The Riot

The Riot
Practice Room



Agatha masih tidak tahu


kemana tujuan mereka sekarang. Yang jelas, pasti salah satu ruangan di lantai


tujuh. Meski penasaran, gadis itu tidak ingin bertanya sama sekali kepada


Immanuel. Kejadian yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu berhasil


membuatnya tak ingin bicara selama beberapa menit ke depan.


Ruangan berlatih.


Ternyata benar dugaan gadis ini. Tempat tersebut tampaknya sudah dibuka sejak


tadi. Berarti Immanuel bukan sedang mengambil kunci untuk ruang berlatih.


Melainkan kunci ruangan penyimpanan. Sekarang dia mulai paham dengan situasi


serta alur kejadiannya. Tak semua proses pengumpulan jawaban harus dilakukan


dengan cara bertanya. Ada pilihan lain yang dinamakan pengamatan. Kau bisa


melakukannya kalau tidak ada pilihan lain. Terbukti cukup efektif dan tidak


terlalu beresiko.


Semua mata tertuju


kepadanya ketika mereka baru saja masuk. Kepada mereka berdua tentunya. Tidak


ada orang lain di sana kecuali para mafia itu. Sepertinya ruangan ini memang


telah disiapkan khusus untuk mereka dan tidak ada orang lain yang bisa berada


di sini. Kelompok mafia itu akan melakukan apa saja yang mereka mau. Dan


tentunya dengan koneksi serta kekuasaan, akan terasa jauh lebih mudah untuk mendapatkannya.


“Ternyata kalian.


Kukira tadi siapa,” ungkap Fadli.


“Benar, kukira orang


lain berani masuk kemari,” sambung Zean.


Baik Immanuel mau pun


Agatha sama sekali tidak berniat untuk membalas perkataan tersebut.


Sesampainya di sana,


mereka langsung bersiap. Semua orang bersiap lebih tepatnya. Immanuel baru saja


membawakan senjata yang akan mereka gunakan untuk hari ini. Ada beberapa hal


yang tidak perlu dijelaskan, karena semua orang sudah terbiasa dengan benda


yang satu ini. Mulai dari bagaimana cara merakitnya hingga menggunakannya.


Semua orang tampak


begitu familiar. Tidak ada yang merasa kesulitan sama sekali. Bahkan Agatha pun


merasakan hal serupa. Immanuel menyadari hal tersebut. Tangan gadis itu


bergerak dengan lihai untuk merakit senjata. Sepertinya ia juga sudah terbiasa.


Bisa dipastikan jika ini bukan yang pertama kalinya gadis itu merakit senjata


seperti ini.


“Sejak kapan kau


menggunakannya?” tanya Immanuel.


“Menggunakan apa?”


tanya gadis itu balik.


“Senjata seperti yang


sedang kau gunakan sekarang,” jelas pria itu.


Mendengar perkataan


tersebut, Agatha langsung menghentikan kegiatannya. Padahal sebentar lagi


selesai. Hanya tinggal beberapa langkah lagi saja. Tapi tak apa, masih bisa


dilanjutkan lagi nanti.


“Jika aku menjawab


kalau aku sudah belajar cara menggunakan senjata sejak berada di akademi


kepolisisan, tentu mereka akan merasa curiga,” batin gadis itu dalam hati.


Secara logika, dia


tidak mungkin menyampaikan sesuatu yang berpotensi untuk membawanya ke dalam


bahaya. Naluri alaminya akan berusaha untuk melindungi dirinya sendiri. Bukanya


malah melemparkan diri secara suka rela ke sarang buaya. Tidak, dia tidak akan


melakukannya. Beruntung tadi Agatha tidak langsung menjawab. Dia sadar sedang


berada di lingkungan seperti apa kini.


“Sudah beberapa tahun


yang lalu,” jawab gadis itu dengan asal.


“Setidaknya kau perlu


beberapa bekal untuk melindungi dirimu sendiri di dunia yang serba kejam ini,”


jelasnya kemudian.


Immanuel mengangguk


setuju. Kali ini dia sependapat dengan Agatha. Entahlah, tapi yang dikatakan


oleh gadis itu barusan ada benarnya juga. Kau akan habis jika tetap diam dan


tidak memiliki kemampuan apa pun. Tidak usah berpikir jika kemampuan ini untuk


menyelamatkan orang lain. Jangankan orang lain. Dalam kondisi terdesak, meski


ada yang jauh lebih sulit darimu pun, kau akan tetap memilih untuk


menyelamatkan dirimu lebih dulu.


