
Melihat perubahan
posisi mereka yang semula bersikap acuh tak acuh, dan kini malah jadi serius,
sontak hal tersebut berhasil memancing atensi Gabriel di seberang sana. Di saat
yang bersamaan pula gadis itu langsung meraih teropongnya. Untuk melihat secara
lebih dekat, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sana.
Dugaannya benar. Ketiga
orang yang sudah dari tadi ia awasi ternyata tengah bersiap. Sebenarnya apa
yang akan mereka lakukan dan siapa yang menjadi sasaran utama mereka. Gabriel sama
sekali tak tahu menahu soal rencana penyerangan ini seperti apa persisnya. Jadi,
satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah bersiaga. Bersiap untuk apa
pun itu yang akan terjadi. Bahkan jika harus menghadapi kemungkinan terburuk
sekali pun mereka tetap harus siap.
Tanpa pikir panjang,
gadis itu buru-buru meraih senjata miliknya. Perlengkapannya malam ini
terbilang cukup lengkap. Ada satu set perlengkapan di dalam markas. Ia dan
anggota lainnya bisa menggunakan fasilitas tersebut kapan pun itu. Terutama
ketika keadaan sedang tidak berlangsung baik-baik saja. Seperti hari ini
misalnya.
“Sebenarnya apa yang
akan kalian lakukan, ha?” gumam gadis itu sambil tetap membidik.
Gabriel tidak tahu mana
satu yang akan ia tembak lebih dulu. Ada tiga orang yang cukup berpotensi untuk
mengancam di sana. Kalau ia tak bergerak cepat, mungkin yang lainnya akan
berbalik menyerang dirinya karena Gabriel telah menyerang lebih dulu. Tapi,
tenang saja. Selama salah satu dari mereka tidak menembak lebih dulu, maka
Gabriel tidak akan membuang pelurunya secara sia-sia. Sebenarnya tidak bisa
dikatakan sia-sia juga. Karena pasti timah panas itu akan mendarat di sasaran
yang tepat sesuai bidikan. Tidak mungkin penembak jitu seperti Gabriel meleset.
Dari kejauhan, mereka
sayup-sayup mendengar suara berisik. Tunggu dulu. Sepertinya ini tidak
terdengar asing lagi. Suara helicopter. Benar. Itu ternyata sebuah helicopter
yang datang dari arah berlawanan. Refleks Agatha, Immanuel dan Alexa langsung
menunduk. Kemungkinan orang-orang yang berada di dalam helicopter itu akan
menyadari keberadaan mereka jika ketiganya tetap bertahan pada posisi
sebelumnya. Kalau sedikit membungkuk seperti ini rasanya jauh lebih aman.
“Dari mana datangnya
benda itu?” tanya Alexa.
“Entahlah, pasti itu
salah satu bentuk pertolongan untuk mereka yang sedang terancam saat ini,”
jawab Immanuel.
Prediksinya belum tentu
benar. Karena pada dasarnya, apa yang dikatakan oleh ptia itu tadi tidak
benar-benar sesuai fakta. Ia hanya mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya
pada saat itu saja. Tapi, tampaknya juga tidak salah untuk mempertimbangkan
kembali asumsi tersebut. Untuk berjaga-jaga kalau saja memang benar.
“Lapor! Sebuah
helicopter bantuan datang untuk menyelamatkan Hato!” ucap seseorang.
Entah berasal dari mana
suara tersebut. Rasanya semua suara terdengar sama di alat bantu pendengaran
mereka. Hanya suara Hiraeth saja yang terdengar sedikit berbeda. Karena memang ia
menggunakan alat yang jauh lebih canggih dan membuat suaranya terdengan sedikit
lebih jernih dari pada yang lainnya.
“Sial!” umpat Immanuel.
Ternyata dugaannya
benar. Kendaraan yang satu itu pasti datang untuk menyelamatkan si pembuat
masalah itu. Seharusnya semesta tidak memberikan kesempatan bagi orang
sepertinya untuk tetap hidup. Dunia perlu ketenangan. Bagaimana dunia akan
tenang kalau orang sepertinya terus berkeliaran di muka bumi.
“Dengarkan aku!” ucap
Hiraeth melalui alat komunikasi yang mereka gunakan.
