The Riot

The Riot
Liora Sierra Zoe



Sudah sekitar dua hari


mereka dua hari Agatha di rawat di rumah sakit ini. Kondisinya tentu saja


semakin membaik. Karena memang sejak awal tidak ada hal serius yang terjadi


kepadanya. Namun, berbeda dengan wanita yang datang ke kamarnya beberapa hari


lalu. Iya, ia mencoba untuk menyakiti Agatha waktu itu. Sekarang wanita itu


harus menerima akibatnya. Dia dirawat secara intensif di rumah sakit yang sama


karena keracunan. Lagi-lagi orang itu berusaha untuk membunuh Agatha dengan cara


memberinya racun.


Ayolah! Ini bukan zaman


kerajaan lagi. Kenapa harus repot-repot meracuni orang lain saat kau bisa


melakukan hal lain secara terang-terangan. Dan yang terpenting, reaksinya


terbilang cepat. Hanya sepersekian detik saja. Kalau Agatha menjadi dirinya,


mungkin gadis itu jauh lebih memilih untuk menembak korbannya langsung saja. Selesai,


tidak perlu repot-repot. Masalah tertangkap atau tidak, itu urusan belakangan.


Agatha masih tidak


habis pikir. Apa alasan wanita itu begitu terobsesi untuk membuatnya celaka.


Apa Agatha pernah mengusiknya secara pribadi sampai-sampai ia memiliki dendam


yang begitu besar. Sepertinya tidak sama sekali. Mereka bahkan baru bertemu


kemarin. Pada saat itu jugalah Agatha menyadari eksistensinya. Selama ini tidak


pernah. Kalau saja kemarin itu dia tidak menunjukkan batang hidungnya di


hadapan Agatha, mungkin ia tidak akan pernah tahu bahaya apa yang sedang


mengancamnya sekarang. Meski kemarin ia nyaris sekarat, tapi ada satu hal yang


berhasil membuatnya bersyukur. Sebab karena kejadian tersebut ia malah jadi


lebih berhati-hati sekarang. Waspada akan membuatmu tetap aman.


Sepertinya anggapan


kalau mereka tidak saling mengenal itu salah. Salah besar. Karena pada


faktanya, wanita itu telah lebih dulu mengenal dirinya. Namanya Liora Sierra


Zoe. Tapi, orang-orang jauh lebih sering memanggilnya dengan sebutan Liora.


Salah satunya adalah Narendra. Ya, benar. Kalian tidak sedang salah dengar.


Semua itu benar apa adanya.


Dari semua hal yang


sudah terjadi sampai sejauh ini, tidak ada yang lebih mengejutkan dari yang


satu ini. Sebab, semua itu tadi sama sekali bukan poin penting. Kali ini Agatha


benar-benar dibuat tak bisa berkata-kata lagi saat ia mengetahui kalau wanita


licik itu ternyata adalah kekasih ayahnya. Calon istri lebih tepatnya. Tidak!


Ia tidak akan sudi mempunyai ibu tiri seperti itu.


“Dia hanya menyayangi


harta ayahku, bukan ayahku!” sarkas Agatha ketika berada di ruangannya bersama


dengan Arjuna.


“Aku masih tidak


menyangka jika masih ada orang seperti dirinya di zaman sekarang ini,” ucap


pria itu sambil menggeleng-geleng pelan.


Memangnya siapa yang


menyangka jika ia akan bertemu dengan sosok ibu tiri seperti itu. Tapi tenang


saja, kebebasannya tidak akan lama. Arjuna dan Jeff sudah menguru semuanya.


Orang yang mereka lihat di rekaman kamera pengawas restoran dengan kamera di


rumah sakit adalah orang yang sama. Buktinya sudah banyak. Cukup jelas untuk


membuktikan kalau Liora benar bersalah. Dia tidak bisa mengelak lagi sekarang.


Sudah diperingati sejak


awal, jangan berani-beraninya membangunkan seekor singa yang sedang tidur. Sama


halnya seperti Agatha. Gadis itu tidak akan mencari gara-gara kepada orang


lain, jika bukan karena orang itu lah yang lebih dulu mencari masalah


dengannya. Seperti Liora salah satu contohnya.


