
Agatha membuka kedua
kelopak matanya dengan perlahan. Ia tampak begitu hati-hati. Bisa ia rasakan
sekujur badannya saat ini tengah sakit bukan main. Terutama pada kepala bagian
belakangnya. Entah apa yang terjadi barusan, sehingga berhasil membuatnya
menderita seperti ini. Siapa pun itu orangnya, Agatha harus mengakui
kehebatannya. Orang tersebut berhasil membuat gadis itu menjadi tak berdaya
sekarang.
Begitu bangun, ia
langsung bangkit dari posisinya yang semula berbaring. Menyandarkan tubuhnya
pada salah satu sisi tempat tidur. Dengan kondisi yang masih setengah sadar,
gadis itu berusaha untuk mengamati sekelilingnya. Pandangannya menyisir setiap
hal yang berada di sekitarnya, tanpa terkecuali.
“Ada dimana aku?” gumam
Agatha sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Dari awal membuka
kelopak mata saja, ia sudah sadar jika
saat ini dirinya tidak berada di tempat yang biasanya. Seseorang pasti sedang
berusaha menculiknya. Dan saat ini ia sedang di sekap oleh beberapa orang
pejahat yang sudah bersekongkol.
“Ah, sial!” sarkas Agatha.
Sepertinya hari ini Dewi Fortuna sedang tidak
berpihak kepadanya. Sejak pagi hari tadi, ia sudah dihadapkan dengan begitu
banyak masalah. Mau tak mau harus berpikir keras. Bahkan gadis itu mengira jika
nanti setelah pulang dari spa ia bisa langsung beristirahat. Sungguh, Agatha
sudah memimpi-mimpikan hal tersebut sejak lama.
Siapa orang yang berani merusak rencana Agatha? Apa pun
alasannya dan siapa pun orangnya, gadis itu akan memastikan jika dia bakal
mendapat balasan yang setimpal. Agatha tidak akan memaafkan orang tersebut kali
ini. Beberapa orang memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf sama sekali.
Dengan langkah yang terhuyung-huyung, gadis itu
berusaha untuk mencapai pintu. Mempertahankan keseimbangan dirinya sendiri bukan
sesuatu yang mudah. Apalagi pada situasi seperti ini.
“Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku tadi?” gumam
gadis itu.
Tidak peduli seberapa keras otaknya berusaha untuk
mengingat kembali, tapi hasilnya tetap sama saja pada akhirnya. Nihil. Agatha
bahkan tidak bisa mengingat apa pun saat ini. Padahal itu baru saja terjadi. Belum
ada sehari yang lalu. Tapi, ia bahkan tidak bisa mengandalkan ingatannya
sendiri.
Entah kenapa mendadak gadis itu menjadi begitu
pelupa. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Daya ingatnya termasuk
kuat. Bahkan untuk hal kecil yang belum tentu berguna sama sekali, Agatha
mengingatnya.
‘CEKLEK!’
Percobaan pertamanya untuk melarikan diri berhasil. Ternyata
pintu kamar tersebut tidak terkunci sama sekali. Hanya ditutup begitu saja.
“Bagaimana bisa mereka bersikap ceroboh seperti ini?”
ujar Agatha.
Gadis itu masih tidak habis pikir. Sepertinya mereka
bukan penjahat yang berkelas. Bahkan mereka sama sekali tidak tahu bagaimana
caranya menyekap sandera dengan baik dan benar. Namun alih-alih
mempermasalahkan hal tersebut, Agatha malah bersikap sebaliknya. Ini justru
adalah sebuah kesempatan yang bagus baginya untuk melarikan diri. Terkadang,
kita bisa jadi lebih unggul dengan memanfaatkan kelemahan lawan. Persis seperti
apa yang sedang dilakukan oleh gadis ini sekarang.
Begitu sampai di ambang pintu, ia melangkah sedikit
lebih banyak. Sehingga pandangannya bisa menjangkau nyaris seluruh sisi dari
bagunan ini. Agatha memutuskan untuk pergi ke kanan. Pasalnya, memang tidak ada
jalan lain. Hanya ada satu pilihan arah. Karena memang ruangan tersebut sudah
berada di ujung koridor sepertinya.
