The Riot

The Riot
Cam 2



Kini Agatha yang akan


menyetir selama perjalanan. Zean percaya kepadanya. Lagi pula gadis itu sudah


memiliki lisensi untuk berkendara, jadi tidak perlu cemas. Ia hanya tinggal


mengarahkan Agatha saja. Pasalnya, gadis itu sama sekali tidak tahu harus pergi


kemana.


“Apa kita hanya akan


mengantar ke sat alamat saja?” tanya Agatha pnasara.


“Iya, benar sekali!”


jawab Zean.


“Untuk hari ini hanya


kepada dia saja. Mungkin besok atau dalam minggu ini kita akan melakukan banyak


pengiriman. Yang jelas bukan hari ini,” papar pria itu dengan panjang lebar.


Mereka kedatangan


barang cukup banyak tadi. Sedikit lebih banyak dari pada yang mereka terima di


pelabuhan beberapa waktu lalu. Karena penangkapan beberapa anak buah di


pelabuhan kemarin padasaat proses memindahkan barang, pengirimian mereka jadi


sedikit terkendala. Polisi ikut menyita dan mengamankan barang-barang tersebut


bersama mereka.


Sedikit banyaknya telah


terjadi kerugian yang cukup besar. Hanya sebagian kecil saja barang yang bisa


diselamatkan. Pasti karena hal yang sama pula kenapa mereka hari ini kedatangan


cukup banyak barang. Meski tidak ada yang mau menjelaskan kepadanya, Agath


sudah bisa menarik kesimpulan sendiri. Soal asumsinya benar atau tidak, itu


urusan belakang.


Walaupun gadis itu


sudah resmi bergabung dan menjadi bagian dari geng mafia ini sekarang, namun


pada faktanya sama sekali tidak seperti itu. Mereka semua masih menganggap


Agatha sebagai orang asing. Itu pula sebabnya kenapa informasi yang diberikan


kepadanya terbatas. Tidak semua pasal ia bisa tahu. Kalau ada hal baru atau ada


hal lain yang tidak ia ketahui, mau tak mau gadis itu terpaksa mencari tahu


sendiri. Dia tidak bisa mengandalkan teman-teman satu timnya.


Kepercayaan memang satu


hal yang paling sulit untuk diberikan secara cuma-cuma. Bukan hanya soal


harganya saja. Tapi masalahnya tidak semua orang pantas untuk menerima hal


tersebut. Tak semua orang bisa menjaga hal yang namanya kepercayaan. Mereka


juga tahu jika kepercayaan termasuk kepada salah satu hal yang paling sulit


untuk dijaga. Ia tidak akan bisa kembali ke bentuk semula kalau sudah pernah


rusak. Jadi, jangan pernah meminta orang lain untuk mempercayaimu setelah


dikhianati.


Kesempatan tidak datang


dua kali. Hal baik juga tidak memiliki kesempatan yang sama untuk datang lagi.


Jadi ada baiknya untuk tidak disia-siakan.


“Apa ini tempatnya?”


tanya Agatha tepat setelah menginjak pedal rem.


Ia menepikan


kendaraannya tepat di gerbang belakang sebuah gedung yang ia sendiri tidak tahu


tempat apa itu. Tapi, ada satu hal yang memang sudah jelas ia tahu. Agatha dan


Zean sengaja masuk melalui pintu belakang. Bukankah selama ini pergerakan


mereka selalu tersembunyi. Jadi tidak perlu merasa heran lagi.


Tak lama setelah mereka


sampai, Agatha diminta untuk memasukkan mobil vannya ke dalam. Ini adalah salah


satu langkah untuk mengurangi tingkat kecurigaan warga sekitar. Mereka akan


menurunkan barangnya di dalam saja ketika gerbangnya sudah tertutup. Dengan begitu


tidak aka nada yang bisa melihat aksi mereka.


“Kau ingin turun?”


tanya Zean.


Agatha menggeleng


pelan. Rasanya ia tidak perlu bertemu dengan anggota khusu yang dimaksud oleh


Immanuel tadi. Beruntung ia pergi bersama Zean. Pria itu cukup pengertian


dengan situasinya sekarang dan yang terpenting dia tidak ingin memaksakan kehendaknya


kepada orang lain. Berbeda dengan Immanuel. Kalau tadi ia pergi bersama pria


itu, pasti sekarang Agatha sudah berada di luar karena terpaksa turun dari


mobil.


