
Sepertinya tidak akan
terlalu masalah jika Agatha pulang sendirian hari ini. Lagi pula biasanya ia
memang selalau seperti itu. Sebenarnya Agatha sudah bisa berkendara sekarang. Namun,
alih-alih berangkat ke kantor menggunakan mobil atau bahkan sepeda motornya,
Agatha justru pergi ke kantor dengan menggunakan transportasi umum.
Tadi rekan-rekan
bekerjanya sempat menawarkan tumpangan untuk pulang bersama. Seperti Thomas dan
Arjuna. Namun, gadis itu jelas menolaknya. Mereka pikir jika Agatha masih
tinggal di apartment yang lama. Yang konon katanya searah dengan rumah mereka
berdua juga. Tapi, kenyataannya Agatha sudah pindah. Dan ia memilih untuk tidak
memberi tahu siapa pun soal tempat tinggalnya yang baru ini.
Agatha menunggu bis bersama beberapa orang lainnya
di halte. Tampaknya mereka juga baru pulang kerja. Tidak jauh berbeda dengan
dirinya. Pada jam-jam seperti ini, jalanan memang didominasi oleh orang-orang
kantoran dan para pelajar pada umumnya. Populasi mereka di kota ini lumayang
banyak. Sehingga pada saat akan berangkat tau pulang, jumlahnya berhasil
membuat jalanan ramai. Bahkan lalu lintas kota sampai merasa kelimpungan untuk
menghadapi hal tersebut.
Dari kejauhan ia
berhasil melihat jika ada sebuah bis yang mendekat. Agatha sangat yakin jika
itu adalah bis yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Ternyata dugaannya
benar. Kendaraan tersebut menepi tepat di depan halte, dimana para penumpang
menunggu sejak tadi.
Tanpa buang-buang waktu
lagi, ia segera masuk ke dalam. Sudah ada beberaa orang yang duduk di dalamnya.
Kelihatannya mereka sudah berada di sini sedikit lebih lama dari pada Agatha
dan yang lainnya. Meski beberapa kursi sudah terisi, namun tidak benar-benar
penuh. Agatha masih mendapatkan satu tempat duduk kosong di bagian belakang.
Ini adalah sebuah
keberuntungan. Pasalnya akan sangat sulit sekali untuk mendapatkan tempat duduk
pada jam pulang kerja sepert ini. Sepertinya selama perjalanan nanti dia tidak
akan banyak mengeluh.
Setelah semua penumpang
masuk ke dalam, si supir bis langsung menginjak pedal gas. Sehingga kendaraan
besar tersebut tunduk di bawah kendalinya. Mereke bergerak maju, meninggalkan
lokasi halte yang sudah tidak ada siapa-siapa itu lagi.
Begitu bisnya kembali
berjalan, Agatha lalu membuka ponselnya. Tidak ada hal penting yang akan ia
lakukan sebenarnya. Hanya saja, melihat sesuatu di ponsel dirasa jauh lebih
baik untuk saat ini, ketimbang melemparkan pandangannya keluar jendela.
Entahlah, gadis inni memang sedikit berbeda. Padahal hanya itu-itu saja yang ia
jumpai di ponsel. Tidak ada hal baru yang berarti.
Saat ia tengah
memfokuskan pandangannya ke ponsel, secara tiba-tiba ada orang asing yang
mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya. Agatha tidak menoleh sama sekali
untuk mencari tahu siapa itu. Paling hanya orang asing yang baru ia temui di sini
dan mereka tidak saling mengenal sama sekali. Lagi pula apa salahnya. Ini tempat
umum. Dia berhak untuk duduk dimana saja. Selama masih ada kursi kosong kenapa
tidakk. Agatha juga akan buru-buru mencari kursi yang masih kosong jika berada di
posisinya pada saat itu.
Untuk beberapa saat ia
sama sekali tidak mempedulikan orang yang baru saja duduk di sebelahnya ini. Menurutnya
ponsel jauh lebih menarik dan berhasil mencuri seluruh perhatiannya. Sampai
pada suatu saat, Agatha ingin mengistirahatkan matanya sebentar. Pasalnya,
sejak tadi pagi ia terus-terusan terpapar sinar biru dari layar. Yang jelas itu
sangat tidak baik untuk kesehatan matanya sendiri.
