The Riot

The Riot
Fight



Sepertinya besok ia akan terlambat masuk kantor atau


malah tidak pergi bekerja sama sekali. Hari ini ia sudah bekerja keras. Bukan


hanya demi dirinya sendiri. Melainkan juga demi keselamatan orang banyak.


Mereka selalu lebih mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan


mereka sendiri. Padahal keduanya sama-sama manusia biasa. Mereka hanya sedang


berupaya untuk melindungi manusia lainnya.


“Apa semua baik-baik saja di luar sana?” tanya


sebuah suara yang tiba-tiba muncul.


“Ya, terkendali!” jawab Agatha dengan yakin.


Sampai saat ini saluran HT nya masih terhubung


dengan Arjuna. Jadi, mereka bisa saling bertukar informasi.


Agatha mengeratkan jaketnya. Mencegah hawa dingin


masuk ke dalam pori-porinya. Semakin ke sini, suhu udara di sekitar juga


semakin turun. Meski mereka tinggal di daerah perkotaan, hal itu tidak berpengaruh


sama sekali.


“Bagaimana caranya mendapatkan uang tanpa perlu


bekerja keras?” keluhnya.


Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada tembok ruko.


Kebetulan tadi mereka memilih untuk bersembunyi di antara pertokoan. Ada gang


yang tidak terlalu besar. Cukup untuk dilalui satu orang saja. Sehingga


sepertinya orang-orang tidak akan tahu kalau ada yang bersembunyi di sini.


“Hei! Apa yang kau lakukan di sini?!”  sahut seseorang dari arah yang berlawanan.


Ia tidak terlalu yakin, tapi sepertinya orang


tersebut sedang berusaha untuk berbicara dengan dirinya. Dengan perasaan ragu


sekaligus penasaran, Agatha mulai menaikkan pandangannya. Mencari tahu dari


mana sebenarnya asal suara tersebut.


“Apa kau seorang mata-mata?!”


“Dari mana asalmu?!”


Betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati seorang


pria dengan setelan jaket kulit hitam dan celana jeans dengan warna senada di


hadapannya. Ia bahkan tidak memberikan Agatha sedikit pun kesempatan untuk


menjelaskan. Sejak pertama kali datang, pria itu sudah menyuguhinya dengan


beragam pertanyaan.


Dengan susah payah Agatha menelam salivanya sendiri.


Sial! Bagaimana bisa ia tertangkap. Jika dilihat dari gayanya dalam berpakaian


serta sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan sopan santun sedikit pun, sudah


bisa dipastikan jika ia merupakan salah satu dari mereka. Ya, benar. Dia adalah


anggota dari kelompok mafia yang baru saja datang tadi.


Ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi saat ini.


Pertama, mereka memang sudah menempatkan beberapa orang untuk berjaga di luar


tanpa diketahui oleh Agatha. Dan kemungkinan nomer dua adalah, pria itu baru


saja sampai kemari dan langsung menyadari keberadaan Agatha di sisi lain pintu


masuk.


Entahlah. Entah yang mana satu yang paling benar.


Keduanya terasa sama-sama memungkinkan. Baik itu opsi pertama, maupun opsi ke


dua.


Agatha tidak bisa berkutik sama sekali. Lebih


tepatnya ia tidak tahu harus bersikap bagaimana dan berbuat apa. Mendapatkan


serangan secara mendadak seperti ini berhasil membuatnya kehilangan ide.


“Bangun lo!” bentak pria tersebut.


Beruntung hanya ada satu orang di sini. Jadi, masih


bisa ia tangani. Agatha sengaja menyembunyikan HT miliknya di balik saku


celana. Untuk berjaga-jaga saja jika ada sesuatu yang gawat. Arjuna pasti masih


bisa mendengarnya. Karena ia belum memutuskan sambungannya sejak tadi.


“Buruan!” serunya sekali lagi.


