The Riot

The Riot
Gloomy Day



Hujan deras yang


disertai badai ringan kemarin malam, ternyata berlangsung cukup lama. Berawal dari


pukul sembilan malam hingga lewat tengah malam. Sama sekali tidak mereda.


Bahkan kabarnya beberapa tempat terendam banjir akibat hujan kemarin malam.


Selama kurang lebih tiga jam, curah hujannya tidak mmereda sama sekali.


Hujan sederas itu tidak


hanya menghalangi langkah Agatha saja. Bahkan sepertinya pergerakan di seluruh


kota ini nyaris terhenti karena kejadian tersebut. Dampaknya masih tersisa


sampai pagi ini. Begitu Agatha membuka siiaran televisi sambil ditemani oleh


secangkir teh hangat, ia disuguhi oleh berbagai berita tentang pohon tumbang


dan kebanjiran. Tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah jelas akar dari semua


permasalahan ini hanya ada satu. Yaitu, hujan yang mengguyur seluruh kota


kemarin malam.


Akibat alasan yang sama


pula gadis itu tidak jadi pergi keluar rumah kemarin malam. Padahal awalnya


Agatha ingin menemui Arjuna sekali lagi untuk hari itu. Ada hal penting yang


perlu dbicarakan. Kalau tidak penting, untuk apa ia rela menerobos hujam


malam-malam seperti ini. Karena situasi yang tidak memungkinkan untuk pergi,


Agatha terpaksa mengurungkan niatnya.


Sekarang masih pukul


tujuh pagi. Masih terlalu pagi untuk pergi ke markas. Tempat itu pasti masih


sangat sepi pada jam segini. Mungkin tidak ada siapa-siapa malah di sana.


Biasanya mereka akan sampai di markas sekitar pukul sepuluh pagi. Waktu yang


ideal. Tidak terlalu pagi dan juga tidak terlalu siang.


Semenjak bergabung dalam


kelompok mafia, siklus hidupnya setiap hari jadi terasa lebih sederhana dan


tidak terlalu merepotkan. Agatha tidak perlu bangun terlalu pagi dan buru-buru


pergi ke kantor seperti biasanya. Namun, di sisi lan ia juga mencemaskan soal


keselamatannya. Salah sedikit saja, belum tentu Agatha akan bertemu hari esok. Itu


Pagi ini tidak secerah


hari-hari biasanya. Masih tersisa beberapa awan kelabu yang tampak membungkus


langit biru. Bahkan nyaris tidak membiarkan sinar jingga dari sang surya


menerobos masuk ke dalam bumi. Di luar sedang sedikit gerimis. Mungkin sisa


dari yang kemarin. Semesta belum tuntas menangis.


Tidak masalah. Agatha


akan menunggunya dengan sabar. Setidaknya sampai gerimisnya berhenti, walau sepertinya


nyaris tidak mungkin kalau harus menunggu sampai jalanannya kering. Sambil


menunggu, ia memilih untuk menghabiskan waktu dengan menonton televisi.


Menghabiskan waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Biasanya ia baru akan


beranjak dari tempat duduknya tepat pada pukul sembilan untuk bersiap.


Sebenarnya perjalanan


dari tempat tinggalnya menuju markas hanya memakan waktu sekitar dua puluh


menit. Tapi, Agatha bahkan butuh waktu yang lebih lama dari perjalanan itu


untuk mandai dan bersiap. Meski tidak menggunakan riasan yang terlalu tebal,


tetap saja ia membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Wajahnya harus terlihat


sempurna di depan cermin. Baru Agatha akan menyelesaikan pekerjaannya dan


berhenti berkutat di depan meja rias.


“Apa ini?” gumam gadis


itu saat menemukan sesuatu di meja riasnya.


Sepertinya Agatha tidak


pernah memiliki benda seperti ini. Ia sendiri bahkan tidak tahu entah benda apa


itu. Maih tetap dengan sorot mata yang tajam, ia terus mengamati benda kecil di


tangannya tersebut.


“Kamera


tersembunyi?” gumamnya dengan ragu. Namun, di sisi lain gadis itu merasa yakin


kalau tebakannya benar. Agatha bingung.