
Sudah hampir sepuluh menit
berlalu sejak terakhir kali Agatha mengirimkan pesan tersebut kepada Arjuna.
Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda jika pria itu sudah membacanya.
Sepertinya ia masih sibuk dengan beberapa urusan kantor. Sehingga tidak
memiliki waktu untuk berurusan dengan benda persegi panjang itu.
Entah kenapa Arjuna
selalu saja menghilang ketika Agatha ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Padahal sejak awal sebelum misi ini dimulai pun, pria itu sudah berjanji untuk
terus mendampinginya. Memastikan keamanannya. Tapi, apa buktinya. Sama sekali
tidak ada upaya yang pria itu lakukan untuk melindungi Agatha.
Seharusnya Agatha tidak
perlu percaya dengan setiap perkataan pria itu. Semua manusia sama saja. Tidak
ada yang bisa dipercaya. Terkadang dunia memang sering bersikap tak adil.
Banyak manusia yang juga tidak tahu diri. Tidak tahu berterima kasih lebih
tepatnya.
Padahal Agatha berniat
baik. Ia sedang berusaha untuk melindungi Arjuna sebagai rekan kerjanya. Ia
hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadanya. Tapi, tetap saja pria itu
sama sekali tidak peduli.
“Biarlah! Aku sudah
tidak peduli lagi dengan dia. Entah apa pun yang terjadi nantinya, itu sudah
bukan urusanku lagi!” gerutu gadis itu dalam hati.
Meski tidak ingin
menyuarakan emosinya, namun dari raut wajahnya masih tetap terlihat. Immanuel
sadar betul dengan setiap perubahan emosi gadis itu.
“Ada apa?” tanya
Immanuel.
“Apa ada sesuatu yang
salah denganmu?” tanyanya lagi.
“Tidak!” balas Agatha.
Gadis itu langsung
menggeleng cepat. Menepis pernyataan dari Immanuel. Seolah-olah apa yang
dikatakan oleh pria itu tadi tidak benar. Padahal, Agatha lah yang sedang
berusaha untuk menyembunyikan sesuatu dari orang lain.
“Kau sedang cemas,”
ujar Immanuel.
“Tidak!” tepis Agatha.
Dia masih tetap bertahan pada kebohongannya.
Immanuel yang mendengar
pernyataan tersebut lantas hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Dia tidak
bisa memaksa gadis itu untuk berbicara jujur kepadanya. Agatha juga berhak
untuk menjaga informasi pribadinya. Tidak masalah kalau saat ini ia tak ingin
bercerita kepada siapa pun. Pasti masih sulit baginya untuk mempercayai orang
baru. Terlebih mereka baru saja saling berkenalan satu sama lain kurang dari
satu minggu. Masih terlalu cepat untuk menaruh rasa percaya kepada orang lain.
“Kemari!” perintah pria
itu sambil menarik tangannya.
Immanuel menarik tubuh
gadis itu agar lebih dekat dengannya. Sebab, ia tahu kalau ada sesuatu yang
tidak beres. Mungkin ia tidak bisa membereskan segalanya. Tapi, apa salahnya
membantu. Immanuel akan melakukan apa saja, asal perasaan gadis ini jauh lebih
membaik. Seperti yang Agatha duga, rasa solidaritas dan persaudaraan di sini
sangat kuat. Kau tidak akan dibiarkan tertinggal, kecuali kau berkhianat.
“Kau bisa bercerita
kepadaku, siapa tahu bisa dibantu,” tawar pria itu.
Agatha tidak langsung
menjawab. Lebih tepatnya, tidak ingin asal bicara. Tidak mungkin Agatha
mengatakan kalau sekarang ia sedang mengkhawatirkan kondisi Arjuna. Jelas
mereka pasti akan curiga. Bertanya-tanya ada hubungan apa dirinya dengan pria
itu.
“Apa aku boleh untuk
tidak pergi ke acara perjamuan makan malam nanti?” tanya Agatha dengan begitu
hati-hati.
“Kenapa mendadak kau
bicara seperti itu Rienna?” tanya pria itu balik.
Jangan lupa kalau sosok
yang selama ini kalian kenal sebagai Agatha akan dipanggil dengan sebutan Rienna
selama bertugas. Bukan bertugas sebagai polisi seperti biasanya. Melainkan
bertugas sebagai mata-mata.
“Sepertinya aku kurang
enak badan,” bohong gadis itu.
