
Aaron sama sekali tidak memberikan celah bagi gadis itu
untuk melarikan diri. Lagi-lagi Agatha telah melewatkan sebuah kesempatan emas.
Ia kurang efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu. Sekarang mau tak mau
gadis itu terpaksa memutar otak untuk mencari jalan keluar.
“Bagaimana kau bisa tahu keberadaanku?” tanya Agatha.
“Apa kau mengawasiku selama ini?” tuduhya sambil memicingkan
mata.
Agatha langsung menyerang lawan bicaranya dengan dua
pertanyaan sekaligus. Membuat Aaron tidak memiliki pilihan lain selain “Ya” dengan
“Tidak”. Namun sayangnya Aaron tidak langsung menjawab. Sebuah sikap yang
bahkan tidak sempat memenuhi ekpektasi gadis ini. Alih-alih menjawab dengan dua
pilihan yang sudah disediakan, ia malah tertawa singkat. Bukan karena ada hal
yang lucu. Melainkan karena ingin meledek.
“Menurutmu?” tanya pria itu balik.
“Bagaimana bisa aku melepaskan orang yang telah mengacaukan
seluruh rencana besarku,” jelasnya kemudian.
Agatha berdecak sebal begitu mendengar kalimat tersebut
keluar dari mulutnya. Namun, di sisi lain ia juga sadar kalau sebenarnya
dirinya sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Tapi, mau bagaimana
lagi. Ini sudah menjadi tuntutan pekerjaan yang harus dipenuhi. Agatha bahkan
terbilang hampir mempertaruhkan nyawanya sendiri demi bertahan hidup.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya Agatha akan menolak misi
yang satu itu jika dirinya kembali ke masa lalu. Tapi, mau bagaimana lagi.
Semuanya sudah terjadi. Takdir tidak bisa diubah.
‘CEKLEK!’
Berhubung pintu utama apartment Agatha sudah terbuka kuncinya,
jadi akan sangat mudah bagi Aaron untuk memiliki akses masuk. Dia cukup
mendorong pintu tersebut.
“Tempat tinggalmu yang baru ternyata lumayan juga,” ujar
Aaron sambil mencuri pandang ke dalam.
“Lepaskan aku!” perintah Agatha.
percaya jika gadis itu baru saja membentaknya dalam situasi seperti ini. Memang
benar beberapa saat lalu Agatha dan Aaron sempat saling berteman. Mereka bahkan
terlalu akrab untuk ukuran seorang teman.
***
Sungguh konyol. Skenario macam apa lagi yang sedang
disiapkan semesta untuknya. Kenapa selalu ada saja kejutan yang bukannya
membuat gadis itu terkejut. Ia malah lebih sering geleng-geleng kepala karena
hal tak terduga.
Hari ini cukup aneh sekaligus membingungkan bagnya. Agatha
disandra di rumahnya sendiri. Tidak dapat dipercaya. Padahal sebelumnya ia
berniat untuk langsung istirahat begitu sampai di rumah. Namun, kehadiran Aaron
berhasil mengacaukan semua rencananya.
Sepertinya ini adalah bagian pertama dari misi pembalasan
dendam. Saling mengacaukan rencana satu sama lain. Baik itu rencana kecil
maupun besar. Ternyata perkataan Aaron di telepon waktu itu benar adanya. Dia
tidak sedang main-main. Aaron sungguh menghampirinya kemari.
“Kupikir ini adalah tempat yang paling aman sebelumnya,”
gumam gadis itu pelan.
“Tapi ternyata tidak sama sekali,” imbuhnya.
Memang sulit untuk dipercaya. Bagaimana Aaron mengetahui
keberadaannya secepat ini. Bukan hanya itu saja. Pencariannya benar-benar
akurat. Ia bahkan sampai berhasil menemukan nomer kamar gadis ini. Terkadang
Agatha dibuat tercengang sendiri dengan caranya bergerak.
“Sekarang aku hanya perlu memikirkan cara untuk melepaskan
diri darinya.”
“Aku tidak bisa hidup seperti ini terus-terusan. Terikat
dengan belenggu orang lain.”
Sementara Aaron berjaga di luar kamar, Agatha nyaris
frustrasi karena diajak berpikir malam-malam. Padahal ini waktunya untuk
istirahat. Tapi, masalah terus-terusan datang. Tidak ada jeda sama sekali.