The Riot

The Riot
10 Cams



Setelah menunggu kurang


lebih selama lima belas menit, Agatha pada akhirnya mendapatkan apa yang ia


mau. Seseorang memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi. Salah satu dari mereka


yang berada di luar sudah mengecek kamera pengawasnya secara satu-persatu dan


memastikan jumlahnya.


Ternyata memang benar


apa yang dikatakan oleh pria itu tadi. Memang hanya ada sepuluh kamera pengawas


saja yang tersebar di seluruh penjuru basement. Tapi, hal tersebut belum cukup


untuk membuat Agatha percaya. Entah kenapa ia masih merasa kalau ada sesuatu


yang mengganjal. Tapi ia tidak tahu apa itu. Agatha tidak ingin asal menuduh,


oleh sebab itu ia akan mencari tahu.


Walaupun yang ia


rasakan sejauh ini hanya sebatas intuisi saja, Agatha tidak bisa meremehkan hal


tersebut. Bukan hanya Agatha saja. Orang lain pasti juga akan bersikap demikian


jika merasa ada yang mengganjal. Mereka tidak akan bisa tenang. Sampai membuktikan


apakah intuisinya benar atau tidak. Terlebih Agatha adalah seorang wanita. Mereka


bilang jika wanita memiliki perasaan yang lebih peka terhadap sekitarnya. Bisa jadi


hal tersebut memang sedang terjadi untuk saat ini. Mengingat jika Agatha adalah


satu-satunya wanita yang berada pada tim Arjuna.


“Jadi bagaimana?” tanya


si teknisi tersebut.


“Sekarang apa kau sudah


percaya denganku?” sambungnya.


“Tidak!” jawab Agatha


dengan singkat namun terasa cukup tegas.


“Apa-apaan ini?!


Bukankah kau sendiri yang membuktikan kalau semua perkataanku yang tadi itu


benar?!” protes pria itu tak terima.


“Faktanya memang


begitu. Tapi, hatiku mengatakan kalau ada sesuatu yang salah di sini,” ungkap


Agatha secara gamblang.


Dia sama sekali tidak


peduli dengan reaksi orang-orang di ruangan tersebut. Termasuk Arjuna dan juga


Jeff yang tampaknya merasa terkejut. Tidak biasanya Agatha bersikap seperti


ini. Terutama pada saat proses penyelidikan tengah berlangsung.


“Untuk saat ini


kesampingkan dulu soal intuisimu. Dia belum tentu akurat!” peringati Arjuna.


“Kita harus bersikap


realistis terhadap apa pun yang terjadi,” timpal Jeff yang tampaknya sependapat


dengan rekannya.


“Ya, baiklah!” kata


Agatha sambil menggidikkan bahunya.


Sejak awal masuk ke


dalam ruangan ini gadis itu tampak begitu santai. Seolah tidak ada beban sama


sekali. Sepertinya kejadian kemarin sudah terhapus dari ingatannya. Agatha


menganggap jika hal buruk yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri tidak


pernah terjadi. Padahal memori itu tidak pernah benar-benar luntur dari


ingatannya. Meski sebenarnya Agatha termasuk lemah dalam mengingat sesuatu. Tapi,


untuk kejadian yang kali ini sepertinya adalah sebuah pengecualian.


“Kalau begitu, berikan


kepadaku salinan rekamanya!” perintah Agatha sambil menyodorkan sebuah


flashdisk.


“Untuk apa?” tanya si


teknisi.


“Kupikir tanpa


dijelaskan pun kau tentu sudah tahu untuk apa rekamannya,” cicit gadis itu.


Tanpa banyak basa-basi


lagi, pria itu segera melakukan perintah gadis menyebalkan tadi. Kalau saja ia


sedang tidak berurusan dengan pihak kepolisian saat ini, mungkin ia sudah


menghabisi Agatha sekarang. Tidak peduli dengan kata orang-orang di luar sana


yang menungkin akan menyebutnya sebagai seorang pecundang karena berani dengan


wanita.


Setelah menunggu selama


beberapa menit, akhirnya proses pemindahan dokumen dari perangkat lunak


komputer ke dalam penyimpanan flashdisknya berhasil juga. Agatha akan menonton


ulang kemudian memeriksan kembali setiap klip yang ada. Memastikan apakah


memang benar ada sesuatu yang janggal atau tidak. Apakah intuisinya ini benar


dan sebagai sebuah pertanda, atau hanya sebuah efek samping karena ia terlalu


cemas sejak kemarin.


