The Riot

The Riot
Flashback



Acara pertemuan malam


itu hanya dihadiri oleh Immanuel, Zean, Mike dan juga Fadli. Yang jelas tanpa


Agatha. Pria itu memang telah merancang dengan sedemikian rupa dalam waktu yang


terbilang cukup singkat. Ia membereskan segalanya dan membuat pertemuan ini


hanya ada mereka saja.


Topik pembicaraan


mereka malam ini adalah tenang si pengkhianat. Memangnya siapa lagi jika bukan


Agatha. Sudah bisa ditebak sejak awal kenapa ia tidak dilibatkan dalam diskusi


kali ini. Immanuel bahkan memaksanya untuk pulang. Memastikan gadis itu sampai


di apartemennya dan tidak berniat untuk pergi keluar sama sekali.


“Belakangan ini Rienna


sering menanyakan beberapa hal random kepadaku,”


ungkap Zean secara terang-terangan.


Ia tidak ingin


menyembunyikan apa pun lagi kali ini. Zean tidak akan berusaha untuk melindungi


gadis itu seperti biasanya. Untuk kali ini ia tidak akan membela siapa pun.


Zean akan mengatakan sesuatu yang benar jika menurutnya itu perlu untuk


dibenarkan. Begitu pula sebaliknya.


“Hal random bagaimana maksudmu?” tanya Fadli.


“Sebenarnya tidak


random. Dia banyak bertanya soal geng kita ini,” kata Zean.


“Kupikir itu adalah hal


yang wajar karena ia barus bergabung dengan kita. Bukankah Rienna juga


setidaknya perlu tahu tentang kita juga? Bagaimanapun sekarang ia sudah menjadi


salah satu bagian dari kita,” jelas Mike dengan panjang lebar.


Dari cara bicara dan


pemilihan pola kalimatnya, terlihat jelas jika ia sedang berusaha untuk membela


gadis itu. Perbedaan pendapat bisa saja terjadi. Karena tidak semua orang


memiliki pandangan serta pola pikir yang sama. Bahkan mereka memiliki sikap


yang berbeda-beda. Anak kembar saja sekali pun tidak bisa disama ratakan.


“Bukan begitu maksudku!”


bantah Zean.


“Lalu bagaimana?” tanya


Fadli.


“Dia bertanya bukan


seolah-olah memang ingin tahu. Tapi, karena sedang mencari sesuatu,” jelas Zean


dengan singkat.


Sebenarnya pria itu


sama sekali tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan nama Rienna di depan semua orang.


Tapi, pada faktanya itulah yang ia rasakan selama ini.


Entah apa yang terjadi.


Tapi, sepertinya semua orang mulai terpengaruh dan menganggap jika Agatha tidak


sebaik yang mereka kira selama ini. Tidak ada orang yang benar-benar baik. Begitu


pula sebaliknya. Mereka semua menceritakan keburukan Agatha dan menganggapnya


jadi buruk. Padahal apa yang dilakukannya selama ini wajar-wajar saja. Tidak


ada yang keterlaluan sekali. Paling parah hanya tidak menghadiri undangan


perjamuan makan malam Hiraeth saja. Itu pun karena ada suatu alasan dan ia bisa


menjelaskannya.


“Kalau begitu sebaiknya


mulai hari ini kita perlu berhati-hati terhadap gadis itu,” ujar Immanuel di


tengah-tengah rapat.


“Aku setuju!” ucap Zean


yang kemudian diangguki oleh yang lainnya.


Akibat sugesti buruk


yang ia berikan tentang Agatha kepada semua orang, merkea jadi memiliki


pandangan yang buruk juga terhadap gadis itu. Memang benar kalau ia datang


kemari dengan niat untuk menyelidiki pergerakan mereka. Lebih tepatnya mungkin


sebut saja sebagai mata-mata. Tapi, dia tidak sepenuhnya berniat jahat. Tidak bisakah


mereka melihat sisi yang satu itu. Sepertinya memang tidak bisa. Sebab, manusia


memang dilahirkan seperti itu. Mereka lebih mudah dalam melihat satu salah dari


pada seribu kebaikan.


