
Pergerakan pria itu
terlalu cepat untuk dibaca. Aaron melakukan segalanya secara tiba-tiba, tanpa
ada peringatan sama sekali. Sehingga gadis itu tidak sempat melakukan apa pun
untuk mencegahnya.
Kedua bola mata Agatha
membulat dengan sempurna, ketika ia mengetahui kalau Aaron sudah mengunci
pergelangan tangannya. Mustahil untuk melarikan diri di saat seperti ini. Pria
itu terlalu kuat. Dia tidak akan bisa melawannya hanya dengan tangan kosong.
Agatha pasti sudah jelas akan kalah. Paling tidak ia perlu sebuah taktik
sederhana di sini untuk menolong dirinya sendiri.
Satu-satunya kesempatan
untuk melarikan diri yang dimiliki oleh gadis ini adalah ketika Aaron lengah.
Mungkin sebentar lagi. Agatha harus berhasil mengalihkan perhatian pria itu.
“Apa yang kau
inginkan?!” seru Agatha.
Kali ini nada bicaranya
terdengar jauh lebih nyaring dari pada sebelumnya.
Satu detik, dua detik,
tiga detik berlalu. Tidak ada jawaban sama sekali dari Aaron. Bukannya menjawab
pertanyaan Agatha, pria itu malah tersenyum miring. Persis seperti tokoh
antagonis dalam sebuah film yang kerap ia jumpai ketika menonton.
“Jangan pura-pura polos
dan tidak tahu,” ucap Aaron dengan begitu santai.
“Aku tahu jika kau yang
mengambil berkas itu dariku kemarin malam saat mabuk,” jelasnya kemudian.
“Sebaiknya segera beri
tahu aku siapa yang menyuruhmu untuk melakukan itu semua, dan juga dimana
berkas itu sekarang,” peringatinya.
“Atau jika tidak, kau
akan menerima akibat dari perbuatanmu yang satu ini!” tegasnya sekali lagi.
Agatha yang mendengar
pernyataan tersebut, sama sekali tidak paham. Ia mengerutkan dahinya, sehingga
kedua alis gadis itu tampak seperti menyatu. Dari raut wajahnya saat ini, dapat
disimpulkan jika ia memang sedang kebingungan.
Sejak awal, gadis itu
memang tidak bisa memahami satu hal pun dari penjelasan Aaron barusan.
Satu-satunya hal yang bisa ia tangkap maknanya di sini adalah, jika pria itu
sedang menuduhnya secara tidak langsung. Padahal Agatha sama sekali tidak
pernah melakukan hal demikian.
“Apa kau menuduhku
telah mencuri berkas milikmu saat kau mabuk kemarin?” tanya Agatha untuk
memperjelas dugaannya.
“Baguslah kalau kau
langsung paham,” balas Aaron acuh tak acuh.
Tidak, pria itu salah.
Agatha bahkan tidak mengerti apa pun di sini. Ternyata benar jika pria itu
telah menuduhnya melakukan pencurian. Sepertinya berkas tersebut teramat
penting dan berharga. Sehingga Aaron tampak begitu kelimpungan saat benda
tersebut tidak ada di tangannya.
Entah bagaimana bisa
pria itu menuduhnya demikian. Padahal mereka tidak pernah memiliki urusan apa
pun sebelumnya. Bertemu saja tidak pernah. Lagipula berkas tersebut sama sekali
tidak ada hubungannya dengan kehidupan pribadi Agatha. Ia bukan tipikal orang
yang akan ambil pusing, apalagi sampai buang-buang waktu untuk mengurusi hal
yang bukan urusannya sama sekali.
Belakangan ini seperti
yang semua orang tahu, jika pekerjaan Agatha sedang banyak-banyaknya. Dia
menjadi manusia yang super sibuk dalam waktu satu malam. Memangnya karena apa
jika bukan karena kasus pembunuhan berantai itu. Agatha berharap agar pelakunya
segera ditemukan. Ia ingin kehidupannya kembali normal seperti dulu.
“Sepertinya kau salah
orang,” ucap Agatha secara gamblang.
“Huh! Jadi kau tengah
berusaha untuk mengelak dariku?” tanya pria itu dengan penuh penekanan.
