
Setelah menunggu kurang
lebih selama lima belas menit, Agatha pada akhirnya mendapatkan apa yang ia
mau. Seseorang memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi. Salah satu dari mereka
yang berada di luar sudah mengecek kamera pengawasnya secara satu-persatu dan
memastikan jumlahnya.
Ternyata memang benar
apa yang dikatakan oleh pria itu tadi. Memang hanya ada sepuluh kamera pengawas
saja yang tersebar di seluruh penjuru basement. Tapi, hal tersebut belum cukup
untuk membuat Agatha percaya. Entah kenapa ia masih merasa kalau ada sesuatu
yang mengganjal. Tapi ia tidak tahu apa itu. Agatha tidak ingin asal menuduh,
oleh sebab itu ia akan mencari tahu.
Walaupun yang ia
rasakan sejauh ini hanya sebatas intuisi saja, Agatha tidak bisa meremehkan hal
tersebut. Bukan hanya Agatha saja. Orang lain pasti juga akan bersikap demikian
jika merasa ada yang mengganjal. Mereka tidak akan bisa tenang. Sampai membuktikan
apakah intuisinya benar atau tidak. Terlebih Agatha adalah seorang wanita. Mereka
bilang jika wanita memiliki perasaan yang lebih peka terhadap sekitarnya. Bisa jadi
hal tersebut memang sedang terjadi untuk saat ini. Mengingat jika Agatha adalah
satu-satunya wanita yang berada pada tim Arjuna.
“Jadi bagaimana?” tanya
si teknisi tersebut.
“Sekarang apa kau sudah
percaya denganku?” sambungnya.
“Tidak!” jawab Agatha
dengan singkat namun terasa cukup tegas.
“Apa-apaan ini?!
Bukankah kau sendiri yang membuktikan kalau semua perkataanku yang tadi itu
benar?!” protes pria itu tak terima.
“Faktanya memang
begitu. Tapi, hatiku mengatakan kalau ada sesuatu yang salah di sini,” ungkap
Agatha secara gamblang.
Dia sama sekali tidak
peduli dengan reaksi orang-orang di ruangan tersebut. Termasuk Arjuna dan juga
Jeff yang tampaknya merasa terkejut. Tidak biasanya Agatha bersikap seperti
ini. Terutama pada saat proses penyelidikan tengah berlangsung.
“Untuk saat ini
kesampingkan dulu soal intuisimu. Dia belum tentu akurat!” peringati Arjuna.
“Kita harus bersikap
realistis terhadap apa pun yang terjadi,” timpal Jeff yang tampaknya sependapat
dengan rekannya.
“Ya, baiklah!” kata
Agatha sambil menggidikkan bahunya.
Sejak awal masuk ke
dalam ruangan ini gadis itu tampak begitu santai. Seolah tidak ada beban sama
sekali. Sepertinya kejadian kemarin sudah terhapus dari ingatannya. Agatha
menganggap jika hal buruk yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri tidak
pernah terjadi. Padahal memori itu tidak pernah benar-benar luntur dari
ingatannya. Meski sebenarnya Agatha termasuk lemah dalam mengingat sesuatu. Tapi,
untuk kejadian yang kali ini sepertinya adalah sebuah pengecualian.
“Kalau begitu, berikan
kepadaku salinan rekamanya!” perintah Agatha sambil menyodorkan sebuah
flashdisk.
“Untuk apa?” tanya si
teknisi.
“Kupikir tanpa
dijelaskan pun kau tentu sudah tahu untuk apa rekamannya,” cicit gadis itu.
Tanpa banyak basa-basi
lagi, pria itu segera melakukan perintah gadis menyebalkan tadi. Kalau saja ia
sedang tidak berurusan dengan pihak kepolisian saat ini, mungkin ia sudah
menghabisi Agatha sekarang. Tidak peduli dengan kata orang-orang di luar sana
yang menungkin akan menyebutnya sebagai seorang pecundang karena berani dengan
wanita.
Setelah menunggu selama
beberapa menit, akhirnya proses pemindahan dokumen dari perangkat lunak
komputer ke dalam penyimpanan flashdisknya berhasil juga. Agatha akan menonton
ulang kemudian memeriksan kembali setiap klip yang ada. Memastikan apakah
memang benar ada sesuatu yang janggal atau tidak. Apakah intuisinya ini benar
dan sebagai sebuah pertanda, atau hanya sebuah efek samping karena ia terlalu
cemas sejak kemarin.
