The Riot

The Riot
Here We Are



Agatha membuka kedua


kelopak matanya dengan perlahan. Ia tampak begitu hati-hati. Bisa ia rasakan


sekujur badannya saat ini tengah sakit bukan main. Terutama pada kepala bagian


belakangnya. Entah apa yang terjadi barusan, sehingga berhasil membuatnya


menderita seperti ini. Siapa pun itu orangnya, Agatha harus mengakui


kehebatannya. Orang tersebut berhasil membuat gadis itu menjadi tak berdaya


sekarang.


Begitu bangun, ia


langsung bangkit dari posisinya yang semula berbaring. Menyandarkan tubuhnya


pada salah satu sisi tempat tidur. Dengan kondisi yang masih setengah sadar,


gadis itu berusaha untuk mengamati sekelilingnya. Pandangannya menyisir setiap


hal yang berada di sekitarnya, tanpa terkecuali.


“Ada dimana aku?” gumam


Agatha sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Dari awal membuka


kelopak mata saja, ia sudah  sadar jika


saat ini dirinya tidak berada di tempat yang biasanya. Seseorang pasti sedang


berusaha menculiknya. Dan saat ini ia sedang di sekap oleh beberapa orang


pejahat yang sudah bersekongkol.


“Ah, sial!” sarkas Agatha.


Sepertinya hari ini Dewi Fortuna sedang tidak


berpihak kepadanya. Sejak pagi hari tadi, ia sudah dihadapkan dengan begitu


banyak masalah. Mau tak mau harus berpikir keras. Bahkan gadis itu mengira jika


nanti setelah pulang dari spa ia bisa langsung beristirahat. Sungguh, Agatha


sudah memimpi-mimpikan hal tersebut sejak lama.


Siapa orang yang berani merusak rencana Agatha? Apa pun


alasannya dan siapa pun orangnya, gadis itu akan memastikan jika dia bakal


mendapat balasan yang setimpal. Agatha tidak akan memaafkan orang tersebut kali


ini. Beberapa orang memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf sama sekali.


Dengan langkah yang terhuyung-huyung, gadis itu


berusaha untuk mencapai pintu. Mempertahankan keseimbangan dirinya sendiri bukan


sesuatu yang mudah. Apalagi pada situasi seperti ini.


“Sebenarnya apa yang terjadi kepadaku tadi?” gumam


gadis itu.


Tidak peduli seberapa keras otaknya berusaha untuk


mengingat kembali, tapi hasilnya tetap sama saja pada akhirnya. Nihil. Agatha


bahkan tidak bisa mengingat apa pun saat ini. Padahal itu baru saja terjadi. Belum


ada sehari yang lalu. Tapi, ia bahkan tidak bisa mengandalkan ingatannya


sendiri.


Entah kenapa mendadak gadis itu menjadi begitu


pelupa. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Daya ingatnya termasuk


kuat. Bahkan untuk hal kecil yang belum tentu berguna sama sekali, Agatha


mengingatnya.


‘CEKLEK!’


Percobaan pertamanya untuk melarikan diri berhasil. Ternyata


pintu kamar tersebut tidak terkunci sama sekali. Hanya ditutup begitu saja.


“Bagaimana bisa mereka bersikap ceroboh seperti ini?”


ujar Agatha.


Gadis itu masih tidak habis pikir. Sepertinya mereka


bukan penjahat yang berkelas. Bahkan mereka sama sekali tidak tahu bagaimana


caranya menyekap sandera dengan baik dan benar. Namun alih-alih


mempermasalahkan hal tersebut, Agatha malah bersikap sebaliknya. Ini justru


adalah sebuah kesempatan yang bagus baginya untuk melarikan diri. Terkadang,


kita bisa jadi lebih unggul dengan memanfaatkan kelemahan lawan. Persis seperti


apa yang sedang dilakukan oleh gadis ini sekarang.


Begitu sampai di ambang pintu, ia melangkah sedikit


lebih banyak. Sehingga pandangannya bisa menjangkau nyaris seluruh sisi dari


bagunan ini. Agatha memutuskan untuk pergi ke kanan. Pasalnya, memang tidak ada


jalan lain. Hanya ada satu pilihan arah. Karena memang ruangan tersebut sudah


berada di ujung koridor sepertinya.


