The Riot

The Riot
Here



Tanpa pikir panjang lagi, Agatha segera membukakan


pintu tersebut. Memberikan akses masuk kepada pria itu. Sekali lagi, ia tak mau


sampai membuat orang lain menunggu terlalu lama. Pasalnya, Agatha juga tak


ingin begitu. Katanya perlakukanlah orang lain sebagaimana kau ingin


diperlakukan.


‘CEKLEK!’


Gadis itu kembali menutup pintunya setelah Aaron


sampai di dalam. Melangkah menuju dapur dan mengambil segelas air putih untuk


mengurangi rasa hausnya. Aaron sungguh telah menganggap tempat ini sebagai


rumahnya sendiri.


“Aku berharap agar dia tidak lupa kalau tempa


tinggalnya berada di ujung lorong,” gumam Agatha pelan.


Tidak menutup kemungkinan jika Aaron suungguh hampir


lupa. Terkadang ia kerap jadi tak fokus kalau sedang banyak beban pikiran. Tapi,


hari ini tampaknya ia baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.


“Ngomong-ngomong aku sudah mengembalikan kotak


makanan itu ke dapurmu,” ujar Agatha secara gamblang.


Aaron sama sekali tak berniat untuk menanggapi hal tersebut.


Tampaknya ia tak tertarik dengan pembahasan kotak makan. Ia hanya menoleh


sekilas saja ke arah Agatha, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke sudut


lain dari ruangan ini. Setelah selesai menghabiskan air minumnya, pria itu


pergi untuk mengambi satu tempat duduk.


“Aku kemari bukan untuk membicarakan tentang hal


itu,” ungkapnya.


“Lalu?” tanya gadis itu.


“Tidak ada, hanya ingin menghabiskan waktu di tempat


lain saja. Aku sedang bosan berada di rumah,” jelasnya secara terang-terangan.


Agatha sudah menduganya. Jika tidak ada hal penting


yang ingin dibicarakan, maka alasan lain kenapa pria itu datang kemari adalah


untuk mengisi waktu luangnya. Padahal di sini juga tidak ada bedanya. Aaron


masih tidak habis pikir. Memangnya apa yang berbeda. Ia bahkan bisa melakukan


yang satu itu di tempat tinggalnya sendiri.


“Kau ingin menonton televisi lagi?” tanya Agatha


untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.


“Seperti biasanya,” jawab pria itu secara gamblang.


“Kalau begitu jaga tempat ini baik-baik, aku akan


pergi ke bawah sebentar untuk berbelanja,” pesan Agatha.


“Baiklah, kau bisa mempercayakannya kepadaku!” balas


Aaron dengan semangat.


Aaron akan melakukan perintahnya yang satu itu


dengan senang hati. Menjaga rumah bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Ia


bahkan nyaris tidak perlu melakukan apa-apa.


“Kalau begitu aku pergi dulu!” sahut Agatha dari


ambang pintu.


“Ya!” balas pria itu.


Setelah memastikan jika gadis itu sudah benar-benar


pergi dari sini, Aaron langsung bergegas menuju ruang tengah. Meraih remot


televisi yang berada di salah satu sisi sofa. Tidak ada siapa-siapa di sini.


Dengan cekatan tangannya langsung bergerak


memindahkan saluran tv yang satu ke saluran tv lainnya. Sebenarnya dia tidak


sedang ingin menonton apa pun secara khusus. Aaron akan menikmati acara apa


saja yang tersedia di tv saat ini.


Sampai pada akhirnya ia


memutuskan untuk menonton salah satu acara berita. Sudah terbilang cukup lama


sejak terakhir kali ia menonton acara serupa. Tidak bisa dipungkiri jika Aaron


perlu tahu bagaimana perkembangan dunia saat ini. Paling tidak soal beberapa


hal di sekitarnya.


Terutama dan yang paling utama adalah berita soal bisnis. Itu yang terpenting. Aaron perlu mengikuti perkembangan soal dunia bisnis, demi kelangsungan hidupnya. Tidak banyak orang yang tahu jika ternyata pria itu diam-diam tengah menjalankan sebuah bisnis. Lumayan bersifat rahasia memang.~~~~