
Tadinya Agatha
berencana untuk pergi ke rumah pria itu. Sebab, sejak tadi sama sekali tidak
ada jawaban dari Arjuna. Namun, guyuran hujam di pertengahan malam berhasil
menghentikan langkahnya. Agatha terkurung di dalam apartmentnya dan tidak bisa
pergi kemana-mana sampai hujan reda. Sebenarnya bisa saja. Agatha bisa
menggunakan mobilnya. Namun, sebaiknya tidak pergi untuk sekarang. Mungkin itu
adalah pilihan terbaik.
Entah apa yang
dilakukan oleh pria itu, sampai-sampai tidak menjawab telepon darinya. Arjuna
tidak pernah seperti ini sebelumnya. Padahal sekarang bukan waktunya untuk
menghilang. Bukan hanya nyawanya saja yang akan terjebak di dalam bahaya
sekarang ini. Namun, nyawa pria itu juga menjadi taruhannya.
Jika mereka sampai
ttahu soal jaringan Agatha, mungkin bukan hanya Arjuna saja yang akan terancam
bahaya. Namun, rekan-rekan kerjanya yang lain juga. Padahal mereka sama sekali
tidak tahu apa-apa soal misi ini. Hanya Agatha dan Arjuna yang tahu. Gadis itu
tentu tidak ingin mengorbankan temannya. Dia tidak ingin bersikap egois. Terlebih
tidak ada satu pun dari mereka yang tahu. Mereka hanya terlibat secara tidak
langsung.
Terkadang memiliki
banyak koneksi memang menguntungkan untuk beberapa hal. Namun, di sati sisi
juga ada kerugiannya. Tidak bisa dijelaskan secara lebih rinci soal apa
kerugian itu dan seperti apa bentuknya. Tapi, sejauh ini kalian sudah pasti
paham.
Agatha duduk di sofa
ruang tamu dengan cemas. Berharap agar hujan ini segera mereda sebelum larut
malam. Atau paling tidak, Arjuna meneleponnya balik. Tapi, tidak ada satu dari
kedua harapan itu yang berhasil terwujud. Tidak sama sekali.
“Argh! Kenapa harus
hujan sih!” gerutunya.
Ia sedang memprotes
semesta. Padahal hujan adalah hal wajar. Tidak tahu kenapa begitu banyak
manusia yang membencinya, sekaligus mencarinya pada saat yang bersamaan. Manusia-manusia
Gadis itu memutuskan
untuk beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke sana kemari tanpa arah dan
tujuan yang jelas. Ia hanya mondar-mandir saja sejak tadi. Tidak lebih seperti
setrika. Sesekali Agatha juga menggigiti ujunng kukunya karena cemas.
Sepertinya sudah cukup sering ia melakukan hal tersebut.
Berharap jika hujan
lebat ini akan segera mereda. Meski sampai sekarang masih belum ada
tanda-tanda. Agatha tidak mungkin berkendara pada kondisi seperti ini. Sulit
untuk melihat situasi jalanan. Aspal pasti menjadi sangat licin, sulit untuk
menjaga kestabilan kendaraan di atasnya. Besar kemungkinan jika ia akan
tergelincir kalau tidak berhati-hati.
Selain itu, jarak
pandang juga pasti akan semakin mengecil. Jelas hal itu berbahaya. Agatha jadi
tidak bisa melihatsegala objek yang berada di depannya dengan jelas. Pada
intinya, berkendara di tengah hujan deras seperti ini akan cukup beresiko. Dan
Agatha sedang tidak mau mengambil resiko tersebut.
“Sepertinya hujannya
tidak akan reda untuk malam ini,” gumam Agatha.
Semua orang juga tahu
jika hujan deras disertai dengan sedikit badai seperti ini tidak akan berakhir
mudah. Butuh lebih dari tiga atau bahkan empat jam sampai dia benar-benar
berhenti. Sementara itu, di sisi lain Agatha tidak mungkin menerobos hujan
tersebut.
“Arjuna benar-benar
menyebalkan!” serunya geram.
Sesekali ia juga
mengacak-acak kepalanya. Tak tahu harus berbuat apa. Sungguh ia sudah kehabisan
akal. Bahkan pada kondisi paling terdesak sekali pun, dia tidak bisa berbuat
apa-apa. Untuk sekedar menyelamatkan dirinya sendiri dari bahaya. Agatha bahkan
tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk yang satu itu. Sungguh tidak
becus.