
Karena terlalu asik
berbicara, mereka sampai lupa untuk menikmati makanannya. Beruntung ini bukan
makanan yang nikmat disantap pada saat masih dalam kondisi hangat saja. Jadi
tidak masalah.
“Kapan kau kembali lagi
ke sana?” tanya pria itu.Yang sedang dia maksud saat ini adalah markas utama.
“Entahlah, aku juga
tidak tahu!” balas Agatha sambil menggidikkan kedua bahunya.
Meski sudah resmi
menjadi salah satu bagian dari mereka, Agatha masih belum bisa melakukan apa
pun dengan bebas. Pertama-tama, ia perlu mengingatkan dirinya lagi jika
sekarang ia tengah dimanfaatkan oleh orang-orang itu. Memangnya untuk apa lagi
kalau bukan untuk menyerang markas Hato. Itu adalah satu informasi penting yang
berhasil ia dapatkan.
Tidak ada orang yang benar-benar
tulus di dunia ini. Semua akan terjadi secara timbal balik. Tidak masalah jika
saat ini Agatha sedang dimanfaatkan untuk menyusun kekuatan. Tapi, lihat saja
balasannya nanti. Mereka harus menerima balasan yang sepadan. Kalau bisa lebih
buruk.
“Tidak semua orang bisa
masuk ke sana,” ungkap Agatha secara terang-terangan.
“Pertama-tama, kau
harus memiliki kartu akses terlebih dahulu. Ada sebuah lift khusus yang
mengarah langsung ke markas utama dan juga ruangan penyimpanan,” jelas gadis
itu.
“Jadi, aku tidak akan
bisa mengakses jalan masuknya untuk sementara waktu selama belum memiliki kartu
akses,” simpulnya di akhir.
“Lift?” tanya Arjuna
setengah kebingungan.
“Memangnya dimana
markas utama mereka? Kenapa sampai menggunakan lift? Apa itu berarti markasnya
cukup besar?” tanyanya lagi.
“Sepertinya kau harus
tahu soal yang satu ini!” ucap gadis itu dengan antusias.
“Apa?” tanya Arjuna.
“Pernahkah kau
membayangkan hal ini sebelumnya?” tanya gadis itu balik.
“Tentang sekelompok
mafia bergengsi yang sudah lama jadi buronan polisi, ternyata memiliki sebuah
markas yang terletak di tempat publik,” beber Agatha secara gamblang.
Terserah mau pecaya
atau tidak. Yang jelas, ini adalah faktanya. Agatha tidak sedang berbohong. Dia
mencoba untuk mengutarakan setiap hal yang ia lihat tadi siang dengan apa
adanya. Lagipula untuk apa berbohong seperti itu.
“Mereka bahkan tidak
berusaha untuk bersembunyi. Lalu, kenapa masih tetap saja terasa menyulitkan
bagi kalian untuk menemukan mereka?” celoteh gadis itu sambil berdecak sebal.
“Apa maksudmu?” tanya
pria itu lagi.
Agatha sudah menduga
jika hal ini akan terjadi. Pasti terasa tidak mudah baginya untuk mencerga
berbagai informasi yang diberikan oleh Agatha pada waktu yang bersamaan. Sekarang
sepertinya situasinya sudah berubah. Malah jadi Arjuna yang jadi sedikit lebih
lambat.
Gadis itu mengehela
napasnya dengan kasar, beberapa saat sebelum menjelaskan kembali. Sebenarnya ia
malas untuk terlalu banyak bicara. Seperti yang kalian tahu jika hari ini
suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Terlalu kacau.
“Sepertinya aku lupa
jika alat perekan suara itu tidak dilengkapi oleh penunjuk arah. Jadi, kau
tidak akan tahu dimana aku berada pada saat itu. Sebaiknya lain kali belikan
aku yang lebih canggih,” usul Agatha memberikan saran.
Mendengar kalimat
tersebut, pria itu lantas segera memutar bola matanya dengan malas. Namun
beberapa detik setelahnya, perhatiannya kembali terfokus kepada gadis itu lagi.
Ada satu hal lagi yang perlu ia tahu dari Agatha.
“Kau tahu gedung Bank
Vert yang berada di seberang pusat perbelanjaan?” tanya Agatha sebelum
menjelaskan lebih lanjut.
