The Riot

The Riot
Judge



Pergerakan pria itu


terlalu cepat untuk dibaca. Aaron melakukan segalanya secara tiba-tiba, tanpa


ada peringatan sama sekali. Sehingga gadis itu tidak sempat melakukan apa pun


untuk mencegahnya.


Kedua bola mata Agatha


membulat dengan sempurna, ketika ia mengetahui kalau Aaron sudah mengunci


pergelangan tangannya. Mustahil untuk melarikan diri di saat seperti ini. Pria


itu terlalu kuat. Dia tidak akan bisa melawannya hanya dengan tangan kosong.


Agatha pasti sudah jelas akan kalah. Paling tidak ia perlu sebuah taktik


sederhana di sini untuk menolong dirinya sendiri.


Satu-satunya kesempatan


untuk melarikan diri yang dimiliki oleh gadis ini adalah ketika Aaron lengah.


Mungkin sebentar lagi. Agatha harus berhasil mengalihkan perhatian pria itu.


“Apa yang kau


inginkan?!” seru Agatha.


Kali ini nada bicaranya


terdengar jauh lebih nyaring dari pada sebelumnya.


Satu detik, dua detik,


tiga detik berlalu. Tidak ada jawaban sama sekali dari Aaron. Bukannya menjawab


pertanyaan Agatha, pria itu malah tersenyum miring. Persis seperti tokoh


antagonis dalam sebuah film yang kerap ia jumpai ketika menonton.


“Jangan pura-pura polos


dan tidak tahu,” ucap Aaron dengan begitu santai.


“Aku tahu jika kau yang


mengambil berkas itu dariku kemarin malam saat mabuk,” jelasnya kemudian.


“Sebaiknya segera beri


tahu aku siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu semua, dan juga dimana


berkas itu sekarang,” peringatinya.


“Atau jika tidak, kau


akan menerima akibat dari perbuatanmu yang satu ini!” tegasnya sekali lagi.


Agatha yang mendengar


pernyataan tersebut, sama sekali tidak paham. Ia mengerutkan dahinya, sehingga


kedua alis gadis itu tampak seperti menyatu. Dari raut wajahnya saat ini, dapat


disimpulkan jika ia memang sedang kebingungan.


Sejak awal, gadis itu


memang tidak bisa memahami satu hal pun dari penjelasan Aaron barusan.


Satu-satunya hal yang bisa ia tangkap maknanya di sini adalah, jika pria itu


sedang menuduhnya secara tidak langsung. Padahal Agatha sama sekali tidak


pernah melakukan hal demikian.


“Apa kau menuduhku


telah mencuri berkas milikmu saat kau mabuk kemarin?” tanya Agatha untuk


memperjelas dugaannya.


“Baguslah kalau kau


langsung paham,” balas Aaron acuh tak acuh.


Tidak, pria itu salah.


Agatha bahkan tidak mengerti apa pun di sini. Ternyata benar jika pria itu


telah menuduhnya melakukan pencurian. Sepertinya berkas tersebut teramat


penting dan berharga. Sehingga Aaron tampak begitu kelimpungan saat benda


tersebut tidak ada di tangannya.


Entah bagaimana bisa


pria itu menuduhnya demikian. Padahal mereka tidak pernah memiliki urusan apa


pun sebelumnya. Bertemu saja tidak pernah. Lagipula berkas tersebut sama sekali


tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi Agatha. Ia bukan tipikal orang


yang akan ambil pusing, apalagi sampai buang-buang waktu untuk mengurusi hal


yang bukan urusannya sama sekali.


Belakangan ini seperti


yang semua orang tahu, jika pekerjaan Agatha sedang banyak-banyaknya. Dia


menjadi manusia yang super sibuk dalam waktu satu malam. Memangnya karena apa


jika bukan karena kasus pembunuhan berantai itu. Agatha berharap agar pelakunya


segera ditemukan. Ia ingin kehidupannya kembali normal seperti dulu.


“Sepertinya kau salah


orang,” ucap Agatha secara gamblang.


“Huh! Jadi kau tengah


berusaha untuk mengelak dariku?” tanya pria itu dengan penuh penekanan.