“Sungguh?” tanya
Immanuel setengah tak percaya.
Agatha mengangguk
“Lagipula aku belum
siap untuk bertemu dengan mereka semua,” ucapnya jujur.
“Jadi, itu alasanmu
ya?” tanya Immanuel.
“Tidak sepenuhnya.
Tapi, itu salah satunya,” jawab gadis itu.
“Tidak boleh kalau
begitu. Kau harus tetap bergi bersama kami ke acara perjamuan makan malam
nanti!” tegas Immanuel sekali lagi.
“Bukankah begitu
Fadli?” timpal pria itu kemudian.
“Ya, tentu saja! Anggap
saja jika perjamuan ini sekaligus untuk menyambut anggota baru kita,” seru
Fadli.
“Tidak perlu cemas.
Kami bisa memastikan jika mereka semua akan bersikap baik kepadamu,” imbuhnya.
Sebenarnya bukan ini
alasan utama gadis itu sampai tidak mau menghadiri acara perjamuan makan malam.
Justru, kalau bisa ia harus datang. Karena mau bagaimanapun juga, ini adalah
kesempatan terbaiknya untuk mencuri banyak informasi soal pergerakan mereka.
Memangnya kapan lagi ia bisa mendapatkan kesempatan serupa. Karena hal yang sama
belum tentu akan terjadi untuk yang kedua kalinya.
Tapi, kesempatan emas
itu sama saja akan berakhir sia-sia. Kalu sampai Arjuna kenapa-kenapa karena
penyerangan tersebut, maka percuma saja. Hanya ada mereka berdua di tim ini.
Arjuna memiliki posisi tertinggi. Tidak mungkin kalau hanya Agatha seorang diri
yang menyelesaikan tugas ini sampai akhir.
Percuma saja rasanya
jika Agatha berhasil mencuri semua informasi penting yang bersifat rahasia,
jika pada akhirnya Arjuna tidak ada di sana untuk mendengarkan. Selama ini ia
melakukan segalanya demi Arjuna. Bahkan ia sampai rela mempertaruhkan nyawanya
pada misi kali ini. Memangnya untuk siapa lagi jika bukan untuk pria itu.
“Aku bukan orang yang
pandai dalam mengekspresikan perasaanku,” batinnya dalam hati.
Terkadang orang-orang
melihat Agatha sebagai seorang gadis yang dingin. Tidak punya hati. Nyaris tak
pernah tersenyum. Orang-orang yang baru mengenalnya tentu akan menganggap gadis
itu sombong. Padahal tidak sama sekali. Agatha mungkin terlihat cuek dan tidak
peduli dengan apa pun yang terjadi di sekitarnya sama sekali. Namun, pada
kenyataannya dia adalah orang yang paling peka. Bahkan ia sudah tahu lebih dulu
sebelum orang lain tahu.
“Bagaimana ini?”
“Apa yang harus
kulakukan?”
“Arghh!!! Lagipula
memangnya dia sedang sibuk apa pagi-pagi begini! Kenapa sampai tidak membaca
pesanku. Padahal aku sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawanya.”
Bagaimana bisa ia
bersikap tenang pada situasi seperti ini. Beberapa kali ia mencoba untuk tidak
peduli. Tapi, selalu saja gagal.
Agatha tak ingin
bertanya lebih soal apa yang mereka lakukan di sana. Sudah pasti jika Zean dan
Mike akan melakukan segala cara untuk membebaskan rekan-rekannya.
‘BRUMM!!!’
Perhatian semua orang
teralihkan begitu saja ketika suara tersebut muncul secara tiba-tiba. Kali ini
hanya Immanuel yang berdiri untuk mengeceknya. Kemudian ia kembali duduk lagi.
Tak lama, dari arah yang berlawanan muncullah dua orang pria. Yang tak lain dan
tak bukan adalah Zean dan Mike.
“Kemana yang lain?”
tanya Immanuel.
“Mereka langsung
kembali ke markas utama begitu kami bebaskan,” jawab Zean dengan apa adanya.
“Kami berpencar di
tengah jalan tadi untuk menyulitkan mereka dalam menemukan jejaknya,” imbuhnya
kemudian.
“Kerja bagus kalau
begitu!” puji Immanuel.
Kedua
pria yang baru saja datang itu lantas segera mengambil tempat duduk.
Beristirahat sejenak, setelah melakukan misi singkat yang cukup menguras
tenaga.