The Riot

The Riot
Get Up



Coba saja Aaron lebih berhati-hati lagi sebelumnya. Pasti


tidak akan jadi seperti ini pada akhirnya. Sayang sekali. Ternyata Aaron masih


menaruh rasa kepercayaan kepada gadis itu. Meski pun sudah tidak sebesar itu


lagi. Tapi setidaknya masih ada sedikit. Agatha sungguh tidak habis pikir.


Bagaimana bisa ia tetap percaya kepada musuhnya sendiri yang selama ini


berpura-pura menjadi temannya. Kalau Agatha jadi Aaron, ia tidak akan memberikan


kesempatan kedua bagi pria itu.


Karena perbuatannya, Aaron terpaksa harus mendekap di balik


jeruji besi bersama teman-temannya yang lain. Sepertinya Agatha sudah pernah


memperingati gadis itu untuk tidak main-main dengannya. Ternyata tidak sesulit


itu untuk meringkus Aaron, yang katanya sebagai pimpinan rahasia sekelompok


mafia. Singkat ceritanya ia telah bergabung bersama dengan Hiraeth. Namun,


gadis itu tidak melaporkannya ke polisi karena dugaan tersebut. Ia belum punya


bukti yang cukup untuk menuduh pria itu sebagai tersangka otak dari kelompok


mafia itu. Namun, ada satu hal yang jelas. Aaron mencoba untuk mencelakainya


beberapa saat lalu dan menjadikannya sebagai tawanan di rumahnya sendiri.


Paling tidak Agatha harus membuat laporan yang terasa masuk akal dengan


dukungan bukti yang mencukupi.


“Ku kira kau datang kemari untuk kembalu bekerja!” celetuk


Thomas secara tiba-tiba.


“Padahal sekarang baru pukul tiga dini hari,” ungkapnya.


Mendengar kalimat tersebut, Agatha memutar bola matanya dengan


malas. Yang benar saja. Semua orang juga tahu kalau dirinya hanya manusia


biasa. Sayang sekali motivasinya untuk bekerja tidak sebesar itu. Sehingga


dapat membuat semangat kerjanya dari menggebu-gebu. Satu hal yang perlu


ditegaskan kembali, Agatha bukan seseorang yang gila bekerja.


“Mau kemana kau setelah ini?” tanya pria itu.


“Entahlah, sepertinya aku akan lanjut tidur di ruanganku


saja,” kata Agatha.


Setelah dipikir-pikir lagi, sebaiknya Agatha tetap berada di


sini sampai jam kerjanya tiba. Lagi pula Agatha masih menyimpan seragam


cadangannya di loker. Segala keperluannya terbilang lengkap. Agatha bisa


menjadikan tempat ini sebagai rumah keduanya kapan saja.


“Kalau begitu pergi tidur lah sekarang!” perintah Thomas


yang kemudian segera diangguki oleh gadis itu.


“Dengan senang hati,” balas Agatha kemudian berlalu pergi.


Harus ia akui kalau tidur di meja kantor memang tidak


senyaman kasur. Tapi, mau bagaimana lagi. Mengingat waktu tempuh perjalanan


dari kantor ke apartmentnya yang terbilang lumayan, membuat Agatha harus


berpikir dua kali jika ingin kembali ke sana. Setidaknya ia bisa beristirahat


dengan tenang dan maksimal selama berada di sini.


***


Shift malam memang tidak seramai mereka yang ditugaskan di


siang hari. Tapi, terkadang jumlah tidak melulu mempengaruhi hasil. Buktinya,


selama ini meski jumlahnya tidak sebanyakn shift siang, mereka mampu mengatasi


semua permasalahan yang ada. Walaupun terkadang Arjuna tetap harus ikut turun


tangan untuk membantu. Itu adalah resikonya jika ia memilih posisinya yang


sekarang. Sebagai seorang pemimpin, ia harus siap kapan saja ketika dibutuhkan.


Karena pekerjanya sedikit, jadi wajar saja jika tempat


seluas ini tampak begitu sepi. Mereka harus berada di tempatnya masing-masing.


Sementara itu, para tahanan sebagian besar tengah tertidur. Nyaris tidak ada


kehidupan pada jam segini. Semua itu baru akan muncul ketika matahari sudah


keluar dari sarangnya. Pertanda jika hari baru sudah dimulai.


