
Tidak ada pilihan lain selain mengalih tugaskan sesi interogasi kali ini kepada orang lain. Arjuna akan memikirkannya lagi nanti. Jika tidak ada orang lain yang bisa diajak bekerja sama untuk membantu kasus ini, maka ia tidak akan segan-segan untuk langsung turun tangan.
"Kita lanjutkan besok saja," ujar pria itu.
"Sepuluh menit lagi sudah waktunya pulang. Jadi pergi dan bersiaplah!" titahnya kemudian.
Jika dilihat dari caranya berbicara, tampaknya pria itu sama sekali tidak menerima bantahan. Atau bahkan penolakan dalam bentuk apa pun. Arjuna bukan tipikal orang yang suka jika perintahnya dibantah.
"Baiklah, kalau begitu aku izin lebih dulu!" pamit Agatha yang kemudian hanya mendapatkan anggukan dari pria itu.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera beranjak dari tempat duduknya. Lagipula sudah tidak ada alasan lagi untuk tetap berlama-lama di sini. Awalnya Agatha berniat untuk kembali ke meja kerjanya dan membereskan tempat tersebut sebelum pulang. Besok ia pasti tak akan semangat untuk bekerja jika berantakan. Namun tanpa diduga-duga sama sekali, Arjuna berusaha untuk mencegahnya. Sepertinya urusan mereka berdua belum benar-benar selesai.
"Tunggu aku di parkiran nanti!" celetuknya secara tiba-tiba.
Sontak gadis itu langsung menghentikan langkahnya di saat yang bersamaan. Alih-alih berbalik, ia bahkan tidak menoleh sama sekali.
"Apa kau tahu jika orang-orang di kantor ini sebagian besar mengira jika kita lebih dari rekan kerja?"
Sebuah pertanyaan tak terduga berhasil meluncur keluar dari mulut Agatha. Ditujukan kepada Arjuna, yang merupakan lawan bicaranya saat itu. Sekaligus satu-satunya orang yang sedang berada di ruangan ini selain dirinya.
"Lalu, kenapa memangnya?" tanya pria itu balik.
"Bukankah hubungan kita memang cukup dekat?" timpalnya dengan pertanyaan lain.
" Bersikaplah profesional," ucap gadis itu secara gamblang.
"Kita hanya sebatas rekan kerja!" tegasnya sekali lagi.
"Tidak lebih," final Agatha.
Sebenarnya apa yang baru saja dikatakan oleh gadis ini tidak ada salahnya. Namun, juga tidak bisa dianggap benar sepenuhnya. Mungkin merekanadalah rekan kerja selama berada di lingkungan kantor. Namun, di luar dari itu mereka bisa menjadi apa saja. Tergantung dengan bagaimana kedua insan ini menyikapinya.
Merasa muak berlama-lama di tempat ini, tanpa basa-basi sama sekali. Terserah jika Arjuna menganggap kalau sikapnya terkesan lancang dan kurang sopan. Sedekat apa pun hubungan mereka, Agatha tetap harus menjaga sikap. Karena bagaimanapun juga pria itu merupakan seniornya di kantor, sekaligus pemegang jabatan yang jauh lebih tinggi di atasnya. Sudah sepantasnya memang bagi Agatha untuk menaruh rasa hormat kepadanya.
'BAM!'
Gadis itu bahkan menutu pintu dengan kasar setelah pergi tanpa berpamitan. Sehingga menciptakan suara debaman yang cukup keras. Mungkin seisi kantor bisa mendengarnya. Kantor jadi hening ketika semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan pria itu untuk mencegah Agatha bersikap demikian. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pria itu sungguh tidak habis pikir.
"Dasar anak muda zaman sekarang," gumamnya sambil berdecak pelan.
Agatha tidak akan tahu jika dirinya diam-diam tengah dibicarakan oleh seseorang. Dan ia juga tidak akan pernah peduli.