The Riot

The Riot
Favorite



13.00


Sejak tadi pagi, ia baru terbangun sekarang. Tepat


pada saat jam makan siang. Tadi pagi Agatha sudah melewatkan jadwal sarapannya


dan jauh lebih memilih untuk pergi tidur. Beruntung sekarang ia tidak


melewatkan kesempatan untuk makan siang kali ini. Kalau tidak, maka kemungkinan


gadis itu tidak memiliki energi sama sekali. Bahkan untuk bangkit dari


ranjangnya pun terasa berat.


Dengan sangat hati-hati, ia beranjak turun dari


tempat tidurnya. Kedua telapak kakinya sudah menyentuh permukaan lantai, tapi ia


sama sekali bellum pergi dari sana. Sepertinya untuk beberapa menit kemudian,


ia akan tetap berada di sana. Tidak bergerak kemana-mana sama sekali.


Sesekali Agatha mengusap-usap kedua kelopak matanya


dengan lembut. Sembari menunggu nyawanya yang sempat tertinggal di alam mimpi


terkumpul kembali. Tampaknya bukan hanya Agatha saja satu-satunya orang di


dunia ini yang selalu melakukan ritual tersebut tiap kali bangun tidur.


‘CEKLEK!’


Gadis itu lantas menaikkan salah satu alisnya. Meski


nyawanya belum benar-benar terkumpul sepenuhnya, indera pendengarannya masih


berfungsi dengan prima. Bahkan suara gagang pintu yang dibuka pun bisa sampai ke


gendang telinganya. Agatha barusaja mendengar suara tersebut dengan jelas.


“Siapa itu?” gumam Agatha sambil menggaruk-garuk


kepalanya yang tak gatal.


Untuk memenuhi rasa penasarannya, Agatha lantas


memutuskan untuk benar-benar beranjak pergi dari tempat tidurnya. Dengan hanya


mengandalkan intuisinya sendiri, gadis itu berusaha untuk mencari sumber suara.


Jejak rekaman suara tersebut yang masih terekam dengan jelas di dalam ingatannya


menjadi penuntun arah baginya.


Seolah tahu dengan jelas dari mana sumber suara


tersebut berasal, gadis itu lantas berjalan dengan yakin. Entah bagaimana


intuisinya mengatakan kalau suara tersebut berasal dari pintu depan. Lebih tepatnya


pintu masuk.


Sejauh ini tersangkanya masih satu orang. Yaitu


Aaron. Memangnya siapa lagi yang akan masuk kemari selain pria itu. Hanya dia


satu-satunya orang di apartment ini yang tahu kata sandi unit milik Agatha. Sebenarnya


Zura juga tahu. Tapi sejak ia mengganti kode akses keamanannya menjadi yang


lebih terbaru, Zura tidak pernah mencari tahu lagi.


“Agatha!” sahut sebuah suara dari lorong pendek


menuju pintu masuk.


“Apa kau sudah bangun?” sambungnya kemudian.


Padahal sang pemilik rumah belum sempat menjawab


sapaannya yang barusan.


“Apa yang kau lakukan di sini?” interupsi gadis itu


begitu mereka saling berpapasan.


“Ini ada makanan,” katanya.


“Aku tahu jika kau tidak sempat memasak untuk makan


siang,” jelasnya kemudian.


“Letakkan saja di meja makan!” titah Agatha.


“Omong-omong terima kasih,” timpalnya.


Ia tidak ingin dianggap tidak memiliki sopan santun


oleh pria itu hanya karena lupa mengucapkan terima kasih.


“Kau mau kemana?” tanya Aaron.


“Sebentar, aku perlu membasuh muka lebih dulu,”


jawab Agatha secara gamblang.


Tidak ingin bertanya lebih lanjut lagi, pria itu


memutuskan untuk duduk di meja makan. Menunggu Agatha kembali kemari setelah


menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini ia tidak akan menunggu sampai bosan. Memangnya


berapa lama waktu yang diperlukan untuk sekedar membasuh muka saja.


Ternyata kali ini dugaannya benar. Kurang dari dua


menit, Agatha sudah kembali kemari. Gadis itu mengambil tempat duduk tepat di


hadapannya. Memperlihatkan muka bantal khas orang baru bangun tidur. Padahal ia


sudah membasuh mukanya. Namun, pada faktanya hal tersebut sama sekali tidak


“Baru bangun tidur?” tanya Aaron yang kemudian


mendapatkan anggukan dari gadis itu.


