The Riot

The Riot
Ride



Pada dasarnya Agatha bukanlah anak berandalan. Perilakunya


selama ini sama sekali tidak menunjukkan hal seperti itu. Agatha bisa


dikategorikan sebagai anak baik dan tidak suka mencari masalah. Tapi, ada satu


kebiasaan yang tidak bisa terlepas dari dirinya sejak dulu. Entah yang satu ini


bisa dikategorikan sebagai kebiasaan baik atau buruk. Tidak ada yang


benar-benar tahu.


Dulu, sejak keluarganya mulai mengalami krisis


ekonomi, tidak ada yang baik-baik saja. Uang memang tidak bisa membeli


segalanya. Termasuk kebahagiaan. Tapi, sepertinya itu adalah sebuah


pengecualian yang cukup besar terhadap keluarga mereka. Uang menjadi pintu


gerabgn untuk segala pekara. Beruntung Agatha bukan orang yang selalu


bergantung kepada uang, meski segalanya memerlukan uang.


Keluarga mereka begitu harmonis saat Narendra


berjaya. Bisnis properti yang ia jalankan terbilang cukup sukses. Mereka tidak


kekurangan sesuatu apa pun. Bahkan sudah lebih dari cukup. Meski dibesarkan


dengan bergelimang harta, Agatha tidak pernah begitu terobsesi dengan yang


namanya uang. Berbeda jauh dengan pria itu.


Ia baru menyadari jika ternyata uang mampu membeli


kebahagiaan keluarga mereka. Tepat ketika perusahaan pria itu bangkrut karena


tertipu, mereka memutuskan untuk kembali pulang ke Indonesia. Mulai dengan


hidup yang serba seadanya, hingga benar-benar tidak ada yang tersisa lagi.


Pada saat itulah semuanya berubah. Orang-orang


bilang jika kehidupan ini seperti layaknya sebuah roda. Ada waktunya kau akan


berada di atas, dan berada di bawah pula. Tentu ini demi keadilan. Jadi, jatuh


dan bangun rasanya sudah merupakan salah satu bagian dari siklus hidup. Tidak bisa


dihindari. Ada saatnya kau berada di atas, namun ada pula saatnya untuk jatuh


terpuruk.


Agatha dan keluarganya sudah pernah berada di fase


tersebut. Berada di titik paling rendah dalam hidupmu bukanlah pekara yang


mudah. Agatha merasa bersyukur sekaligus beruntung karena bisa bertahan hidup


dan melewati fase tersebut dengan selamat.


Kondisi keluarganya berubah drastis. Dari yang semua


harmonis dan nyaris tidak ada masalah sama sekali, malah terjadi sebaliknya. Ketika


uang tidak lagi cukup untuk membeli kebahagiaan keluarga mereka, maka semuanya


tidak sama. Sejak hari itu, rumah adalah neraka bagi Agatha. Bagaimana tidak.


Selalu ada saja keributan setiap harinya. Bukan setiap hari lagi. Hampir setiap


detik malah.


Agatha tidak pernah menemukan ketenagan di dalam


rumahnya sendiri. Bahkan rumah tidak lagi jadi tempatnya untuk berpulang pada


waktu itu. Tidak ada tempat yang paling nyaman baginya selain pinggir sungai. Dulu


Agatha selalu sering mengunjungi tempat itu setiap kali ada masalah, atau


sedang tidak merasa nyaman. Bukan, dia sama sekali tidak berpikiran untuk


mengakhiri hidupnya. Melainkan hanya sekedar mencari ketenangan dari tempat


lain saja.


Sejak hari itu pula Agatha menjadi sering keluar


pada malam hari. Gadis itu diam-diam menyelinap keluar rumah pada pukul dua


belas malam. Ia melarikan diri dari jendela kamarnya. Tidak ada satu pun yang


tahu, karena semua openghuni rumah sudah terlelap. Itu adalah waktu yang tepat


baginya untuk kabur. Sejauh ini Agatha sama sekali belum pernah tertangkap sama


sekali.


Jika jarum jam sudah menunjukkan pukup dua belas


malam, Agatha akan membukan jendela kamarnya lebar-lebar. Kemudian menyelinap


keluar dari sana. Gadis itu beralih ke garasi untuk mengeluarkan sepeda motor


miliknya yang bahkan sampai sekarang masih ia pakai. Agatha hanya memberi jeda


sebentar untuk mengembalikan kondisi kesehatan mental serta fisiknya sesudah kecelakaan


itu.


