
Sepertinya besok ia akan terlambat masuk kantor atau
malah tidak pergi bekerja sama sekali. Hari ini ia sudah bekerja keras. Bukan
hanya demi dirinya sendiri. Melainkan juga demi keselamatan orang banyak.
Mereka selalu lebih mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan
mereka sendiri. Padahal keduanya sama-sama manusia biasa. Mereka hanya sedang
berupaya untuk melindungi manusia lainnya.
“Apa semua baik-baik saja di luar sana?” tanya
sebuah suara yang tiba-tiba muncul.
“Ya, terkendali!” jawab Agatha dengan yakin.
Sampai saat ini saluran HT nya masih terhubung
dengan Arjuna. Jadi, mereka bisa saling bertukar informasi.
Agatha mengeratkan jaketnya. Mencegah hawa dingin
masuk ke dalam pori-porinya. Semakin ke sini, suhu udara di sekitar juga
semakin turun. Meski mereka tinggal di daerah perkotaan, hal itu tidak berpengaruh
sama sekali.
“Bagaimana caranya mendapatkan uang tanpa perlu
bekerja keras?” keluhnya.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada tembok ruko.
Kebetulan tadi mereka memilih untuk bersembunyi di antara pertokoan. Ada gang
yang tidak terlalu besar. Cukup untuk dilalui satu orang saja. Sehingga
sepertinya orang-orang tidak akan tahu kalau ada yang bersembunyi di sini.
“Hei! Apa yang kau lakukan di sini?!” sahut seseorang dari arah yang berlawanan.
Ia tidak terlalu yakin, tapi sepertinya orang
tersebut sedang berusaha untuk berbicara dengan dirinya. Dengan perasaan ragu
sekaligus penasaran, Agatha mulai menaikkan pandangannya. Mencari tahu dari
mana sebenarnya asal suara tersebut.
“Apa kau seorang mata-mata?!”
“Dari mana asalmu?!”
Betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati seorang
pria dengan setelan jaket kulit hitam dan celana jeans dengan warna senada di
hadapannya. Ia bahkan tidak memberikan Agatha sedikit pun kesempatan untuk
menjelaskan. Sejak pertama kali datang, pria itu sudah menyuguhinya dengan
beragam pertanyaan.
Dengan susah payah Agatha menelam salivanya sendiri.
Sial! Bagaimana bisa ia tertangkap. Jika dilihat dari gayanya dalam berpakaian
serta sikapnya yang sama sekali tidak menunjukkan sopan santun sedikit pun, sudah
bisa dipastikan jika ia merupakan salah satu dari mereka. Ya, benar. Dia adalah
anggota dari kelompok mafia yang baru saja datang tadi.
Ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi saat ini.
Pertama, mereka memang sudah menempatkan beberapa orang untuk berjaga di luar
tanpa diketahui oleh Agatha. Dan kemungkinan nomer dua adalah, pria itu baru
saja sampai kemari dan langsung menyadari keberadaan Agatha di sisi lain pintu
masuk.
Entahlah. Entah yang mana satu yang paling benar.
Keduanya terasa sama-sama memungkinkan. Baik itu opsi pertama, maupun opsi ke
dua.
Agatha tidak bisa berkutik sama sekali. Lebih
tepatnya ia tidak tahu harus bersikap bagaimana dan berbuat apa. Mendapatkan
serangan secara mendadak seperti ini berhasil membuatnya kehilangan ide.
“Bangun lo!” bentak pria tersebut.
Beruntung hanya ada satu orang di sini. Jadi, masih
bisa ia tangani. Agatha sengaja menyembunyikan HT miliknya di balik saku
celana. Untuk berjaga-jaga saja jika ada sesuatu yang gawat. Arjuna pasti masih
bisa mendengarnya. Karena ia belum memutuskan sambungannya sejak tadi.
“Buruan!” serunya sekali lagi.
Dengan perasaan kesal, Agatha meremas tangannya
kuat-kuat. Tidak. Bukan sekarang waktunya untuk menyerang.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria itu masih
dengan nada bicara yang sama seperti sebelumnya.