Agatha tahu persis jika


posisinya saat ini tengah terancam. Pria it uterus berusaha untuk mendesaknya


dan membuatnya merasa terintimidasi secara tidak langsung. Namun, tidak akan


semudah itu untuk menaklukkan Agatha. Tenang adalah satu-satunya jalan untuk menyerang


pria itu balik. Dengan tetap bersikap tenang, maka Aaron pasti mengira jika


dirinya sudah gagal.


Rahang pria itu tampak


mengeras. Bukan hanya sampai di situ saja. Aaron bahkan ikut mengeratkan


kesakitan untuk pertama kalinya di depan pria itu. Agatha sudah tidak bisa membohongi


dirinya sendiri lagi.


“Katakan semuanya


sekarang juga!” ancam Aaron.


Kali ini sepertinya ia


sedang tidak main-main. Hal tersebut tergambar dengan jelas dari caranya


berbicara.


“Memangnya apa yang


harus ku katakan?!” balas Agatha yang tak ingin kalah juga.


Keduanya saling bersi


tegang. Tidak ada satu pun yang ingin mengalah. Minimal mereka harus saling


mendengarkan antara satu sama lain. Terserah mau percaya atau tidak, itu urusan


nomer dua.


Mendengar kalimat dari


Agatha barusan, berhasil membuat pria itu nyaris kehilangan akal sehatnya. Rasa


kesabarannya sudah mulai menipis. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Aaron


bisa saja menghabisi gadis ini sekarang juga tepat di hadapannya, jika ia masih


tidak mau buka suara juga.


“Hei! Aku yakin jika


kau cukup setia,” ujar Aaron.


Kali ini nada bicaranya


terdengar jauh lebih tenang dari pada sebelumnya. Namun, meski begitu emosinya


sama sekali belum mereda.


“Sampai-sampai kau


tidak ingin buka suara sama sekali,” lanjut pria itu.


“Harus ku akui rasa


kesetiaanmu yang satu itu,” akunya.


Entah mimpi buruk macam


apa yang menghampirinya kemarin. Sampai-sampai Agatha harus dihadapkan dengan


orang yang tidak memiliki akal sehat seperti dirinya. Gadi situ merutuki


dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak melewati batas-batas yang telah


ditetapkan. Terkadang beberapa larangan yang terkesan tak masuk akal memang


sengaja dibuat demi alasan keamanan.


Seharusnya kemarin


malam ia tidak perlu menolong pria ini. Akan jauh lebih baik jika mereka tidak


pernah bertemu sama sekali. Dengan begitu, hidupnya akan tetap aman. Bertemu


dengan Aaron sama saja dengan mengundang masalah untuk datang ke dalam


hidupnya.


Untuk pertama kalinya


ia menyesal telah berbuat baik. Bukan karena perbuatannya. Tapi, karena ia


telah berbuat baik kepada orang yang salah. Terkadang memang tidak semua orang


pantas untuk menerima perilaku baik dari orang lain. Ada pengecualian bagi


beberapa manusia. Termasuk Aaron salah satunya.


“Apa Ghandy yang


menyuruhmu?” terka Aaron.


“Ha?” balas gadis itu.


Agatha bahkan tidak


tahu sama sekali siapa itu Ghandy. Ini adalah pertama kalinya Agatha mendengar


nama tersebut. Sebelumnya tidak pernah sama sekali.


“Sebaiknya kau lekas


menjawab semua pertanyaanku, sebelum kesabaranku habis,” tegas pria itu sekali


lagi.


Agatha menghela


napasnya dengan kasar. Tidak tahu entah seberapa banyak lagi ia perlu


mengatakan hal yang sama kepada pria itu. Jika sebenarnya ia tidak tahu


apa-apa.


“Harus berapa kali lagi


ku katakan jika aku tidak tahu apa-apa?” tanya Agatha yang tampaknya mulai


kehilangan kesabarannya juga.


“Jangan berbohong,”


balas pria itu.


“Aku tidak berbohong,”


beber Agatha dengan apa adanya.


Ia tidak sedang


berusaha untuk menyembunyikan apa pun di sini. Sebab, sejak awal memang tidak


ada yang perlu ia tutup-tutupi.


“Sudah kubilang jangan


pernah berbohong!” teriak Aaron.


Untuk


pertama kalinya seorang pria asing berani membentaknya seperti ini. Sungguh


tidak punya sopan santun.