The Riot

The Riot
Rival



"Apa gadis ini


yang kalian maksud kemarin?" tanya Hiraeth kemudian mendapatkan anggukan


dari lawan bicaranya.


Pria itu tidak mampu


berkata-kata lagi. Bagaimana bisa mereka memilih orang seperti Agatha untuk


dilibatkan dalam misi penting. Masalahnya ini tidak main-main. Menyerang markas


Hato adalah tujuan mereka sejak lama. Perlu banyak persiapan. Memang benar mereka


memerluka sumber daya manusia untuk menghimpun kekuatan dalam misi kali ini.


Tapi, setidaknya yang berpotensi. Harusnya mereka tahu mana yang bisa diandalkan


dan tidak sama sekali.


"Kita memang


sedang butuh orang yang lebih untuk membantuk rencana penyerangan markas Hato.


Tapi, apa kalian harus memilih orang seperti dia?!” seru pria itu dengan


lantang.


Hiraeth kemudian memijat


pelipisnya pelan. Dirasakannya sedikit tekanan pada bagian tersebut. Sehingga


otot-otot di sekitarnya pun ikut menegang.


“Sial! Kenapa aku


sampai ikut terlibat seperti ini?” batin Immanuel di dalam hati.


“Yang paling benar,


memang sejak awal aku tidak seharusnya berada di sini,” lanjutnya.


Kalau pada akhirnya ia


akan ikut dijadikan sebagai sasaran dari emosi pria itu, mungkin Immanuel sudah


pergi sejak tadi. Dia bisa membuat alasan apa pun yang terasa masuk akal.


Dengan begitu Hiraeth pasti akan menyuruh orang lain untuk berjaga di sini. Kenapa


bisa-bisanya ia tidak memikirkan yang satu itu.


“Tapi, hanya dia yang


bisa kita andalkan tuan,” ujar Immanuel yang pada akhirnya memilih untuk buka


suara.


“Cuma gadis ini yang


kami temui sampai saat ini. Bahkan dia yang pertama kali mengajukan dirinya


secara sukarela,” ungkap pria itu secara terang-terangan.


Hiraeth tampak berhenti


bicara untuk sesaat. Lagi-lagi dia perlu sedikit waktu untuk mencerna semua


perkataan lawan bicaranya barusan. Sepertinya mereka memang perlu pindah ke


ruangan yang sedikit lebih besar. Yang jelas bukan ruangan bawah tanah, agar


memiliki pasokan oksigen berlebih. Sehingga ketiga manusia ini bisa


menggunakannya untuk bernapas tanpa berebut.


“Memangnya apa yang


bisa dilakukan olehnya sampai kalian menerima gadis ini?” tanya Hiraeth dengan


serius.


“Dia bahkan tidak


terlihat seperti seorang mafia yang ahli dalam melakukan perbuatan kriminal,”


imbuhnya.


“Aku tidak percaya jika


dia memang benar bisa kita andalkan,” finalnya.


Terlihat jelas kalau


pria itu sedang meremehkannya. Agatha mungkin memang tidak sehebat dirinya


dalam bela diri atau bahkan menembak. Tapi, paling tidak ia bisa melakukannya


dengan baik. Agatha bahkan tidak terlihat seperti amatiran sama sekali. Jelas


saja bukan. Gadis itu sudah sering melakukannya. Orang-orang bilang, kita akan


bisa karena terbiasa.


“Kalau saja aku tidak


sedang diikat sekarang ini, mungkin sudah kuhabisi dirinya!” sarkas Agatha di


dalam hati.


Ia sudah tidak bisa


membendung rasa kesalnya sendiri. Ubun-ubunnya bahkan sudah mendidih. Kepalanya


terasa akan meledak karena tekanan emosi yang berlebih.


“Hei!” seru Hiraeth


secara tiba-tiba.


Agatha sama sekali


tidak merasa terkejut atau apa pun itu. Sejak tadi dia berhasil menghadapi pria


itu dengan tenang. Agar tidak terlihat mencurigakan apa lagi lemah, tenang


adalah kuncinya. Apa pun masalahnya, kau memang tetap harus tenang. Manusia


tidak akan bisa berpikir jernih pada saat posisinya terdesak. Penuh akan


tekanan dari berbagai arah.


“Memangnya apa yang


pria itu dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih tenang daripada


sebelumnya.


“Apa pun yang kau minta


akan kulakukan,” jawab Agatha dengan singkat.


