
Agatha meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan
yang tak karuan. Ia diberi waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk
memutuskan. Misi kali ini taruhannya tidak main-main. Mafia-mafia itu bisa saja
menghabisinya sekarang juga. Puncak masalhnya adalah ketika semua orang yang
ada di sana tahu kalau dia merupakan salah satu dari anggota kepolisian yang
bertugas sebagai mata-mata. Nyawanya mungkin akan melayang. Mereka tidak
segang-segan untuk menghabisi gadis itu secara membabi buta. Memangnya siapa
yang menyuruh untuk cari masalah dengannya.
Sungguh ini adalah pilihan yang sulit baginya.
Konsentrasinya berhasil dikacaukan oleh Arjuna. Padahal tadinya ia sudah
berniat untuk menuntaskan kasus yang kemarin-kemarin. Tapi, bagaimana mungkin
ia bisa bekerja dengan tenang. Padahal isi kepalanya sedang kacau tak karuan.
“Argh!!!”
Gadis itu menendang pelan sebuah kursi yang berada
tepat di depannya. Tenang saja, tidak akan ada yang mempermasalahkan hal
tersebut. Lagipula tidak ada siapa-siapa juga di ruangan kerja gadis itu.
Kemudian secar kasar ia merobohkan tubuhnya begitu
saja di atas kursi kerja. Membiarkan kepalanya tergeletak di atas meja. Sekarang
bahkan ia sudah tidak selera lagi untuk makan. Padahal sarapannya tadi belum
tuntas. Harusnya Arjuna memanggil gadis itu nanti saja jika begini caranya.
“Apa tidak ada orang lain yang bisa ia andalkan
untuk misi kali ini selain aku?”
“Kenapa harus selalu aku”
“Sepertinya pria itu memiliki dendam pribadi
kepadaku, sampai-sampai tega untuk selalu menempatkanku pada setial hal
berbahaya.”
“Arjuna pasti ingin membuatku celaka.”
Agatha tidak berhenti mengomel sejak tadi. Ingin sekali
rasanya ia memprotes kebijakan tersebut. Tapi, percuma saja. Arjuna tidak akan
pernah menanggapinya dengan serius. Dia bukan tipikal orang yang menerima
penolakan atas perintahnya sendiri. Jadi, sejauh ini sudah cukup jelas. Arjuna
tidak akan mengubah apa pun dari keputusannya barusan.
“Sekarang aku harus bagaimana?” gerutunya.
Dengan perasaan yang masih tak karuan, gadis itu
menenggelamkan wajahnya di permukaan meja. Membiarkan sebagian helai rambutnya
menutupi sisa wajahnya yang masih kelihatan. Ia ingin menghilang saja dari
dunia ini. Sekarang juga kalau bisa. Kemudian kembali lagi di saat keadaan
sudah mulai membaik. Atau ketika masalahnya sudah benar-benar selesai.
Meski ia juga tahu kalau lari dari masalah bukanlah
sebuah pilihan yang tepat. Tapi sepetinya, setelah dipikir-pikir tidak akan ada
pilhan lain yang membantu.
‘TOK! TOK! TOK!’
“Masuk!” sahut gadis itu dari dalam ruangan.
Sampai sekarang ia bahkan belum mengubah posisinya
sejak terakhir kali meletakkan kepalanya di atas meja. Agatha tidak peduli
tentang siapa yang datang. Jika Agatha menceritakan masalahnya, mungkin orang
itu akan paham kenapa sekarang ia bersikap seperti ini.
‘TAP! TAP! TAP’
Suara langkah kaki itu menggema. Memenuhi seisi
ruangan. Tapi, lagi-lagi Agatha tidak ingin mempedulikan itu sama sekali.
Meskipun semakin lama suaranya terdengar semakin jelas. Yang berarti jika orang
tersebut sudah semakin dekat. Kemudian suaranya berakhir tepat di depannya.
Agatha masih belum merubah posisinya juga.
“Kau melupakan ini di ruanganku tadi,” ucap orang
itu.
Jika diperhatikan dari warna suaranya yang terkesan
agak berat, maka bisa dipastikan jika ini dalah seorang pria. Sangking terlalu
banyaknya pria di kantor ini, ia sampai tidak bisa menebak yang mana satu.