Ia penasaran dengan tata letak bangunan ini. Biasanya
tidak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk beradaptasi dengan lingkungan
tergantung dari luas bangunannya secara keseluruhan.
Tanpa pikir panjang sama sekali, Agatha lantas
segera beranjak dari tempat awalnya berdiri. Gadis itu berjalan lurus ke arah
yang sudah ia yakini sejak awal. Dengan langkah yang sangat hati-hati, ia tetap
terus melangkah maju. Satu-satunya cara untuk mengamankan dirimu sendiri saat
ini adalah dengan tetap berwaspada.
‘TAP! TAP! TAP!’
Secara mengejutkan, gadis iitu mendengar sebuah
suara langkah kaki. Bunyinya menjadi cukup nyaring, karena suasana sekitarnya yang
begitu sunyi. Jika diperhatikan dengan baik-baik, bisa disimpulkan jika suara
ini berasal dari arah yang berlawanan.
Sontak Agatha panik dan tak tahu harus berbuat apa.
Bahkan ia tidak bisa menemukan tempat persembunyian dalam bentuk apa pun di
sekitarnya. Sepertinya sang pemilik rumah sudah mengaturnya dengan sedemikian
rupa.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kakinya terdengar lebih jelas dan juga
lebih nyaring kali ini. Bisa dipastikan jika jarak di antara mereka berdua
semakin menipis. Hal tersebut lantas membuat Agatha panik bukan main. Gadis itu
merasa terjebak saat ini. Tidak ada jalan keluar. Satu-satunya hal yang bisa ia
lakukan saat ini adalah pasrah. Sudah tidak ada harapan lagi. Bahkan jika harus
tertangkap basa sekali pun.
‘TAP! TAP!’
Pada akhirnya suara derap langkah kaki tersebut
berhenti tepat di depannya. Menampilkan sosok pria berbadan jenjang dan juga
tegap. Ia tampak menggunakan kaos berwarna abu-abu. Kemudian di tangan sebelah
kirinya, ia tampak menyampirkan sebuah jaket kulit hitam.
Tidak perlu waktu lama untuk mengenali pria
tersebut. Pria yang sedang berdiri tepat di hadapannya saat ini adalah Aaron. Si
menyebalkan itu sungguh membuat kesabarannya habis. Sekarang ia jadi ingat
kenapa dirinya bisa berada di sini. Terakhir kali ia bertemu dengan Aaron saat
akan menuju ke tempat parkir di apartmentnya. Awal mula percekcokan terjadi di
situ. Sampai pada akhirnya, Aaron melayangkan sebuah pukulan yang mendarat
tepat di kepala bagian belakang Agatha. Pantas saja ia tidak sadarkan diri
tadi.
Sekarang semua pertanyaan yang sempat muncul di
dalam kepalanya tadi sudah terjawab. Bersamaan dengan kemunculan Aaron. Karena
memang sejak awal, dia adalah biang keroknya.
“Apa yang kau inginkan?!” interupsi Agatha.
“Jadi kau sudah bangun ya?” tanya pria itu balik.
Rahangnya tampak mengeras, seiring dengan sorot
matanya yang berubah tajam. Ditambah dengan model potongan rambut wolfcut yang semakin menambah kesan menyeramkan
dari pria itu. Tapi, Agatha sama sekali tidak merasa terintimidasi sedikit pun
dengan kehadiran pria tersebut. Aaron bukanlah seseorang yang pantas untuk
ditakuti bagi orang sepertinya.
‘TAP! TAP!’
Pria itu maju dua langkah. Tulang kakinya yang
panjang, berhasil menciptakan langkah yang panjang juga. Sehingga jarak mereka
kini jadi semakin dekat.
“Kau akan tetap di sini sampai berkas itu ditemukan,”
beber pria itu secara gamblang.
Ternyata ia masih membicarakan persoalan yang sama
dengan sebelumnya.
“Sudah kubilang bukan aku pelakunya!” tegas Agatha
sekali lagi.
Gadis itu masih terus
berusaha untuk membela dirinya sendiri. Meski ia tahu jika hasilnya tidak akan
memuaskan. Aaron sama sekali tidak peduli tentang kebenarannya. Jadi percuma
saja. Tetapi, terkadang kita harus melakukan beberapa pekerjaan sia-sia di
dunia ini untuk tetap bertahan hidup.