
Sesuai dengan janjinya tadi pagi, sekarang Aaron
harus pergi ke markas. Teman-temannya yang lain pasti sudah menunggu di sana.
Pria itu melirik sebentar ke arah jam tangannya. Hanya untuk sekedar memastikan
apakah sekarang sudah waktunya atau belum.
“Setelah selesai makan, tolong kembalikan tempat
makannya ke apartmentku,” pesan Aaron lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana?” tanya gadis itu secara spontan.
“Aku harus pergi sekarang. Ada urusan sebentar,”
katanya.
“Oh, baiklah,” balas Agatha.
“Kalau begitu aku pergi dulu ya!” pamit Aaron.
“Hati-hati di jalan!” seru Agatha.
Setelah kepergian pria itu, ia kembali melanjutkan
kegiatannya yang sempat tertunda. Mereka banyak mengobrol, sehingga Agatha
tidak pernah bisa makan dengan tenang. Lagipula memangnya ada urusan apa pria
itu dengannya. Sebelumnya Aaron tidak pernah memiliki rasa ingin tahu yang
tinggi. Terutama soal pekerjaannya.
Tapi terlepas dari pekara yang tadi, Agatha memang
benar-benar tidak ingin ambil pusing. Isi kepalanya saat ini hampir penuh
karena beberapa hal tidak penting. Jadi ia tidak akan menambahi isinya lagi.
Setelah selesai makan, ia langsung mencuci tempat
makanannya. Berniat untuk segera mengembalikannya ke tempat pria itu. Sesuai
dengan permintaannya tadi. Sepertinya sejauh ini Aaron masih belum mengganti
kata sandi apartmentnya. Jadi tidak ada yang perlu dipusingkan.
Tapi, sebelum itu Agatha akan membereskan tempat
tinggalnya lebih dulu. Terakhir kali ia membereskan semua kekacauan ini adalah
kemarin pagi. Tepat sebelum pergi bekerja. Tapi, lihat saja sekarang bagaimana
keadaannya. Tidak jauh berbeda dengan kapal pecah.
Padahal setelah ia pergi bekerja, tidak ada orang
yang masuk ke sini sama sekali. Lantas bagaimana bisa sekarang bisa menjadi
sekacau ini. Agatha masih tidak habis pikir. Tak percaya jika ternyata pada
dasarnya dirinya sendirilah yang menyebabkan semua kekacauan ini.
“Huh!” Lagi-lagi aku harus melakukan pekerjaan yang
melelahkan!” keluhn gadis itu.
“Padahal beberapa menit yang lalu aku baru saja
selesai mengisi ulang persediaan energiku,” gerutunya sebal.
Tapi, mau tak mau ia tetap harus mengerjakan semuanya
sendirian. Memangnya siapa lagi yang mau membantu. Jika ia tak menyelesaikannya
hari ini, maka belum tentu ada kesempatan lain esok. Kemungkinan selama satu
minggu ke depan ia akan sibuk. Sehingga tidak memiliki waktu lebih untuk
mengurus tempat tinggalnya sendiri. Agatha hanya pulang untuk menumpang makan
dan tidur, setelah itu kembali lagi ke kantor.
Hari ini saja ia bisa tetap berada di rumah karena
memutuskan untuk mengambil cuti satu hari. Izin untuk tidak masuk bekerja.
Hanya satu hari saja. Jika bukan karena pekerjaannya yang kemarin malam,
mungkin ia tidak perlu tetap terjaga semalaman. Dan yang paling penting adalah,
Agatha masih bisa masuk ke kantor hari ini.
Sepertinya jika dipikir-pikir lagi, setiap hari adalah
hari yang melelahkan baginya. Agatha menginginkan kehidupannya yang dulu.
Dimana ia masih bisa menikmati segalanya. Memiliki banyak waktu luang. Tidak
perlu memusingkan banyak hal. Dirinya di beberapa tahun lalu hanya perlo fokus
terhadap urusan akademiknya saja.
Tapi, ini adalah siklus kehidupan. Setiap manusia
pasti akan melewati fase pendewasaan yang sama. Waktu bergerak. Dia tidak
statis. Sehingga tidak ada gunanya menunggu waktu, sementara waktu terus
berjalan cepat tanpa menghiraukan kita sama sekali.
