
Yang tadi itu sungguh
menguji kesabarannya. Bagaimana bisa Narendra menuduhnya begitu saja tanpa ada
bukti yang jelas. Ia bahkan tidak mau mencari tahu kebenarannya lebih dulu.
Sekarang pertanyaannya adalah, apakah dia tidak malu telah bersikap sok benar
dan menyalahkan orang lain tanpa landasan yang jelas.
“Memangnya siapa wanita
itu?” gumam Agatha.
Selama perjalanan
pulang ia terus memikirkan tentang Liora. Bahkan saat akan naik lift menuju
tempat tinggalnya pun, Agatha masih tidak bisa menyingkirkan hal tersebut dari
dalam pikirannya.
Agatha terus
bertanya-tanya tentang siapa Liora sebenarnya, da nada hubungan apa wanita itu
dengan ayahnya. Ia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Narendra membelanya
mati-matian seperti yang tadi itu. Padahal sudah jelas kalau Agatha sama sekali
tidak bersalah di sini. Ia hanya sedang mencoba untuk melindungi dirinya
kemarin. Orang-orang yang mengerti pasti juga akan setuju dan memihak
kepadanya.
“Apa dia tengah
berusaha untuk mengadu domba?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Kemudian Agatha tertawa
pelan. Sepertinya tebakannya yang kali ini benar lagi. Liora pasti sedang
memanfaatkan pria itu untuk melindunginya. Sudah jelas jika ia sedang melakukan
itu sekarang. Tapi, tidak perlu takut. Setelah kondisinya membaik, Liora akan
segera berurusan dengan pihak kepolisian. Agatha harus memastikan kalau ia
tidak akan bisa kabur begitu saja sebelum kasusnya selesai. Apa pun yang
terjadi, bukankah Liora tetap harus bertanggung jawab.
“Halo!” sapa Agatha
lebih dulu begitu teleponnya tersambung.
“Ada apa?” interupsi Jeff.
“Nanti bisa temani aku
ke rumah sakit?” tanya gadis itu dengan hati-hati.
“Kenapa? Apa kau sakit
lagi?” tanya Jeff balik.
“Tidak, bukan begitu!”
tepis Agatha dengan cepat.
“Lalu?” tanya Jeff
kembali.
“Aku hanya ingin
memeriksa pelaku. Kabarnya dia sudah sadarkan diri dari koma,” jelas gadis itu
dengan singkat.
“Lalu kapan kau akan
pergi ke sana?” tanya pria itu lagi untuk memastikan.
“Bagaimana kalau besok?”
usul Agatha.
“Sekarang aku baru saja
pulang dari rumah sakit. Kondisiku belum benar-benar prima. Mungkin besok akan
sedikit membaik,” jelasnya kemudian.
“Jangan terlalu
memaksakan dirimu!” larang Jeff.
“Aku sudah tidak
apa-apa sekarang!” celetuk Agatha yang tak mau kalah.
“Ya sudah! Kalau begitu
besok hubungi saja aku kembali,” tutup pria itu.
“Baiklah, terima kasih!”
balas Agatha kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Sekarang Liora tidak
akan bisa mengelak lagi. Besok semua kebohongannya akan segera terungkap. Agatha
juga akan segera tahu apa motif dari pelaku hingga dia begitu terobsesi untuk
menghabisi gadis ini. Mari kita lihat saja besok akan bagaimana. Tapi, Agatha
memiliki firasat baik soal rencana mereka yang satu ini.
“Kau pikir bisa lari
begitu saja dariku? Tentu tidak! Kau harus menyelesaikan semua urusanmu lebih
dulu,” kata Agatha sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Entah kenapa
orang-orang begitu suka berbohong. Mengarang cerita yang sebenarnya tidak ada
dan membuat semua itu seolah-olah terjadi secara nyata. Sepertinya beberapa
pembohong memiliki keahlian khusus dalam menyusun skenario. Mereka bisa beralih
peran sebagai penulis skrip film kalau mau. Bukankan itu jauh lebih baik. Dan
yang terpenting tidak akan merugikan orang lain.
