
Agatha baru saja menghubungi kantor beberapa menit
yang lalu. Mungkin sekitar dua menit yang lalu. Mustahil jika mereka akan
langsung sampai. Paling tidak perlu waktu sepuluh menit selama perjalanan. Itu saja
sudah yang paling cepat jika tidak ada hambatan apa pun.
Waktu dua menit, mungki mereka masih mengeluarkan
kendaraan dari dalam garasi. Menempuh setengah dari total jarak perjalanan saja
terasa tidak masuk akal.
Dia tidak bisa terus-terusan diam seperti ini. Sementara
teman-temannya yang lain membutuhkan pertolongan. Ia berusaha untuk memutar
otak. Mencari jalan keluar yang paling tepat. Tak perlu waktu lama, sebuah ide
brilian langsung muncul di dalam kepalanya. Entah kenapa manusia mendadak bisa
melakukan sesuatu yang selama ini berada di luar batas kemampuannya jika sedang
dalam situasi terdesak. Anggap saja jika itu termasuk kepada salah satu bagian
dari insting bertahan hidup manusia. Setiap mahluk hidup pada umumnya akan
melakukan apa saja untuk bertahn hidup.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera meraih ponsel di
dalam sakunya. Kali ini Agatha akan menghubungi pihak kantor lagi untuk meminta
bantuan. Mereka perlu passukan tambahan. Tiga orang tidak akan cukup untuk
mengatasi semua kekacauan itu. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk meremehkan
Arjuna. Semua orang juga tahu kalau pria itu adalah yang terbaik. Tapi, tetap
saja ia tidak bisa bersikap egois seperti itu.
“Halo!”
“Dengarkan aku baik-baik!”
“Situasinya semakin tak terkendali di sini. Kami
perlu personil tambahan untuk membantu proses penangkapan. Kerahkan siapa saja
yang berada di kantor. Kalau perlu panggil mereka yang hampir tertidur. Sama seperti
kalian mengusikku tadi.”
“Baiklah,
mereka akan segera sampai ke sana dalam waktu lima menit.”
“Terima kasih!”
‘TUT!!!’
Terdengar suara bel panjang setelahnya. Pertanda jika
panggilannya baru saja terputus. Setelahnya ia langsung menyimpan kembali benda
tersebut.
“Ada apa?!” bentak Agatha sembari melayangkan
pandangannya kepada pria yang baru saja ia tangkap.
Merasa tak perlu menanggapi perkataan Agatha
barusan, ia lantas segera memutar bola matanya dengan malas. Lalu berdecak
sebal. Padahal sebelumnya ia tampak menyoroti Agatha lamat-lamat.
Sembari menunggu kedatangan pasukan tambahan dan
beberapa mobil khusus tahanan dari kantor, Agatha akan tetap berada di sini.
Bagaimanapun juga dia tidak bisa membantah perintah Arjuna. Kecuali jika
situasinya darurat.
Tadi hampir saja Agatha membuat masalah. Dengan memutuskan
untuk pergi dari tempatnya berjaga adalah sebuah kesalahan besar. Secara tidak
langsung ia sudah membantah perintah pria itu. Setidaknya Arjuna pasti punya
alasan kenapa menyuruh Agatha untuk tetap berjaga di sini dan tidak
kemana-mana.
Tapi, untungnya ia segera membuat keputusan yang
tepat untuk tidak pergi kemana pun. Sekarang Agatha tidak perlu turun tangan
secara langsung untuk membantu. Rekan-rekannya yang lain akan segera datang
untuk membereskan kekacauan ini bersama. Kerja sama tim adalah yang utama untuk
situasi seperti sekarang.
Agatha tidak perlu lagi memusingkan tentang
persoalan lain. Sebab setiap orang sudah memiliki tanggung jawabnya
masing-masing. Tidak sopan sekali jika ia ikut mencampuri urusan orang lain.
Satu-satunya hal yang perlu ia lakukan sekarang adalah membereskan pria itu.
***
“Siapa dia?” tanya salah satu rekan kerjanya.
“Salah satu bagian dari mafia-mafia itu,” jawab
Agatha dengan apa adanya.
“Baiklah kalau begitu,” balasnya.
