The Riot

The Riot
The Truth



Sejak awal kedatangannya ke kantor, mereka tidak


pernah akur sama sekali. Lebih tepatnya, Lili tidak pernah memperlakukan gadis


itu dengan baik. Mereka memang jarang berbicara. Apalagi bertemu, sangat


jarang. Sebab tempat mereka bekerja berada di daerah yang berbeda, meski masih


dalam satu gedung. Seperti tidak tahu saja seberapa lebar tempat ini.


Namun, aehnya beberapa hari yang lalu Lili


menyempatkan dirinya untuk datang ke kantor Agatha. Tidak biasanya. Lili tidak


akan sudi melakukan hal tersebut kalau tidak ada urusan yang penting-penting


amat. Rasa gengsinya tidak bisa dirubuhkan.


Itu adalah pertama kalinya bagi Lili datang ke


ruangan Agatha. Dan di sisi lain, ternyata itu adalah saat pertama pula bagi


Agatha melihat gadis itu kemari. Biasanya ia selalu berada tidak jauh dari sel


penjara. Sebab, posisinya yang sebagai sipir.


Kedatangan Lili sama sekali tidak bermaksud baik.


Sama seperti dugaan Agatha sebelumnya. Gadis itu memang selalu mengandalkan intuisinya


sendiri. Pasalnya, Agatha tahu betul sejauh apa dan seakurat apa intuisinya bekerja.


“Aku


datang kemari untuk memperingatkanmu akan satu hal!”


“Sebaiknya


mulai hari ini dan seterusnya, kau harus menjaga jarak dengan Arjuna. Sebab,


dia adalah milikku. Kau sama sekali tidak berhak untuk mendekatinya.”


“Jadi,


jangan berani-beraninya menantangku! Atau kau akan mendapatkan balasan yang


setimpal.”


“Aku


akan memberikanmu pelajaran!”


Jika diingat-ingat lagi tentang kedatangan Lili pada


hari itu, sungguh menggelikan. Bagaimana bisa gadis itu mengklaim Arjuna


sebagai miliknya. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Lili tidak


berhak sama sekali untuk itu. Tapi, biarlah. Agatha tak ingin ikut campur pada


kehidupan orang lain. Jika Lili bisa bahagia dengan cara seperti itu, kenapa


tidak.


‘SLURPPP!!!’


Arjuna menyeruput teh hangat yang memang disediakan


untuknya. Pada akhirnya, Agatha mempersilahkan pria itu untuk masuk juga.


Menjamunya selayaknya seperti soerang tamu. Agatha tidak tega juga untuk


membiarkan pria itu di luar. Alasan yang paling masuk akal adalah karena kakin


gadis itu pasti akan pegal jika terlalu lama berdiri.


Mereka tidak mengobrol di ruang tengah seperti orang


kebanyakan. Melainkan di meja makan yang menyatu dengan dapur. Entahlah,


rasanya lebih yaman di sini. Mereka juga bisa langsung melihat langit biru dari


kaca jendela di dapur. Biasanya ia menjemur pakaiannya di balkon dapur, tapi


kali ini Agatha memilih untuk menggunakan jasa laundry. Sehingga pemandangannya


sedikit lebih baik dari pada biasanya.


Pantas saja jika dapur menjadi salah satu titik


favorit bagi sang pemilik tempat ini. Ternyata memang begitu nyaman dan


menenangkan. Walau pada kenyataannya, ruang tengah tidak kalah nyaman.


“Jadi, Lili sempat menemuimu di ruanganmu hanya


untuk memberikan ancaman, begitu?” tanya Arjuna untuk memastikan.


“Ya,” balas Agatha singkat.


Dari penjelasan gadis itu barusan, Arjuna dapat


menyimpulkan jika Lili memang bermaksud tidak baik kepada Agatha. Tidak begini


caranya jika ingin mendapatkan hari pria itu. Bukan dengan menyingkirkan para


wanita yang berpotensi untuk menghalangi langkahnya. Namun, berusaha lebih


keras lagi.


Semakin


tampan dan mengesankan orang yang kau kagumi, maka akan semakin sulit untuk


mendapatkannya.


Ternyata pepatah yang tak terlalu populer itu ada


benarnya juga. Biasanya orang-orang akan jatuh cinta melalui penampilan fisikmu


pada detik-detik awal. Butuh waktu untuk mengenal seseorang secara lebih


personal dan lebih jauh lagi. Itu adalah tahap lanjutan untuk mengetahui


“Tapi, aku tidak akan menyalahkannya sama sekali,”


batin Agatha dalam hati.