Sambil menunggu


barang-barangnya diturunkan, Agatha memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Bukan


berarti dia tidak akan melakukan apa-apa. Malah ada beberap ahal yang perlu ia


lakukan dengan cepat. Setelah Zean turun, gadis itu mulai mengamati sekitarnya.


matanya. Sebelum mulai beraksi, ia perlu memastikan kalau tidak ada sesuatu


yang mencurigakan. Apalagi sampai mengawasinya.


“Sepertinya aman,”


batin gadis itu di dalam hati.


Dengan hati-hati,


Agatha merogoh saku jaketnya. Ada sesuatu yang sudah ia sembunyikan di sana


sejak tadi. Ya, sebuah kamera pengawas yang berukuran kecil. Cukup kecil sampai


kau tidak akan tahu kalau benda tersebut adalah kamera.


Sebelumnya gadis itu


sudah tahu dimana ia akan meletakkan kamera ini. Benar, diujung dasbor. Dekat


dengan hiasan. Tidak akan ada yang tahu jika Agatha menyembunyikan sebuah


kamera di sana.


“Huh!”


Sekarang ia bisa


bernapas legas. Misinya sudah selesai, tepat sebelum Zean kembali. Tidak, pria


itu bukan kembali karena barang-barangnya sudah selesai diturunkan. Ada barang


yang dilupakannya. Jadi, mau tak mau pria itu harus kembali lagi kemari.


“Ada apa?” interupsi


Agatha begitu pintunya terbuka.


“Ponselku. Aku


meninggalkannya di sini,” kata pria itu sambil tersenyum tipis.


“Ah, baiklah kalau


begitu,” balas Agatha.


“Aku pergi ke atas dulu


untuk mengurus beberapa hal. Kau tetap tunggu di sini ya!” perintahnya.


“Tenang saja, aku tidak


akan kemana-mana,” ujar gadis itu.


Setelahnya Zean


langsung pergi begitu saja. Ia tampak masuk ke dalam gedung bersama dengan


beberapa orang lainnya. Barang-barang dari dalam mobil sudah selesai diturunkan


semua dan tidak ada yang tersisa.


Sepertinya sudah tidak


ada siapa-siapa lagi di sini. Semua orang naik ke atas, bersamaan dengan Zean


tadi. Entahlah, ada urusan apa di atas. Agatha tidak ingin tahu dan tidak ingin


ikut campur sama sekali. Baginya tidak terlalu penting dan tidak ada kaitannya


sama sekali dengan misinya.


Agatha hanya perlu tahu


siapa anggota khusus yang selama ini mereka rahasiakan itu. Ia sangat ingin tahu


seperti apa wajahnya. Tapi, Agatha tak mau bertemu dengan orang itu. Sejauh ini


sudah banyak anggota mafia yang mengetahui tenang Agatha. Semakin banyak orang


jahat yang mengenalinya, maka akan semakin terancam bahaya pula hidupnya.


“Agatha!” sahut


seseorang.


Tidak, yang kali ini


bukan suara dari luar. Terlalu dekat. Ia yakin kalau itu pasti berasal dari


Arjuna. Pria itu tengah berusaha untuk bicara dengannya melalui alat komunikasi


mereka.


“Ada apa?” tanya gadis


itu.


“Bagaimana dengan kameranya?”


tanya pria itu balik.


“Ck! Lihat sendiri di


layar monitormu apakah sudah berfungsi atau tidak,” kata Agatha sambil berdecak


sebal.


“Oh, iya-iya! Aku


melihatmu sekarang,” kata pria itu.


Agatha memutar bola


matanya malas. Untuk sekarang ia sedang tidak berminat sama sekali untuk


membalas perkataan pria itu.


“Tetaplah berhati-hati


selama berada di sana,” kata Arjuna.


Untuk


yang kesekian kalinya pria itu kembali memberikan peringatan yang serupa kepada


Agatha. Sepertinya sudah cukup sering ia memperingatinya. Sejak awal Arjuna


memang sudah sadar kalau ia mengirimkan gadis itu ke tempat yang salah. Terlalu


berbahaya untuk seorang gadis sepertinya.