The Riot

The Riot
Dokter Andriana



‘TAP! TAP! TAP!’


“Baiklah, aku akan


segera ke sana nanti setelah pekerjaanku selesai.”


“Kapan selesai katamu?


Tentu saja setelah tidak ada lagi yang perlu ku kerjakan.”


“Hari ini masih ada dua


jadwal operasi lagi yang harus kulakukan.”


“Sampai jumpa nanti!”


Wanita itu langsung


mematikan ponselnya begitu saja, kemudian menyimpannya kembali di dalam saku. Sekarang


ia perlu segera bersiap untuk melakukan operasi berikutnya. Sepertinya hari ini


akan menjadi hari yang tidak terlalu melelahkan baginya.


“Itu Dokter Andriana!”


celetuk salah satu orang yang berada di ruang operasi.


“Apa semuanya sudah


siap?” tanya dokter tersebut begitu sampai.


“Ya, semuanya sudah


siap!” jawabnya.


“Baguslah kalau begitu.


Langsung kita mulai saja operasinya,” ujar sang dokter.


Semua orang hanya bisa


mengiyakan perkataan wanita itu. Kembali lagi kepada alasan utama kenapa mereka


bisa sampai berada di ruangan operasi. Semua orang telah sepakat untuk saling


bekerja sama dalam operasi kali ini. Yang tentunya akan dipimpin oleh Dokter


Andriana.


Siapa yang tidak


mengenal Dokter Andriana di rumah sakit ini. Namanya sudah sangat populer sejak


tahun pertamanya menjadi dokter residen di tempat yang sama. Sebenarnya sudah


lama ia menjadi seorang dokter bedah. Tapi, sempat berhenti beberapa tahun


karena alasan pribadi. Lebih tepatnya ia berhenti bekerja di rumah sakit selama


beberapa tahun karena harus mengurus keluarga kecilnya. Ada seorang putri yang


tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.


Namun, sekarang ia


sudah kembali ke rumah sakit. Selain karena anak perempuan semata wayangnya


yang sudah besar, Dokter Andriana juga tidak memiliki kewajiban untuk mengurus


apa pun lagi. Keharmonisan keluarga kecilnya ternyata tidak bertahan lama. Tak ingin


berlarut-larut dalam kesedihan, wanita itu memutuskan untuk kembali bekerja. Sementara


itu ia dan anggota keluarganya yang lain terpaksa hidup secara terpisah satu


sama lain.


“Terus pantau


kondisinya!” perintah Andriana kepada salah satu perawat.


“Baik dokter!”


balasnya.


Ini adalah operasi


terakhir yang ia lakukan. Setelahnya Andriana bisa langsung pulang. Semoga saja


tidak ada jadwal tambahan. Seperti operasi mendadak karena suatu hal dan tidak


bisa ditunda lagi. Dokter seperti dirinya pun juga perlu istirahat. Mereka semua


sama-sama manusia biasa.


Saat ini ia sedang


berada di lobi lantai dasar. Baru saja keluar dari lift. Setelah menyelesaikan


semua pekerjaannya, ia langsung bersiap-siap untuk pulang. Belum sempat wanita


itu menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba pandangannya tertuju kepada seorang


pria yang berdiri di seberang sana. Wajahnya tampak tidak asing lagi.


“Dia ingin menjenguk


Agatha atau wanita itu?” gumamnya.


Kemudian, Andriana


segera mengeratkan sabut pengaman miliknya. Dia tidak ingin memusingkan hal


yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri. Bahkan jika


hal tersebut memiliki kaitan dengannya pun, ia tidak akan mau memikirkan semua


itu kalau tidak terlalu penting.


Andriana langsung mengalihkan


mobilnya ke jalan raya. Mengemudi dengan kecepatan normal, sehingga tetap aman.


Meskipun saat ini seseorang tengah menunggunya di tempat lain. Selama jalanan


tidak macet, ia tidak akan terlambat. Jadi tidak perlu terburu-buru. Lagi pula  orang itu pasti masih bisa menunggu. Ini bukan


urusan yang terlalu penting. Hanya bincang-bincang santai saja. Seperti


kebanyakan orang pada umumnya.


“Hari ini Agatha sudah


pulang. Kira-kira siapa yang akan mengantarkannya kembali ke rumahnya?” tanya


wanita itu kepada dirinya sendiri.


