The Riot

The Riot
Blood



Beruntung


mereka berhasil sampai di tempat tujuannya dengan selamat. Lokasinya juga tidak


terlalu jauh dari kantor. Ini adalah warung nasi langganan mereka. Agatha dan


rekan-rekan kerjanya yang lain terbilang cukup sering mampir ke sini hanya


untuk makan siang.


Begitu


sampai, Arjuna langsung menepikan mobilnya di tempat parkir yang sudah


disediakan. Berjejer rapih dalam barisan yang sama dengan puluhan mobil


lainnya. Tampaknya hari ini pengunjung jauh lebih ramai daripada biasanya.


Agatha


keluar lebih dulu dari dalam mobil, namun tidak langsung masuk. Melainkan


menunggu Arjuna sampai selesai dengan segala urusannya. Kemudian mereka akan


pergi ke dalam secara bersama-sama. Tidak sopan jika harus meninggalkan


atasannya lebih dulu. Walaupun hubungan mereka sudah terbilang cukup dekat dan


akrab, tapi tetap saja posisi pria itu jauh lebih tinggi dari pada Agatha.


“Ayo


masuk!” ajak Arjuna yang kemudian segera diangguki oleh gadis itu.


Sejauh


ini semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada yang mencuurigakan sama sekali. Apalagi


sampai berpotensi berbahaya dan mengancam nyawa. Sehingga Arjuna dan Agatha


hanya bersikap santai saja. Meskipun pada dasarnya mereka memang tetap harus


berhati-hati dimana pun berada.


Satu-satunya


alasan yang membuat mereka tidak perlu merasa berlebihan adalah, karena


keduanya sudah cukup sering berkuunjung kemari. Baik Arjuna maupun Agatha pasti


sudah tahu orang-orang seperti apa yang datang kemari. Mayoritas dari mereka


adalah pekerja kantoran. Tidak jauh berbeda dengan Agatha.


Namun,


pada kenyataannya asumsi tersebut tidak selamanya benar. Hari ini sebuah hal


tak masuk akal berhasil mematahkan asumsi Agatha selama ini. Secara mengejutkan,


gadis itu tiba-tiba mendapatkan serangan dari orang tak dikenal. Satu tusukan


langsung pergi begitu saja tanpa berlama-lama. Tapi, untungnya Arjuna berhasil


menangkap rupa sosoknya dengan kedua mata elangnya.


“Aaaaa!!!”


Beberapa


orang yang melihat kejadian tersebut secara langsung, spontan berteriak karena


terkejut. Wajar saja. Itu adalah reaksi alamiah mereka sebagai manusia.


Kejadian


ini sungguh tidak pernah mereka prediksi sama sekali. Entah kenapa hari ini


berubah drastis. Seolah merupakan hari kesialan bagi semua orang. Terutama bagi


Agatha. Hari ini bukan satu kali saja ia mendapatkan serangan. Sepertinya Dewi


Fortuna sedang mengutuk gadis itu sekarang. Sungguh malang.


“Telepon


ambulans, tolong cepat!” titah Arjuna kepada pemilik warung.


Tanpa


pikir panjang lagi, ia segera melakukan perintah dari pria itu. Tidak ada


alasan untuk menolaknya. Situasinya sudah genting. Agatha tergeletak lemas di


atas lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak darah segera yang


mengalir keluar dari bekas luka tusukan yang masih menganga lebar. Gadis itu


membutuhkan pertolongan pertama dengan segera. Sebelum ia kehilangan lebih


banyak darah lagi.


Sementara


itu di sisi lain, Arjuna tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada satu pun hal


yang bisa ia lakukan sampai petugas medis datang. Pria itu bahkan tidak


memiliki dasar-dasar ilmu medis untuk pertolongan pertama.


Tidak


bisa dipungkiri jika ia juga merasa cemas. Bukan hanya itu. Ia bahkan juga


merasa bersalah karena tidak bisa menjaga satu orang bersamanya. Bagaimana ia


akan melindungi banyak orang jika satu orang saja tidak becus. Tapi, sekarang


bukanlah waktu yang tepat untuk menyalahkan dirinya sendiri. Ada yang jauh


lebih penting. Yaitu Agatha.