
‘BIP!’
Suara
tersebut muncul tepat setelah Agatha selesai memasukkan kata sandi
apartmentnya. Kali ini ia tidak pulang sendirian. Masih sama seperti yang
kemarin. Lagi-lagi ia harus menampung pria ini di rumahnya. Agatha terpaksa
melakukannya. Tidak ada pilihan lain. Apa pun itu alasannya, Aaron pasti tetap
akan memohon dengan sedikit memaksa.
Tanpa
basa-basi lagi, Aaron segera menyusul langkah kaki gadis itu yang sudah masuk
lebih dulu. Agatha tidak langsung masuk ke kamarnya untuk berberes. Melainkan
beralih ke dapur. Ia perlu sedikit air mineral untuk menjaga dirinya agar tetap
terhidrasi.
“Lo
tunggu di sini aja!” titah Agatha yang kemudian ikut diangguki oleh pria itu.
Gadis
itu berpesan demikian sebelum masuk ke dalam kamarnya. Biasanya tidak pernah.
Karena memang tidak ada orang lain di sini kecuali dirinya sendiri. Namun, hari
ini dan seterusnya adalah sebuah pengecualian. Mulai hari ini Agatha tidak lagi
tinggal sendirian di apartmentnya. Waspada akan membuatmu tetap aman.
Kali
ini Aaron sungguh berubah drastis. Dia tidak banyak memberontak atau bahkan
memberikan aturan tersendiri seperti sebelumnya. Baguslah kalau begitu. Paling
tidak ia harus tau diri. Posisi Aaron di sini adalah sebagai tamu. Tidak lebih.
Bagaiamapun juga Agatha jauh lebih berhak atas setiap hal yang ada di dalam
rumah ini.
Sembari
menunggu Agatha keluar dari dalam kamarnya, Aaron lantas merobohkan tubuhnya
begitu saja di atas sofa ruang tengah. Ia menyandarkan punggungnya pada
sandaran sofa. Berusaha untuk melepaskan penat.
“Ternyata
dia cukup berani juga,” gumam Aaron sambil tersenyum miring.
Tidak.
Kali ini bukan senyuman licik yang biasanya ia tunjukkan. Malah sebaliknya.
Kali ini auranya jauh lebih positif. Senyumannya terasa lebih tulus dari yang
biasanya. Mungkin ini adalah senyuman paling tulus pertama kali yang pernah ia
lakukan.
Sementara
Agatha berada di dalam kamarnya, Aaron menyibukkan diri dengan berkeliling
tempat ini. Ternyata Agatha tidak mempunyai terlau banyak foto dirinya. Hanya
ada beberapa. Itu pun foto lama. Tidak ada foto terbaru sama sekali yang ia
pajang di sini. Sepertinya gadis itu tidak terlalu suka berfoto. Padahal foto
adalah salah satu perekam memori kehidupan terbaik. Karena hal yang sama tidak
akan terjadi untuk kedua kalinya.
“Apa
yang kau lakukan?!” interupsi sang empunya secara tiba-tiba.
Siapa
lagi memangnya jika bukan Agatha. Ternyata ia sudah menyelesaikan segala
urusannya dan keluar dari dalam kamar. Gadis itu berhasil bergerak tanpa suara.
Sehingga Aaron sama sekali tidak menyadari sudah sejak kapan Agatha berdiri di
sana.
“Sudah
sejak kapan kau berada di sana?” tanya pria itu balik.
“Bukan
urusanmu!” jawab Agatha dengan ketus.
Rasanya
sudah tidak ada alasan lagi baginya untuk tetap bersikap ramah kepada pria itu.
Lihat saja bagaimana perlakuannya terhadap Agatha beberapa saat yang lalu. Jika
dipikir-pikir, dia memang pantas untuk diperlakukan dengancara yang kasar juga.
Akan
jauh lebih baik jika tadi Agatha tidaka perlu memberikan tumpangan kepada pria
ini. Tapi semua itu sudah terlanjur. Mau bagaimana lagi. Agatha bisa saja
mengubah keputusannya sekarang. Namun, ia tidak mau.
Lagipula
tidak ada gunanya. Aaron tetap tidak akan pergi dari tempat ini. Sekalipun
Agatha mengusirnya secara paksa. Ia tetap tidak akan peduli sama sekali.
