The Riot

The Riot
My Enemy



Kacau, semuanya sudah


kacau. Tidak ada yang berjalan sesuai dengan ekpektasi mereka. Para polisi itu


telah lancang.


“Berani-beraninya


kalian mencari masalah denganku!” geram pria tersebut.


Sepertinya Agatha lupa


jika ada satu anggota lagi yang belum berada di dalam ruang tahanan. Selama ini


dia memang jarang terlihat bergabung dengan yang lainnya. Tapi, itu malah


adalah sebuah hal bagus. Yang pada nyatanya di saat bersamaan juga akan menjadi


sebuah petaka baginya.


Bagaimana bisa Agatha


melewatkan yang satu itu. Padahal dia tidak bisa dikatakan sebagai orang biasa


dalam geng tersebut. Perannya cukup berpengaruh. Bahkan kata Zean ia memiliki


posisi yang tidak berbeda dengan Hiraeth. Ya, benar. Aaron. Memangnya siapa


lagi. Gadis itu jelas-jelas melihatnya kemarin.


Sejak tadi pria itu


tidak bisa bersikap tenang sama sekali. Bagaimana bisa ia tenang ketika tidak


ada satu pun dari anak buahnya yang bisa dihubungi. Bahkan Hiraeth saja tidak


menjawab telepon  darinya. Dan beberapa


saat setelahnya, muncul berita yang cukup mencengangkan di televisi.


Pihak kepolisian


berhasil menggagalkan rencana pencurian lukisan mahal dari London itu. Bukan


sampai di situ saja kejutannya. Yang paling tidak masuk akal adalah, mereka


berhasil menangkap semua orang yang terlibat dalam aksi tersebut. Padahal selama


ini geng mereka selalu menjadi buronan. Jangankan menangkap, tersentuh saja


tidak bisa. Tapi kali ini mereka berhasil mematahkan asumsi pria itu dan juga


asumsi semua orang.


Apa pun yang terjadi,


kebenaran tetap akan selalu berada pada posisi paling unggul. Cepat atau


lambat, semuanya pasti akan segera tersingkap. Tidak peduli dengan seberapa


ahlinya kau menyembunyikan segala kebohongan itu. Pada akhirnya, jawabannya


hanya ada satu. Kebenaran.


“Arghh!!!”


Aaron mengacak-acak


rambutnya karena sebal. Sejak dini hari tadi ia tidak sempat tidur sama sekali


hanya karena menunggu kabar dari Hiraeth dan anak buahnya. Tapi, hasilnya


nihil. Sekarang ia harus memikirkan cara untuk membebaskan mereka. Balas dendam


akan jadi urusan ke sekian. Untuk saat ini yang terpenting adalah bagaimana


caranya agar Hiraeth dan anak buahnya mendapatkan kebebasan mereka kembali.


Ini sudah yang kedua


kalinya mereka tertangkap. Waktu itu sebab melakukan transaksi illegal di


pelabuhan. Tapi beruntung mereka bisa dibebaskan. Meski dengan cara yang


terbilang sedikit anarkis. Untuk yang kali ini sama sekali tidak ada yang bisa


memastikan. Entah nantinya mereka bisa dibebaskan atau tidak. Pasalnya semua


orang sudah terjebak di dalam sana. Hanya Aaron lah saatu-satunya orang yang


berhasil lolos karena tidak ikut terjun secara langsung.


Sejak tadi pria itu


terus berusaha untuk memutar otaknya. Mencari jalan keluar. Tapi tetap saja


hasilnya nihil. Jangankan jalan keluar, ia malah semakin stress dibuat hal


tersebut. Sesekali Aaron tampak memijat pelipisnya pelan. Berusaha untuk


mengurangi ketegangan yang ada.


“Apa yang harus


kulakukan sekarang?”


“Hiraeth bahkan ikut


tertangkap.”


“Ah, sial!”


Tapi setelah


dipikir-pikir lagi, bagaimana bisa pergerakan mereka terbaca oleh polisi. Memang


benar jika selama ini geng itu sudah tercatat sebagai salah satu buronan


mereka. Dan sejauh ini aman-aman saja. Sebab Hiraeth dan anak buahnya memiliki


seribu satu cara untuk menghindar. Beberapa orang bahkan mengatakan kalau


mereka itu kebal hukum. Tidak dapat tersentuh dan asumsi lainnya.