“Pastikan kau sudah


memindahkan semua file yang kumaksud ke dalam sini. Kalau tidak, aku akan


menghampirimu lagi kemari,” jelas Agatha dengan singkat. Dia hanya sedang


berusaha untuk mengingatkan pria itu sekali lagi.


“Kalau begitu kuucapkan


kemarin,” ucap Arjuna untuk mengalihkan topik sekaligus mengakhiri sesi


pertemuan mereka kali ini.


“Terima kasih banyak!”


sambung Jeff yang kemudian diikuti oleh Agatha juga.


Setelah urusannya di


ruang kontrol selesai, mereka bertiga langsung keluar dan menghampiri anggota


tim lainnya.


“Bagaimana? Apa kalian


menemukan sesuatu yang mencurigakan di sekitar sini?”


“Tidak sama sekali.


Semua tempat terlihat aman.”


“Omong-omong bagaimana


dengan rekaman kamera pengawasnya? Apa kalian menemukan sesuatu yang terlihat


mencurigakan?”


“Tidak juga, hasilnya nihil.”


“Bukankah itu berarti


pelakunya membidik korban dari luar gedung?”


“Bisa jadi. Berdasarkan


rekaman yang ada pelurunya juga terlihat datang dari arah sana. Arah pintu.”


“Lalu apa yang harus


kita lakukan sekarang?”


“Sebaiknya kita kembali


ke kantor dulu untuk berdiskusi kembali mengenai motif serta rencana pelaku


berdasarkan bukti yang sudah kita dapatkan sejauh ini.”


“Baiklah, aku setuju.”


Semua orang sepakat


untuk kembali ke kantor. Lagi pula sekarang masih cukup pagi. Mereka memiliki


banyak waktu untuk berdiskusi tentang hal yang sama. Berkali-kali sampai muak. Mau


bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara. Menebak segala kemungkinan yang


bisa saja terjadi dan seberapa besar persentasenya.


“Mau kopi?” tanya Jeff.


“Boleh,” balas Agatha


sambil tersenyum tipis.


Kebetulan pria itu akan


pergi ke belakang sebentar untuk membuat kopi. Jadi ia sekalian saja menawarkan


ke Agatha juga. Siapa tahu ia juga mau. Masih ada beberapa menit lagi sebelum


diskusi dimulai. Agatha adalah tipikal orang yang sulit untuk berkonsentrasi


atau bahkan tetap terjaga tanpa kopi. Dan satu-satunya cara agar ia tetap dalam


kondisi yang siap adalah dengan memberikan tubuhnya sedikit asupan kafein. Jeff


tahu betul soal hal tersebut.


Agatha memasuki ruangan


lebih dulu. Sudah ada beberapa orang yang juga terlihat duduk di sana. Namun,


tidak sedikit juga kursi yang masih kosong. Karena memang pemiliknya belum


datang kemari.


“Agatha!” sahut Robi.


Gadis itu lantas


menegakkan kepalanya karena merasa terpanggil. Tapi tidak berniat untuk


menjawab pertanyaan pria itu.


“Bagaimana keadaanmu


sekarang?” tanya Robi.


“Kami dengan kau


terpaksa dibawa ke rumah sakot karena keracunan,” sambungnya.


“Seperti yang kau lihat


sekarang. Aku baik-baik saja,” jawab Agatha secara gamblang.


“Jadi, kau sungguhan


diracuni pada saat kita pergi ke restoran itu?” tanya Thomas untuk memastikan.


“Ya, kurang lebih


begitulah,” balas Agatha.


Sebenarnya ia sedang


malas untuk membahas hal tersebut sekarang, dua hari ke depan, seminggu dan


selamanya. Karena tiap kali mengingat kejadian tersebut, ia pasti merasa kesal


dengan Liora. Berani-beraninya wanita itu mencari masalah dengan seseorang


seperti Agatha. Gadis itu jelas tidak terima jika dirinya diperlakukan seperti


itu.


“Wah! Hebat!” celetuk


Thomas sambil terkagum-kagum.


Agatha


sontak menatapnya dengan dahi yang berkerut. Bersamaan dengan Robi yang memukul


pelan pundak temannya itu. Agatha sama sekali tidak tahu bagian mana yang


membuat temannya itu sampai merasa terkesan. Sepertinya jika diingat-ingat


kembali, itu semua hanya terdiri dari hal buruk yang memang sepatutnya tidak


perlu sampai terjadi.