The Riot

The Riot
Worried



Sudah hampir sepuluh menit


berlalu sejak terakhir kali Agatha mengirimkan pesan tersebut kepada Arjuna.


Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda jika pria itu sudah membacanya.


Sepertinya ia masih sibuk dengan beberapa urusan kantor. Sehingga tidak


memiliki waktu untuk berurusan dengan benda persegi panjang itu.


Entah kenapa Arjuna


selalu saja menghilang ketika Agatha ingin menyampaikan sesuatu yang penting.


Padahal sejak awal sebelum misi ini dimulai pun, pria itu sudah berjanji untuk


terus mendampinginya. Memastikan keamanannya. Tapi, apa buktinya. Sama sekali


tidak ada upaya yang pria itu lakukan untuk melindungi Agatha.


Seharusnya Agatha tidak


perlu percaya dengan setiap perkataan pria itu. Semua manusia sama saja. Tidak


ada yang bisa dipercaya. Terkadang dunia memang sering bersikap tak adil.


Banyak manusia yang juga tidak tahu diri. Tidak tahu berterima kasih lebih


tepatnya.


Padahal Agatha berniat


baik. Ia sedang berusaha untuk melindungi Arjuna sebagai rekan kerjanya. Ia


hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadanya. Tapi, tetap saja pria itu


sama sekali tidak peduli.


“Biarlah! Aku sudah


tidak peduli lagi dengan dia. Entah apa pun yang terjadi nantinya, itu sudah


bukan urusanku lagi!” gerutu gadis itu dalam hati.


Meski tidak ingin


menyuarakan emosinya, namun dari raut wajahnya masih tetap terlihat. Immanuel


sadar betul dengan setiap perubahan emosi gadis itu.


“Ada apa?” tanya


Immanuel.


“Apa ada sesuatu yang


salah denganmu?” tanyanya lagi.


“Tidak!” balas Agatha.


Gadis itu langsung


menggeleng cepat. Menepis pernyataan dari Immanuel. Seolah-olah apa yang


dikatakan oleh pria itu tadi tidak benar. Padahal, Agatha lah yang sedang


berusaha untuk menyembunyikan sesuatu dari orang lain.


“Kau sedang cemas,”


ujar Immanuel.


“Tidak!” tepis Agatha.


Dia masih tetap bertahan pada kebohongannya.


Immanuel yang mendengar


pernyataan tersebut lantas hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Dia tidak


bisa memaksa gadis itu untuk berbicara jujur kepadanya. Agatha juga berhak


untuk menjaga informasi pribadinya. Tidak masalah kalau saat ini ia tak ingin


bercerita kepada siapa pun. Pasti masih sulit baginya untuk mempercayai orang


baru. Terlebih mereka baru saja saling berkenalan satu sama lain kurang dari


satu minggu. Masih terlalu cepat untuk menaruh rasa percaya kepada orang lain.


“Kemari!” perintah pria


itu sambil menarik tangannya.


Immanuel menarik tubuh


gadis itu agar lebih dekat dengannya. Sebab, ia tahu kalau ada sesuatu yang


tidak beres. Mungkin ia tidak bisa membereskan segalanya. Tapi, apa salahnya


membantu. Immanuel akan melakukan apa saja, asal perasaan gadis ini jauh lebih


membaik. Seperti yang Agatha duga, rasa solidaritas dan persaudaraan di sini


sangat kuat. Kau tidak akan dibiarkan tertinggal, kecuali kau berkhianat.


“Kau bisa bercerita


kepadaku, siapa tahu bisa dibantu,” tawar pria itu.


Agatha tidak langsung


menjawab. Lebih tepatnya, tidak ingin asal bicara. Tidak mungkin Agatha


mengatakan kalau sekarang ia sedang mengkhawatirkan kondisi Arjuna. Jelas


mereka pasti akan curiga. Bertanya-tanya ada hubungan apa dirinya dengan pria


itu.


“Apa aku boleh untuk


tidak pergi ke acara perjamuan makan malam nanti?” tanya Agatha dengan begitu


hati-hati.


“Kenapa mendadak kau


bicara seperti itu Rienna?” tanya pria itu balik.


Jangan lupa kalau sosok


yang selama ini kalian kenal sebagai Agatha akan dipanggil dengan sebutan Rienna


selama bertugas. Bukan bertugas sebagai polisi seperti biasanya. Melainkan


bertugas sebagai mata-mata.


“Sepertinya aku kurang


enak badan,” bohong gadis itu.


