
Sekarang sudah pukul dua belas malam lebih sepuluh
menit. Bahkan jika dikatakan ini sekarang sudah lewat dari tengah malam. Tidak
sesuai dengan kesepakatan mereka tadi. Agatha dan Arjuna sedang bersiap untuk
kembali ke kantor. Itu saja jika bukan karena Agatha yang mendesaknya untuk
kembali, maka mungkin pria itu tidak akan beranjak dari tempat ini sedikit pun.
Tepat ketika Arjuna hendak menyalakan mesin sepeda
motornya, secara mendadak dari arah berlawanan datang sekelompok pengendara
motor. Jika dilihat dari penampilannya kelihatannya mereka bukan orang
baik-baik. Hal tersebut berhasil mencuri perhatian mereka berdua.
Baik Agatha maupun Arjuna langsung mengurungkan
niatnya untuk kembali. Pria itu mengamati setiap pergerakan mereka dengan
lamat-lamat. Begitu pula dengan Agatha. Tidak ada yang boleh terlewat sedikit
pun.
“Apa itu kelompok mafia yang kau maksud?” tanya
Agatha dengan nada bicara yang jauh lebih rendah daripada sebelumnya.
“Sepertinya iya,” balas Arjuna.
Mereka harus berhati-hati mulai sekarang. Akan lebih
baik lagi jika selalu siaga. Waspada akan membuatmu tetap aman.
“Hubungi tim yang lain sekarang!” titah pria itu.
“Suruh setiap tim untuk mengirimkan satu orang masuk
ke dalam. Sisanya biarkan berjaga di luar,” jelasnya kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Agatha lantas mengangguk
paham. Mendadak rasa kantuk dan bosan yang sempat menghampirinya langsung
menghilang. Malam ini ia dipaksa untuk tetap fokus agar semuanya berjalan
sesuai dengan rencana pada awalnya.
Dengan sigap ia buru-buru menyalakan HT. Mencoba
membangun jaringan komunikasi dengan dua tim lainnya yang tersebar di sana. Gadis
itu menyampaikan arahan sesuai dengan yang diperintahkan oleh Arjuna
sebelumnya.
“Aku sudah memberi tahu mereka,” ujar Agatha.
“Kerja bagus!” puji pria itu.
Sangking fokusnya mengamati pergerakan orang-orang
itu, mereka bahkan sanggup berbicara tanpa saling bertatapan sama sekali.
“Apa kita juga akan membagi tim ini sama seperti
mereka?” tanya Agatha dengan hati-hati.
“Tentu saja!” jawab Arjuna yakin.
“Aku yang akan pergi ke dalam, sementara kau berjaga
di luar. Pantau terus bagaimana situasinya dan bagikan kabar tersebut dengan
tim yang lain agar mereka bisa menentukan langkah selanjutnya,” jelas pria itu
dengan panjang lebar.
“Tapi, kau bisa dan bersedia untuk melakukan tugas
itu kan?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
Agatha hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan
perkataan Arjuna barusan. Walaupun ia tidak pernah benar-benar yakin dengan keputusannya
sendiri. Berhadapan dengan sekelompok geng mafia merupakan mimpi buruk baginya.
Padahal ia selalu berhadapan dengan pelaku kriminal kelas kakap sebelumnya.
Entahlah, sejak serangan mendadak yang terjadi di
tempat tinggal Aaron, nyalinya berubah jadi ciut. Jangankan melawan, melihat
mereka saja sudah mampu membuat bulu kuduknya meremang. Beberapa kali ia
bergidik ngeri.
Padahal jika dipikir-pikir, mereka tidak sebanding
seramnya jika disandingkan dengan pelaku dari kasus pembunuhan berantai itu.
Setelah memastikan jika setiap orang dari gerombolan
itu masuk ke dalam kelab malam, Arjuna lantas segera menyusul mereka. Dengan
pergerakan pelan yang nyaris tak terbaca, ia mengendap-endap masuk ke dalam.
Tenang saja, orang-orang tidak akan menuduhnya sebagai pencuri atau semacamnya
karena terlihat mencurigakan. Memangnya siapa yang berani menuduh seorang
polisi yang sedang melaksanakan tugas.
“Berhati-hatilah saat di dalam!” pesan gadis itu.
