The Riot

The Riot
Meet Someone



Sepertinya hari ini Agatha akan kembali ke rumah sedikit


lebih lama daripada biasanya. Bisa dikatakan lembur. Sebab ada beberapa pekerjaan


yang harus ia selsaikan sekarang. Semakin sering menunda, maka akan semakin


banyak pula pekerjaan yang menumpuk. Ia tidak ingin membuat dirinya merasa


terbebani lagi untuk ke depannya. Itu sebabnya kenapa Agatha memutuskan untuk


menyelesaikan semuanya sekarang.


Umumnya para pekerja di kantor ini sudah boleh meninggalkan


tempat kerja mereka pada pukul lima sore. Namun, Agatha terpaksa kembali


sekitar pukul tujuh malam. Sebenarnya hari ini bukan hanya gadis itu saja yang


lembur di sini. Ada beberapa pekerja lainnya juga. Namun, karena mereka bekerja


di ruangan yang berbeda, ia jadi tak tahu menahu soal itu. Agatha rasa mereka


pun memiliki perasaan yang sama. Tidak ada yang tahu kalau Agatha juga terpaksa


lembur, sama seperti mereka malam ini. Mereka tidak akan tahu jika tidak


berpapasan di jalan pulang tadi.


Parkiran sudah sepi. Hanya ada tersisa beberapa kendaraan


lagi. Bahkan sangking sedikitnya, siapa pun bisa menghitung kendaraan tersebut


dengan jari. Jumlahnya tidak sampai lima sepertinya.


‘TIN!’


Bel di mobilnya mendadak berbunyi, tepat setelah gadis itu


menekan sebuah tombol di remote yang akan tersambung secara otomatis dengan


kendaraannya. Itulah yang dinamakan dengan teknologi. Hidupmu terasa lebih


mudah dari segi apa pun karenanya. Sudah seharusnya kau bersyukur hidup di


zaman sekarang ini. Zaman dimana semua hal bisa menjadi serba cepat dan


praktis. Sehingga kau tidak perlu pusing-pusing lagi.


Dengan langkah jenjangnya, gadis itu berjalan menghampiri


mobil miliknya. Sama sekali tidak ada yang berubah dengan caranya berjalan


sisi maskulin yang jauh lebih dominan di dalam dirinya. Padahal sebagai wanita,


sudah seharusnya ia memiliki sisi feminim yang lebih dominan di dalam dirinya.


Tapi, mereka juga tidak bisa menyalahkan Agatha sepenuhnya atas hal itu. mungkin


budaya kerja di lingkungan kepolisian membuatnya terbiasa dengan gaya yang


seperti demikian. Jadi wajar saja jika ia masih suka terbawa suasana beberapa


kali. Mengingat tiga bulan bukanlah waktu yang lama baginya jika dibandingkan


dengan pengalamannya bekerja di kantor kepolisian setempat.


‘KLIK!’


Sebelum mengemudi akan jauh lebih baik jika kau menggunakan


sabuk pengaman. Tapi, memang seharusnya kita harus seperti itu bukan.


Peraturannya memang begitu, dan tidak ada alasan untuk ditawar apalagi sampai


dilanggar. Agatha tahu betul apa konsekuensinya jika sampai ia melanggar aturan


tersebut. Wajar saja, dia mantan polisi.


Sepertinya gadis itu tidak akan langsung kembali ke rumahnya


sekarang. Beberapa jam lalu kebetulan ada yang memintanya untuk bertemu secara


langsung di salah satu tempat makan. Bukan teman dekatnya. Tapi, ada urusan


yang harus mereka bahas sekarang. Jadi, mau tak mau mereka memang harus


bertemu. Sebab, satu-satunya cara terbaik untuk menyelesaikan sebuah masalah


memang dengan bicara.


Tanpa berlama-lama lagi, gadis itu segera menginjak pedal


gas, kemudian pergi meninggalkan parkiran yang mulai sepi. Membawa mobilnya


menuju jalanan kota yang akan semakin ramai ketika malam. Kebetulan tempat


makan yang dimaksud tadi masih berada di sekitar sini juga. Agatha tahu betul


dimana lokasinya. Sebab, hampir setiap hari ia selalu melintas di depannya. Jadi wajar saja kalau Agatha sudah tidak merasa asing lagi.


***