“Sungguh?” tanya


Immanuel setengah tak percaya.


Agatha mengangguk


“Lagipula aku belum


siap untuk bertemu dengan mereka semua,” ucapnya jujur.


“Jadi, itu alasanmu


ya?” tanya Immanuel.


“Tidak sepenuhnya.


Tapi, itu salah satunya,” jawab gadis itu.


“Tidak boleh kalau


begitu. Kau harus tetap bergi bersama kami ke acara perjamuan makan malam


nanti!” tegas Immanuel sekali lagi.


“Bukankah begitu


Fadli?” timpal pria itu kemudian.


“Ya, tentu saja! Anggap


saja jika perjamuan ini sekaligus untuk menyambut anggota baru kita,” seru


Fadli.


“Tidak perlu cemas.


Kami bisa memastikan jika mereka semua akan bersikap baik kepadamu,” imbuhnya.


Sebenarnya bukan ini


alasan utama gadis itu sampai tidak mau menghadiri acara perjamuan makan malam.


Justru, kalau bisa ia harus datang. Karena mau bagaimanapun juga, ini adalah


kesempatan terbaiknya untuk mencuri banyak informasi soal pergerakan mereka.


Memangnya kapan lagi ia bisa mendapatkan kesempatan serupa. Karena hal yang sama


belum tentu akan terjadi untuk yang kedua kalinya.


Tapi, kesempatan emas


itu sama saja akan berakhir sia-sia. Kalu sampai Arjuna kenapa-kenapa karena


penyerangan tersebut, maka percuma saja. Hanya ada mereka berdua di tim ini.


Arjuna memiliki posisi tertinggi. Tidak mungkin kalau hanya Agatha seorang diri


yang menyelesaikan tugas ini sampai akhir.


Percuma saja rasanya


jika Agatha berhasil mencuri semua informasi penting yang bersifat rahasia,


jika pada akhirnya Arjuna tidak ada di sana untuk mendengarkan. Selama ini ia


melakukan segalanya demi Arjuna. Bahkan ia sampai rela mempertaruhkan nyawanya


pada misi kali ini. Memangnya untuk siapa lagi jika bukan untuk pria itu.


“Aku bukan orang yang


pandai dalam mengekspresikan perasaanku,” batinnya dalam hati.


Terkadang orang-orang


melihat Agatha sebagai seorang gadis yang dingin. Tidak punya hati. Nyaris tak


pernah tersenyum. Orang-orang yang baru mengenalnya tentu akan menganggap gadis


itu sombong. Padahal tidak sama sekali. Agatha mungkin terlihat cuek dan tidak


peduli dengan apa pun yang terjadi di sekitarnya sama sekali. Namun, pada


kenyataannya dia adalah orang yang paling peka. Bahkan ia sudah tahu lebih dulu


sebelum orang lain tahu.


“Bagaimana ini?”


“Apa yang harus


kulakukan?”


“Arghh!!! Lagipula


memangnya dia sedang sibuk apa pagi-pagi begini! Kenapa sampai tidak membaca


pesanku. Padahal aku sedang berusaha untuk menyelamatkan nyawanya.”


Bagaimana bisa ia


bersikap tenang pada situasi seperti ini. Beberapa kali ia mencoba untuk tidak


peduli. Tapi, selalu saja gagal.


Agatha tak ingin


bertanya lebih soal apa yang mereka lakukan di sana. Sudah pasti jika Zean dan


Mike akan melakukan segala cara untuk membebaskan rekan-rekannya.


‘BRUMM!!!’


Perhatian semua orang


teralihkan begitu saja ketika suara tersebut muncul secara tiba-tiba. Kali ini


hanya Immanuel yang berdiri untuk mengeceknya. Kemudian ia kembali duduk lagi.


Tak lama, dari arah yang berlawanan muncullah dua orang pria. Yang tak lain dan


tak bukan adalah Zean dan Mike.


“Kemana yang lain?”


tanya Immanuel.


“Mereka langsung


kembali ke markas utama begitu kami bebaskan,” jawab Zean dengan apa adanya.


“Kami berpencar di


tengah jalan tadi untuk menyulitkan mereka dalam menemukan jejaknya,” imbuhnya


kemudian.


“Kerja bagus kalau


begitu!” puji Immanuel.


Kedua


pria yang baru saja datang itu lantas segera mengambil tempat duduk.


Beristirahat sejenak, setelah melakukan misi singkat yang cukup menguras


tenaga.