Sekarang hanya tersisa Agatha seorang diri. Tidak
ada siapa pun di sekitarnya. Bahkan para mafia tadi tidak menyisakan salah satu
dari mereka untuk tetap tinggal dan berjaga di luar. Sepertinya mereka sama
akan terjadi adalah tertangkap polisi.
Sementara berjaga di luar, ia tetap berada pada
tempat persembunyiannya. Tidak sembarang orang boleh tahu. Gadis itu akan
bertanggung jawab sebagai mata-mata di pintu masuk utama. Memastikan jika ada pasukan
lain yang datang setelahnya. Yang jelas, apa pun yang terjadi di sana harus
selalu dikabarkan.
“Aish! Kenapa harus aku yang berjaga di pintu masuk
utama?!” gerutu gadis itu sebal.
Ia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria
itu. Bagaimana bisa Arjuna menyuruh seorang wanita untuk berjaga sendirian di
pintu masuk utama. Resikonya bahkan lebih tinggi dari tempat lainnya. Masalahnya
adalah, mereka tidak melibatkan anggota wanita lainnya dalam misi kali ini. Hanya
Agatha yang dipercaya. Mau tidak mau dia harus bisa beradaptasi dengan
rekan-rekan satu timnya yang kebanyakan adalah pria.
“Apa pria itu sengaja merencanakan semua ini hanya
untuk balas dendam denganku?”
“Padahal yang tadi siang itu sepertinya aku tidak
keterlaluan. Hanya sedang menghindar.”
“Aku bahkan tidak bicara dengan nada yang kasar
kepadanya. Ya, sedikit.”
“Tapi, tidak bisakah ia menormalisasi yang satu itu?
Kenapa harus membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk lainnya?”
“Dasar!”
Karena tidak ada Arjuna di sana, jadi ia bebas
menggerutu bahkan mengumpat tentangnya. Sebenarnya tidak masalah jika ia
menyampaikan keluh kesahnya di depan pria itu. Namun, Agatha tetap saja merasa
jika membicarakannya di belakang seperti ini akan jauh lebih baik. Alasan
utamanya hanya karena tidak ingin membuat orang lain merasa sakit hati dengan
ucapannya.
“Daripada membuang-buang waktu dengan mengomel
seperti itu, sebaiknya kau perhatikan saja sekitarmu!” ucap sebuah suara dari
seberang sana.
Gadis itu lantas terlonjak kaget. Ia terkesiap. Sama
sekali tidak menyangka jika HT miliknya masih terhubung dengan milik Arjuna. Pantas
saja jika pria itu masih mendengarnya. Itu berarti dia sudah mendengar semuanya
dari awal sampai akhir. Mendadak Agatha merasa bersalah sekaligus takut di saat
yang bersamaan.
Tanpa pikir panjang, ia buru-buru menjauhkan alat
tersebut. Sesekali mengerjap tak percaya.
“Dasar bodoh!” umpatnya kepada dirinya sendiri.
“Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau benda ini masih
terhubung dengannya?” sesalnya kemudian.
Sesuai dengan prinsip semesta, penyesalan memang
selalu datang di akhir. Dari sana katanya manusia bisa belajar banyak hal.
“Maafkan aku!” ucap Agatha.
“Aku sungguh tidak bermaksud untuk membicarakan
keburukanmu seperti ini,” jelasnya kemudian.
“Kita akan bicarakan itu nanti. Sekarang fokuslah
terhadap pekerjaanmu!” tegas pria itu sekali lagi.
“Baiklah,” balas Agatha dengan lemah.
Sepertinya malam ini Agatha kerap mengalami
kesulitan untuk berkonsentrasi. Pasalnya, sudah lebih dari satu kali Arjuna
memberikan peringatan serupa.
Gadis itu benar-benar pasrah. Saat ini ia sudah
tertangkap basa. Ia tak bisa membayangkan entah hukuman macam apa yang pantas
untuk dirinya. Karena bagaimanapun, membicarakan keburukan senior sama sekali
tidak sopan.
Sekarang satu-satunya hal yang bisa ia lakukan
adalah merutuki kebodohannya sendiri. Ia sama sekali tidak menyangka jika akan
seperti ini pada akhirnya. Salah satu tangan gadis itu beralih untuk memijat
pelipisnya pelan. Kepalanya mendadak menjadi pusing.