The Riot

The Riot
You Are



Akhirnya setelah


berdebat panjang lebar di bawah tadi, mereka mengizinkan Agatha dan Jeff untuk


masuk ke dalam. Meski sebenarnya peraturannya tidak ada orang lain yang bisa


masuk ke sana kecuali Narendra seorang. Bahkan jika itu adalah anggota


keluarganya yang lain sekali pun. Agatha berhasil masuk ke sana bukan karena


statusnya sebagai anak kandung dari pria itu. Melainkan karena jabatan yang ia


miliki sekarang.


“Apa ini ruangannya?”


tanya Agatha tanpa mengalihkan pandangannya.


“Benar!” jawab di


petugas itu dengan yakin/


Mereka bertiga berhenti


tepat di depan sebuah pintu. Sayang sekali di sini tidak tertulis nomer


kamarnya. Hanya ada kode-kode abstrak yang tidak diketahui oleh Agatha apa


artinya. Sepertinya Jeff juga merasakan hal serupa. Pasti hanya mereka yang


bekerja di rumah sakit yang tahu pertanda apa itu.


“Silahkan masuk!”


persilahkan si petugas yang kemudian membukakan pintu.


Sementara itu di sisi


lain tampak Narendra dan juga Liora di ruangan tersebut. Mereka berdua yang


semula tengah berbincang, mendadak menghentikan kegiatannya untuk sementara


waktu. Sulit untuk dipercaya. Bagaimana bisa Agatha dengan orang asing itu


sampai kemari. Sepertinya mereka tidak mengakses tempat ini secara illegal. Buktinya


ada seorang petugas rumah sakit yang ikut bersamanya.


“Apa yang kalian lakukan


di sini?!” tanya Narendra dengan nada bicara yang lebih tinggi.


Memilih untuk tidak


menanggapi hal tersebut sekarang, Agatha tetap berjalan mendekati pria itu


dengan percaya diri. Anak-anak ini sedang berada di dalam posisi yang benar


sekarang. Jadi, untuk apa merasa takut.


“Bagaimana bisa kalian


sampai kemari? Dan siapa orang ini?” tanya Narendra lagi dengan pertanyaan yang


tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.


“Tenang saja, kami


tidak asal menerobos masuk begitu saja. Semua alurnya sudah kami ikuti makanya


bisa sampai kemari,” jawab Jeff dengan tenang.


“Apa kau lupa siapa


anakmu?” tanya Agatha sambil menaikkan salah satu alisnya.


“Itu pun kalau kau


masih menganggapku sebagai anakmu,” gumam gadis itu, namun belum cukup pelan.


Sehingga masih bisa terdengar oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.


“Kalau begitu langsung


saja ke intinya,” ucap Agatha.


“Kami datang kemari


untuk menahan Liora sebagai pelaku dari kasus percobaan pembunuhan,” bebernya


secara gamblang.


Sontak semua orang yang


berada di dalam ruangan itu merasa terkejut bukan main. Kecuali Agatha dan


Jeff. Kedua bola mata mereka membulat dengan sempurna.


“Tidak perlu merasa


terkejut seperti itu!” celetuk Agatha.


Yang ia maksud di sini


adalah Liora. Kenapa wanita itu masih tampak terkejut. Seolah-olah jika dirinya


tidak pernah melakukan hal tersebut sebelumnya. Atau mungkin sebenarnya ia


masih mengingat segalanya, hanya saja ekspresinya saat ini adalah sebuah


tipuan. Ya, benar. Ia pasti tengah mencari simpati dari Narendra, karena sekarang


wanita itu tidak berdaya sama sekali untuk membela dirinya.


“Apa yang kalian


katakan?! Jangan asal menuduh seperti ini!” protes Liora tidak terima.


“Bukankah kamu yang


menyakiti Liora lebih dulu? Kenapa sekarang malah menuduhnya balik?!” sambung


Narendra.


Sudah jelas jika dugaan


Agatha selama ini benar. Wanita itu menghasut Narendra agar berada di pihaknya.


“Jadi, kalian mau bukti


yang mana sekarang?” tanya Agatha sambil menyeringai tipis.


“Atau mau semuanya?


Bisa-bisa, sepertinya itu akan jauh lebih baik,” jelasnya kemudian.


