The Riot

The Riot
Save Me



Tidak ada yang


benar-benar aman di dunia ini. Semua manusia sebenarnya sedang terancam akan


sebuah bahaya. Baik itu bahaya besar atau kecil. Kembali lagi ke prinsip


awalnya, jika manusia tidak akan bisa memastikan apa pun di dunia ini.  Termasuk Agatha. Bekerja sebagai salah satu


orang yang menjaga keamanan, bukan berarti ia bisa menjamin jika dirinya aman


sekarang. Mungkin ia adalah orang yang paling disukai oleh bahaya.


“Mau pulang?” tanya


Arjuna.


Pria itu tiba-tiba saja


muncul di ambang pintu ruangan Agatha. Tapi, gadis itu sama sekali tidak


terkejut. Ini bukan pertama kalinya. Arjuna sudah cukup sering muncul secara


mendadak seperti itu. Bahkan hal tersebut sudah tidak lagi terasa seperti


sebuah kejutan.


“Mau kemana?” tanya


pria itu lagi sambil menahan Agatha.


Salah satu tangan gadis


itu dicengkram kuat olehnya. Ia tidak akan membiarkan Agatha pergi begitu saja


sebelum menjawab pertanyaannya. Hari ini gadis itu belum ada bicara sepatah


kata pun kepadanya. Yang tadi pagi adalah yang pertama dan terakhir untuk hari


ini.


“Biar aku antar pulang


ya?” tawar Arjuna.


Bukannya mengiyakan


tawaran tersebut, gadis itu malah menghela napasnya dengan kasar. Kemudian


menghempaskan tangan Arjuna. Untuk saat ini hanya ada satu yang ia inginkan


adalah orang yang bernama Arjuna agar menyingkir dari hadapannya. Dia tidak


ingin berurusan dengan orang seperti itu lagi. Penipu.


Tanpa pikir panjang


lagi, setelah berhasil melepaskan diri dari Arjuna, gadis itu pergi berlalu


begitu saja. Dia melangkah dengan tenang, seolah masalahnya sudah selesai.


Padahal belum sama sekali. Jelas Arjuna yang merasa gagal dalam mempertahankan


gadis itu langsung mengejarnya. Tidak perlu waktu lama. Sekarang Agatha sudah


kembali tertangkap.


Arjuna menghempaskan


tubuh gadis itu sampai menghantam dinding. Jika didengar dari suaranya, maka


sepertinya itu terdengar sangat kuat. Jika kekuatannya ditambah sedikit lagi,


tulang rusuknya pasti akan patah.


Sudah cukup. Kesabaran


pria ini sudah habis. Agatha benar-benar salah orang. Bagaimana bisa ia mencoba


untuk menguji kesabaran seseorang yang tempramen seperti Arjuna. Jelas dia


tidak akan bisa bersabar. Emosinya sangat mudah terpancing.


Salah satu tangan


Arjuna beralih mencengkram rahang lawan bicaranya. Bukan Agatha namanya kalau


tidak bersikap tenang dalam segala sesuatu. Meski merasa sakit, Ia tidak akan


memberontak sama sekali. Karena hal tersebut hanya akan memicu perkelahian.


“Apa kau akan


mencelakai rekan satu timmu sekarang?” tanya Agatha secara gamblang.


Kemudian ia tersenyum


tipis. Seolah bisa membaca pikiran Arjuna, ia tahu persis apa yang akan


dilakukan oleh pria itu. hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, Arjuna


mungkin akan berpikir dua kali untuk menghabisinya karena beberapa hal.


Terutama reputasinya. Jelas ia tidak akan membiarkan emosi menguasai dirinya


dan merebut semua itu. Tapi, di sisi lain ada kemungkinan terburuknya juga.


Bisa jadi Arjuna memang sudah kehilangan akal. Tanpa mempedulikan apa pun ia


akan menghabisi Agatha. Memuaskan rasa marah dan kesalnya terhadap gadis itu.


Tenang saja, tidak


perlu merasa cemas. Agatha tidak akan tinggal diam begitu saja kali ini. Dia


tidak mau mati konyol, apa lagi di tangan orang seperti itu. Sepertinya Arjuna


hanpir lupa kalau Agatha bukan tipikal orang yang mudah menyerah begitu saja.