Dengan perasaan kesal, Agatha meremas tangannya


kuat-kuat. Tidak. Bukan sekarang waktunya untuk menyerang.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria itu masih


dengan nada bicara yang sama seperti sebelumnya.


“Semua orang berhak untuk berada di tempat umum,”


“Tidak ada aturan yang dibuat untuk melarang


kebebasan berada di tempat publik,” sambungnya.


“Beraninya kau melawanku?!” pekik pria itu sembari


melayangkan salah satu tangannya. Bermaksud untuk menampar Agatha. Namun,


dengan cepat bisa ditangkis oleh gadis itu.


Beruntung Agatha memiliki gerakan refleks yang


bagus. Kombinasi antara kecepatan dan ketepatannya nyaris sempurna. Sepertinya


ia cocok untuk menjadi atlet dengan bermodalkan hal tersebut. Tapi, pada


kenyataannya gadi situ memang sudah menguasai satu cabang bela diri. Yaitu


Taekwondo. Tidak terlalu bagus untuk dipertandingkan dengan orang lain. Namun,


sudah lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri.


“Dasar!” cecar sang mafia.


Tanpa banyak bicara lagi, Agatha langsung


melayangkan satu tendangan. Membuat pria itu terpukul mundur. Jika ia tidak


ingin memulai permainannya lebih dulu, maka Agatha yang akan melakukannya


dengan melancarkan satu serangan.


Tampaknya pria itu cukup terkejut. Nyaris tak


percaya. Bagaimana bisa seorang gadis bertubuh mungil seperti dirinya memiliki


kemampuan bela diri yang mumpuni. Tidak masuk akal. Sulit memang untuk


dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Dia telah salah dalam memilih lawan.


“Sialan!” umpatnya.


“Apa kau salah satu bagian dari mereka juga?” tanya


Agatha sambil menaikkan salah satu alisnya.


“Itu bukan urusanmu sama sekali!” sarkasnya.


“Cih!”


Agatha sudah muak melihat kelakuan pria itu.


Sepertinya dia tidak bisa diajak bicara baik-baik. Harus menggunakan cara lain


agar dia bisa bicara dengan jujur.


“Akan kuanggap jika jawabanmu yang barusan itu


adalah iya,” ujar Agatha dengan datar.


Akhir-akhir ini ia jadi malas untuk terlalu banyak


bicara. Terlebih kepada orang yang memang tidak bisa diajak berbicara dengan


benar. Hanya buang-buang waktu saja.


Mendadak semangatnya kembali meledak-ledak di dalam


dirinya. Padahal sebelumnya ia nyaris tidak memiliki motivasi sama sekali untuk


bekerja.


“Kalau begitu, kau adalah sampah yang harus


kusingkirkan,” gumam gadis itu.


Dengan posisi bersiap, Agatha menyelipkan salah satu


tangannya ke belakang. Berusaha untuk merogoh sebuah borgol di saku celana


belakangnya. Sementara itu, di saku bagian sampingnya terdapat sebuah senjata


api berupa pistol yang tidak bisa digunakan dengan sembarangan.


Agatha sudah dapat membayangkan bagaimana pola


serangannya. Ia bahkan sudah menargetkan sejak lama titik mana saja yang perlu


diserang untuk melumpuhkan pergerakannya. Terlepas dari semua itu, Agatha juga


sudah menyiapkan rencana cadangan. Untuk berjaga-jaga kalau saja rencana


awalnya sempat gagal karena beberapa faktor yang tak terduga.


“Hiyak!!!!” teriak pria itu dari arah yang


berlawanan.


Dengan sigap Agatha langsung menghindar. Dia tidak


akan berusaha untuk memberikan serangan balik. Tenanganya bisa terkuras habis


tanpa arti. Belum tentu ia bisa menangkap pria itu jika terlalu banyak


menyerang.


“Jadi, kau ingin bermain-main denganku ya?” ucap


Agatha.


“Baiklah, jika itu maumu!” tukasnya.


Alih-laih bersembunyi atau meminta pertolongan,


Agatha malah menantang balik pria itu.