“Makanan apa yang kau bawa?” tanya gadis itu balik.


“Ayam saus asam manis,” jawabnya.


“Kesukaanmu!” timpal pria itu kemudian.


Tanpa pikir panjang sama sekali, Agatha langsung


meraih kotak makanan tersebut dan membuka isinya. Sepertinya hidangan ini


barusaha dimasak. Terasa dari suhunya yang masih hangat. Selain itu asapnya


juga tampak masih mengepul begitu penutup kotaknya dibuka.


Agatha beralih mendekatkan hidungnya pada kotak


makanan tersebut. Berusaha untuk mengamati aromanya. Banyak orang yang


mengatakan jika mereka bisa menebak seperti apa rasanya hanya dengan


mengandalkan indera penciuman saja.


“Sepertinya enak,” tebak Agatha.


Ia buru-buru mengambil sendok yang berada tempat di


depannya. Tak sabar untuk mencicipi seperti apa rasa makanan tersebut. Biasanya


jika Aaron yang memasak, maka rasanya tidak pernah mengecewakan. Pasti selalu


enak. Agatha bahkan mengakui hal tersebut.


“Tapi, tunggu dulu!” ucap Agatha.


Gadis itu mengurungkan niatnya untuk mencicipi masakan


pria itu. Ada satu hal lagi yang perlu ia pastikan.


“Kau sungguh tidak menaruh racun dalam bentuk apa


pun ke dalam makanan ini kan?” tanya Agatha. Nada bicaranya terdengar serius.


“Kalau pun aku sungguh meletakkan racun di dalamnya,


aku tidak akan mengaku jika ditanyai seperti ini. Lebih tepatnya, aku tidak


akan membiarkan orang lain merusak rencanaku,” beber Aaron dengan panjang


lebar.


Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Aaron tidak ada


salahnya juga. Memangnya penjahat mana yang mau mengaku. Jadi, percuma saja


jika Agatha menanyai Aaron seperti ini. Toh, pada akhirnya dia tidak akan


mengaku juga.


Bukannya tidka percaya dengan Aaron. Berteman lama


belum tentu menjadi jaminan. Kepercayaan bisa hilang dan rusak kapan saja.


Semua orang bisa berbuat jahat dengan sesukanya. Bahkan tidak menutup


kemungkinan jika orang tersebut adalah orang terdekat kita sendiri. Sudah banyak


kasus serupa. Sehingga kita tidak bisa mempercayai orang lain.


“Dasar!” kata gadis itu sambil berdecak sebal.


Kali ini rasa percaya kepada pria itu jauh lebih


besar dari pada rasa curiganya. Jadi, anggap saja jika situasinya sekarang


benar-benar aman. Aaron tidak memiliki niat lain. Ini bukan pertama kalinya


Agatha berpikir jika pria itu akan berbuat jahat kepadanya. Mengingat kesan


dipertemuan pertama mereka tidak baik sama sekali.


“Eum, enak!” puji Agatha dengan antusias.


Gadis itu tidak sedang membual. Ia bicara jujur. Sudah


dikatakan tadi jika masakan pria itu tidak pernah gagal. Entah dari mana dia


belajar memasak, sampai bisa seenak ini. Hal tersebut sukses menjadi poin


tambahan baginya. Terlebih ia adalah seorang pria. Pada umumnya jarang ada pria


yang ahli dalam mengolah berbagai macam bahan makanan seperti ini.


“Lain kali kau harus lebih sering memasak untukku,” ungkap


gadis itu.


“Habiskan dulu makanan di mulutmu!” perintah Aaron.


“Tenang saja, mulai sekarang aku akan lebih sering


memasak untukmu. Jadi tidak perlu makan dengan terburu-buru seperti itu. Aku


bahkan sama sekali tidak berniat untuk meminta makananmu,” celoteh pria itu


dengan panjang lebar.


Alih-alih merespon


sindirian Aaron yang sengaja ditujukan kepadanya, gadis itu malah bersikap bodo


amat. Bahkan ia sama sekali tidak memperhatikan apa pun ketika pria itu


mengoceh. Untuk saat ini ia hanya fokus dengan makanan yang berada tepat di


hadapannya. Urusan perut jauh lebih penting dari apa pun menurutnya.