Agatha akan tetap tertidur sampai saat itu tiba. Pasalnya,


terlalu lama untuk menunggunya. Jadi tidak ada salahnya jika Agatha terlelap


***


‘DRTTT!’


‘DRRTTTT!’


‘DRRTT!’


Ponsel gadis itu bergetar pelan dengan sedikit alunan music


yang memiliki tempo seirama. Suara tersebut cukup untuk membuatnya merasa


terusik. Sehingga, mau tak mau Agatha terpaksa bangun. Meski kedua bola matanya


masih terasa sulit untuk terbuka, kembali lagi ke poin pertama, jika ia tetap


harus bangun. Agatha percaya betul kalau itu adalah alarm. Bukan panggilan


masuk seperti yang biasanya terjadi. Dari suaranya saja sudah berbeda. Agatha


tidak pernah mengatur nada panggilan masuk menjadi seperti itu.


Dengan mata yangmasih segaris, nyaris tidak terbuka sama


sekali, Agatha berusaha untuk menegakkan kepalanya. Hal paling sulit yang selalu


ia temui di dunia ini adalah melawan rasa kantuk. Tidak peduli sudah sekeras


apa Agatha berusaha, hasilnya tetap sama saja. Nihil.


06.45


Agatha berhasil melihat angka tersebut tertera di layar


paling depan dari ponselnya. Itu berarti lima belas menit lagi sudah jam tujuh.


Sekarang ia harus bangun. Agatha sudah tidur cukup lama, dan sekarang bukan


lagi waktunya untuk bermalas-malasan.


Pukul tujuh lewat lima belas nanti ia harus sudah siap untuk


mengikuti apel rutin. Meski pada dasarnya Agatha tidak bersiap selama itu juga.


Tapi, manusia juga berhak untuk mengantisipasi hal buruk.


Tidak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi, Agatha


segera bangkit dari tempat duduknya. Pergi ke loker untuk mengambil seragam dan


perlengkapan lainnya. Kemudian baru menuju ke kamar mandi.


“Apa yang kau lakukan di sini dengan baju kaos dan celana


tidur seperti itu?!” seru sebuah suara yang tiba-tiba muncul.


Sontak Agatha mengalihkan kepalanya ke arah sumber suara. Ternyata


itu adalah Arjuna. Ya, lagi-lagi ia terpaksa harus berpapasan dengan pria itu.


Dan yang lebih buruknya lagi adalah, ia terpaksa menerima komentar sarkas dari


Arjuna pagi-pagi seperti ini. Tapi tenang saja, ia tidak akan menanggapi hal


tersebut dengan terlalu serius. Lebih tepanya Agatha tidak mau mencari masalah


di pagi hari. Hal tersebut bisa merusak suasana hatinya secara tidak langsung.


Harusnya Agatha sudah tahu sejak awal jika pria itu termasuk


salah satu pekerja yang teladan. Ia selalu datang pagi-pagi sekali. Wajar saja


kalau pukul segini Arjuna sudah menampakkan batang hidungnya di kantor.


“Bukan urusanmu!” sarkas Agatha balik.


Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Arjuna di belakangnya.


Pria itu pun tampaknya sama sekali tidak berniat untuk menghentikan Agatha. Hubungan


mereka akhir-akhir ini memang tidak seperti dulu lagi. Agatha sudah


menganggapnya sebagai rival, meski Arjuna sama sekali tidak pernah


menganggapnya seperti itu.


Beberapa menit setelahnya, Agatha kembali melewati jalanan


yang sama seperti sebelumnya. Dan untuk yang kesekian kalinya pula gadis itu


berpapasan dengan Arjuna. Entah apa yang dilakukan pria itu di sana. Arjuna


menyandarkan tubuhnya pada salah satu sisi tembok. Tidak masalah kalau tadinya


ia bersama orang lain. Sedang berboncang atau hal lain semacamnya.


Tidak ingin ambil pusing soal


perilaku Arjuna yang terkesan aneh itu tadi, ia buru-buru beranjak pergi dan


meninggalkannya sendirian tanpa berkata sepatah kata pun. Mereka hanya saling


melempar pandangan satu sama lain, tanpa ada maksud tertentu. Dengan begitu


sudah cukup jelas jika tidak ada hal yang terlalu penting di sana.