Setiap pukul dua belas malam, Agatha akan pergi


tinggi. Anggap saja jika dulunya dia juga sering berkendara secara ugal-ugalan


dan tidak taat peraturan lalu lintas. Bukan sering lagi. Nyaris setiap malam


malah. Tapi, anehnya ia selalu bisa saja lolos dari kejarn polisi. Sepertinya


Agatha memiliki bakat tersendiri untuk yang satu itu.


Agatha akan bermain di jalanan mulai dari jam dua


belas malam sampai pukul tiga pagi. Tempat yang paling sering ia kunjungi


adalah kolong jembatan. Tepat berada di tepi sungai. Ia sering kali merenung di


situ sendirian. Sambil sesekali melempar batu kerikil secara acak ke aliran


sungai.


Ada dua hal yang paling sering ia lakukan dulu


ketika sedang terjebak dalam masalah. Dia bukan tipikal orang yang bisa


mengekspresikan perasaannya dengan tepat. Agatha bahkan tak tahu harus berbuat


bagaimana. Dia sulit untuk menangis di depan orang lain. Bahkan melihat gadis


itu sedang tertawa saja merupakan salah satu momen yang langka.


Hari ini ia kembali berkendara dengan menggunakan


sepeda motornya. Sepertinya mulai hari ini ia akan jadi sering menggunakan kendaraan


tersebut untuk bepergian kemana-mana.


“Selamat pagi untuk kalian semua!” sapa Agatha


begitu sampai.


Sontak semua mata langsung tertuju ke arahnya. Ia


hampir lupa jika ini adalah hari pertamanya sebagai mafia.


“Kemana yang lain?” tanya Agatha lalu merobohkan


tubuhnya begitu saja di atas kursi.


“Masih belum datang kemari,” jawab Immanuel dengan


apa adanya.


Immanuel adalah pria yang kemarin menggunakan baju


kaos putih. Dia memang terkenal tidak banyak bicara. Namun, lebih ke


merealisasikan tindakan. Dia bukan tipikal orang yang suka bertele-tele. Agatha


bahkan bisa membaca semua itu dengan jelas di hari pertama ketika mereka


bertemu.


Ketika Agatha sampai di sana, hanya ada dua orang


pria yang tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Hanya ada Immanuel dan


Zean. Memangnya apa lagi yang mereka lakukan jika bukan merokok. Agatha tidak


yang tidak suka mencium bau asap rokok, lantas mencari tempat duduk yang


sedikit berjarak dengan keduanya. Senakal-nakalnya gadis itu dulu, ia tidak


pernah merokok sama sekali.


“Kau mau mencobanya?” tawar Immanuel.


“Tidak, kau saja!” balas gadis itu.


Jelas ia menolaknya secara mentah-mentah. Sejak awal


ia memang tidak suka mencium bau asap rokok. Bahkan ayahnya saja tidak merokok.


Pria itu cukup peduli dengan kesehatannya. Karena tak terbiasa terpapar oleh


asap rokok, ia jadi tak menyukai benda itu secara berlebihan.


“Apa kau tidak merokok?” tanya pria itu untuk memastikan


sekali lagi.


Agatha mengangguk tanpa ragu untuk membalas


perkataan pria itu. Ya, dia tidak salah menduga. Agatha memang bukan seorang


gadis yang merokok. Jika terpaksa pun, ia tidak akan mau melakukannya.


“Bagaimana bisa seorang berandalan sepertimu tidak


merokok?” tanya Zean yang mulai ikut menimbrung pada obrolan mereka.


“Setiap berandalan memiliki gayanya masing-masing.


Dam merokok sama sekali bukan gayaku,” jawab Agatha dengan percaya diri.


Sebenarnya Agatha tidak


suka jika dirinya dianggap sebagai berandalan oleh orang lain. Dia tidak suka


dengan sebutan yang satu itu. Seperti tidak ada julukan lain saja. Tapi Agatha


tidak mungkin memprotesnya. Di posisinya yang sekarang ini, ia pantas untuk


mendapatkan julukan tersebut.