“Pastikan kau sudah
memindahkan semua file yang kumaksud ke dalam sini. Kalau tidak, aku akan
menghampirimu lagi kemari,” jelas Agatha dengan singkat. Dia hanya sedang
berusaha untuk mengingatkan pria itu sekali lagi.
“Kalau begitu kuucapkan
kemarin,” ucap Arjuna untuk mengalihkan topik sekaligus mengakhiri sesi
pertemuan mereka kali ini.
“Terima kasih banyak!”
sambung Jeff yang kemudian diikuti oleh Agatha juga.
Setelah urusannya di
ruang kontrol selesai, mereka bertiga langsung keluar dan menghampiri anggota
tim lainnya.
“Bagaimana? Apa kalian
menemukan sesuatu yang mencurigakan di sekitar sini?”
“Tidak sama sekali.
Semua tempat terlihat aman.”
“Omong-omong bagaimana
dengan rekaman kamera pengawasnya? Apa kalian menemukan sesuatu yang terlihat
mencurigakan?”
“Tidak juga, hasilnya nihil.”
“Bukankah itu berarti
pelakunya membidik korban dari luar gedung?”
“Bisa jadi. Berdasarkan
rekaman yang ada pelurunya juga terlihat datang dari arah sana. Arah pintu.”
“Lalu apa yang harus
kita lakukan sekarang?”
“Sebaiknya kita kembali
ke kantor dulu untuk berdiskusi kembali mengenai motif serta rencana pelaku
berdasarkan bukti yang sudah kita dapatkan sejauh ini.”
“Baiklah, aku setuju.”
Semua orang sepakat
untuk kembali ke kantor. Lagi pula sekarang masih cukup pagi. Mereka memiliki
banyak waktu untuk berdiskusi tentang hal yang sama. Berkali-kali sampai muak. Mau
bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara. Menebak segala kemungkinan yang
bisa saja terjadi dan seberapa besar persentasenya.
“Mau kopi?” tanya Jeff.
“Boleh,” balas Agatha
sambil tersenyum tipis.
Kebetulan pria itu akan
pergi ke belakang sebentar untuk membuat kopi. Jadi ia sekalian saja menawarkan
ke Agatha juga. Siapa tahu ia juga mau. Masih ada beberapa menit lagi sebelum
diskusi dimulai. Agatha adalah tipikal orang yang sulit untuk berkonsentrasi
atau bahkan tetap terjaga tanpa kopi. Dan satu-satunya cara agar ia tetap dalam
kondisi yang siap adalah dengan memberikan tubuhnya sedikit asupan kafein. Jeff
tahu betul soal hal tersebut.
Agatha memasuki ruangan
lebih dulu. Sudah ada beberapa orang yang juga terlihat duduk di sana. Namun,
tidak sedikit juga kursi yang masih kosong. Karena memang pemiliknya belum
datang kemari.
“Agatha!” sahut Robi.
Gadis itu lantas
menegakkan kepalanya karena merasa terpanggil. Tapi tidak berniat untuk
menjawab pertanyaan pria itu.
“Bagaimana keadaanmu
sekarang?” tanya Robi.
“Kami dengan kau
terpaksa dibawa ke rumah sakot karena keracunan,” sambungnya.
“Seperti yang kau lihat
sekarang. Aku baik-baik saja,” jawab Agatha secara gamblang.
“Jadi, kau sungguhan
diracuni pada saat kita pergi ke restoran itu?” tanya Thomas untuk memastikan.
“Ya, kurang lebih
begitulah,” balas Agatha.
Sebenarnya ia sedang
malas untuk membahas hal tersebut sekarang, dua hari ke depan, seminggu dan
selamanya. Karena tiap kali mengingat kejadian tersebut, ia pasti merasa kesal
dengan Liora. Berani-beraninya wanita itu mencari masalah dengan seseorang
seperti Agatha. Gadis itu jelas tidak terima jika dirinya diperlakukan seperti
itu.
“Wah! Hebat!” celetuk
Thomas sambil terkagum-kagum.
Agatha
sontak menatapnya dengan dahi yang berkerut. Bersamaan dengan Robi yang memukul
pelan pundak temannya itu. Agatha sama sekali tidak tahu bagian mana yang
membuat temannya itu sampai merasa terkesan. Sepertinya jika diingat-ingat
kembali, itu semua hanya terdiri dari hal buruk yang memang sepatutnya tidak
perlu sampai terjadi.