“Andai saja tadi aku


keluhnya.


Sayang sekali, dia


tidak sempat berpamitan dengan pasien yang satu itu. Sepertinya Agatha sudah


memiliki tempat tersendiri di hati Dokter Andriana. Bukan lagi hanya sekedar


pasien. Mungkin wanita itu sudah menganggap Agatha sebagai anaknya sendiri. Atau


malah lebih dari itu. Kita sama sekali tidak bisa memastikan apa pun dan belum


tentu jika tebakan kita selama ini benar.


“Kalau begitu nanti aku


akan mengirimkan bunga dan beberapa suplemen ke rumahnya!” simpul Dokter


Andriana.


Andrianan sudah


menyusun daftar rencana yang akan ia lakukan selama beberapa jam ke depan di


dalam kepalanya. Setidaknya ingatan jangka pendek wanita ini masih cukup bagus


dan bisa diandalkan. Jadi dia tidak perlu menulisnya di dalam catatan, seperti


kebanyakan orang. Ini cukup memudahkan bagi orang sepertinya yang tidak suka


dengan sesuatu yang rumit.


‘Café Dandelions’


Begitulah tulisan yang


terpampang jelas di depan pintu masuk. Andriana menepikan mobilnya tepat di


depan gerbang masuk. Kemudian membawanya menuju parkiran khusus roda empat.


Sepertinya memang benar jika café ini adalah tempat yang ia tuju. Buktinya


setelah selesai dari parkiran, ia langsung masuk ke dalam tempat tersebut tanpa


perasaan ragu sama sekali. Sebenarnya siapa yang sedang rela membuang waktunya


untuk menunggu seorang dokter yang terkenal sibuk seperti Andriana ini.


“Hai!” sapa seorang


wanita yang duduk di salah satu meja.


“Kau sudah lama di


sini?” tanya Andriana lalu mengambil tempat duduk tepat di depan wanita itu.


“Belum terlalu lama. Masih


sekitar lima belas menit mungkin,” jelasnya.


Sepertinya jarak umur


mereka berdua tidak terlalu jauh. Jika dilihat dari penampilannya sekarang


mereka kelihatannya sepantaran.


“Bagaimana kabarmu?”


tanya Andriana.


“Baik, kau?” tanya


wanita itu balik.


“Biasa saja, tidak ada


yang istimewa,” jawab Andriana dengan apa adanya.


Tidak perlu merasa


heran lagi. Wanita itu memang selalu mengatakan hal tersebut tiap kali ditanya


pertanyaan serupa. Ya, hidupnya terlalu biasa saja untuk dinikmati bagi orang


sepertinya. Karena ini bukan yang pertama kalinya, wanita itu sudah cukup hapal


dengan sikap Andriana. Mengingat mereka sudah bersahabat sejak masih duduk di


bangku kuliah dulu.


Dokter Sofia. Dokter


spesialis anak yang dulu sempat bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Namun


sejak Andriana keluar, tak lama setelahnya ia juga keluar. Setelah itu Sofia


memutuskan untuk membuka praktek sendiri. Kabarnya saat ini wanita itu sudah


memiliki klinik dengan dua cabang di kota berbeda.


“Jadi, kau sudah


bertemu dengan anak semata wayangmu itu?” tanya Sofia.


“Sebenarnya aku sudah


lama mengawasinya,” beber Andriana.


“Lebih tepatnya aku


selalu mengawasinya selama ini. Dan memastikannya agar tetap aman,” timpalnya kemudian.


“Lalu kalau begitu


kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?” tanya wanita itu secara gamblang.


“Itu adalah kecelakaan.


Aku memang teledor,” katanya.


“Sudahlah, yang penting


sekarang dia baik-baik saja,” ucap Sofia.


“Ck! Padahal kau yang


memulai pembahasan ini lebih dulu tadi,” gerutu Andriana sebal.


Seperti


kebanyakan wanita pada umumnya, mereka mengobrol tentang berbagai hal. Mulai dari


yang paling penting hingga yang sangat tidak penting. Mereka berdua hanya ingin


menghabiskan waktu luangnya bersama. Berbagi masalah satu sama lain. sambil


menikmati sisa hari sebelum matahari benar-benar terbenam.