
Beruntung
mereka berhasil sampai di tempat tujuannya dengan selamat. Lokasinya juga tidak
terlalu jauh dari kantor. Ini adalah warung nasi langganan mereka. Agatha dan
rekan-rekan kerjanya yang lain terbilang cukup sering mampir ke sini hanya
untuk makan siang.
Begitu
sampai, Arjuna langsung menepikan mobilnya di tempat parkir yang sudah
disediakan. Berjejer rapih dalam barisan yang sama dengan puluhan mobil
lainnya. Tampaknya hari ini pengunjung jauh lebih ramai daripada biasanya.
Agatha
keluar lebih dulu dari dalam mobil, namun tidak langsung masuk. Melainkan
menunggu Arjuna sampai selesai dengan segala urusannya. Kemudian mereka akan
pergi ke dalam secara bersama-sama. Tidak sopan jika harus meninggalkan
atasannya lebih dulu. Walaupun hubungan mereka sudah terbilang cukup dekat dan
akrab, tapi tetap saja posisi pria itu jauh lebih tinggi dari pada Agatha.
“Ayo
masuk!” ajak Arjuna yang kemudian segera diangguki oleh gadis itu.
Sejauh
ini semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada yang mencuurigakan sama sekali. Apalagi
sampai berpotensi berbahaya dan mengancam nyawa. Sehingga Arjuna dan Agatha
hanya bersikap santai saja. Meskipun pada dasarnya mereka memang tetap harus
berhati-hati dimana pun berada.
Satu-satunya
alasan yang membuat mereka tidak perlu merasa berlebihan adalah, karena
keduanya sudah cukup sering berkuunjung kemari. Baik Arjuna maupun Agatha pasti
sudah tahu orang-orang seperti apa yang datang kemari. Mayoritas dari mereka
adalah pekerja kantoran. Tidak jauh berbeda dengan Agatha.
Namun,
pada kenyataannya asumsi tersebut tidak selamanya benar. Hari ini sebuah hal
tak masuk akal berhasil mematahkan asumsi Agatha selama ini. Secara mengejutkan,
gadis itu tiba-tiba mendapatkan serangan dari orang tak dikenal. Satu tusukan
langsung pergi begitu saja tanpa berlama-lama. Tapi, untungnya Arjuna berhasil
menangkap rupa sosoknya dengan kedua mata elangnya.
“Aaaaa!!!”
Beberapa
orang yang melihat kejadian tersebut secara langsung, spontan berteriak karena
terkejut. Wajar saja. Itu adalah reaksi alamiah mereka sebagai manusia.
Kejadian
ini sungguh tidak pernah mereka prediksi sama sekali. Entah kenapa hari ini
berubah drastis. Seolah merupakan hari kesialan bagi semua orang. Terutama bagi
Agatha. Hari ini bukan satu kali saja ia mendapatkan serangan. Sepertinya Dewi
Fortuna sedang mengutuk gadis itu sekarang. Sungguh malang.
“Telepon
ambulans, tolong cepat!” titah Arjuna kepada pemilik warung.
Tanpa
pikir panjang lagi, ia segera melakukan perintah dari pria itu. Tidak ada
alasan untuk menolaknya. Situasinya sudah genting. Agatha tergeletak lemas di
atas lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak darah segera yang
mengalir keluar dari bekas luka tusukan yang masih menganga lebar. Gadis itu
membutuhkan pertolongan pertama dengan segera. Sebelum ia kehilangan lebih
banyak darah lagi.
Sementara
itu di sisi lain, Arjuna tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada satu pun hal
yang bisa ia lakukan sampai petugas medis datang. Pria itu bahkan tidak
memiliki dasar-dasar ilmu medis untuk pertolongan pertama.
Tidak
bisa dipungkiri jika ia juga merasa cemas. Bukan hanya itu. Ia bahkan juga
merasa bersalah karena tidak bisa menjaga satu orang bersamanya. Bagaimana ia
akan melindungi banyak orang jika satu orang saja tidak becus. Tapi, sekarang
bukanlah waktu yang tepat untuk menyalahkan dirinya sendiri. Ada yang jauh
lebih penting. Yaitu Agatha.