 Sejak hari itu, semua orang jadi tidak percaya


pun itu. Terlepas dari apa yang sedang ia lakukan. Semuanya selalu salah di


mata mereka, sekali pun Agatha melakukan hal yang benar. Hal yang seharusnya


benar.


Cara pandang semua


orang terhadap dirinya berubah drastis sejak hari itu. Mereka semua terpengaruh


dengan perkataan Immanuel yang belum tentu benar. Pria itu saja bahkan tidak


bisa menjamin kebenaran dari hal yang ia sampaikan beberapa waktu lalu.


Bisa dipastikan jika


perubahan sikap Zean terhadap dirinya merupakan akibat dari kejadian malam itu.


Semua ini karena Immanuel. Pria itu sudah merusak rencananya secara tidak


langsung.


Sejak terakhir kali


mereka bicara tadi, Zean sudah tutup mulut. Ia tidak mau berkomentar apa pun


jika itu terkait dengan geng mereka. Suasana berubah jadi canggung. Bahkan atmosfirnya


tidak senyaman dulu lagi. Agatha tidak suka berada dalam situasi seperti ini. Sejak


terjebak macet di tengah jalan tadi, sampai sekarang sudah tiba di markas


utama, perilaku Zean masih sama. Tidak ada yang berubah sama sekali.


Gadis itu kembali


memarkirkan mobil ini di tempat semula. Beruntung tidak ada yang menempati


posisi tersebut. Sehingga ia bisa langsung menggunakannya lagi. Sepertinya


tidak banyak orang yang memarkirkan mobilnya di tempat ini. Sebagian besar


memilih parkiran depan daripada bagian belakang. Selain sedikit lebih sempit,


jaraknya juga terbilang jauh jika dibandingkan dengan parkiran utama.


“Kita sudah sampai!”


ujar Agatha.


“Aku tahu!” ketus pria


itu.


Kemudian tanpa sepatah


kata pun, ia langsung turun. Meninggalkan Agatha begitu saja di dalam mobil. Sampai


sekarang gadis itu masih tidak tahu apa-apa. Sebenarnya apa yang sedang terjadi


di sini sekarang. Kenapa tidak ada orang yang mau memberi tahunya sesuatu.


Padahal tadi


hubungannya dengan Zean masih baik-baik saja. Mereka masih bersikap seperti


biasanya. Tidak ada yang aneh. Bahkan sampai perjalanan pulang pun masih sama. Tidak


ada yang berubah sama sekali. Namun, puncaknya ternyata terjadi pada saat


kemacetan.


“Sepertinya Zean tidak


suka jika aku banyak bertanya seperti ini,” gumam gadis itu sambil berjalan


menyusul langkah Zean dari belakang.


Dugaannya itu tadi bisa


saja benar. Pasalnya, begitu Agatha mengajukan pertanyaan demikian, suasana


hati pria itu langsung berubah. Tidak hanya itu saja. Bahkan raut wajahnya pun


tampak berubah. Ada yang tidak beres. Sepertinya Agatha bertanya di waktu yang


tidak tepat. Sehingga membuat pria itu merasa kesal.


“Kalau begitu aku harus


meminta maaf dengannya,” ucap gadis itu kepada dirinya sendiri.


Selama misi ini belum


selesai, ia harus tetap menjaga hubungan baik dengan para anggota. Hanya merekalah


satu-satunya sumber informasi yang paling mudha dijangkau. Kalau sampai hubungan


mereka retak sedikit saja, maka pasti akan sulit urusannya nanti.


Agatha berpikir jika ia


harus mendapatkan kepercayaan semua orang yang berada di sana. Tapi, pada


faktanya ia gagal. Gadis itu bahkan sudah gagal di tahap awal. Ia sudah gagal,


padahal belum sempat untuk memulainya. Tanpa disadari, posisinya sudah semakin


terancam kini. Namun, Agatha masih berpikir jika ia baik-baik saja.


Tak


ingin ambil pusing soal semua itu, Agatha lantas buru-buru menyusul Zean. Tapi,


ia sama sekali tidak ingin membuat langkah mereka jadi sejajar. Agatha harus


tetap menjaga jarak. Setidaknya sampai amarah pria itu sedikit mereda. Yang jelas


tidak sekarang.