“Jadi sekarang kau


ingin  berubah menjadi pembunuh ya?”


tanya Agatha untuk memastikan.


“Silahkan saja, tidak akan


ada yang menghalangimu,” imbuhnya.


“Lakukan saja kalau


memang kau ingin kehilangan semua hal yang sudah kau miliki saat ini,” final


gadis itu.


Arjuna kebingungan.


“Ya, kehilangan semua


yang kau miliki. Termasuk kekasihmu yang satu itu,” ucap Agatha secara


gamblang.


“Jangan konyol! Dia


juga temanmu!” teriak Arjuna.


“Haha! Akhirnya kau


mengakui hal itu juga setelah sekian lama,” balas Agatha sambil tertawa pelan. Seolah-olah


sedang meledek lawan bicaranya.


“Tapi, omong-omong aku


sudah tidak menganggap gadis itu sebagai temanku lagi. Jadi sepertinya tidak akan


ada masalah kalau aku menghabisinya, bukan?” ancam Agatha dengan tenang.


Jika diperhatikan


dengan baik-baik, ia tampak seperti seorang psikopat sekilas. Namun, tenang


saja. Ia adalah manusia normal. Meski kondisi mentalnya terkadang kerap tidak


stabil, tapi ia sama sekali tidak termasuk kepada salah satu orang yang


psikopat.


“Dari mana kau


mengetahui semua itu?” tanya Arjuna. Kali ini ia bicara dengan serius.


Agatha pun jadi ikut


terbawa suasana dan lantas berkata, “Sejak kau mengatakan semuanya secara


terang-terangan di hadapanku.”


Setelah mendengar


jawaban tersebut, Arjuna lantas mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak paham


dengan maksud gadis ini. Apa yang sedang ia bicarakan sekarang. Kalimat yang


tadi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Arjuna malah dibuat semakin


kebingungan karena hal tersebut.


“Aku tidak pernah


mengatakan soal hubungan kami kepada siapa pun,” ungkap Arjuna.


“Apa kau yakin?” tanya


Agatha lalu menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya.


“Sepertinya kau sedang


lupa,” timpalnya.


“Coba ingat-ingat lagi.


Dan jangan lupa untuk beri tahu aku setelah kau mengingatnya!” seru Agatha dari


kejauhan.


Ia berhasil


memanfaatkan kesempatan untuk pergi ketika Arjuna sedang sibuk dengan isi


pikirannya sendiri. Sehingga pria itu tidak akan memusingkan Agatha sekarang.


Buktinya, Arjuna tidak mengejar atau berusaha untuk menghentikan gadis itu


seperti tadi. Sekarang ia sudah berada di ujung lorong dan akan bersiap untuk


kembali.


Hari ini benar-benar


melelahkan bagi Agatha. Ada beberapa kasus yang sungguh menyita seluruh


perhatiannya. Sulit untuk dipercaya memang. Tapi, ia berhasil menyelesaikan


semuanya hari ini. Setidaknya untuk yang kesekian kalinya Agatha merasa bangga


kepada dirinya sendiri.


“Huh! Ternyata berada


di tim yang sama dengan rivalmu cukup menantang juga,” gumam gadis itu sambil


berjalan ke arah gerbang.


Hari ini ia akan


kembali dengan menggunakan transportasi umum. Sama seperti tadi pagi. Mungkin untuk


beberapa hari ke depan, setelah kondisi kesehatannya benar-benar membaik


seperti dulu, ia bisa kembali berkendara di jalan raya. Untuk sementara ini,


meski sudah keluar dari rumah sakit Agatha tetap harus mengonsumsi obat-obatan


yang sudah diresepkan secara teratur. Dan salah satu efek samping dari obat


tersebut adalah timbulnya rasa kantuk. Oleh sebab itu ia tidak bisa berkendara


sendirian untuk sementara waktu. Lebih tepatnya Agatha tidak ingin membahayakan


dirinya sendiri.


Ia


menunggu bus bersama beberapa calon penumpang lainnya di halte. Kebetulan lokasi


halte tersebut tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Kau hanya perlu


berjalan sekitar beberapa meter saja dari sini. Tidak akan menyita terlalu


banyak waktu. Bisa dikatakan jika posisinya cukup strategis. Itu menurut


Agatha. Karena sekarang ia sedang merasakan dampaknya snediri.