Sudah sejak lama ia berniat ingin menjaga jarak


dengan seorang pria yang bernama Arjuna tersebut. Ini bukan yang pertama


kalinya ia mendengar orang lain tak suka dengan kedekatannya terhadap pria itu.


Padahal tidak ada apa-apa di antara mereka berdua. Baik Agatha maupun Arjuna,


tidak ada yang menyimpan rasa. Mereka sungguh  hanya sebatas rekan kerja. Namun, kenapa semua orang jadi salah paham


begini. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka terus menyudutkan Agatha. Seolah gadis


itu adalah satu-satunya orang yang paling bersalah di sini.


“Aku penasaran, bagaimana kau bisa tahu soal hal


tersebut,” ujar Agatha.


Wajar saja jika ia merasa penasaran. Pasalnya,


Arjuna bukan tipikal orang yang suka mengurusi urusan orang lain. Terlebih jika


itu tidak penting. Lagipula Agatha yakin, jika pria itu tidak ada di sana


ketika Lili menghampirinya.


“Apa aku harus memberi tahu yang satu itu kepadamu?”


tanya Arjuna balik.


“Kurasa tidak penting, bukan?” lanjutnya.


“Apakah sopan seperti itu?” tanya Agatha dengan nada


ketus.


“Sejak tadi aku sudah menjawab semua pertanyaanmu


tanpa ada terkecuali. Tapi, kenapa sekarang malah bersikap seperti itu?” celoteh


gadis itu dengan panjang lebar.


Jelas ia tidak terima jika harus diperlakukan


seperti ini. Memangnya Arjuna siapa. Seharusnya hidup adalah tentang timbal


balik. Bukan hanya aksi atau reaksi secara sepihak begitu. Tidak adil.


“Baiklah, aku akan memberi tahu soal yang satu itu


jika kau benar-benar ingin tahu,” kata Arjuna sembari meneguk teh nya lagi.


Bersantai di tempat paling nyaman sambil menikmati


pemandangan langit menjelang sorea hari adalah hal terbaik dalam hidup.


Setidaknya orang-orang perlu merasakan hal tersebut. Sekali saja seumur


hidupnya. Mereka juga butuh waktu untuk bersantai. Semua orang hanya manusia


biasa. Tidak ada yang benar-benar hebat. Bisa menjalani kehidupan tanpa pernah


rehat.


“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian


waktu itu,” ungkap Arjuna secara gamblang.


“Bagaimana bisa?” tanya gadis itu lagi. Ia menuntut


penjelasan yang jauh lebih spesifik.


“Sebenarnya waktu itu aku akan pergi ke dapur untuk


membuat kopi. Tapi, ternyata tak sengaja kulihat Lili berjalan ke arah


ruanganmu. Jadi kuikuti saja karena penasaran. Dan dari situlah semuanya


bermula,” jelasnya dengan panjang lebar.


Agatha lantas mengangguk paham begitu Arjuna


membeberkan semuanya. Ternyata ia tidak cuek-cuek amat. Setidaknya masih memiliki


rasa penasaran yang lumayan tinggi. Berdasarkan cerita pria itu barusan, Agatha


berhasil menangkap kesimpulan tadi. Asumsinya tentang Arjuna yang tidak peduli


terhadap sekitarnya ternyat salah. Malah ternyata Arjuna jadi lebih gampang


terpengaruh perhatiannya hanya karena hal kecil yang bahkan orang lain belum


tentu memperhatikan hal tersebut.


“Kalau sudah tahu sejak lama, kenapa tidak


langsung  bicara dengan gadis itu saja?”


tanya Agatha. Kali ini dia serius.


“Kenapa malah bertanya kepadaku yang tidak tahu


apa-apa?” sambungnya kemudian.


“Tidak apa-apa,” balas Arjuna acuh tak acuh.


“Tapi, omong-omong soal yang tadi siang, apa kau


sungguhan ingin keluar dari pekerjaan ini?” tanya Arjuna.


Sebenarnya ia juga ragu


untuk menanyakan hal ini, karena memang terasa sedikit sensitif. Apalagi kejadiannya


baru beberapa jam yang lalu.