Sekarang setidaknya Agatha sudah bisa bernapas
dengan lega. Selurh personil dengan total lima belas orang sudah sampai di
dalam aktu kurang dari satu jam jika bekerja sama seperti ini.
Sungguh tidak ada wanita lain di antara pasukan yang
baru saja datang kemari. Sepertinya sungguh hanya dirinyalah yang ditugaskan
untuk malam ini.
“Apa tidak ada personil wanita lain yang bisa kita
kerahkan?” tanya Agatha kepada Jeff yang merupakan teman satu angkatannya.
“Entahlah, mereka hanya meminta kami untuk datang
kemari dan membantu,” jawab pria itu.
“Seharusnya aku tidak berada di sini malam ini. Kurasa
mereka keliru dan menganggapku sebagai seorang pria,” keluh Agatha.
Ia masih tidak terima sampai sekarang dengan fakta
kalau hanya dirinya satu-satunya wanita yang terlibat dalam misi berbahaya. Bagaimana
dengan mereka yang lain. Apakah pihak kantor membiarkan mereka tertidur pulas malam
ini dan malam mengusik Agatha.
“Kau pikir dalam melaksanakan tugas mereka akan
pandang bulu?!” seru Jeff sambil menoyor kepala gadis itu pelan.
“Baik itu pria atau wanita, semua akan turun ke lapangan
pada saat dibutuhkan,” jelasnya kemudian.
Agatha hanya bisa berdecak sebal sambil
mengusap-usap kepalanya.
Seharusnya saat ini tugas mereka sudah selesai. Tidak
ada yang berhasil lari. Semua orang yang terlibat dalam kekacauan kali ini
sudah berhasil diamankan. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan ke kantor. Setiap
orang akan dimintai keterangan atas peristiwa tersebut. Mungkin proses
interogasinya tidak akan dilaksanakan hari ini juga. Mereka sudah terlalu lelah
untuk itu.
Sekarang hanya tersisa beberapa orang saja di lokasi
kejadian. Salah satunya adalah Agatha. Sementara sisanya sudah kembali ke
kantor bersama dengan para tersangka. Gadis
itu dan beberapa rekannya yang lain tampak berkumpul di satu titik. Menunggu sampai
semua orang kembali kemari dan formasinya lengkap.
Satu persatu dari mereka mulai tampak keluar dari
dalam kelab malam itu. Kondisinya sudah tidak dapat dideskripsikan dengan
kata-kata lagi. Mereka tampak kacau. Namun, untunglah tidak ada yang menderita
luka serius. Hanya lebam-lebam biasa saja. Jika dirawat dengan benar, maka
lukanya pasti akan cepat sembuh.
Dari mereka semua yang bertugas untuk mengamankan
situasi di dalam hall utama, Arjuna adalah satu-satunya orang yang terlihat
paling parah. Sepertinya ialah yang mendapatkan serangan paling banyak. Sampai-sampai
untuk berdiri di atas kakinya sendiri saja rasanya sudah tidak sanggup lagi. Arjuna
terpaksa dibantu untuk berjalan dengan temannya yang lain.
“Apa kau tidak apa-apa?” interupsi Agatha begitu
pria itu tiba di hadapannya.
“Tidak,” jawabnya dengan singkat.
Jika begini caranya, Arjuna tidak akan bisa
mengendarai sepeda motor miliknya. Mengingat tadi mereka datang kemari dengan
kendaraan yang satu itu. Jangankan menyetir, untuk berdiri dengan tegak saja
sulit.
“Sebaiknya kita kembali ke kantor. Lagipula sudah
tidak ada apa-apa lagi di sini. Semuanya sudah beres,” ujar Jeff dengan wajah
paniknya yang kemudian langsung diangguki oleh Agatha dan yang lainnya.
“Lalu bagaimana dengan Arjuna?” tanya Robi.
“Aku yang akan menyetir,” jawab gadis itu.
“Kau yakin?” tanya Arjuna untuk memastikan.
“Memangnya kenapa tidak?” tanya Agatha balik.
Mereka jadi tak banyak tanya setelahnya. Sepertinya Agatha
bisa dipercaya untuuk urusan yang satu ini. Jadi, tidak perlu khawatir.
“Mari biar kubantu
naik!” tawar Jeff kepada pria itu.
“Terima kasih,” ucap
Arjuna dengan tulus.
“Tidak masalah,”
balasnya.