Tanpa banyak bicara lagi.


beberapa rekaman dari kamera pengawas di sana. Ya, beberapa. Bukan hanya satu


saja. Serta masih ada beberapa bukti lainnya juga yang terlampir di sana jika


mereka mau melihat lebih banyak lagi.


“Buktinya banyak. Ada


beberapa rekaman kamera pengawas. Hasil pemeriksaan laboratorium, serta sidik


jari,” ungkap Agatha dengan apa adanya.


“Jadi, kalian mau


melihat yang mana satu?” tawar gadis itu.


Tidak bisa dipungkiri


jika sekarang Liora mulai merasa gugup. Posisinya sudah makin terancam dan


sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Liora pikir dengan pindah ke


ruangan VIP, ia akan aman. Lokasinya tidak bisa dijangkau oleh semua orang. Tapi,


sepertinya wanita itu lupa dengan siapa ia berurusan. Agatha tetap bisa menemui


wanita itu, bahkan sampai di lubang semut sekali pun ia bersembunyi.


Wanita itu menelan


salivanya dengan susah payah. Sesekali ia meremas tangannya untuk mengurangi


rasa cemas. Namun, semua itu tidak berarti apa-apa. Lagi-lagi ketakutan itu


muncul dan menguasai dirinya.


“Bagaimana kalau kita


mulai dari video yang pertama lebih dulu?” tawar gadis itu sekali lagi.


Ia langsung memutar


video hasil rekaman kamera pengawas di salah satu restoran tempat mereka makan


sebelumnya. Anehnya, video tersebut dimainkan di televisi. Kapan Agatha


menghubungkan dua perangkat itu. Sungguh menakutkan.


“Aku sengaja memutarnya


di tv agar kita semua bisa menontonnya,” ucap gadis itu.


Tidak ada yang


berkomentar sama sekali sejak video itu pertama kali di putar. Bahkan termasuk


Liora. Mereka semua sibuk mengamati setiap pergerakan yang ada di dalamnya. Memastikan


jika tidak ada satu pun hal keci yang terlewat.


Setelah video pertama


selesai dimainkan, sekarang adalah giliran video yang kedua. Rekaman kamera


pengawas di ruangan Agatha pada hari itu. Tampak dengan jelas jika Liora


memiliki niat yang tidak baik. Sejak awal saja dia sudah masuk dengan


mengendap-endap, kemudian mengunci pintunya.


Sepertinya ini akan


jadi semakin seru. Sebab, di sinilah puncak permasalahannya. Narendra menuduh


jika Agatha lah yang menyerang wanita itu lebih dulu. Padahal tidak sama


sekali. Liora hanya sedang mengada-ada. Menciptakan kebohongan untuk melindungi


dirinya sendiri.


Sekarang mari lihat


kebenarannya. Siapa yang sebenarnya menyerang lebih dulu. Memang benar Agatha


menyerang wanita ini. Tapi bukan tanpa alasan. Dia harus melindungi dirinya


sendiri. Ia yakin jika semua orang akan melakukan hal yang sama jika berada


pada posisinya waktu itu. Bukankah setiap manusia memiliki insting


mempertahankan diri dari bahaya.


“Aku tidak memaksa dan


tidak peduli apakah kalian percaya atau tidak. Tapi, aku hanya ingin menegakkan


keadilan bagi mereka yang membutuhkan. Karena itu adalah tugasku,” jelas Agatha


dengan datar setelah videonya berakhir.


Sampai sekarang masih


tidak ada yang berani buka suara. Termasuk Narendra. Sekarang ia tengah


bingung. Mana dan siapa yang sebenarnya bersalah di sini.


“Tim kami juga


menemukan sidik jari wanita itu pada jarum suntik yang ia gunakan, serta pada


gagang pintu,” ungkap Agatha.


“Bisa saja kau bekerja


sama dengan timmu sendiri!” protes Liora.


Lagi-lagi ia mengatakan


hal serupa. Sungguh Agatha tidak habis pikir. Kenapa ia terus mengelak dan


bukannya mengakui kesalahannya saja. Tapi, sepertinya pepatah klasik ini benar.


Mana ada maling yang akan mengaku dengan begitu saja.


“Kau bisa membela


dirimu di pengadilan nanti,” balas gadis itu.


“Setelah


ini kami akan menempatkan beberapa tim dari kepolisian untuk berjaga di sekitar


ruanganmu. Memastikan kalau kau tidak akan kabur kemana-mana,” finalnya.