Baru saja Agatha sampai
di kamarnya. Mendadak ia mendapatkan kabar jika paket miliknya sudah datang. Beberapa
apartment barunya. Para petugas pengantar barang sudah sampai di basement. Mau tak
mau ia terpaksa turun lagi untuk menemui mereka. Beruntung ia hidup di zaman
yang sudah canggih. Sehingga semua hal terasa lebih mudah dengan bantuan
peralatan canggih tersebut. Bukankah semakin lama teknologi akan semakin
berkembang.
Perjalanannya dari
lantai dua puluh hanya memakan waktu kurang dari tiga menit untuk sampai dia
lantai paling bawah. Cukup menghemat waktu bagi Agatha yang memang tidak suka
untuk berlama-lama.
“Bisa langsung dibawa
saja ke lantai dua puluh?” tanya Agatha untuk memastikan.
“Baiklah,” balas salah
satu dari mereka yang kemudian bergerak ke arah lift barang.
Beruntung mereka mau
membantu Agatha untuk memindahkannya ke atas. Dan sepertinya kedatangan mereka
hari ini memang untuk hal tersebut. Sebab, kalau hanya gadis itu sendiri saja
yang melakukan semuanya tentu ia tidak akan sanggup. Tidak peduli sekuat apa
pun Agatha selama ini, tetap saja ia seorang wanita. Bukankah semua orang
memiliki batasannya masing-masing. Sehebat apa pun orang tersebut tetap saja
ada hal yang tidak bisa ia lakukan.
Saat Agatha akan menyusul
mereka ke lantai dua puluh dengan menggunakan lift, tiba-tiba saja seseorang
yang berjalan di depannya terjatuh ke lantai begitu saja. Ada orang lain yang
menembaknya dari arah yang berlawanan. Di saat yang bersamaan pula Agatha
terkena percikan darah dari korban. Saat orang lain mulai berteriak, dia hanya
bisa diam di tempat. Tercengang. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Otaknya seolah menolak untuk percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Sampai ketika beberapa
petugas apartment datang untuk memastikan keadaan korban yang sudah jelas tidak
baik-baik saja. Keriuhan suasana berhasil memecah isi pikirannya. Semuanya
buyar seketika.
“Apa kau tidak apa-apa
nona?” tanya seorang pria yang datang entah dari mana.
Agatha mengangguk
pelan, untuk mengiyakan perkataan pria tersebut. Kemudian ia berusaha untuk
menyingkir dari tempat kejadian dengan mundur beberapa langkah. Agatha tidak
mau mengganggu proses evakuasi.
Tak lama kemudian
ambulans datang bersamaan dengan mobil polisi. Mereka semua menyergap masuk ke
dalam pada waktu yang bersamaan. Membuat suasana jadi semakin riuh. Para polisi
itu, Agatha mengenalnya. Ternyata yang datang adalah polisi dari kantor
tempatnya bekerja. Ada Arjuna dan yang lainnya. Mereka juga menyadari kehadiran
Agatha di sini rupanya.
“Apa yang kau lakukan
di sini?” tanya Arjuna sementara yang lain sibuk mengamankan TKP.
Agatha tidak menjawab. Ia
masih tetap bungkam. Sepertinya gadis itu masih terkejut dengan apa yang baru
saja terjadi di hadapannya sekarang.
“Agatha!” seru pria itu
sambil mencengkam pundak gadis itu kuat-kuat. Sehingga membuat pemilikya memekik pelan.
“D-di-d-dia…” ucap
Agatha dengan terbata-bata.
“Katakan yang benar!”
bentak Arjuna.
“Apa yang kau lakukan!”
seru Jeff.
“Kau hanya akan
membuatnya semakin ketakutan!” jelasnya dengan nada tinggi.
“Sebaiknya kau urus
saja pekerjaanmu sendiri!” perintah Arjuna dengan angkuh.
Kemudian tanpa banyak
bicara lagi, Jeff segera merebut Agatha dari pria itu. Membawanya ke dalam
dekapannya. Sambil sesekali mengusap pelan ujung kepala gadis itu.
“Apa kau baik-baik
saja?”
“Kenapa wajah dan
bajumu ada banyak noda darah seperti ini?”
“Sudah, tidak apa-apa!”
“Kau
aman sekarang. Kau bisa menjelaskannya nanti ketika situasimu sudah jauh lebih
baik. sekarang tenangkan dulu dirimu.”