Selama ini tidak ada


orang yang tahu soal aksi-aksi mereka. Sebab semua itu direncanakan serta


dilaksanakan secara rahasia. Kecuali memang ada pengkianat yang membocorkan


semua rahasia itu kepada pihak kepolisian. Tapi, siapa.


“Mustahil, apakah


memang benar jika ada pengkhianat di antara mereka?” gumam Aaron sambil


“Tapi siapa?” tanyanya


lagi.


Entahlah, asumsi yang


satu itu muncul begitu saja di dalam pikirannya. Tapi, tidak ada salahnya juga.


Siapa tahu dugaan Aaron kali ini benar.


“Siapa orang yang sudah


berani-beraninya melakukan hal tersebut?” tanya Aaron kepada dirinya sendiri.


“Dia ingin cari mati


atau bagaimana?” kata pria itu.


Cepat atau lambat,


Aaron pasti akan segera mengetahui kebenarannya. Dan kalau memang benar ada


orang yang berkhianat di antara mereka, maka Aaron tidak akan melepaskannya


begitu saja.


Sepertinya orang


tersebut telah mencari masalah dengan orang yang salah. Aaron akan memastikan


jika orang tersebut pasti akan segera tertangkap. Cepat atau lambat. Nyawanya harus


habis di tangan pria itu. Berani berbuat itu artinya sama dengan berani bertanggung


jawab. Aaron tidak akan memaafkannya. Lihat saja nanti. Ada harga yag harus ia


bayar atas perbuatannya.


Tunggu dulu. Kalian


salah kalau sampai mengira jika anak buah Aaron sudah habis karena tertangkap.


Jika kalian beranggapan demikian, maka sebaiknya pikirkan lagi baik-baik. Pria


itu memiliki koneksi yang luas dengan para gangster atau bahkan mafia lainnya. Hubungan


mereka sebagai pelaku kiriminal tidak selamanya buruk. Aaron bisa saja meminta


bantuan salah satu dari mereka untuk mencari tahu soal si pengkhianat itu.


Kemudian memberikan imbalan yang sesuai. Semudah itu. Semuanya akan beres tanpa


perlu pusing lagi seperti tadi.


Begitu mendapatkan ide


cemerlang, Aaron langsung mengambil kunci sepeda motornya dan juga jaket yang


ia sampirkan di balik pintu. Pria itu berjalan dengan terburu-buru. Langkahnya terlalu


cepat, sehingga tidak pantas untuk dianggap sebagai berjalan. Lebih tepatnya


sekarang ini Aaron sedang berlari-lari kecil.


Tidak ada yang tahu


pasti kemana pria itu akan pergi. Hanya ia dan dirinya saja yang tahu.


***


Sementara itu di sisi


lain keadaan sel penjara masih baik-baik saja. Tidak ada masalah. Mereka tidak


mencoba untuk kabur. Mungkin karena tidak ada kesempatan. Kalau saja diberi


celah sedikit, pasti mereka semua sudah tidak berada di sini sekarang.


Sekarang adalah


waktunya untuk pergantian shift. Beberapa petugas yang sudah dijadwalkan akan


menggantikan posisi mereka yang sudah berjaga sejak malam tadi. Jadi tenang


saja, tidak perlu cemas. Tempat ini akan selalu dijaga selama dua puluh empat


jam penuh. Tentunya dengan penjagaan ketat yang tidak memungkinkan mereka untuk


kabur.


“Kau mau pulang?” tanya


Arjuna.


“Ya,” jawab gadis itu


singkat.


“Kalau begitu biar


kuantar saja,” tawar Arjuna.


“Tidak perlu, aku sudah


memesan taksi,” balasnya.


“Lagi pula kau juga


pasti mengantuk. Sebaiknya tidak menyetir. Jangan pulang sendiri. Pesan saja


taksi atau apa pun itu. Setidaknya mereka bisa membawamu kembali denga selamat.


Mengemudi dalam keadaan mengatuk bisa terlalu beresiko,” jelas gadis itu dengan


panjang lebar. Bukan menjelaskan, lebih tepatnya berceloteh.


“Kau benar juga,” ujar


pria itu sambil mengangguk setuju.


“Kalau begitu aku pergi


dulu. Taksinya sudah datang,” pamit Agatha.


“Hmm, berhati-hatilah!”


balas Arjuna.


Kemudian


punggung gadis itu menghilang begitu saja di balik pintu. Sosoknya sudah tidak


terlihat lagi setelah melewati ambang pintu.