Agatha tahu persis jika
posisinya saat ini tengah terancam. Pria it uterus berusaha untuk mendesaknya
dan membuatnya merasa terintimidasi secara tidak langsung. Namun, tidak akan
semudah itu untuk menaklukkan Agatha. Tenang adalah satu-satunya jalan untuk menyerang
pria itu balik. Dengan tetap bersikap tenang, maka Aaron pasti mengira jika
dirinya sudah gagal.
Rahang pria itu tampak
mengeras. Bukan hanya sampai di situ saja. Aaron bahkan ikut mengeratkan
kesakitan untuk pertama kalinya di depan pria itu. Agatha sudah tidak bisa membohongi
dirinya sendiri lagi.
“Katakan semuanya
sekarang juga!” ancam Aaron.
Kali ini sepertinya ia
sedang tidak main-main. Hal tersebut tergambar dengan jelas dari caranya
berbicara.
“Memangnya apa yang
harus ku katakan?!” balas Agatha yang tak ingin kalah juga.
Keduanya saling bersi
tegang. Tidak ada satu pun yang ingin mengalah. Minimal mereka harus saling
mendengarkan antara satu sama lain. Terserah mau percaya atau tidak, itu urusan
nomer dua.
Mendengar kalimat dari
Agatha barusan, berhasil membuat pria itu nyaris kehilangan akal sehatnya. Rasa
kesabarannya sudah mulai menipis. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Aaron
bisa saja menghabisi gadis ini sekarang juga tepat di hadapannya, jika ia masih
tidak mau buka suara juga.
“Hei! Aku yakin jika
kau cukup setia,” ujar Aaron.
Kali ini nada bicaranya
terdengar jauh lebih tenang dari pada sebelumnya. Namun, meski begitu emosinya
sama sekali belum mereda.
“Sampai-sampai kau
tidak ingin buka suara sama sekali,” lanjut pria itu.
“Harus ku akui rasa
kesetiaanmu yang satu itu,” akunya.
Entah mimpi buruk macam
apa yang menghampirinya kemarin. Sampai-sampai Agatha harus dihadapkan dengan
orang yang tidak memiliki akal sehat seperti dirinya. Gadi situ merutuki
dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak melewati batas-batas yang telah
ditetapkan. Terkadang beberapa larangan yang terkesan tak masuk akal memang
sengaja dibuat demi alasan keamanan.
Seharusnya kemarin
malam ia tidak perlu menolong pria ini. Akan jauh lebih baik jika mereka tidak
pernah bertemu sama sekali. Dengan begitu, hidupnya akan tetap aman. Bertemu
dengan Aaron sama saja dengan mengundang masalah untuk datang ke dalam
hidupnya.
Untuk pertama kalinya
ia menyesal telah berbuat baik. Bukan karena perbuatannya. Tapi, karena ia
telah berbuat baik kepada orang yang salah. Terkadang memang tidak semua orang
pantas untuk menerima perilaku baik dari orang lain. Ada pengecualian bagi
beberapa manusia. Termasuk Aaron salah satunya.
“Apa Ghandy yang
menyuruhmu?” terka Aaron.
“Ha?” balas gadis itu.
Agatha bahkan tidak
tahu sama sekali siapa itu Ghandy. Ini adalah pertama kalinya Agatha mendengar
nama tersebut. Sebelumnya tidak pernah sama sekali.
“Sebaiknya kau lekas
menjawab semua pertanyaanku, sebelum kesabaranku habis,” tegas pria itu sekali
lagi.
Agatha menghela
napasnya dengan kasar. Tidak tahu entah seberapa banyak lagi ia perlu
mengatakan hal yang sama kepada pria itu. Jika sebenarnya ia tidak tahu
apa-apa.
“Harus berapa kali lagi
ku katakan jika aku tidak tahu apa-apa?” tanya Agatha yang tampaknya mulai
kehilangan kesabarannya juga.
“Jangan berbohong,”
balas pria itu.
“Aku tidak berbohong,”
beber Agatha dengan apa adanya.
Ia tidak sedang
berusaha untuk menyembunyikan apa pun di sini. Sebab, sejak awal memang tidak
ada yang perlu ia tutup-tutupi.
“Sudah kubilang jangan
pernah berbohong!” teriak Aaron.
Untuk
pertama kalinya seorang pria asing berani membentaknya seperti ini. Sungguh
tidak punya sopan santun.