahu?Orang-orang sering kali lari dari masalah


yang sedang ia hadapi. Baik itu untuk sementara, atau malah selamanya,”


timpalnya kemudian.


Dari penjelasan Jeff barusan, Agatha berhasil


mendapatkan poinnya. Mendadak ia jadi teringat pada kejadian malam itu. Tepat


pada hari dimana ia menemukan Aaron dengan kondisi mabuk berat dan sedang berkeliaran


di jalanan sendirian. Beruntung itu hanya gang kecil. Jika sampai ia pergi ke


jalan raya, mungkin tidak menutup kemungkinan untuk terjadi kecelakaan.


“Apa dia sedang berada di dalam masalah juga pada


waktu itu?” batin Agatha di dalam hati.


“Ah! Dia memang selalu terjebak dalam masalah,”


lanjutnya kemudian.


Aaron sedang berada dalam masalah. Nyaris seluruh hidupnya merupakan masalah.


Jika dipikir-pikir, ternyata kehidupan pria itu jauh lebih berat. Hampir setiap


hari selalu ada saja masalah. Agatha tidak pernah tahu. Apakah orang lain yang


mencari masalah dengannya, atau jangan-jangan malah pria itu sendiri yang


mencari masalah dengan orang lain.


Sejak pertama kali mereka bertemu, hidupnya memang


tidak pernah tampak menenangkan. Selalu ada saja ancaman. Agatha masih tidak


habis pikir. Penasaran lebih tepatnya. Bagaimana bisa Aaron bertahan di


tengah-tengah dunia yang begitu kejam terhadap dirinya seorang saja. Harus ia


akui jika pria itu memang begitu tangguh. Dia adalah petarung terkuat di


dunianya sendiri.


***


Tanpa pikir panjang lagi, Agatha bergegas menuju


salah satu sepeda motor yang sempat ia tumpangi tadi untuk mengambil helm.


Mereka akan bersiap pulang kembali ke kantor, sementara Arjuna pergi ke rumah


sakit untuk melakukan pemeriksaan tambahan. Dan juga tentunya ada beberapa


berkas terkait yang harus ia ambil sendiri ke sana.


“Hei! Agatha!” sahut pria itu dari kejauhan.


Orang yang dimaksud lantas memutar balik tubuhnya


tanpa mengucapkan sepatah kata pun sama sekali. Ia bahkan ikut memicingkan


kedua matanya, karena cuaca yang sedang begitu terik kala itu.


“Mau pergi kemana?” tanya Arjuna.


Bukannya menjawab, gadis itu malah mengerutkan


dahinya. Sehingga kedua alisnya tampak jadi satu karena kebingungan.


“Bukannya tadi dia yang menyuruh kita untuk kembali


ke kantor? Lantas kenapa sekarang malah bertanya balik?” gumam gadis itu.


“Entahlah!” balas Jeff yang ternyata sudah berada di


sampingnya. Ia bahkan tidak tahu kapan pria itu datang.


“Kau tahu jika terkadang dia suka berubah-ubah.


Tidak bisa diprediksi,” katanya kemudian.


Agatha mengangguk setuju. Apa yang barusan dikatakan


oleh pria itu benar.


“Aku tidak menyuruhmu untuk kembali ke kantor. Hanya


mereka saja!” seru Arjuna dari kejauhan.


“Cepat kemari!” perintah pria itu.


“Kau ikut bersamaku ke rumah sakit. Jangan berusaha


untuk lari dari pekerjaanmu!” tegasnya sekali lagi.


Agatha melonog tak percaya. Kenapa akhir-akhir ini


ia selalu diperlakukan berbeda dengan yang lainnya. Tidak. Ini bukan perlakuan


yang istimewa. Melainkan sebaliknya. Sungguh tidak masuk akal sama sekali.


“Kita bekerja di dalam tim! Tapi kenapa hanya aku


yang terus-terusan dituntut untuk menyelesaikan semuanya?!” protes gadis itu


tak terima.


Meskipun posisi Arjuna jauh lebih tinggi di atasnya,


Agatha sedang tidak mempedulikan hal itu sama sekali. Kali ini ia benar-benar


kesal. Selama ini Agatha menahannya, karena masih menghormati Arjuna. Namun,


semakin lama jika ia tetap diam dan tidak bertindak, sepertinya ia akan menjadi


satu-satunya orang yang tertindas di sini.


“Aku tidak mau pergi ke rumah sakit!” tolak gadis


itu secara mentah-mentah.


Hal ini cukup mengagetkan bagi yang lainnya. Karena


sebelumnya sama sekali tidak ada yang berani menolak perintah Arjuna. Tapi,


gadis itu bisa melakukannya dengan begitu percaya diri. Mengesampingkan semua


kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


“Aku berhenti dari pekerjaan ini!” ucap Agatha


geram.


Ia sudah tidak tahan


lagi dengan perlakuan Arjuna yang selalu menekannya. Dalam waktu dekat, Agatha


akan segera menyerahkan surat pengunduran diri ke kantor.