
Mengingat kondisi Arjuna saat ini terbilang tidak
baik-baik saja, ia memutuskan untuk mengantar pria itu kembali ke tempat
tinggalnya. Kebetulan Agatha sudah pernah berkunjung beberapa kali ke sana,
jadi sudah hapal rute perjalanannya. Berkendara lewat dari tengan malam seperti
ini bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya.
Kali ini Agatha yang mengambil alih. Mereka saling
bertukar posisi. Gadis itu duduk di tempat pengemudi, kemudian diikuti dengan
Arjuna yang duduk tepat di belakangnya.
Kondisi lalu lintas malam ini terbilang cukup
lancar. Tidak terlalu ramai, sebab orang-orang pasti sedang tertidur pulas. Jadi
sepeda motor gadis itu bisa melaju dengan mudah. tanpa perlu takut terjebak
macat sama sekali. Arjuna butuh sampai ke rumah dengan segera. Ia tidak bisa
bertahan lebih lama lagi di atas sepeda motor dengan kondisi seperti ini.
Gadis itu menepikan sepeda motornya tepat di depan
sebuah rumah. Mereka sudah sampai. Berbeda dengan Agatha, pria itu tinggal di
sebuah rumah yang telah dirancang khusus untuk tempat tinggal bagi satu
keluarga. Padahal ia hanya tinggal sendiri di sana. Tempat itu terlalu besar
untuk dihuni sendiri. Namun, tetap saja di sisi lain Arjuna tidak akan pernah
meninggalkan tempat tersebut.
“Hati-hati!” ucap Agatha sembari menuntun pria itu.
Mereka masuk melewati gerbang utama. Tidak lupa
untuk menguncinya. Sungguh tidak ada siapa pun di rumah ini. Bahkan lampu-lampu
yang ada di tempat ini tampak belum dinyalakan sama sekali.
“Apa kau belum ada kembali ke sini sejak tadi?”
tanya Agatha penasaran.
“Belum,” jawab pria itu dengan lemah.
“Pantas saja semua lampunya mati,” balasnya
kemudian.
Ia menyuruh Arjuna untuk menunggunya sebentar dengan
duduk di kursi teras. Sementara gadis itu membuka pintu dan menyalakan beberapa
lampu. Indera pengelihatannya tidak akan bekerja tanpa pasokan cahaya yang
cukup. Sejak awal kedatangannya kemari, sama sekali tidak ada seberkas cahaya
pun yang menyapa pandangannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang satu itu,
baru ia kembali kepada Arjuna. Mengantarkan sang pemilik rumah untuk kembali ke
kamarnya. Ia pasti lelah. Noda hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. Entah
sudah berapa malam ia tidak tidur. Sampai-sampai kantung matanya bisa separah
itu.
“Mau kemana kau setelah ini?” tanya Arjuna secara
mendadak.
“Pulang,” jawab Agatha sambil membenarkan selimut
pria itu.
“Ini sudah larut malam,” ujar Arjuna.
“Tidak masalah,” balas gadis itu secara gamblang.
Sekarang memang hampir pukul tiga pagi. Itu artinya
dalam waktu dekat jalanan akan kembali padat. Mengingat jika tempat tinggal
mereka saat ini termasuk berada di kota besar. Tidak ada yang perlu
dikhawatirkan. Lagipula sebentar lagi matahari akan keluar dari sarangnya.
“Aku izin untuk tidak masuk ke kantor besok,” ungkap
gadis itu..
“Kenapa?” tanya Arjuna seperti biasanya.
“Percuma saja jika aku pergi bekerja dan malah tidak
fokus karena mengantuk,” jelasnya.
Arjuna lantas mengangguk paham begitu mendengar penjelasan
dari gadis itu. Wajar saja jika ia merasa kelelahan. Hari ini mereka sudah
dibuat kewalahan. Nyaris tidak ada istirahat sama sekali.
“Tidak masalah. Tapi, apa kau sungguh ingin kembali
pada jam segini?!”
“Apa aku perlu mengulangi perkataanku lagi?”
“Sebagai atasanmu, aku sama sekali tidak mengizinkan
untuk bepergian pada jam segini.”
