
Kini Agatha yang akan
menyetir selama perjalanan. Zean percaya kepadanya. Lagi pula gadis itu sudah
memiliki lisensi untuk berkendara, jadi tidak perlu cemas. Ia hanya tinggal
mengarahkan Agatha saja. Pasalnya, gadis itu sama sekali tidak tahu harus pergi
kemana.
“Apa kita hanya akan
mengantar ke sat alamat saja?” tanya Agatha pnasara.
“Iya, benar sekali!”
jawab Zean.
“Untuk hari ini hanya
kepada dia saja. Mungkin besok atau dalam minggu ini kita akan melakukan banyak
pengiriman. Yang jelas bukan hari ini,” papar pria itu dengan panjang lebar.
Mereka kedatangan
barang cukup banyak tadi. Sedikit lebih banyak dari pada yang mereka terima di
pelabuhan beberapa waktu lalu. Karena penangkapan beberapa anak buah di
pelabuhan kemarin padasaat proses memindahkan barang, pengirimian mereka jadi
sedikit terkendala. Polisi ikut menyita dan mengamankan barang-barang tersebut
bersama mereka.
Sedikit banyaknya telah
terjadi kerugian yang cukup besar. Hanya sebagian kecil saja barang yang bisa
diselamatkan. Pasti karena hal yang sama pula kenapa mereka hari ini kedatangan
cukup banyak barang. Meski tidak ada yang mau menjelaskan kepadanya, Agath
sudah bisa menarik kesimpulan sendiri. Soal asumsinya benar atau tidak, itu
urusan belakang.
Walaupun gadis itu
sudah resmi bergabung dan menjadi bagian dari geng mafia ini sekarang, namun
pada faktanya sama sekali tidak seperti itu. Mereka semua masih menganggap
Agatha sebagai orang asing. Itu pula sebabnya kenapa informasi yang diberikan
kepadanya terbatas. Tidak semua pasal ia bisa tahu. Kalau ada hal baru atau ada
hal lain yang tidak ia ketahui, mau tak mau gadis itu terpaksa mencari tahu
sendiri. Dia tidak bisa mengandalkan teman-teman satu timnya.
Kepercayaan memang satu
hal yang paling sulit untuk diberikan secara cuma-cuma. Bukan hanya soal
harganya saja. Tapi masalahnya tidak semua orang pantas untuk menerima hal
tersebut. Tak semua orang bisa menjaga hal yang namanya kepercayaan. Mereka
juga tahu jika kepercayaan termasuk kepada salah satu hal yang paling sulit
untuk dijaga. Ia tidak akan bisa kembali ke bentuk semula kalau sudah pernah
rusak. Jadi, jangan pernah meminta orang lain untuk mempercayaimu setelah
dikhianati.
Kesempatan tidak datang
dua kali. Hal baik juga tidak memiliki kesempatan yang sama untuk datang lagi.
Jadi ada baiknya untuk tidak disia-siakan.
“Apa ini tempatnya?”
tanya Agatha tepat setelah menginjak pedal rem.
Ia menepikan
kendaraannya tepat di gerbang belakang sebuah gedung yang ia sendiri tidak tahu
tempat apa itu. Tapi, ada satu hal yang memang sudah jelas ia tahu. Agatha dan
Zean sengaja masuk melalui pintu belakang. Bukankah selama ini pergerakan
mereka selalu tersembunyi. Jadi tidak perlu merasa heran lagi.
Tak lama setelah mereka
sampai, Agatha diminta untuk memasukkan mobil vannya ke dalam. Ini adalah salah
satu langkah untuk mengurangi tingkat kecurigaan warga sekitar. Mereka akan
menurunkan barangnya di dalam saja ketika gerbangnya sudah tertutup. Dengan begitu
tidak aka nada yang bisa melihat aksi mereka.
“Kau ingin turun?”
tanya Zean.
Agatha menggeleng
pelan. Rasanya ia tidak perlu bertemu dengan anggota khusu yang dimaksud oleh
Immanuel tadi. Beruntung ia pergi bersama Zean. Pria itu cukup pengertian
dengan situasinya sekarang dan yang terpenting dia tidak ingin memaksakan kehendaknya
kepada orang lain. Berbeda dengan Immanuel. Kalau tadi ia pergi bersama pria
itu, pasti sekarang Agatha sudah berada di luar karena terpaksa turun dari
mobil.