“Setelah helicopternya
mendarat dengan sempurna, tembak bagian fitalnya. Seperti baling-baling, ekor
dan juga beberapa bagian lain yang menurut kalian penting,” jelasn pria itu
dengan singkat, namun cukup mendetail.
“Baiklah, tuan!” balas
mereka bertiga secara serentak.
Semua orang sudah
bersiap. Tinggal menunggu sampai helicopter di hadapan mereka benar-benar
mendarat dengan sempurna. Sebenarnya mereka bisa saja langsung menembaknya
selagi terbang seperti ini. Bukankah itu akan terasa lebih mengasyikkan? Tapi,
demikian pasti ada alasannya. Tidak tidak pernah asal bicara.
“Siapa yang akan
menembak lebih dulu?” tanya Immanuel tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun
dari target.
“Anak baru lebih dulu,”
jawab Alexa.
“Anggap saja ini
sebagai upacara penyambutanmu,” imbuhnya kemudian.
Agatha sama sekali
tidak bicara apa pun. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa kalian sama sekali
tidak masalah jika aku melakukannya lebih dulu?” tanya Agatha untuk memastikan
kembali.
“Memangnya untuk apa
aku menyuruhmu?” tanya Alexa balik.
Baiklah, kalau begitu. Ini
adalah kesempatannya. Apa yang ia tunjukkan malam ini mungkin akan membuat
gadis itu bertahan sedikit lebih lama lag di geng tersebut untuk jadi
mata-mata. Dan poin plusnya adalah mendapatkan kepercayaan dari Hiraeth. Mereka
tidak akan mungkin merasa curiga kalau pemimpinnya saja tidak merasa demikian.
Secara tidak langsung
Agatha akan mendapatkan perlindungan langsung dari pihak tertinggi. Hiraeth
bukan sembarang orang. Posisinya cukup penting. Semua orang menghormati
dirinya. Tapi, sepertinya konsekuensi yang akan diterima oleh Agatha juga
besar. Kalau sampai ia ketahuan berkhianat. Tapi tidak apa. Tak perlu terlalu
dicemaskan. Bukankah selama ini ada pihak kepolisian yang akan melindunginya
juga.
Agatha sudah melakukan
hal yang benar. Semua orang juga tahu kalau yang benar pasti akan menjadi
pemenangnya. Terlepas dari apa pun itu ceritanya. Tidak perlu terlalu
dicemaskan. Jangan sampai lupa kalau kita harus menghadapi setiap masalah
dengan tenang.
“Bersiaplah!” perintah
Immanuel.
Kini semua orang
mempercayai dirinya. Immanuel dan Alexa telah menyerahkan tembakan pertama
untuk dirinya. Biar Agatha yang melakukan pembukaan dari pesta puncak
kemenangan mereka malam ini.
Tingkat fokus Agatha
sudah berada di titik paling tinggi. Sejak tadi perhatiannya hanya tertuju
kepada satu objek nyata di depan sana. Tidak ada yang bisa mengganggu
konsentrasinya untuk saat ini.
Agatha telah mengunci
targetnya. Sekarang waktunya untuk menghitung mundur dalam hati. Tiga, dua,
satu, tembak! Peluru pertama malam ini telah melesat dengan sempurna di tangan
sniper handal yang baru saja bergabung dengan tim mereka.
“Kerja bagus!” puji
Immanuel.
“Sekarang giliran
kalian,” balas Agatha sambil tersenyum tipis. Ia merasa puas dengan
pekerjaannya sendiri.
‘DOR!’
Pada saat yang
bersamaan pula mereka mendengar suara tembakan yang berasal dari arah belakang
mereka. Peluru tersebut mengenai dinding. Tepat menyasar di samping Alexa. Pasti
pelurunya telah meleset. Padahal ia ingin menembak Alexa sebelumnya.
“Sial! Ada sniper lain!”
umpat Alexa geram.
“Kalian urus saja
helicopter itu. Aku yang akan membereskan ini!” ujar Agatja kemudian berbalik.
Secepat kilat ia
menyisir semua tempat dalam kegelapan. Ia memicingkan matanya untuk
mempersempit sudut pandang sehingga bisa lebih fokus. Ketemu! Sekarang keberadaan
Gabriel sudah diketahui oleh gadis ini. Dia tidak bisa bersembunyi lagi.
“Dasar!”
Kini
giliran Agatha yang mengumpat. Ia merasa sebal karena ternyata ada seorang
pengacau di sini.