
Sejak awal kedatangannya ke kantor, mereka tidak
pernah akur sama sekali. Lebih tepatnya, Lili tidak pernah memperlakukan gadis
itu dengan baik. Mereka memang jarang berbicara. Apalagi bertemu, sangat
jarang. Sebab tempat mereka bekerja berada di daerah yang berbeda, meski masih
dalam satu gedung. Seperti tidak tahu saja seberapa lebar tempat ini.
Namun, aehnya beberapa hari yang lalu Lili
menyempatkan dirinya untuk datang ke kantor Agatha. Tidak biasanya. Lili tidak
akan sudi melakukan hal tersebut kalau tidak ada urusan yang penting-penting
amat. Rasa gengsinya tidak bisa dirubuhkan.
Itu adalah pertama kalinya bagi Lili datang ke
ruangan Agatha. Dan di sisi lain, ternyata itu adalah saat pertama pula bagi
Agatha melihat gadis itu kemari. Biasanya ia selalu berada tidak jauh dari sel
penjara. Sebab, posisinya yang sebagai sipir.
Kedatangan Lili sama sekali tidak bermaksud baik.
Sama seperti dugaan Agatha sebelumnya. Gadis itu memang selalu mengandalkan intuisinya
sendiri. Pasalnya, Agatha tahu betul sejauh apa dan seakurat apa intuisinya bekerja.
“Aku
datang kemari untuk memperingatkanmu akan satu hal!”
“Sebaiknya
mulai hari ini dan seterusnya, kau harus menjaga jarak dengan Arjuna. Sebab,
dia adalah milikku. Kau sama sekali tidak berhak untuk mendekatinya.”
“Jadi,
jangan berani-beraninya menantangku! Atau kau akan mendapatkan balasan yang
setimpal.”
“Aku
akan memberikanmu pelajaran!”
Jika diingat-ingat lagi tentang kedatangan Lili pada
hari itu, sungguh menggelikan. Bagaimana bisa gadis itu mengklaim Arjuna
sebagai miliknya. Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Lili tidak
berhak sama sekali untuk itu. Tapi, biarlah. Agatha tak ingin ikut campur pada
kehidupan orang lain. Jika Lili bisa bahagia dengan cara seperti itu, kenapa
tidak.
‘SLURPPP!!!’
Arjuna menyeruput teh hangat yang memang disediakan
untuknya. Pada akhirnya, Agatha mempersilahkan pria itu untuk masuk juga.
Menjamunya selayaknya seperti soerang tamu. Agatha tidak tega juga untuk
membiarkan pria itu di luar. Alasan yang paling masuk akal adalah karena kakin
gadis itu pasti akan pegal jika terlalu lama berdiri.
Mereka tidak mengobrol di ruang tengah seperti orang
kebanyakan. Melainkan di meja makan yang menyatu dengan dapur. Entahlah,
rasanya lebih yaman di sini. Mereka juga bisa langsung melihat langit biru dari
kaca jendela di dapur. Biasanya ia menjemur pakaiannya di balkon dapur, tapi
kali ini Agatha memilih untuk menggunakan jasa laundry. Sehingga pemandangannya
sedikit lebih baik dari pada biasanya.
Pantas saja jika dapur menjadi salah satu titik
favorit bagi sang pemilik tempat ini. Ternyata memang begitu nyaman dan
menenangkan. Walau pada kenyataannya, ruang tengah tidak kalah nyaman.
“Jadi, Lili sempat menemuimu di ruanganmu hanya
untuk memberikan ancaman, begitu?” tanya Arjuna untuk memastikan.
“Ya,” balas Agatha singkat.
Dari penjelasan gadis itu barusan, Arjuna dapat
menyimpulkan jika Lili memang bermaksud tidak baik kepada Agatha. Tidak begini
caranya jika ingin mendapatkan hari pria itu. Bukan dengan menyingkirkan para
wanita yang berpotensi untuk menghalangi langkahnya. Namun, berusaha lebih
keras lagi.
Semakin
tampan dan mengesankan orang yang kau kagumi, maka akan semakin sulit untuk
mendapatkannya.
Ternyata pepatah yang tak terlalu populer itu ada
benarnya juga. Biasanya orang-orang akan jatuh cinta melalui penampilan fisikmu
pada detik-detik awal. Butuh waktu untuk mengenal seseorang secara lebih
personal dan lebih jauh lagi. Itu adalah tahap lanjutan untuk mengetahui
“Tapi, aku tidak akan menyalahkannya sama sekali,”
batin Agatha dalam hati.
