
Aneh. Jeff bahkan tidak bisa menjelaskan apa yang
sedang terjadi. Padahal tidak ada apa-apa. Jalanan begitu tenang. Lantas kenapa
mendadak ia mengijak pedal rem. Sungguh tidak masuk akal. Ia melakukannya
secara refleks begitu saja. Mustahil jika pria itu sampai salah mengira, kalau
pedal rem yang diinjaknya itu dikira sebagai pedal gas. Ini bukan pertama kalinya bagi Jeff mengendarai
mobil kantor. Sudah lumayan sering.
“Kau hampir saja membunuhku!” celoteh Agatha.
Ia masih tidak bisa terima jika nyawanya sungguhan
dijadikan sebagai bahan taruhan. Dia bukan kucing yang konon katanya memiliki
nyawa sampai dengan tujuh. Semua manusia juga tahu jika mereka hanya memiliki
satu nyawa selama hidup di dunia ini.
“Sudah, biar aku saja yang menyetir!” ucap gadis itu
dengan nada tinggi.
Jelas ia marah. Kesal lebih tepatnya. Sejak kejadian
itu tadi, Agatha masih belum bisa mempercayai Jeff sepenuhnya. Tidak bisa
dipungkiri jika satu kejadian buruk bisa membuatnya jadi lebih berhati-hati
terhadap beberapa hal.
Agatha memutuskan untuk bertukar tempat dengan pria
itu. Mereka berdua sama-sama sepakat. Lagipula tampaknya Jeff masih cukup
terkejut dengan perbuatannya sendiri. Dia tidak bisa menyetir dengan keadaan
seperti itu. Jadi, Agatha akan menggantikannya. Tenang saja, dia bisa
mengandalkan gadis itu. Tidak perlu khawatir sama sekali.
Keduanya memutuskan untuk menepi di jalan raya
terlebih dahulu. Tidak akan lama. Hanya untuk bertukar posisi saja. Agatha yang
sekarang akan mengambil alih posisi pengemudi. Dengan percaya diri, ia duduk di
kursi pengemudi. Sementara itu, Jeff akan menemaninya berkendara. Mereka duduk
saling bersebelahan.
“Sudah pakai sabuk pengaman?” tanya gadis itu.
Dia perlu memastikan jika semuanya sudah aman
sebelum pergi memacu kendaraannya di jalan raya. Untuk mencegah kejadian yang
sama terulang kembali. Atau malah hal yang jauh lebih buruk malah. Setelah
semuanya sudah benar-benar siap, ia langsung menginjak pedal gas tanpa ragu.
Mengemudi dengan tenang, agar dirinya bisa tetap menjaga konsentrasinya.
Belum ada lima menit mereka berkendara dari titik
terakhir berhenti, kini sudah harus berhenti lagi. Ternyata rute yang biasa
mereka lewati sedang macet parah. Sudah terlambat untuk memutar balik. Tidak
ada titik balik di sini. Sebab, jalanan tersebut merupakan rute ssatu arah.
Tidak diperkenankan untuk melawan arus.
“Sepertinya jalanan ini macet cukup parah,” ujar
Jeff yang kemudian dibenarkan oleh Agatha.
Mereka bahkan tidak bisa melihat dimana ujung dari
kemacetan ini. Dan yang terpenting adalah, kenapa bisa sampai macet. Biasanya
juga lancar-lancar saja. Bahkan di saat jam pulang atau pergi kerja juga masih
terbilang lancar meski kondisinya tergolong ramai. Paling tidak masih bisa untuk dilalui.
Sekarang keadaanya berbeda jauh. Jangankan ramai
lancar, bergerak saja tidak bisa. Mau tidak mau, Agatha dan Jeff harus menunggu
sampai antriannya jadi sedikit lebih lengang agar mereka bisa lewat. Tidak ada
pilihan lain.
“Katakan kepada Arjuna dan yang lainnya jika kita
kemungkinan akan sedikit terlambat untuk sampai ke sana,” jelas Agatha tanpa
mengalihkan pandangannya dari kondisi jalanan di depan.
“Bukan mungkin lagi, kita pasti akan terlambat kalau
begini caranya,” balas Jeff.
Tak ingin menanggapi perkataan pria itu lebih banyak
lagi, ia lantas menaikkan suhu pendingin ruangan di mobil ini. Sementara Jeff
sedang berusaha untuk menghubungi mereka.
