The Riot

The Riot
Ancaman



Kali ini posisi pria tersebut sedikit lebih unggul


dari Agatha. Ia berhasil membungkam mulut gadis itu dengan begitu mudahnya. Seolah


tidak ada beban sama sekali. Kelihatannya bukan hanya Agatha saja yang tahu


tentangnya, melainkan juga sebaliknya. Agatha tidak bisa menganggap remeh ria


itu mulai sekarang.


“Apa maksudmu?” tanya gadis itu dengan ragu.


Akhirnya ia memutuskan untuk buka suara juga setelah


enggan memberikan respon apa pun untuk kalimat yang sempat meluncur keluar dari


mulut pria itu.


“Bagaimana jika mereka tahu kalau seorang anggota


kepolisian ternyata diam-diam bekerja sama dengan ketua geng mafia ternama di


kota ini,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Pasti kau akan kehilangan begitu banyak hal


penting,” lanjutnya setengah mengancam.


Gadis itu masih tidak mencerna kalimat darinya


secara utuh. Untuk pertama kalinya ia tidak bisa mengandalkan otaknya. Tidak peduli


seberapa keras ia berusaha utuk mencoba memahaminya, hasilnya tetap sama saja.


Nihil.


“Tidak usah pura-pura bodoh seperti itu!” ucapnya


dengan penuh penekanan.


Kalau boleh berkata jujur, sebenarnya Agatha masih


tidak mengerti apa maksudnya. Terlebih soal ketua geng mafia ternama itu. Semua


orang juga tahu jika Agatha bukan orang yang terbilang akrab dengan mereka. Bahkan


teman dekatnya saja berasal dari keluarga baik-baik dan cukup terpandang. Ia tidak


akan bergaul dengan sembarang orang. Terutama jika itu membawa kerugian


baginya.


“Siapa orang yang kau maksud itu?” tanya Agatha


sambil mengerutkan dahinya.


Kedua alis gadis itu tampak menyatu. Cukup untuk


menandakan jika ia sedang kebingungan. Penasaran setengah mati.


“Kalau kau ingin karirmu selamat, bebaskan aku dari


neraka ini,” ujar pria tersebut secara gamblang.


Tampaknya ia sedang menawarkan opsi lain. Sebuah


bantuan yang kiranya bisa membantu untuk menyelamatkan hidup Agatha. Atau paling


tidak untuk mempertahankan semua hal yang sudah ia capai dengan susah payah


sejauh ini.


“Yang bersalah tetap saja bersalah!” tegas Agatha


sekali lagi.


Apa pun yang terjadi, ia tetap akan berpegang teguh


pada prinsipnya. Mereka yang bersalah sudah sepatutnya menerima hukuman yang


sepadan. Selama ini dunia tidak pernah cukup adil bagi mereka yang tertindas. Meski


tidak bisa membantu semua orang di dunia ini dan memastikan jika mereka


mendapatkan keadilan, setidaknya Agatha sudah membantu sebagian dari mereka


untuk bebas dari belenggu ketakutan.


“Kalau begitu itu artinya kau sudah siap untuk


kehilangan semua hal berarti di dalam hidupmu,” beber pria itu.


“Termasuk karirmu yang harus kuakui lumayan


cemerlang sekarang,” imbuhnya kemudian.


“Aku tidak pernah mengenal apalagi sampai bersekongkol


dengan ketua geng mafia!” tegas gadis itu sekali lagi.


“Jadi jangan pernah mengatakan omong kosong itu


lagi!” tukasnya.


Agatha akan melakukan apa saja sebagai upaya


pembelaan diri. Selama dirinya terbukti tidak bersalah, ia berhak untuk


melakukan apa pun. Reputasinya dipertaruhkan di sini. Hal paling buruk yang


mungkin saja terjadi sudah disebutkan oleh pria itu lebih dulu. Agatha akan


kehilangan karirnya. Mungkin tak akan pernah bisa kembali lagi kemari hanya


karena satu rumor yang belum terbukti benar adanya.


“Semua yang kukatakan tadi bukan omong kosong,”


tepis si tersangka.


“Buktinya sudah cukup untuk melaporkan kasus ini ke


kantor tempatmu bekerja sekarang,” desaknya.


Agatha sedang mengalami kesulitan untuk membedakan


hanya gertakan semata. Ia nyaris tidak bisa membedakan keduanya sekarang.


