The Riot

The Riot
Dining Room



Dari dapur terdengar suara berisik. Mulai dari


spatula yang saling beradu dengan permukaan wajan, hingaa suara percikan


minyak. Aaron sedang sibuk memasak. Sesuai dengan janjinya tadi, pria ini harus


menepati omongannya sendiri. Baru orang lain bisa percaya kepadanya.


Sementara itu, Agatha tidak ingin terlibat sama


sekali dalam kericuhan tersebut. Daripada membantu Aaron di dapur, ia jauh


labih memilih untuk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi.


Lagipula tampaknya pria itu bisa mengatasi semuanya sendiri. Tidak perlu sampai


Agatha turun tangan.


“Agatha, kemari! Makanannya sudah siap!” sahut


sebuah suara dari belakang sana.


Tanpa perlu berpikir keras, ia sudah tahu kalau


suara tersebut berasal dari dapur. Ia segera beranjak dari tempat duduknya.


Beralih ke meja makan. Ada beberapa menu yang sudah tersaji di sana. Mulai dari


omelet telur hingga capcai. Tidak lupa dengan sambal terasi.


“Kau sungguh memasak semuanya sendirian?” tanya


Agatha untuk memastikan.


“Tentu saja!” balas pria itu tanpa mengalihkan


pandangannya. Ia sedang sibuk menata hidangan-hidangan tersebut dengan


sedemikian rupa.


Otaknya menolak untuk percaya. Padahal bukti sudah


berada di depan mata. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat anak berandalan


yang memiliki keahlian lain  yang jauh


lebih berguna. Tapi, di satu sisi itu adalah hal bagus baginya. Setidaknya


masih ada satu poin plus bagi Aaron.


“Wah!” gumamnya pelan.


Tanpa pikir panjang, ia segera duduk di kursi yang


telah disediakan. Menunggu Aaron sampai selesai dengan urusannya. Kemudian


mereka akan segera makan malam bersama. Kenapa gadis itu baru mengetahui


sekarang kalau Aaron ternyata bisa memasak. Selama ini kemana saja dirinya.


Tak lama setelahnya, Aaron menyusul untuk duduk di


meja yang sama. Pria itu memilih untuk menempati bangku kosong yang berada


tepat di depan Agatha.


“Ayo makan!” ajaknya.


Mendengar kalimat tersebut, Agatha lantas mengangguk


antusias. Ia memang sudah tidak sabar untuk mencicipi bagaimana rasa masakan


pria itu. Apakah enak atau malah sebaliknya. Tapi, jika dilihat dari penampilan


dan aroma masakannya, pasti enak.


“Tunggu dulu!” cegah Agatha secara tiba-tiba.


Mendadak ia teringat akan sesuatu dan itu terbilang


cukup penting. Tidak boleh terlewatkan sama sekali.


“Kau tidak menaruh racun pada makanan ini kan?”


tanya Agatha dengan hati-hati.


Ia tidak bermaksud untuk berburuk sangka kepada pria


itu, apalagi sampai menuduhnya yang tidak –tidak . Tapi, tetap saja ia harus


bersikap waspada. Hanya itu satu-satunya cara agar tetap aman.


“Coba saja dulu! Nanti kau juga akan tahu apa


makanan ini mengandung racun atau tidak,” jelasnya dengan begitu tenang.


“Hei! Aku bicara serius!” seru Agatha.


“Untuk apa aku mengatakannya jika kau saja tidak


pernah bisa percaya denganku. Jadi, lebih baik silahkan buktikan sendiri,”


paparnya dengan panjang lebar.


Alih-alih merasa paham dengan penjelasan tersebut,


Agatha malah merasa bersalah. Selama ini tanpa ia sadari, dirinya tidak pernah


percaya sepenuhnya kepada orang lain. Terutama orang asing. Semua orang juga


tahu jika manusia bukanlah hal yang tepat untuk dipercaya.


“Maaf kalau selama ini aku banyak menyakitimu,”


gumam Agatha di dalam hati.


“Baiklah, aku percaya jika makanan ini aman!”


celetuk gadis itu sambil memutar bola matanya malas.


Suasana makan malam kala itu berlangsung dengan


khidmat. Tidak ada yang buka suara sama sekali. Mereka berdua tampak begitu


menikmati hidangannya. Ternyata benar-benar enak, sama seperti dugaan gadis ini


sebelumnya. Dan yang terpenting, makanan ini aman. Tidak ada zat berbahaya yang


dicampurkan secara sengaja oleh Aaron.