“Padahal aku juga tidak


terlalu peduli dengan ayahku sejak hari itu. Tapi kenapa ia masih berusaha


untuk menyingkirkanku seolah aku adalah penghalang baginya?” gumam gadis itu


sambil menggerutu kesal. Pasalnya, ia tidak pernah benar-benar tahu dimana akar


permasalahannya.


“Bisa jadi dia memang


membenarkan.


“Tapi, aku bahkan tidak


pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku juga baru tahu soal itu dua hari yang


lalu!” celoteh gadis itu sambil memajukan bibirnya beberapa centi.


“Karena kau adalah


anaknya!” tegas Arjuna.


Benar juga apa yang


barusan dikatakan oleh pria itu. Bisa jadi jika Liora menganggapnya sebagai


ancaman karena posisi Agatha sebagai anak kandung dari pria incarannya. Meski ia


adalah anak perempuan, sama sekal tidak menutup kemungkinan jika harta yang


dimiliki Narendra sekarang akan jatuh ke tangan gadis itu sebagai pewaris. Bukan


malah kepada Liora.


Tapi, jika


dipikir-pikir kembali maka Agatha bukan satu-satunya ancaman di sini. Kabarnya


Narendra memiliki satu anak laki-laki tunggal di keluarganya yang sebelumnya.


Buah hatinya bersama istri sahnya. Sebelum ia pada akhirnya menikah dengan ibu


gadis ini. Anak laki-laki itu pasti akan mendapatkan bagian warisan yang paling


besar. Setidaknya sedikit lebih besar daripada milik Agatha.


“Kenapa dia tidak


menghabisi anak itu lebih dulu kalau memang merasa terancam?” batinnya di dalam


hati.


Namun secara mendadak


dia menemukan jawaban di dalam dirinya sendiri. Bisa jadi Liora tidak tahu


kalau pria itu memiliki seorang anak laki-laki. Atau mungkin anak lainnya juga.


Anak yang tidak pernah ia ungkap identitasnya ke publik. Memangnya siapa yang


tahu dengan siapa saja Narendra berselingkuh.


Tidak perlu menghabisi


Agatha seperti ini. Lagi pula ia sama sekali tidak tertarik dengan semua harta


milik ayahnya. Meskipun harus ia akui jika jumlahnya tidak sedikit. Selain itu,


Narendra pasti tidak akan asal dalam memberikannya. Mengingat jika hubungan


mereka sedang tidak beberapa tahun ke belakangan ini, rasanya tidak mungkin


jika Agatha yang akan menjadi penerus tahtanya.


“Sudahlah, jangan


terlalu dipikirkan!” pungkas Arjuna secara tiba-tiba. Sontak hal tersebut


berhasil membuyarkan isi pikirannya.


“Saat ini kasusnya


sedang kami urus. Nanti ketika kondisinya sudah jauh lebih baik, maka kami akan


segera menjadwalkan sidang secepatnya,” jelas pria itu kemudian.


Fakta bahwa seorang


wanita seperti Liora tidak akan berkeliaran dengan bebas lebih lama lagi,


berhasil membuatnya sedikit lebih lega. Itu berarti dia tidak perlu merasakan


takut yang berlebihan. Ia hanya perlu menunggu sampai semua prosesnya selesai.


Arjuna, Jeff dan rekan-rekannya yang lain sedang mengurus semua itu.


“Terima kasih banyak


karena sudah mau membantuku,” ujar gadis itu dengan datar.


“Tidak perlu berterima


kasih. Lagi pula iini juga sudah tugasku,” balas Arjuna sambil tersenyum tipis.


Agatha


merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik. Meski tidak ada yang


bisa memastikan apakah mereka semua benar-benar baik atau tidak. Tapi yang


jelas, setidaknya ini bukan pertama kalinya mereka berbuat kebaikan kepadanya. Sampai


sejauh ini Agatha masih menaruh rasa percaya kepada mereka. Entah sampai berapa


lama akan bertahan. Semoga tidak akan pernah rusak hanya karena satu kesalahan.


Sebab, orang-orang bilang jika manusia lebih mudah untuk melihat satu kesalahan


daripada seribu kebaikan yang pernah terjadi sebelumnya. Semua hal bisa berubah


hanya karena satu kesalahan. Tidak peduli sudah seberapa banyak kau melakukan


kebaikan sebelumnya. Semua itu akan berakhir sia-sia jika kau melakukan


kesalahan.