“Kali ini aku tidak sedang main-main,” bisiknya.


“Kalau begitu aku juga bisa melaporkanmu dengan


kasus tuduhan palsu dan pencemaran nama baik,” ancam gadis itu balik.


‘BRAK!!!’


Agatha menggebrak meja dengan geram. Pria ini


sungguh menguji kesabarannya. Jika saja akal sehatnya sudah hilang, mungkin


Agath akan langsung menghabisinya sekarang juga di ruang interogasi.


Ia beranjak dari tempat duduknya. Berdecak sebal


sambil menghela napas. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat. Sejauh ini Agatha


masih menahan amarahnya. Padahal ubun-ubunnya sudah terasa mendidih. Ia tidak


akan bisa bertahan lebih lama lagi dalam kondisi seperti ini.


“Bawa dia keluar!” titah Agatha kepada rekan kerjanya


yang sudah menunggu di luar ruangan.


Tanpa pikir panjang lagi, mereka segera masuk ke


dalam untuk menjemput tersangka. Untuk sementara waktu ia akan ditempatkan di


salah satu ruang tahanan. Setidaknya sampai semua bukti sudah terkumpul dan di


rasa cukup. Baru setelahnya hukum yang akan memutuskan apakah dia berhak untuk


keluar dan meninggalkan ruangan dengan dinding jeruji besi itu atau malah


sebaliknya. Tapi, intuisi gadis ini berkata jika ia akan tinggal lebih lama


lagi di sana. Mungkin mereka akan sering bertemu untuk beberapa tahun ke depan.


Agatha sudah cukup muak berhadapan dengan pria itu.


Padahal mereka baru bertemu. Bahkan belum sampai satu jam keduanya berada di


sini.


“Aku akan segera serahkan laporan ini ke kepala


bagian,” ujar Agatha pada rekannya.


Tak ingin berlama-lama di tempat itu lagi, Agatha


lantas bergegas meninggalkan tempat itu. Atmosfirnya berubah drastis ketika ia


sampai di ruangan lain. Tanpa ia sadari, ternyata hal tersebut berpengaruh pada


suasana hatinya.


“Permisi!” ucap Agatha.


“Silahkan masuk!” balas seseorang dari dalam.


Gadis itu yang tadinya berdiri di depan pintu masuk,


lantas segera bergerak maju setelah mendapatkan pesetujuan dari sang empunya. Sebenarnya


dia datang kemari untuk menyerahkan hasil interogasi tadi. Sekaligus untuk mendiskusikan


beberapa hal.


Tanpa perlu dipersilahkan lagi, tangannya refleks


meraih sandaran kursi. Menarik benda itu mundur, lalu mendaratkan bokongnya di


atas sana. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi tidak perlu


bersikap terlalu formal. Dengan catatan tetap menjaga kesopanan.


“Ada perlu apa?” tanya pria itu.


Benar, yang sedang ia temui saat ini adalah Arjuna. Lagi-lagi


harus berurusan dengan pria itu. Namun, Agatha sama sekali tidak


mempermasalahkannya jika ini soal pekerjaan. Bagaimanapun mereka berada di satu


kantor yang sama. Pasti akan sering bertemu.


“Aku ingin menyerahkan berkas hasil interogasi tadi,”


ujar gadis itu sembari menyodorkan beberapa lembar kertas yang sudah ia susun


rapih.


Tanpa membalas perkataannya barusan, Arjuna lantas


segera meraih berkas tersebut. Ia berniat untuk memeriksanya sekali lagi. Namun,


pria itu langsung mengurungkan niatnya ketika Agatha mulai buka suara.


“Aku tidak bisa menyelesaikannya,” ungkap gadis itu


secara terang-terangan.


“Sebaiknya minta orang lain saja untuk menyelesaikan


sisa pertanyaannya,” jelasnya kemudian.


Agatha sudah menjelaskan semua hal yang perlu


dijelaskan lebih dulu. Bahkan sebelum pria itu sempat bertanya.


“Kenapa?” tanya pria itu balik.


“Bukannya selama ini menginterogasi orang selalu


menjadi hal yang mudah bagimu?” tanyanya lagi.


“Tapi tidak dengan kali


ini,” jawab Agatha dengan apa adanya.