“Kenapa
kau tidak memiliki banyak foto di sini?” tanya Aaron tiba-tiba.
“Di
rumahmu saja bahkan nyaris tidak ada satu pun foto,” ungkap gadis itu secara
gamblang.
Aaron
bahkan mengakuinya. Ia tidak bisa menepis hal yang satu itu. Karena memang
begitu adanya.
“Kalau
begitu artinya kita tidak jauh berbeda,” simpul Aaron.
sampai kapan kau tinggal di sini?” tanya Agatha sembari berusaha untuk mengalihkan
topik pembicaraan.
“Entahlah,”
serah pria itu.
Kemudian
ia menghela napas setelahnya.
“Kau
tahu jika aku tidak akan menerima keberadaanmu di sini lebih lama lagi,” kata
Agatha.
Ia
hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Agatha sama sekali tidak ada maksud untuk
menyakiti perasaan pria itu. Namun, mau bagaimanapun juga sakit hati adalah
sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Sedikit banyaknya Aaron pasti akan
mendengar kalimat tak pantas dari gadis itu.
“Bagaimana
kalau satu minggu lagi?” tawar Aaron.
“Apa
pekerjaanmu?” tanya Agatha balik.
“Tenang
saja, aku tidak akan merepotkanmu secara finansial,” bebernya.
“Untuk
urusan biaya hidup, aku akan membereskan semuanya sendiri. Bahkan aku bisa ikut
menanggung seluruh biaya hidupmu juga selama tinggal di sini kalau kau mau,”
jelas priia itu dengan panjang lebar.
Dari
gaya bicaranya memang terkesan santai. Namun, entah kenapa Agatha malah merasa
jika pria itu sombong. Terlebih jika dilihat dari caranya berbicara kepada
orang lain.
“Jadi,
apa pekerjaanmu?” tanya Agatha sekali lagi.
Ia
kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya. Semoga kali ini
pria itu langsung menjawabnya. Tidak perlu bertele-tele. Cukup jelaskan saja.
“Kau
tidak perlu tahu soal itu,” jawab Aaron dengan datar.
Jawaban
yang baru saja ia terima sukses membuat Agatha mengelus dada. Menghadapi beberapa
orang memang terkadang membutuhkan tingkat kesabaran yang ekstra. Tidak bisa
sembarangan. Termasuk Aaron salah satunya.
Sementara
itu, di sisi lain Aaron lantas memutar tubuhnya. Beralih ke tempat lain.
Kegiatannya untuk mengamati sisi lain dari ruangan ini belum selesai. Bahkan
kalau bisa ia mungkin akan iktu mengamati lubang semut yang ada di sini juga.
Agatha
masih tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia membawa orang seperti Aaron ke dalam
rumahnya. Sungguh tidak masuk akal jika diingat-ingat lagi bagaimana awal
pertama mereka bisa bertemu dan saling mengenal.
“Etikamu
perlu diperbaiki!” tukas Agatha sebelum pada akhirnya beralih ke dapur lagi.
Sepertinya
sejak tadi ia sangat suka untuk menyibukkan dirinya sendiri di tempat yang satu
itu. Entah apa menariknya. Agatha mengambil daging ayam beku di kulkas. Untuk menu
makan malam kali ini ia sedang tidak ingin memasak yang terlau repot. Jadi,
Agatha memutuskan untuk menggoreng ayam saja.
Saat
Sedang sibuk bekerja di dapur, secara mendadak sebuah tangan melingkar di
pinggangnya. Sontak gadis itu langsung terlonjak kaget. Ia mematung di tempat
untuk beberapa saat, sebelum otaknya kembali bekerja dengan baik.
“Apa
yang kau lakukan?!” seru Agatha.
Kali
ini nada bicaranya terdengar jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya. Sudah
jelas jika Aaron adalah penyebabnya. Memangnya ada siapa lagi di rumah ini
kecuali pria itu.
“Tidak
ada, aku hanya ingin melakukannya,” ucap Aaron tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Kita
bahkan tidak ada hubungan apa-apa. Lantas kenapa kau harus memelukku seperti
ini?!” interupsi gadis itu.
“Dasar
gila!” sarkasnya kemudian.
“Benar, aku sudah gila,” bisik
Aaron sambil menyeringai tajam.