The Riot

The Riot
Intimidation



Di


dalam ruangan ini mungkin memang hanya ada mereka bertiga. Aaton, Agatha dan


Rino. Namun, pada kenyataannya tidak semudah itu memang untuk melarikan diri


dari pria itu. Posisi Rino saat ini bahkan berada tepat di ambang pintu masuk.


Menghalangi akses keluar masuk bagi Aaron dan Agatha. Padahal hanya itu


satu-satunya jalan keluar yang mereka miliki sejauh ini.


Tidak


hanya sampai di situ saja. Rino bahkan juga menempatkan beberapa anak buahnya


di selasar depan kamar. Mungkin berjumlah sekitar tiga orang. Tampaknya mereka


datang ke sini tidak dengan  tangan


kosong. Buktinya nyaris tidak ada satu pun dari mereka yang tidak bersenjata.


Entah


berapa jumlah  keseluruhan anak buah yang


ia bawa kemari. Yang pasti lebih dari lima orang. Karena yang berjaga di


halaman depan saja sudah lima orang. Belum lagi jika ada penjaga yang


ditempatkan di tempat lain. Hanya saja mereka memang tidak mengetahuinya sama


sekali.


Sekarang


Agatha sedang bergulat dengan isi kepalanya sendiri. Memaksa sebuah organ yang


berlindung dibalik tengkoraknya untuk berpikir keras. Orang-orang bilang jika


kau akan melewati batas jika kemampuannya jika dalam  keadaan terdesak. Kau jadi bisa melakukan apa


pun yang selama ini terkesan nyaris tidak mungkin. Bergerak di luar batas


kemampuanmu selama ini. Dan itu adalah sesuatu yang paling Agatha harapkan


untuk sekarang.


Dalam


hitungan detik saja, ia berhasil mendapatkan sebuah ide cemerlang. Kurang dari


satu menit untuk memikirkan rencana secara keseluruhan. Idenya kali ini memang


cukup bagus, tapi ia tidak yakin akan berhasil. Ada begitu banyak resiko yang


perlu ia pertimbangkan sebelum beraksi. Tapi, sekarang sudah tidak ada waktu


lagi. Tentu saja mereka tidak mau jika sampai terjebak di dalam tempat ini jauh


lebih lama lagi. Apalagi jika harus berhadapan dengan orang seperti Rino.


Setelah


berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, Agatha akan langsung bertindak. Dan


yang benar saja. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera bergerak maju untuk


berhadapan dengan Rino. Sebelumnya Agatha sudah mengamati terlebih dahulu


situasinya. Serta kemungkinan apa saja yang akan terjadi. Secepat kilat, gadis


itu langsung merampas pistol tersebut dari tangan Rino secara paksa.


Tentu


Rino tidak pernah mengira jika hal semacam ini akan terjadi sebelumnya. Gadis


itu berhasil melakukan segalanya dengan cepat. Sehingga, sudah terlalu


terlambat bagi dirinya untuk membaca gerakannya. Apalagi jika harus mengecah


Agatha. Serangan tanpa peringatan itu berhasil membuat posisi Agatha jauh lebih


unggul dari pada Rino.


Tak


ingin berlama-lama, Agatha langsung menodongkan pistol tersebut ke arah Rino.


Karena ia tahu jika cepat atau lampat, anak buah pria itu pasti akan menyadari


serangan yang dilakukannya. Dan mereka akan melakukan upaya apa saja untuk


mempertahankan posisinya. Tapi, tetap saja yang utama adalah keselamatan Rino.


Mereka telah dibayar mahal untuk itu. Bisa habis mereka di tangan pria itu kalau


sampai ketahuan tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.


Menyadari


jika dirinya sedang terancam, Rino lantas tidak bisa berbuat apa-apa. Pria itu


masih tetap bergeming. Mematung di tempat. Tidak bergerak sama sekali. Namun,


matanya berhasil bergerak denga liar untuk mencuri setiap kesempatan yang ada.


Sekarang


posisi mereka sedang saling menodongkan senjata. Agatha berusaha untuk


mengintimidasi pria itu dengan pistol yang baru saja didapatkan dari Rino


secara paksa. Sementara itu anak buah Rino yang berada di selasar depan juga


tampak mengacungkan pistolnya ke arah Agatha.


