
Tidak ada yang
benar-benar aman di dunia ini. Semua manusia sebenarnya sedang terancam akan
sebuah bahaya. Baik itu bahaya besar atau kecil. Kembali lagi ke prinsip
awalnya, jika manusia tidak akan bisa memastikan apa pun di dunia ini. Termasuk Agatha. Bekerja sebagai salah satu
orang yang menjaga keamanan, bukan berarti ia bisa menjamin jika dirinya aman
sekarang. Mungkin ia adalah orang yang paling disukai oleh bahaya.
“Mau pulang?” tanya
Arjuna.
Pria itu tiba-tiba saja
muncul di ambang pintu ruangan Agatha. Tapi, gadis itu sama sekali tidak
terkejut. Ini bukan pertama kalinya. Arjuna sudah cukup sering muncul secara
mendadak seperti itu. Bahkan hal tersebut sudah tidak lagi terasa seperti
sebuah kejutan.
“Mau kemana?” tanya
pria itu lagi sambil menahan Agatha.
Salah satu tangan gadis
itu dicengkram kuat olehnya. Ia tidak akan membiarkan Agatha pergi begitu saja
sebelum menjawab pertanyaannya. Hari ini gadis itu belum ada bicara sepatah
kata pun kepadanya. Yang tadi pagi adalah yang pertama dan terakhir untuk hari
ini.
“Biar aku antar pulang
ya?” tawar Arjuna.
Bukannya mengiyakan
tawaran tersebut, gadis itu malah menghela napasnya dengan kasar. Kemudian
menghempaskan tangan Arjuna. Untuk saat ini hanya ada satu yang ia inginkan
adalah orang yang bernama Arjuna agar menyingkir dari hadapannya. Dia tidak
ingin berurusan dengan orang seperti itu lagi. Penipu.
Tanpa pikir panjang
lagi, setelah berhasil melepaskan diri dari Arjuna, gadis itu pergi berlalu
begitu saja. Dia melangkah dengan tenang, seolah masalahnya sudah selesai.
Padahal belum sama sekali. Jelas Arjuna yang merasa gagal dalam mempertahankan
gadis itu langsung mengejarnya. Tidak perlu waktu lama. Sekarang Agatha sudah
kembali tertangkap.
Arjuna menghempaskan
tubuh gadis itu sampai menghantam dinding. Jika didengar dari suaranya, maka
sepertinya itu terdengar sangat kuat. Jika kekuatannya ditambah sedikit lagi,
tulang rusuknya pasti akan patah.
Sudah cukup. Kesabaran
pria ini sudah habis. Agatha benar-benar salah orang. Bagaimana bisa ia mencoba
untuk menguji kesabaran seseorang yang tempramen seperti Arjuna. Jelas dia
tidak akan bisa bersabar. Emosinya sangat mudah terpancing.
Salah satu tangan
Arjuna beralih mencengkram rahang lawan bicaranya. Bukan Agatha namanya kalau
tidak bersikap tenang dalam segala sesuatu. Meski merasa sakit, Ia tidak akan
memberontak sama sekali. Karena hal tersebut hanya akan memicu perkelahian.
“Apa kau akan
mencelakai rekan satu timmu sekarang?” tanya Agatha secara gamblang.
Kemudian ia tersenyum
tipis. Seolah bisa membaca pikiran Arjuna, ia tahu persis apa yang akan
dilakukan oleh pria itu. hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, Arjuna
mungkin akan berpikir dua kali untuk menghabisinya karena beberapa hal.
Terutama reputasinya. Jelas ia tidak akan membiarkan emosi menguasai dirinya
dan merebut semua itu. Tapi, di sisi lain ada kemungkinan terburuknya juga.
Bisa jadi Arjuna memang sudah kehilangan akal. Tanpa mempedulikan apa pun ia
akan menghabisi Agatha. Memuaskan rasa marah dan kesalnya terhadap gadis itu.
Tenang saja, tidak
perlu merasa cemas. Agatha tidak akan tinggal diam begitu saja kali ini. Dia
tidak mau mati konyol, apa lagi di tangan orang seperti itu. Sepertinya Arjuna
hanpir lupa kalau Agatha bukan tipikal orang yang mudah menyerah begitu saja.