“Apa yang kau lakukan ini sudah benar,” gumam gadis
itu.
“Hanya raga ini yang selalu setia bersamaku dalam
yang peduli kepadanya, lantas siapa lagi?” ucapnya kepada dirinya sendiri.
“Aku tidak salahkan?” finalnya.
Jangan kaget dulu. Apa yang terjadi saat ini
merupakan sesuatu yang normal. Mengingat jika Agatha memang tinggal sendirian
di rumah. Tidak ada orang yang bisa ia ajak bicara. Sehingga menciptakan
monolog dengan sisi lain dari dirinya adalah hal yang lumrah.
Tidak, dia tidak gila sama sekali. Meski kerap kali
bekerja dalam tekanan, kondisi psikisnya masih normal. Kesehatan mentalnya
tidak terganggu. Ia sungguh sedang berada dalam kondisi yang baik-baik saja.
***
Sementara itu di sisi lain Aaron sedang dalam
perjalanan menuju markas. Tempat perkumpulan mereka yang biasanya sudah sempat
diketahui oleh publik. Sehingga mau tak mau kali ini harus berpindah tempat.
Sudah dua bulan sejak terakhir kali mereka pindah kemari. Sejauh ini masih
aman-aman saja.
Markas mereka berada di salah satu bangunan proyek
gedung yang terbengkalai. Mereka memang sengaja memilih tempat yang jauh dari
keramaian. Supaya kejadian yang sama tidak terulang lagi untuk kedua kalinya. Sekali
lagi perlu diingatkan jika pergerakan mereka bersifat tertutup. Tidak sembarang
orang bisa tahu apa yang sedang direncanakan. Sebab, sebagian besar dari
rencana mereka pasti bertentangan dengan masyarakat.
Sedikit banyaknya mereka nyaris selalu berurusan
dengan pihak kepolisian. Tertangkap, lalu kemudian bebas lagi. Begitu saja
siklusnya. Bahkan sampai sekarang ia mereka masih mereka masih kembal mengulang
siklus yang sama seperti sebelumnya. Karena sebelumnya mereka sudah sering
keluar masuk ruang tahanan, maka untuk keluar dari sana bukalah sesuatu yang
sulit. Mereka memiliki setidaknya seribu satu cara untuk mengatasi permasalahan
yang satu itu. Anak-anak itu adalah pemikir jenius. Mereka nyaris tidak pernah
kehabisan akal dalam situasi apa pun.
“Selamat datang bos!!!” sambut semua orang.
“Duduklah!” perintah Aaron yang baru saja datang.
“Sudah kubilang jangan bersikap terlalu formal
seperti itu denganku,” peringatinya sekali lagi.
“Baiklah, lain kali kami akan melakukan sesuai
dengan permintaanmu,” balas salah satu dari mereka.
“Dari kemarin-kemarin kalian juga mengatakan hal
yang sama,” sindirnya.
Aaron membuka jaketnya. Lagipula sekarang sedang
siang bolong. Pasti suhu udaranya masih cukup hangat. Ia hanya akan menggunakan
jaket di saat sedang berkendara saja.
“Apa sudah semua berkumpul di sini?” tanya pria itu
lalu merobohkan tubuhnya di atas sebuah kursi.
Aaron menatap
semua orang yang ada di sekitarnya secara bergantian. Matanya sibuk mengabsen
orang-orang yang biasa bersamanya secara bergantian. Sementara sambil menunggu
jawaban dari mereka. Jika dihitung-hitung kembali, ada sekitar dua belas orang di
sini. Dan itu sudah termasuk dengan dirinya juga.
“Apa mereka semua sungguh ditangkap kemari malam?”
tanya Aaron kepada Mico.
“Benar,” jawab pria itu dengan yakin.
“Sial!” umpatnya.
Aaron menendang sebuah
peti bekas buah yang berada tepat di depannya saa ini. Beruntung yang menjadi
sasaran dari kekesalannya adalah benda mati. Bagaimana jika itu mahluk hidup?
Mungkin orang tersebut sudah benar-benar habis di tangannya. Aaron akan
menyerang secara membabi-buta. Ia tidak peduli tentang apa pun dan tidak akan ada
yang bisa menghentikannya. Pria itu terkadang menjadi tidak kenal ampun.