The Riot

The Riot
Shout



Mengingat kondisi Arjuna saat ini terbilang tidak


baik-baik saja, ia memutuskan untuk mengantar pria itu kembali ke tempat


tinggalnya. Kebetulan Agatha sudah pernah berkunjung beberapa kali ke sana,


jadi sudah hapal rute perjalanannya. Berkendara lewat dari tengan malam seperti


ini bukan lagi sesuatu yang menakutkan baginya.


Kali ini Agatha yang mengambil alih. Mereka saling


bertukar posisi. Gadis itu duduk di tempat pengemudi, kemudian diikuti dengan


Arjuna yang duduk tepat di belakangnya.


Kondisi lalu lintas malam ini terbilang cukup


lancar. Tidak terlalu ramai, sebab orang-orang pasti sedang tertidur pulas. Jadi


sepeda motor gadis itu bisa melaju dengan mudah. tanpa perlu takut terjebak


macat sama sekali. Arjuna butuh sampai ke rumah dengan segera. Ia tidak bisa


bertahan lebih lama lagi di atas sepeda motor dengan kondisi seperti ini.


Gadis itu menepikan sepeda motornya tepat di depan


sebuah rumah. Mereka sudah sampai. Berbeda dengan Agatha, pria itu tinggal di


sebuah rumah yang telah dirancang khusus untuk tempat tinggal bagi satu


keluarga. Padahal ia hanya tinggal sendiri di sana. Tempat itu terlalu besar


untuk dihuni sendiri. Namun, tetap saja di sisi lain Arjuna tidak akan pernah


meninggalkan tempat tersebut.


“Hati-hati!” ucap Agatha sembari menuntun pria itu.


Mereka masuk melewati gerbang utama. Tidak lupa


untuk menguncinya. Sungguh tidak ada siapa pun di rumah ini. Bahkan lampu-lampu


yang ada di tempat ini tampak belum dinyalakan sama sekali.


“Apa kau belum ada kembali ke sini sejak tadi?”


tanya Agatha penasaran.


“Belum,” jawab pria itu dengan lemah.


“Pantas saja semua lampunya mati,” balasnya


kemudian.


Ia menyuruh Arjuna untuk menunggunya sebentar dengan


duduk di kursi teras. Sementara gadis itu membuka pintu dan menyalakan beberapa


lampu. Indera pengelihatannya tidak akan bekerja tanpa pasokan cahaya yang


cukup. Sejak awal kedatangannya kemari, sama sekali tidak ada seberkas cahaya


pun yang menyapa pandangannya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang satu itu,


baru ia kembali kepada Arjuna. Mengantarkan sang pemilik rumah untuk kembali ke


kamarnya. Ia pasti lelah. Noda hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. Entah


sudah berapa malam ia tidak tidur. Sampai-sampai kantung matanya bisa separah


itu.


“Mau kemana kau setelah ini?” tanya Arjuna secara


mendadak.


“Pulang,” jawab Agatha sambil membenarkan selimut


pria itu.


“Ini sudah larut malam,” ujar Arjuna.


“Tidak masalah,” balas gadis itu secara gamblang.


Sekarang memang hampir pukul tiga pagi. Itu artinya


dalam waktu dekat jalanan akan kembali padat. Mengingat jika tempat tinggal


mereka saat ini termasuk berada di kota besar. Tidak ada yang perlu


dikhawatirkan. Lagipula sebentar lagi matahari akan keluar dari sarangnya.


“Aku izin untuk tidak masuk ke kantor besok,” ungkap


gadis itu..


“Kenapa?” tanya Arjuna seperti biasanya.


“Percuma saja jika aku pergi bekerja dan malah tidak


fokus karena mengantuk,” jelasnya.


Arjuna lantas mengangguk paham begitu mendengar penjelasan


dari gadis itu. Wajar saja jika ia merasa kelelahan. Hari ini mereka sudah


dibuat kewalahan. Nyaris tidak ada istirahat sama sekali.


“Tidak masalah. Tapi, apa kau sungguh ingin kembali


pada jam segini?!”


“Apa aku perlu mengulangi perkataanku lagi?”


“Sebagai atasanmu, aku sama sekali tidak mengizinkan


untuk bepergian pada jam segini.”