Sambil menghela napas dengan kasar, gadis itu lantas
mengangkat kepalanya. Yang membuatnya merasa terkejut di sini adalah ketika
pemilik suara itu adalah Arjuna sebelumnya. Padahal mereka baru saja bertemu
beberapa menit yang lalu.
“Lain kali jangan tinggalkan penamu di mejaku!”
peringati pria itu sekali lagi sambil menyodorkan sebuah pena yang dibawanya.
“Terima kasih,” balas Agatha dengan datar.
“Seharusnya kau meminta maaf karena sudah teledor,”
katanya.
“Ah, terserahmu saja! Jangan ganggu aku!” celetuk
Agatha.
“Aku perlu waktu untuk memikirkan keputusan konyolmu
itu,” gumamnya kemudian.
Sepertinya Arjuna sudah kehabisan kata-kata
dibuatnya. Tak tahu ingin berbuat apa lagi, ia memutuskan untuk tidak membalas perkataan
gadis itu. Kemudian tanpa berpamitan, Arjuna memutar balik badannya. Melangkah keluar
melalui pintu itu. Ia bahkan tidak menutup kembali pintunya. Sungguh menyebalkan.
Gadis itu sampai bertanya-tanya kepada dirinya
sendiri. Memangnya ada masalah apa Arjuna dengannya. Atau kesalahan macam apa
yang pernah diperbuat oleh gadis itu, sampai-sampai ia bersikap demikian. Baru-baru
ini saja Arjuna begitu. Sebelumnya tidak pernah sama sekali, meskipun tidak
bisa dipungkiri jika Arjuna memang menyebalkan.
Setelah menutup pintu itu, Agatha kembali ke tempat
duduknya. Kali ini ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Paling tidak
bisa melupakan masalah itu untuk sesaat saja. Biarkan ia fokus khusus di hari
ini saja. Jika tidak, pekerjaannya tidak akan selesai.
Agatha sungguh tidak melanjutkan sarapannya yang
sempat tertunda. Percuma saja jika ia makan tanpa ada rasa selera. Semua itu
tidak akan terasa sama nikmatnya.
“Apa aku satu-satunya korban yang tidka terbunuh di
sini?” gumam gadis itu sambil mengamati lembar kasus.
Sekarang ia sudah berpindah. Tidak lagi fokus
terhadap kasus terbaru. Melainkan kasus lama yang masih belum tuntas juga
hingga saat ini. Mereka masih membiarkan pelakunya berkeliaran untuk memastikan
praduganya.
“Yang waktu itu aku hampir saja mati jika terlambat
dibawa ke rumah sakit,” gumamnya sambil meringis kesakitan seolah kejadian itu
kembali terulang lagi kini.
Membayangkannya saja sukses membuatnya bergiding
ngeri. Agatha tidak pernah membayangkan sebelumnya jika ia nyaris menjdi korban
pembunuhan. Sungguh mengerikan. Mengingat kembali ketika pisau dingin itu
menembus paksa kulitnya dengan cepat. Rasa sakitnya tidak akan bisa
dideskripsikan dengan kata-kata sampai kapan pun. Terlalu sakit baginya.
“Sebenarnya apa tujuannya? Kenapa ia harus membunuh
begitu banyak orang hanya untuk menunjukkan titik koordinat Hongkong?”
gumamnya.
Gadis itu dibuat berpikir keras oleh si pelaku yang
bahkan sampai sekarang tidak pernah memunculkan batang hidungnya sama sekali.
Agatha memang pernah bertemu secara langsung dengannya. Namun, gadis itu tidak
memiliki cukup waktu untuk mengamati sosoknya. Dia berlalu dengan begitu cepat
waktu itu.
Terlepas dari semua kejadian mengerikan yang sempat
ia alami beberapa waktu lalu, Agatha hanya ingin pelakunya segera tertangkap. Dengan
begitu proses pengadilan akan segera dilanjutkan. Bukan hanya kehidupannya saja
yang menjadi tenang dan damai. Namun, juga berdampak kepada banyak orang. Kerisauan
masyarakat soal pembunuhan berantai ini juga pasti akan berakhir, bersamaan
dengan ditutupnya kasus tersebut dengan cara paling adil.
Waktunya ia habiskan
untuk mengerjakan kasus itu sampai batas jam makan siang. Sesekali ia harus
mondar-mandir ke beberapa tempat untuk meminta bukti tambahan sebagai pendukung
berkas.