Sambil menunggu
barang-barangnya diturunkan, Agatha memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Bukan
berarti dia tidak akan melakukan apa-apa. Malah ada beberap ahal yang perlu ia
lakukan dengan cepat. Setelah Zean turun, gadis itu mulai mengamati sekitarnya.
matanya. Sebelum mulai beraksi, ia perlu memastikan kalau tidak ada sesuatu
yang mencurigakan. Apalagi sampai mengawasinya.
“Sepertinya aman,”
batin gadis itu di dalam hati.
Dengan hati-hati,
Agatha merogoh saku jaketnya. Ada sesuatu yang sudah ia sembunyikan di sana
sejak tadi. Ya, sebuah kamera pengawas yang berukuran kecil. Cukup kecil sampai
kau tidak akan tahu kalau benda tersebut adalah kamera.
Sebelumnya gadis itu
sudah tahu dimana ia akan meletakkan kamera ini. Benar, diujung dasbor. Dekat
dengan hiasan. Tidak akan ada yang tahu jika Agatha menyembunyikan sebuah
kamera di sana.
“Huh!”
Sekarang ia bisa
bernapas legas. Misinya sudah selesai, tepat sebelum Zean kembali. Tidak, pria
itu bukan kembali karena barang-barangnya sudah selesai diturunkan. Ada barang
yang dilupakannya. Jadi, mau tak mau pria itu harus kembali lagi kemari.
“Ada apa?” interupsi
Agatha begitu pintunya terbuka.
“Ponselku. Aku
meninggalkannya di sini,” kata pria itu sambil tersenyum tipis.
“Ah, baiklah kalau
begitu,” balas Agatha.
“Aku pergi ke atas dulu
untuk mengurus beberapa hal. Kau tetap tunggu di sini ya!” perintahnya.
“Tenang saja, aku tidak
akan kemana-mana,” ujar gadis itu.
Setelahnya Zean
langsung pergi begitu saja. Ia tampak masuk ke dalam gedung bersama dengan
beberapa orang lainnya. Barang-barang dari dalam mobil sudah selesai diturunkan
semua dan tidak ada yang tersisa.
Sepertinya sudah tidak
ada siapa-siapa lagi di sini. Semua orang naik ke atas, bersamaan dengan Zean
tadi. Entahlah, ada urusan apa di atas. Agatha tidak ingin tahu dan tidak ingin
ikut campur sama sekali. Baginya tidak terlalu penting dan tidak ada kaitannya
sama sekali dengan misinya.
Agatha hanya perlu tahu
siapa anggota khusus yang selama ini mereka rahasiakan itu. Ia sangat ingin tahu
seperti apa wajahnya. Tapi, Agatha tak mau bertemu dengan orang itu. Sejauh ini
sudah banyak anggota mafia yang mengetahui tenang Agatha. Semakin banyak orang
jahat yang mengenalinya, maka akan semakin terancam bahaya pula hidupnya.
“Agatha!” sahut
seseorang.
Tidak, yang kali ini
bukan suara dari luar. Terlalu dekat. Ia yakin kalau itu pasti berasal dari
Arjuna. Pria itu tengah berusaha untuk bicara dengannya melalui alat komunikasi
mereka.
“Ada apa?” tanya gadis
itu.
“Bagaimana dengan kameranya?”
tanya pria itu balik.
“Ck! Lihat sendiri di
layar monitormu apakah sudah berfungsi atau tidak,” kata Agatha sambil berdecak
sebal.
“Oh, iya-iya! Aku
melihatmu sekarang,” kata pria itu.
Agatha memutar bola
matanya malas. Untuk sekarang ia sedang tidak berminat sama sekali untuk
membalas perkataan pria itu.
“Tetaplah berhati-hati
selama berada di sana,” kata Arjuna.
Untuk
yang kesekian kalinya pria itu kembali memberikan peringatan yang serupa kepada
Agatha. Sepertinya sudah cukup sering ia memperingatinya. Sejak awal Arjuna
memang sudah sadar kalau ia mengirimkan gadis itu ke tempat yang salah. Terlalu
berbahaya untuk seorang gadis sepertinya.