“Darimana kau


mempelajarinya?” tanya Immanuel lagi.


tahu soal yang satu itu!” jawab Agatha dengan ketus. Kemudian segera menyelesaikan


kegiatannya yang sempat tertunda. Ia adalah orang yang selesai paling awal.


Tampaknya sekarang


giliran Immanuel yang merasa kecewa dengan jawaban gadis itu. Dia merasa masih


belum mendapatkan jawaban yang tepat. Agatha sama sekali tidak memenuhi


ekspektasinya. Keinginannya bukan seperti itu.


Sebenarnya apa yang


dilakukan oleh gadis itu masih terbilang tidak terlalu buruk. Setidaknya ia


masih menjawab walau tetap tidak ingin mengekspos jawaban yang sebenarnya.


Daripada Immanuel, ia bahkan tidak bersuara sama sekali tadi. Jika


dilihat-lihat kembali, sepertinya Agatha yang mendapatkan posisi paling parah.


Terlepas dari semua


itu, mereka segera berbaris di tempat yang sudah ditetapnya. Semua orang sudah


siap. Sekarang adalah waktunya. Satu… Dua…. Tiga….


DOR!!! DOR!!! DOR!!!


Beberapa suara tembakan


terdengar pada saat yang bersamaan. Agatha masih bisa mendengar suaranya


sedikit. Padahal ia sudah menggunakan peredam suara di telinganya.


Sudah lama ia tidak


menembak seperti ini. Terakhir kali saat mengejar pelaku pencuran toko emas.


Pelakunya sama sekali tidak mengindahkan perintah dari pohak kepolisian dan


terus berusaha untuk melarikan diri. Jadi, tidak ada pilihan lain kecuali


menembak kakinya. Dengan begitu, sama saja melumpuhkan pergerakannya.


Ada kepuasan tersendiri


di dalam hatinya ketika timah panas yang melesat cepat itu berhasil mencapai


titik sasaran dengan tepat. Sepertinya bukan hanya Agatha saja yang merasa


demikian. Tapi, semua orang yang menembak juga.


Dari milik semua orang,


untuk percobaan pertama hasil yang paling bagus adalah milih Immanuel dan


Agatha. Tidak bisa dipungkiri, Immanuel memang cukup ahli dalam menembak. Sementara


itu, Agatha selalu berada di peringkat kedua setelah Arjuna dalam hal menembak


jika sedang berada di kantor. Semua orang mengakui jika mereka memang handal.


“Wah!!! Sungguh gila,


bagaimama bisa hal ini terjadi?” gumam Fadli.


Tidak hanya Fadli saja.


Semua orang tercengang melihat kehebatan mereka berdua. Peluru itu berhasil


mengenai tepat di pusat titik sasaran. Bidikannya sungguh akurat. Sulit untuk


dipercaya.


“Sebenarnya mata kalian


ini adalah mata manusia biasa atau mata elang?” tanya Zean.


“Menurutmu?” tanya


gadis itu balik.


Zean menggeleng-gelengkan


kepalanya tak habis pikir. Yang ia lihat barusan adalah sebuah keajaiban. Hasil


yang sempurna.


“Sepertinya Alexa akan


mendapatkan saingan baru di sini!” celetuk Mike yang ikut menimbrung secara


tiba-tiba.


“Alexa?” gumam Agatha.


Dahinya tampak berkerut


karena kebingungan. Sehingga kedua alisnya tampak menyatu.


“Oh, sepertinya kami


belum menceritakan siapa itu Alexa. Seharusnya kau bisa bertemu dengannya


kemarin pada saat perjamuan makan malam,” jelas Fadli.


“Salahnya sendiri


kenapa tidak datang kemarin!” sarkas Immanuel.


Mendengar kalimat kasar


seperti itu, ia tidak meluapkan emosinya secara berlebihan. Agatha hanya


berdecak sebal, sambil memutar bola matanya malas. Immanuel selalu saja


membuatnya melakukan hal tersebut.


“Alexa adalah


satu-satunya mafia wanita yang ada di kelompok ini, jauh sebelum kau datang


kemari,” ungkap Fadli secara gamblang.


“Peran utamanya adalah


sebagai sniper,” imbuhnya kemudian.


Agathaa


masih belum bicara. Dia sengaja berniat untuk mendengarkan penjelasan dari pria


itu sampai selesai. Agar semuanya terasa jelas.