Mereka


sedang berusaha untuk saling menindas satu sama lain. Agatha tidak akan merasa


Mereka hanya mau menggertak. Berharap agar Agatha menyerah karena ketakutan.


Tapi, sebaiknya mereka jangan pernah mengharapkan hal semacam itu terjadi. Karena


Agatha tidak akan pernah menyerah.


Menghadapi


situasi seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Bahkan tak jarang


kalau ada yang jauh lebih buruk dari itu semua. Jadi, kejadian hari ini bukan


lagi hal baru yang mengejutkan. Ia bahkan sudah memiliki beberapa taktik untuk


menghadapi mereka semua. Termasuk Rino. Pria itu harus dibereskan terlebih


dahulu, baru anak buahnya bisa ditangani.


“Turunkan


senjatamu!” seru salah satu anak buahnya.


“Kau


pikir aku akan mengikuti perintahmu?” balas gadis itu dengan begitu tenang.


Sama


sekali tidak ada rasa takut atau semacamnya yang terbersit di dalam hatinya. Bahkan


ia siap untuk mati. Seolah nyawa tidak lagi menjadi sebuah permasalahan besar


baginya. Padahal tidak bisa dipungkiri, jika nyawa setiap orang sangat berarti.


Kalau


pun ia harus berakhir di sini dengan kondisi yang menggenaskan, Agatha sama


sekali tidak masalah. Hanya ada satu syarat. Ia harus bisa menyingkirkan Rino sebelumnya.


Atau paling tidak posisinya harus jauh lebih unggul dari pada pria itu.


Memangnya siapa yang mau kalah. Tidak ada.


“Turunkan


senjatamu atau akan kutembak kau lebih dulu!”  peringati anak buahnya sekali lagi. Masih dengan orang yang sama. Tampaknya


ia adalah pemimpin dari mereka semua.


Agatha


tidak pernah menganggap ancaman tersebut serius. Selama ini mereka mengucapkan


kata-kata semacam itu hanya untuk memprovokatori lawannya. Itu adalah trik


lama. Tentu Agatha sudah paham betul.


Agatha


hanya bisa tertawa jengah. Tampaknya ia enggan untuk memberikan tanggapan.


Hanya buang-buang waktu saja. Lagipula itu bukan hal yang penting. Sungguh memuakkan.


‘DOR!’


Tepat


sebelum mereka beraksi, Agatha sudah langsung melancarkan serangan lebih dulu. Satu


timah panas berhasil melesat cepat menuju pintu. Tenang saja. Agatha tidak akan


melukai siapa pun. Dia hanya berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka. Lebih


tepatnya mengecoh. Suara tembakan tadi berhasil membuat para penjaga yang


berkumpul di ambang pintu masuk menyingkir dari sana. Sehingga, tercipta


kesempatan baru baginya untuk melarikan diri.


Tanpa


pikir panjang lagi, Agatha buru-buru pergi ke luar untuk menyelamatkan dirinya.


Tidak lupa untuk membawa Aaron bersamanya. Pria itu berhasil mendapatkan


senjata dari salah satu anak buah Rino. Sekarang paling tidak mereka bisa


bergerak lebih leluasa.


“Sepertinya


anak buah Rino yang lain menyusul masuk ke dalam,”  ujar Aaron.


Diam-diam


Agatha juga ikut membenarkan pernyataan tersebut. Sebab, dari arah pintu utama


ia mendengar suara langkah kaki. Sepertinya bukan hanya satu atau dua orang. Melainkan


segerombolan. Bisa dipastikan jika yang mereka dengar ini adalah suara langkah


kaki penjaga yang di luar. Mereka terpaksa menerobos masuk, karena mendengar


beberapa suara tembakan.


Sementara


itu, di sisi lain Agatha dan Aaron cukup diuntungkan dalam posisi ini. Karena


semua orang telah masuk, maka itu berarti tidak ada siapa-siapa lagi di luar. Mereka


bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk melarikan diri tanpa perlu takut


ketahuan.


“Aku akan menangkap mereka nanti.


Lihat saja!”