“Apa pun itu?” tanya


pria itu lagi yang kemudian diangguki oleh Agatha. Satu detik setelahnya,


Hiraeth tersenyum miring. Kali ini bukan senyuman licik. Melainkan senyuman


meremehkan orang lain.


“Lepaskan dia!” perintah


Hiraeth kepada Immanuel.


Tanpa pikir panjang


lagi, pria itu segera melakukan apa yang baru saja diminta oleh Hiraeth. Entah


kenapa mendadak ia memintanya untuk melepaskan Agatha. Padahal sebelumnya, pria


itu lah yang paling tegas. Dia tidak mau kalau Agatha sampai pergi kemana-mana


sebelum ia datang. Immanuel sendiri sudah mulai terbawa dengan imajinasinya


yang liar. Ia mengira kalau Agatha tidak akan selamat di tangan pria itu. Tapi,


ternyata malah sebaliknya. Tidak masuk akal. Bagaimanapun juga, gadis itu patut


untuk diacungi jempol. Dia bisa menghadapi Hiraeth dengan begitu mudahnya.


Bahkan nyawanya masih terbilang aman sampai sekarang. Buktinya ia masih


dibiarkan untuk tetap bernapas oleh pria itu.


“Kenapa tidak seperti


ini saja dari tadi?” gumam gadis itu pelan. Sangking pelannya hanya Immanuel


saja yang mampu mendengar kalimat tersebut.


“Jaga perkataanmu jika


ingin selamat!” peirngati Immanuel sambil berbisik.


Alih-alih membalas


kalimat pria tersebut, Agatha malah memutar bola matanya dengan malas. Kalau


saja Arjuna tidak menyuruhnya untuk menjadi mata-mata di kelompok mafia


terbesar ini, mungkin Agatha tidak perlu berhadapan dengan Hiraeth dan yang


lainnya. Sepertinya sekarang ia mulai berpikiran kalau pekerjaan di kantor jauh


lebih baik dari pada harus bertugas di sini. Rasanya ingin sekali ia


menyelesaikan segala urusan terkait kelompok mafia ini dengan secepat mungkin. Diam-diam


ia merindukan salah satu sudut di kantor yang paling sering ia kunjungi. Hampir


setiap hari. Memangnya apalagi kalau bukan ruangannya.


Tapi, untuk sekarang


sepertinya pergerakan misi mereka akan berjalan dengan sedikit lambat. Jika


biasanya mereka bekerja sama dalam tim yang terdiri atas dua orang, maka untuk


saat ini mau tak mau Agatha terpaksa melakukan segalanya sendirian. Arjuna


masih belum bisa terlibat. Ia harus banyak beristirahat agar lekas pulih.


‘SHUT!!!’


Secara tiba-tiba,


tangan Hiraeth sudah melayang hampir separuhnya. Beruntung gadis itu memiliki


gerakan refleks yang bagus. Sehingga ia bisa mencegahnya untuk bergerak lebih


jauh lagi.


“Harus kuakui jika kau


cukup peka terhadap serangan,” ucap Hiraeth.


Agatha sama sekali


tidak berminat untuk membalasnya. Ternyata satu-satunya alasan yang membuat kenapa


pria itu melepaskan Agatha secara sukarela adalah karena ini. Dia ingin


membuktikan perkataan mereka tadi. Apakah Agatha benar-benar bisa diandalkan


atau tidak. Sama seperti waktu pertama kali gadis itu datang ke markas. Orang-orang


yang berada di sana langsung menyerangnya dair berbagai arah tanpa peringatan


sama sekali. Namun, untuk saat ini sepertinya Agatha sudah mulai paham. Ternyata


beginilah cara mereka bermain.


“Kalau begitu


bertengkarlah denganku dan tunjukkan kemampuan terbaikmu!” perintah Hiraeth.


Tanpa pikir panjang


lagi, gadis itu segera mengubah posisinya. Sekarang adalah gilirannya untuk


menyerang. Tentu saja kali ini tanpa peringatan lebih dulu. Bukankah semuanya


harus dilakukan secara impas agar terlihat adil untuk kedua belah pihak.


‘BUGH!!!’


Tidak


ada keraguan sama sekali di dalam hatinya. Salah satu kaki Agatha melayang dan


mendarat dengan sempurna di perut pria itu. Membuat sang empunya merintih


kesakitan. Satu tendangan dari gadis sepertinya saja sudah bisa membuat pria


itu terpukul mundiir ke belakang.