“Posisi itu hanya berlaku di kantor. Di luar kantor,
posisi kita sama. Lagipula umur kita tidak berbeda jauh.”
“Tapi, tetap saja aku harus mematuhi perintah dari
orang yang lebih tua.”
“Ayolah! Di luar sana terlalu berbahaya bagi seorang
gadis sepertimu.”
“Lalu, untuk apa aku belajar taekwondo jika tidak
bisa digunakan?”
“Dasar keras kepala!”
Berdebat dengan Agatha sungguh tidak ada habisnya. Selalu
ada saja jawaban yang muncul dari mulutnya. Membuat pria itu geleng-geleng
kepala karena tidak habis pikir.
“Kau tahu bukan jika rumah ini memiliki beberapa
kamar? Untuk kali ini dengan senang hati aku akan meminjamkan salah satunya
kepadamu,” beber Arjuna.
“Sungguh?” tanya Agatha yang kemudian mendapatkan
persetujuan dari pria itu.
“Tapi sayangnya aku tidak tertarik sama sekali,”
katanya.
“Berhenti membantah dan tetaplah berada di sini
sampaimatahari terbit!” bentak pria itu.
Kali ini nada bicaranya dua kali lebih tinggi dari
pada yang sebelumnya. Hal tersebut sukses untuk membuat Agatha merasa terkejut.
Beberapa kali ia mengerjap untuk menetralisir suasana hatinya.
Entah kenapa Arjuna mendadak jadi begitu sensitif
hari ini. Yang tadi bukan pertama kalinya pria itu bicara dengannya menggunakan
nada tinggi. Terkesan sarkas. Namun, siapa yang peduli.
“Sekarang pergilah ke kamar sebelah dan segera
tidur!” titahnya.
***
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang
terjadi saat ini. Semua hal terasa begitu membingungkan. Agatha sama sekali
tidak mengerti.
“Apa aku sudah keterlaluan sampai-sampai hari ini
dia selalu membentakku?” gumam gadis itu.
Sejak kejadian yang terakhir kali tadi, ia tidak
pernah bisa tidur walau Arjuna sudah menyuruhnya. Gadis itu hanya bisa
berbaring di atas ranjang berukuran king
size sambil menapat langit-langit ruangan.
“Apa sekarang Arjuna sudah tidur?” tanyanya kepada
dirinya sendiri. Meski pada dasarnya, Agatha tidak tahu apa jawaban untuk
pertanyaan tersebut.
Ia menuruti permintaan Arjuna untuk tetap berada di
sini. Setidaknya sampai pukul tujuh pagi nanti. Atau sampai matahari keluar
dari sarangnya. Sinar jingga keemasan cukup untuk menjadi pertanda jika hari
baru sudah dimulai.
Jika diperhatikan baik-baik dari susunan interior
ruangan ini, sepertinya sekarang ia sedang berada di kamar kedua orang tua pria
itu. Entahlah, tidak pernah ada orang lain di rumah ini selain Arjuna. Tapi, setiap
sudut yang berada di sini masih begitu terawat. Bahkan tidak menunjukkan kesan
seram sama sekali. Padahal Arjuna terlbilang jarang berada di rumah. Ia jauh
lebih suka untuk menghabiskan waktunya di luar ruangan. Seperti di kantor salah
satunya.
Menurut cerita yang ia dengar selama ini, semua
anggota keluarga Arjuna memang sudah meninggal. Mulai dari kedua orang tuanya
yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas di jalan tol, hingga kakak
laki-lakinya yang terkena kanker otak. Penyakit tersebut berhasil merenggut
nyawa kakaknya dua tahun lalu.
Alhasil, saat ini Arjuna hanya tinggal sendirian di
rumah sebesar ini. Pasti membosankan. Ia tentu merasa kesepian. Saat ini Arjuna
sedang berhadapan dengan masa lalunya sendiri. Setiap tembok yang berada di
tempat ini pasti memiliki kenangannya tersendiri.
“Apa jangan-jangan Arjuna masih memiliki trauma
akibat kecelakaan itu?” tebak Agatha.
Meski belum tentu
seratus persen benar, tapi tetap saja kemungkinannya terbilang cukup besar.
Arjuna mungkin saja diam-diam masih menyimpan trauma di dalam dirinya.