Sudah sejak lama ia berniat ingin menjaga jarak
dengan seorang pria yang bernama Arjuna tersebut. Ini bukan yang pertama
kalinya ia mendengar orang lain tak suka dengan kedekatannya terhadap pria itu.
Padahal tidak ada apa-apa di antara mereka berdua. Baik Agatha maupun Arjuna,
tidak ada yang menyimpan rasa. Mereka sungguh hanya sebatas rekan kerja. Namun, kenapa semua orang jadi salah paham
begini. Dan yang lebih parahnya lagi, mereka terus menyudutkan Agatha. Seolah gadis
itu adalah satu-satunya orang yang paling bersalah di sini.
“Aku penasaran, bagaimana kau bisa tahu soal hal
tersebut,” ujar Agatha.
Wajar saja jika ia merasa penasaran. Pasalnya,
Arjuna bukan tipikal orang yang suka mengurusi urusan orang lain. Terlebih jika
itu tidak penting. Lagipula Agatha yakin, jika pria itu tidak ada di sana
ketika Lili menghampirinya.
“Apa aku harus memberi tahu yang satu itu kepadamu?”
tanya Arjuna balik.
“Kurasa tidak penting, bukan?” lanjutnya.
“Apakah sopan seperti itu?” tanya Agatha dengan nada
ketus.
“Sejak tadi aku sudah menjawab semua pertanyaanmu
tanpa ada terkecuali. Tapi, kenapa sekarang malah bersikap seperti itu?” celoteh
gadis itu dengan panjang lebar.
Jelas ia tidak terima jika harus diperlakukan
seperti ini. Memangnya Arjuna siapa. Seharusnya hidup adalah tentang timbal
balik. Bukan hanya aksi atau reaksi secara sepihak begitu. Tidak adil.
“Baiklah, aku akan memberi tahu soal yang satu itu
jika kau benar-benar ingin tahu,” kata Arjuna sembari meneguk teh nya lagi.
Bersantai di tempat paling nyaman sambil menikmati
pemandangan langit menjelang sorea hari adalah hal terbaik dalam hidup.
Setidaknya orang-orang perlu merasakan hal tersebut. Sekali saja seumur
hidupnya. Mereka juga butuh waktu untuk bersantai. Semua orang hanya manusia
biasa. Tidak ada yang benar-benar hebat. Bisa menjalani kehidupan tanpa pernah
rehat.
“Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian
waktu itu,” ungkap Arjuna secara gamblang.
“Bagaimana bisa?” tanya gadis itu lagi. Ia menuntut
penjelasan yang jauh lebih spesifik.
“Sebenarnya waktu itu aku akan pergi ke dapur untuk
membuat kopi. Tapi, ternyata tak sengaja kulihat Lili berjalan ke arah
ruanganmu. Jadi kuikuti saja karena penasaran. Dan dari situlah semuanya
bermula,” jelasnya dengan panjang lebar.
Agatha lantas mengangguk paham begitu Arjuna
membeberkan semuanya. Ternyata ia tidak cuek-cuek amat. Setidaknya masih memiliki
rasa penasaran yang lumayan tinggi. Berdasarkan cerita pria itu barusan, Agatha
berhasil menangkap kesimpulan tadi. Asumsinya tentang Arjuna yang tidak peduli
terhadap sekitarnya ternyat salah. Malah ternyata Arjuna jadi lebih gampang
terpengaruh perhatiannya hanya karena hal kecil yang bahkan orang lain belum
tentu memperhatikan hal tersebut.
“Kalau sudah tahu sejak lama, kenapa tidak
langsung bicara dengan gadis itu saja?”
tanya Agatha. Kali ini dia serius.
“Kenapa malah bertanya kepadaku yang tidak tahu
apa-apa?” sambungnya kemudian.
“Tidak apa-apa,” balas Arjuna acuh tak acuh.
“Tapi, omong-omong soal yang tadi siang, apa kau
sungguhan ingin keluar dari pekerjaan ini?” tanya Arjuna.
Sebenarnya ia juga ragu
untuk menanyakan hal ini, karena memang terasa sedikit sensitif. Apalagi kejadiannya
baru beberapa jam yang lalu.