“Aku ingin menceritakan sesuatu,” ungkap Agatha


Gadis itu memutuskan untuk buka suara dan memecah


keheningan suasana yang ada di antara mereka. Semakin lama dibiarkan, kesunyian


ini hanya akan semakin mencekik. Tidak lagi terasa nyaman, atau bahkan menenangkan.


“Apa ada hubungannya dengan Arjuna?” tebak Aaron.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Agatha lantas


mengangguk pelan untuk membenarkan perkataan pria itu barusan.


“Kalau begitu katakan saja!” suruhnya.


“Kau bisa mempercayaiku kalau mau,” jelasnya


kemudian.


Sebenarnya, Agatha sama sekali tidak pernah


membayangkan jika ia akan akrab dengan salah satu anak berandalan. Yang sudah


jelas jika kepribadian serta cara berpikirnya saling bertentangan. Namun, hal


tersebut tidak berarti apa-apa. Bagian terburuknya adalah ketika ia berteman


dengan seseorang yang dulu merupakan musuhnya. Agatha bahkan pernah disekap


oleh pria itu. Setiap potongan peristiwanya masih tergambar jelas di dalam


kepalanya.


Sekarang jika diingat-ingat kembali, ia masih tidak


habis pikir. Namun, itulah kehidupan. Kita tidak pernah bisa memastikan apa pun


di dalam kehidupan kita.


“Apa sebaiknya aku mengundurkan diri saja dan


berhenti menjadi anggota kepolisian?” tanya Agatha.


“Kenapa seperti itu?!” tanya pria itu balik.


Aaron langsung meletakkan sendoknya. Memutuskan


untuk menunda kegiatan makan malamnya sementara waktu. Sekarang ia jauh lebih


memilih untuk memusatkan perhatiannnya kepada gadis itu.


“Aku sudah tidak menikmati pekerjaan ini lagi,”


bebernya secara terang-terangan.


Ia belum pernah mengatakan hal serupa kepada siapa


pun sebelumnya. Aaron adalah orang pertama yang mengetahui faktanya.


“Kau pasti sedang bercanda, kan?” tanya pria itu


sekali lagi hanya untuk sekedar memastikan.


“Tidak,” jawabnya dengan yakin.


Mendengar jawaban dari gadis itu, Aaron lantas tak


bisa berkutik. Ia kehabisan kata-kata dan memutuskan diam untuk beberapa saat. Mereka


saling bertukar pandangan satu sama lain. Tapi, sayangnya Aaron sama sekali


tidak bisa menangkap makna tersembunyi dari balik kilau mata Agatha.


“Kalau kau berhenti jadi polisi, lantas mau bekerja


apa lagi untuk menggantikannya?” tanya Aaron.


Kali ini sepertinya ia sungguh serius. Terdengar dari


nda bicaranya. Ia tidak sedang main-main. Pasalnya, permasalahan kali ini juga


bukan masalah yang bisa dipandang sebelah mata.


“Pekerjaan apa saja akan kulakukan. Asal tidak


kembali ke tempat itu lagi,” ungkapnya.


“Pasti ada seseorang yang terus berusaha untuk


mendesakmu di sana,” tebak Aaron sekali lagi.


“Jadi, itu alasannya kenapa kau tidak menikmati


pekerjaan itu lagi bukan?” sambung pria itu.


“Kau benar,” akunya.


“Siapa orangnya?” tanya Aaron.


“Tidak akan kuberi tahu sekarang,” dalih gadis itu.


Aaron hanya mengangguk pelan. Menunjukkan jika ia


paham dengan situasinya saat ini. Ia tidak akan memaksa Agatha untuk bicara


lebih banyak lagi. Satu-satunya hal yang ia perlukan di sini sekarang adalah


ketenangan dan ruang untuk bersikap bebas.


“Kau tidak boleh keluar dari kantor itu sekarang,”


pesan Aaron.


“Ingat soal kasus pembunuhan berantai yang nyaris melibatkan


dirimu sebagai korbannya beberapa saat lalu?” lanjutnya kemudian.


“Kau harus mengungkap pelakunya terlebih dahulu.


Tuntaskan kasus itu, baru setelahnya keputusan ada di tanganmu,” jelas pria itu


dengan panjang lebar.


Apa yang dikatakan oleh


Aaron barusan ada benarnya juga. Ia harus menuntaskan kasus tersebut terlebih


dahulu. Agatha bukan tipikal orang yang akan meninggalkan tanggung jawabnya


begitu saja.