“Jadi sekarang kau
ingin berubah menjadi pembunuh ya?”
tanya Agatha untuk memastikan.
“Silahkan saja, tidak akan
ada yang menghalangimu,” imbuhnya.
“Lakukan saja kalau
memang kau ingin kehilangan semua hal yang sudah kau miliki saat ini,” final
gadis itu.
Arjuna kebingungan.
“Ya, kehilangan semua
yang kau miliki. Termasuk kekasihmu yang satu itu,” ucap Agatha secara
gamblang.
“Jangan konyol! Dia
juga temanmu!” teriak Arjuna.
“Haha! Akhirnya kau
mengakui hal itu juga setelah sekian lama,” balas Agatha sambil tertawa pelan. Seolah-olah
sedang meledek lawan bicaranya.
“Tapi, omong-omong aku
sudah tidak menganggap gadis itu sebagai temanku lagi. Jadi sepertinya tidak akan
ada masalah kalau aku menghabisinya, bukan?” ancam Agatha dengan tenang.
Jika diperhatikan
dengan baik-baik, ia tampak seperti seorang psikopat sekilas. Namun, tenang
saja. Ia adalah manusia normal. Meski kondisi mentalnya terkadang kerap tidak
stabil, tapi ia sama sekali tidak termasuk kepada salah satu orang yang
psikopat.
“Dari mana kau
mengetahui semua itu?” tanya Arjuna. Kali ini ia bicara dengan serius.
Agatha pun jadi ikut
terbawa suasana dan lantas berkata, “Sejak kau mengatakan semuanya secara
terang-terangan di hadapanku.”
Setelah mendengar
jawaban tersebut, Arjuna lantas mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak paham
dengan maksud gadis ini. Apa yang sedang ia bicarakan sekarang. Kalimat yang
tadi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Arjuna malah dibuat semakin
kebingungan karena hal tersebut.
“Aku tidak pernah
mengatakan soal hubungan kami kepada siapa pun,” ungkap Arjuna.
“Apa kau yakin?” tanya
Agatha lalu menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya.
“Sepertinya kau sedang
lupa,” timpalnya.
“Coba ingat-ingat lagi.
Dan jangan lupa untuk beri tahu aku setelah kau mengingatnya!” seru Agatha dari
kejauhan.
Ia berhasil
memanfaatkan kesempatan untuk pergi ketika Arjuna sedang sibuk dengan isi
pikirannya sendiri. Sehingga pria itu tidak akan memusingkan Agatha sekarang.
Buktinya, Arjuna tidak mengejar atau berusaha untuk menghentikan gadis itu
seperti tadi. Sekarang ia sudah berada di ujung lorong dan akan bersiap untuk
kembali.
Hari ini benar-benar
melelahkan bagi Agatha. Ada beberapa kasus yang sungguh menyita seluruh
perhatiannya. Sulit untuk dipercaya memang. Tapi, ia berhasil menyelesaikan
semuanya hari ini. Setidaknya untuk yang kesekian kalinya Agatha merasa bangga
kepada dirinya sendiri.
“Huh! Ternyata berada
di tim yang sama dengan rivalmu cukup menantang juga,” gumam gadis itu sambil
berjalan ke arah gerbang.
Hari ini ia akan
kembali dengan menggunakan transportasi umum. Sama seperti tadi pagi. Mungkin untuk
beberapa hari ke depan, setelah kondisi kesehatannya benar-benar membaik
seperti dulu, ia bisa kembali berkendara di jalan raya. Untuk sementara ini,
meski sudah keluar dari rumah sakit Agatha tetap harus mengonsumsi obat-obatan
yang sudah diresepkan secara teratur. Dan salah satu efek samping dari obat
tersebut adalah timbulnya rasa kantuk. Oleh sebab itu ia tidak bisa berkendara
sendirian untuk sementara waktu. Lebih tepatnya Agatha tidak ingin membahayakan
dirinya sendiri.
Ia
menunggu bus bersama beberapa calon penumpang lainnya di halte. Kebetulan lokasi
halte tersebut tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja. Kau hanya perlu
berjalan sekitar beberapa meter saja dari sini. Tidak akan menyita terlalu
banyak waktu. Bisa dikatakan jika posisinya cukup strategis. Itu menurut
Agatha. Karena sekarang ia sedang merasakan dampaknya snediri.