Ini adalah dasarnya. Jika
sampai Arjuna tidak tahu, maka akan sulit nantinya. Pria itu tetap tidak akan
“Tentu saja aku tahu!”
balas Arjuna dengan antusias.
“Baguslah kalau begitu,”
kata Agatha.
Tanpa pikir panjang
lagi, ia segera melanjutkan penjelasannya. Pria itu juga berhak untuk tahu.
Sepertinya semua orang juga berhak tahu. Tapi, bukan sekarang. Ketika semuanya
sudah jelas dan benar-benar terbukti, maka sepertinya berita ini layak untuk
naik sampai ke layar tv.
“Markas mereka berada
di sana,” bisik Agatha.
“Kau serius?!” seru
pria itu tak percaya.
“Ssttt! Kecilkan
suaramu!” perintah gadis itu sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir.
Arjuna yang baru
menyadari hal tersebut, lantas segera menutup mulutnya rapat-rapat. Ia hampir
lupa jika sekarang mereka tengah berada di tempat umum. Semuanya harus
dilakukan secara hati-hati. Bisa saja ada seseorang yang sedang mencoba untuk
menguntit mereka. Baik Arjuna maupun Agatha sama-sama harus waspada.
“Kau sungguhan?” tanya
Arjuna lagi. Kali ini dengan volume suara yang jauh lebih kecil daripada
sebelumnya.
Pria itu mendapatkan
anggukan dari Agatha, yang berari jawabannya adalah iya.
Pria itu lantas menutup
mulutnya tak percaya. Ini gila. Bagaimana bisa sekelompok mafia yang cukup
terkenal seperti mereka berani-beraninya menempatkan markas utamanya di dalam
gedung bank. Bukannya malah menghindar dari keramaian, mereka malah dengan
sengaja menempatkan diri di tengah-tengah publik.
“Kau juga tidak
percaya, bukan?” tanya Agatha.
“Kalau begitu kita
sama. Aku awalnya juga tidak percaya. Namun, kini sepertinya aku harus percaya
dengan fakta yang gila itu,” ujar gadis itu sambil melipat kedua tangannya di
depan dada.
Sementara itu di sisi
lain Arjuna masih sibuk berkutat dengan isi kepalanya sendiri. Sepertinya dia
perlu waktu untuk berpikir. Sampai pada tahap penerimaan kenyataan. Itu adalah
tahap yang paling sulit. Namun, Agatha yakin jika pria itu akan merasa jauh
lebih lega setelah bisa menerima kenyataan. Dalam hal apa pun itu.
Agatha memilih untuk
tetap bungkam selama beberapa saat. Memberikan waktu kepada pria itu untuk
berdamai dengan dirinya sendiri. Sembari menunggu sampai Arjuna ingin bicara
kembali, gadis itu memutuskan untuk menyantap kue red velvet yang sudah dipesan
tadi. Meski tidak terlalu mengenyangkan, setidaknya cukup untuk mengganjal
perutnya saat ini.
Pada suapan pertama, ia
mengerjap tidak percaya. Bagaimana bisa rasanya jadi seenak ini. Sepertinya ini
adalah kue red velvet paling enak yang pernah ia makan. Agatha memang belum
pernah berkunjung ke café ini sebelumnya. Hanya sering lewat saja. Tidak pernah
mampir, barang sekali saja.
Ia tidak pernah
menyangka jika café ini memiliki kue red velvet yang begitu nikmat. Mungkin setelahnya
Agatha jadi lebih sering mampir ke sini hanya untuk membeli kue red velvetnya.
“Tapi, bagaimana bisa
markas mereka berada di gedung bank?” tanya Arjuna lagi.
Pada akhirnya, pria itu
kembali buka suara. Agatha lantas segera meletakkan sendoknya dan kembali
meladeni pria itu.
“Aku juga tidak tahu.
Tapi, aku yakin jika pasti ada orang penting yang melindungi mereka,” jelas
Agatha.
“Dunia hanya akan
tunduk pada mereka yang berkuasa. Uang dan koneksi adalah segalanya,” timpal
gadis itu.
“Tidak
ada yang benar-benar adil di dunia ini. Tidak ada orang yang benar-benar baik,
juga tidak ada orang yang benar-benar jahat,” finalnya kemudian kembali meneguk
kopi latte miliknya.