“Semua orang berhak untuk berada di tempat umum,”
“Tidak ada aturan yang dibuat untuk melarang
kebebasan berada di tempat publik,” sambungnya.
“Beraninya kau melawanku?!” pekik pria itu sembari
melayangkan salah satu tangannya. Bermaksud untuk menampar Agatha. Namun,
dengan cepat bisa ditangkis oleh gadis itu.
Beruntung Agatha memiliki gerakan refleks yang
bagus. Kombinasi antara kecepatan dan ketepatannya nyaris sempurna. Sepertinya
ia cocok untuk menjadi atlet dengan bermodalkan hal tersebut. Tapi, pada
kenyataannya gadi situ memang sudah menguasai satu cabang bela diri. Yaitu
Taekwondo. Tidak terlalu bagus untuk dipertandingkan dengan orang lain. Namun,
sudah lebih dari cukup untuk melindungi dirinya sendiri.
“Dasar!” cecar sang mafia.
Tanpa banyak bicara lagi, Agatha langsung
melayangkan satu tendangan. Membuat pria itu terpukul mundur. Jika ia tidak
ingin memulai permainannya lebih dulu, maka Agatha yang akan melakukannya
dengan melancarkan satu serangan.
Tampaknya pria itu cukup terkejut. Nyaris tak
percaya. Bagaimana bisa seorang gadis bertubuh mungil seperti dirinya memiliki
kemampuan bela diri yang mumpuni. Tidak masuk akal. Sulit memang untuk
dipercaya, tapi itulah kenyataannya. Dia telah salah dalam memilih lawan.
“Sialan!” umpatnya.
“Apa kau salah satu bagian dari mereka juga?” tanya
Agatha sambil menaikkan salah satu alisnya.
“Itu bukan urusanmu sama sekali!” sarkasnya.
“Cih!”
Agatha sudah muak melihat kelakuan pria itu.
Sepertinya dia tidak bisa diajak bicara baik-baik. Harus menggunakan cara lain
agar dia bisa bicara dengan jujur.
“Akan kuanggap jika jawabanmu yang barusan itu
adalah iya,” ujar Agatha dengan datar.
Akhir-akhir ini ia jadi malas untuk terlalu banyak
bicara. Terlebih kepada orang yang memang tidak bisa diajak berbicara dengan
benar. Hanya buang-buang waktu saja.
Mendadak semangatnya kembali meledak-ledak di dalam
dirinya. Padahal sebelumnya ia nyaris tidak memiliki motivasi sama sekali untuk
bekerja.
“Kalau begitu, kau adalah sampah yang harus
kusingkirkan,” gumam gadis itu.
Dengan posisi bersiap, Agatha menyelipkan salah satu
tangannya ke belakang. Berusaha untuk merogoh sebuah borgol di saku celana
belakangnya. Sementara itu, di saku bagian sampingnya terdapat sebuah senjata
api berupa pistol yang tidak bisa digunakan dengan sembarangan.
Agatha sudah dapat membayangkan bagaimana pola
serangannya. Ia bahkan sudah menargetkan sejak lama titik mana saja yang perlu
diserang untuk melumpuhkan pergerakannya. Terlepas dari semua itu, Agatha juga
sudah menyiapkan rencana cadangan. Untuk berjaga-jaga kalau saja rencana
awalnya sempat gagal karena beberapa faktor yang tak terduga.
“Hiyak!!!!” teriak pria itu dari arah yang
berlawanan.
Dengan sigap Agatha langsung menghindar. Dia tidak
akan berusaha untuk memberikan serangan balik. Tenanganya bisa terkuras habis
tanpa arti. Belum tentu ia bisa menangkap pria itu jika terlalu banyak
menyerang.
“Jadi, kau ingin bermain-main denganku ya?” ucap
Agatha.
“Baiklah, jika itu maumu!” tukasnya.
Alih-laih bersembunyi atau meminta pertolongan,
Agatha malah menantang balik pria itu.