Secara tidak sengaja
Agatha melihat jam tangan seorang pria yang duduk di sebelahnya dengan sekilas.
Namun, kemudian ia kembali memperhatikan jam tangan tersebut secara lebih
Sangat sulit untuk tidak mengubrisnya.
“Aku seperti perah
melihat benda ini. Tapi dimana ya?” batin Agatha di dalam hatinya.
Ia berusaha untuk
mengingat-ingat kembali dimana dirinya pernah melihat jam seperti itu. Tapi,
tetap saja hasilnya nihil. Terkadang daya ingatnya memang sulit untuk
diandalkan pada kondisi tertentu.
Setelah dipikir-pikir,
sepertinya itu hanya perasaan gadis ini saja. Mengingat jika jam seperti itu
pasti dijual secara komersial. Apalagi perusahaan jam tersebut tidak mungkin
hanya memproduksi satu buah untuk model tersebut. Kecuali kalau ia memang hanya
dibuat dalam jumlah yang terbatas. Tapi, jam yang satu ini sepertinya tidak. Ia
pernah melihatnya sebelumnya.
Tak ingin ambil pusing
tentang pekara jam tangan tersebut, Agatha lantas menegakkan kepalanya. Kemudian
melempar pandangannya ke luar jendela. Mengamati keadaan di luar sana selama
beberapa menit, sebelum pada akhirnya ia kembali mengalihkan pandangannya ke objek
lain.
“Huh! Macet lagi,”
keluh Agatha.
Bis mereka bahkan
terpaksa ikut terjebak macet. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak ada cara lain. Ini
memang jalur yang harus dilalui oleh bis tersebut sebelum berhenti di halte
berikutnya. Mereka tidak bisa melewati jalan lain untuk mempersingkat waktu
perjalanan. Meskipun Agatha ingin seperti itu.
Bosan memandangi
jejeran kendaraan yang tersusun searah di jalan raya, Agatha lantas memutar
bola matanya dengan malas. Secara tidak sengaja kedua netranya bertemu
pandangan dengan orang yang duduk tepat di sebelahnya sejak tadi.
Betapa terkejutnya
gadis itu saat mengetahui siapa sebenarnya yang berada di sebelahnya ini. Dengan
susah payah ia berusaha untuk menelan salivanya sendiri. Sial. Bagaimana bisa
takdir membawanya bertemu dengan pria itu lagi. Padahal mereka sudah memutuskan
untuk tidak saling berkomunikasi lagi sejak beberapa hari lalu. Ini bukan
kesepakatan bersama. Lebih tepatnya hanya keputusan sepihak dari Agatha.
“Apa yang kau lakukan
di sini?” tanya Agatha.
“Memangnya aku tidak
boleh berada di sini?” tanya pria itu balik.
Agatha sama sekali
tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan pria itu lagi di sini. Sulit untuk
dipercaya. Entah ini memang hanya kebetulan belaka, dan tidak disengaja sama
sekali, atau malahmemang sudah terencana sebelumnya. tahu sendiri Aaron seperti
apa. Pria itu sempat mengawasinya dengan begitu ketat selama beberapa saat. Itu
terjadi pada saat awal mereka bertemu. Tapi, bagian terpentingnya bukan itu.
Melainkan sikap menipulatif dari seorang Aaron. Dia akan membuat semua hal
tampak terjadi secara natural, seolah tidak disengaja sama sekali. Padahal
sejak awal pria itu sudah menyusun skenarionya.
“Senang bisa bertemu
denganmuu lagi,” ujar Aaron sambil tersenyum tipis.
“Sial! Aku tidak bisa
kemana-mana sekarang!” umpat gadis itu di dalam hatinya.
Sekarang
jalanan tengah macet. Tidak mungkin ia memaksa untuk turun di tengah keramaian
seperti ini. Supir bis tersebut pasti tidak akan membukakan pintu untuknya. Gadis
itu baru bisa turun nanti setelah sampai di halte berikutnya. Tapi masalahnya,
halte berikutnya masih lumayan jauh. Ditambah perjalanan mereka yang terpaksa
harus tertunda selama beberapa menit karena macet.