“Tidak ada yang mengangkat teleponku,” ungkap Jeff
dengan apa adanya.
“Mungkin mereka masih dalam perjalanan. Coba lagi
saja nanti,” balas Agatha.
“Mungkin,” ucap Jeff kemudian meletakkan ponselnya
di dasbor.
Keduanya sudah benar-benar pasrah jika harus
diperingati kerena datang terlambat. Tidak ada yang tahu kapan kemacatan ini
sekali.
Keadaan ini masih tidak menutup kemungkinan terburuk
yang akan terjadi kepada mereka. Mungkin saja Agatha dan Jeff masih terjebak
macet sampai beberapa jam ke depan. Dan pada saat itu, semua orang sudah
kembali ke kantor. Pekerjaannya sudah selesai, bahkan sebelum mereka sempat
sampai ke sana.
“Mimpi buruk apa aku kemarin,” gerutu Agatha sambil
memijat pelipisnya pelan.
‘DRRTTT!!!’
Tiba-tiba saja ponsel Jeff bergetar pelan.
Menandakan jika ada panggilan masuk. Entah dari siapa, tapi kuat dugaan mereka
jika itu berasal dari Arjuna. Seharusnya sekarang mereka sudah sampai di tempat
kejadian.
“Cepat angkat! Siapa tahu penting,” titah Agatha
yang kemudian ikut diangguki oleh Jeff.
Tanpa pikir panjang lagi, Jeff segera menjawab
panggilan masuk tersebut. Dan yang benar saja, ternyata dari Arjuna. Dugaan
mereka benar.
“Halo!” sapa Jeff lebih dulu.
“Halo!” sahut sebuah suara dari seberang sana.
“Ada perlu apa menghubungiku tadi? Omong-omong
dimana kalian sekarang? Kenapa belum sampai?” tanya Arjuna.
Bahkan pria itu sama sekali tidak memberikan
kesempatan bagi Jeff untuk menjawab pertanyaannya secara satu-persatu. Entah
kenapa hari ini ia tampak begitu menggebu-gebu.
“Begini, jadi tadi aku ingin memberi tahu kalau kami
sedang terjebak macet sekarang,” beber Jeff kepada pria itu.
“Macet? Dimana?” tanya Arjuna serius.
“Jalan sebeuh persimpangan dekat toko kue,” jawab
pria itu dengan apa adanya.
Arjuna bungkan selama beberapa saat setelah
mendengar jawaban tersebut. Tampaknya dia bingung. Atau lebih tepatnya sedang
memikirkan sebuah cara untuk membawa sisa anggota timnya yang terjebak macet
kemari. Walauupun sebenarnya untuk melakukan penyelidikan tidak perlu terlalu
banyak orang. Dua orang saja sudah cukup. Tapi, kali ini situasinya berbeda.
Ada keramaian.
“Kalau begitu aku akan menghubungi kantor lebih
dulu,” ujar Arjuna.
“Aku akan meminta mereka untuk ke sana dengan sepeda
motor. Kemudian menggantikan posisi kalian, sehingga kau dan Agatha bisa kemari
dengan segera,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Baiklah!” balas Jeff.
Tepat satu detik setelahnya, Arjuna langsung
memutuskan panggilannya secara sepihak. Lagipula memang sudah tidak ada lagi
yang perlu mereka bicarakan.
“Siapa yang menelepon?” tanya Agatha untuk sekedar
memastikan. Meskipun insting alaminya berkata kalau yang tadi itu Arjuna.
“Arjuna,” jawab Jeff.
“Apa yang dia katakan? Memarahi kita?” tanya gadis
itu lagi.
“Arjuna akan mengirim orang dari kantor untuk
menunggu kemacetan ini usai. Lalu kita bisa ke sana dengan sepeda motor,” papar
Jeff dengan panjang lebar.
“Ternyata belum,” batinnya dalam hati.
“Arjuna pasti akan memarahi kami nanti begitu
sampai. Padahal sudah jelas jika ini bukan kesalahan kami. Memangnya siapa yang
tahu dan bisa memprediksi kalau jalanan akan mendadak macet,” gerutunya kesal.
Masih di dalam hati tentunya.
Biasanya, dugaan Agatha
tidak pernah meleset jauh. Untuk pembuktiannya, mari kita tunggu saja beberapa
menit lagi. Sampai mereka tiba di tempat kejadian dan bertemu dengan seorang
pria arogan yang bernama Arjuna.