“Posisi itu hanya berlaku di kantor. Di luar kantor,


posisi kita sama. Lagipula umur kita tidak berbeda jauh.”


“Tapi, tetap saja aku harus mematuhi perintah dari


orang yang lebih tua.”


“Ayolah! Di luar sana terlalu berbahaya bagi seorang


gadis sepertimu.”


“Lalu, untuk apa aku belajar taekwondo jika tidak


bisa digunakan?”


“Dasar keras kepala!”


Berdebat dengan Agatha sungguh tidak ada habisnya. Selalu


ada saja jawaban yang muncul dari mulutnya. Membuat pria itu geleng-geleng


kepala karena tidak habis pikir.


“Kau tahu bukan jika rumah ini memiliki beberapa


kamar? Untuk kali ini dengan senang hati aku akan meminjamkan salah satunya


kepadamu,” beber Arjuna.


“Sungguh?” tanya Agatha yang kemudian mendapatkan


persetujuan dari pria itu.


“Tapi sayangnya aku tidak tertarik sama sekali,”


katanya.


“Berhenti membantah dan tetaplah berada di sini


sampaimatahari terbit!” bentak pria itu.


Kali ini nada bicaranya dua kali lebih tinggi dari


pada yang sebelumnya. Hal tersebut sukses untuk membuat Agatha merasa terkejut.


Beberapa kali ia mengerjap untuk menetralisir suasana hatinya.


Entah kenapa Arjuna mendadak jadi begitu sensitif


hari ini. Yang tadi bukan pertama kalinya pria itu bicara dengannya menggunakan


nada tinggi. Terkesan sarkas. Namun, siapa yang peduli.


“Sekarang pergilah ke kamar sebelah dan segera


tidur!” titahnya.


***


Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang


terjadi saat ini. Semua hal terasa begitu membingungkan. Agatha sama sekali


tidak mengerti.


“Apa aku sudah keterlaluan sampai-sampai hari ini


dia selalu membentakku?” gumam gadis itu.


Sejak kejadian yang terakhir kali tadi, ia tidak


pernah bisa tidur walau Arjuna sudah menyuruhnya. Gadis itu hanya bisa


berbaring di atas ranjang berukuran king


size sambil menapat langit-langit ruangan.


“Apa sekarang Arjuna sudah tidur?” tanyanya kepada


dirinya sendiri. Meski pada dasarnya, Agatha tidak tahu apa jawaban untuk


pertanyaan tersebut.


Ia menuruti permintaan Arjuna untuk tetap berada di


sini. Setidaknya sampai pukul tujuh pagi nanti. Atau sampai matahari keluar


dari sarangnya. Sinar jingga keemasan cukup untuk menjadi pertanda jika hari


baru sudah dimulai.


Jika diperhatikan baik-baik dari susunan interior


ruangan ini, sepertinya sekarang ia sedang berada di kamar kedua orang tua pria


itu. Entahlah, tidak pernah ada orang lain di rumah ini selain Arjuna. Tapi, setiap


sudut yang berada di sini masih begitu terawat. Bahkan tidak menunjukkan kesan


seram sama sekali. Padahal Arjuna terlbilang jarang berada di rumah. Ia jauh


lebih suka untuk menghabiskan waktunya di luar ruangan. Seperti di kantor salah


satunya.


Menurut cerita yang ia dengar selama ini, semua


anggota keluarga Arjuna memang sudah meninggal. Mulai dari kedua orang tuanya


yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas di jalan tol, hingga kakak


laki-lakinya yang terkena kanker otak. Penyakit tersebut berhasil merenggut


nyawa kakaknya dua tahun lalu.


Alhasil, saat ini Arjuna hanya tinggal sendirian di


rumah sebesar ini. Pasti membosankan. Ia tentu merasa kesepian. Saat ini Arjuna


sedang berhadapan dengan masa lalunya sendiri. Setiap tembok yang berada di


tempat ini pasti memiliki kenangannya tersendiri.


“Apa jangan-jangan Arjuna masih memiliki trauma


akibat kecelakaan itu?” tebak Agatha.


Meski belum tentu


seratus persen benar, tapi tetap saja kemungkinannya terbilang cukup besar.


Arjuna mungkin saja diam-diam masih menyimpan trauma di dalam dirinya.