Ia penasaran dengan tata letak bangunan ini. Biasanya


tidak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk beradaptasi dengan lingkungan


tergantung dari luas bangunannya secara keseluruhan.


Tanpa pikir panjang sama sekali, Agatha lantas


segera beranjak dari tempat awalnya berdiri. Gadis itu berjalan lurus ke arah


yang sudah ia yakini sejak awal. Dengan langkah yang sangat hati-hati, ia tetap


terus melangkah maju. Satu-satunya cara untuk mengamankan dirimu sendiri saat


ini adalah dengan tetap berwaspada.


‘TAP! TAP! TAP!’


Secara mengejutkan, gadis iitu mendengar sebuah


suara langkah kaki. Bunyinya menjadi cukup nyaring, karena suasana sekitarnya yang


begitu sunyi. Jika diperhatikan dengan baik-baik, bisa disimpulkan jika suara


ini berasal dari arah yang berlawanan.


Sontak Agatha panik dan tak tahu harus berbuat apa.


Bahkan ia tidak bisa menemukan tempat persembunyian dalam bentuk apa pun di


sekitarnya. Sepertinya sang pemilik rumah sudah mengaturnya dengan sedemikian


rupa.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara langkah kakinya terdengar lebih jelas dan juga


lebih nyaring kali ini. Bisa dipastikan jika jarak di antara mereka berdua


semakin menipis. Hal tersebut lantas membuat Agatha panik bukan main. Gadis itu


merasa terjebak saat ini. Tidak ada jalan keluar. Satu-satunya hal yang bisa ia


lakukan saat ini adalah pasrah. Sudah tidak ada harapan lagi. Bahkan jika harus


tertangkap basa sekali pun.


‘TAP! TAP!’


Pada akhirnya suara derap langkah kaki tersebut


berhenti tepat di depannya. Menampilkan sosok pria berbadan jenjang dan juga


tegap. Ia tampak menggunakan kaos berwarna abu-abu. Kemudian di tangan sebelah


kirinya, ia tampak menyampirkan sebuah jaket kulit hitam.


Tidak perlu waktu lama untuk mengenali pria


tersebut. Pria yang sedang berdiri tepat di hadapannya saat ini adalah Aaron. Si


menyebalkan itu sungguh membuat kesabarannya habis. Sekarang ia jadi ingat


kenapa dirinya bisa berada di sini. Terakhir kali ia bertemu dengan Aaron saat


akan menuju ke tempat parkir di apartmentnya. Awal mula percekcokan terjadi di


situ. Sampai pada akhirnya, Aaron melayangkan sebuah pukulan yang mendarat


tepat di kepala bagian belakang Agatha. Pantas saja ia tidak sadarkan diri


tadi.


Sekarang semua pertanyaan yang sempat muncul di


dalam kepalanya tadi sudah terjawab. Bersamaan dengan kemunculan Aaron. Karena


memang sejak awal, dia adalah biang keroknya.


“Apa yang kau inginkan?!” interupsi Agatha.


“Jadi kau sudah bangun ya?” tanya pria itu balik.


Rahangnya tampak mengeras, seiring dengan sorot


matanya yang berubah tajam. Ditambah dengan model potongan rambut wolfcut yang semakin menambah kesan menyeramkan


dari pria itu. Tapi, Agatha sama sekali tidak merasa terintimidasi sedikit pun


dengan kehadiran pria tersebut. Aaron bukanlah seseorang yang pantas untuk


ditakuti bagi orang sepertinya.


‘TAP! TAP!’


Pria itu maju dua langkah. Tulang kakinya yang


panjang, berhasil menciptakan langkah yang panjang juga. Sehingga jarak mereka


kini jadi semakin dekat.


“Kau akan tetap di sini sampai berkas itu ditemukan,”


beber pria itu secara gamblang.


Ternyata ia masih membicarakan persoalan yang sama


dengan sebelumnya.


“Sudah kubilang bukan aku pelakunya!” tegas Agatha


sekali lagi.


Gadis itu masih terus


berusaha untuk membela dirinya sendiri. Meski ia tahu jika hasilnya tidak akan


memuaskan. Aaron sama sekali tidak peduli tentang kebenarannya. Jadi percuma


saja. Tetapi, terkadang kita harus melakukan beberapa pekerjaan sia-sia di


dunia ini untuk tetap bertahan hidup.