The Riot

The Riot
Offer



Pilihan-pillihan sulit muncul begitu saja. Tanpa pernah


diminta. Padahal tidak mudah untuk memutuskan kepada pilihan yang tepat. Sesekali


sepertinya manusia harus dibekali dengan keahlian memilih.


Kemarin untuk yang kesekian kalinya Narendra datang menemui


gadis itu. Yang tak lain dan taka bukan adalah anaknya sendiri. Tentu saja


kedatangannya untuk mendapatkan persetujuan dari Agatha, apakah gadis itu


menerima tawarannya untuk menjadi pewaris perusahaan milik Narendra nanti atau


tidak.


Tapi, bukan itu poin utamanya. Agatha malah menemukan sebuah


hal menarik dari sudut pandangnya kemarin.


“Kenapa tidak


menawarkan jabatan ini kepada anak laki-lakimu saja? Bukankah ia lebih berhak


untuk menjadi soerang pemimpin ketimbang aku?” tanya Agatha kemarin malam.


“Lagi pula dia anak


dari istri pertamamu yang sah,” sambung gadis itu.


“Aku akan membeirkan


kalian berdua kesempatan untuk berkembang di dalam perusahaan ini. Tapi, untuk


sementara sepertinya dia tidak bisa mengambil posisi yang telah kujanjikan,”


jelas pria itu dengan panjang lebar.


“Kenapa tidak bisa?”


tanya Agatha secara spontan.


“Jelas tidak bisa! Bagaimana


seorang tahanan mengurus perusahaan?!” seru Narendra.


Sekarang gadis itu sudah tahu apa alasannya. Ternyata anak


lelaki semata wayang dari keluarga mereka pun berakhir menggenaskan. Hidupnya tidak


semulus itu. Padahal seharusnya ia tetap menjalani hidupnya dengan baik, meski


keluarganya kacau dan konsisi kesehatan mentalnya tidak baik-baik saja. Untuk


bertahan hidup, selain makanan kau juga harus menjalani hidup dengan baik.


Hanya  itu kuncinya.


Entah dari mana kesialan ini berasal. Keluarga yang pernah


Narendra bangun, sama-sama berakhir buruk. Sepertinya ia tidak memiliki bakat


untuk memimpin bahtera rumah tangga. Namun, beda lagi halnya jika dalam urusan


bisnis. Narendra cukup ahli dalam memimpin sebuah perusahan.


Kalau dikatakan jika Narendra adalah biang keroknya, alias


si pembawa sial, maka sepertinya itu terlalu kasar. Sarkas sekali. Namun, tidak


kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Ada harga dari sebuah perbuatan yang harus


ia bayar.


“Kenapa tidak serahkan


saja perusahaan itu kepada Liora?” tanya Agatha secara gamblang.


“Lagi pula sebentar lagi


ia akan menjadi istrimu!” tukasnya.


“Dengar baik-baik!


Meski aku mencintainya, aku tidak akan bersikap bodoh seperti itu,” peringati


Narendra.


“Ia bahkan tidak


memiliki bakat dalam memimpin dan mengelola suatu perusahaan,” jelasnya


singkat.


“Lalu, kau pikir


apakah kami juga memiliki bakat seperti yang kau sebutkan tadi?” tanya Agatha


lagi.


“Setidaknya aku bisa


mengajari kalian soal itu nanti. Aku tahu kalau kalian bisa,” jawabnya.


“Aku tidak bisa. Sebaiknya


tanyakan saja kepada anak laki-lakimu itu. Siapa tahu dia bisa,” balas gadis


itu acuh tak acuh.


“Hanya kalian yang


bisa kupercaya saat ini,” ungkap Narendra.


“Kupikir kau lebih


percaya kepada Liora. Sampai-sampai tidak mau mendengarkanku ketika benar Liora


yang memulai untuk mencelakaiku,” jelas Agatha dengan datar.


Gadis itu menghela


napas dengan kasar, kemudian berdecak sebal. Ia berusaha untuk mempertebak rasa


sabarnya ketika berhadapan lansung dengan Narendra.


“Sepertinya ini sudah yang kesekian kalinya aku mengingatkan kepadamu


untuk tidak bertemu denganku. Jadi, kuharap ini adalah yang terakhir. Bahkan jika


kita bertemu secara tidak sengaja pun di tempat umum, bersikaplah seolah-olah


tidak ada yang terjadi. Kita tidak pernah saling mengenal,” jelas gadis itu


panjang lebar dengan amarah yang tertahan.