
Tidak peduli seberapa keras ia berpikir. Tetap saja
sejak tadi Aaron masih belum menemui titik terang. Pria itu menyerah. Padahal sebelumnya
ia berusaha untuk menebak.
“Tidka usah banyak bicara lagi!” peringati Aaron.
“Langsung katakan saja ke intinya,” tegasnya sekali
lagi.
Mendengar ucapan tersebut alih-alih segera membalas
perkataan Aaron, ia malah menghela napasnya dengan kasar. Sepertinya Mico masih
sulit untuk memutuskan. Ini bukan pertimbangan yang mudah baginya.
“Pertama-tama, perlu kuperingatkan jika kau tidak
boleh marah. Sebab hal yang akan kukatakan ini lumayan bersikap sensitif,”
beber pria itu di awal. Ia memang sengaja mengatakannya lebih awal, sebelum
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“Ini ada hubungannya dengan ayahmu dan juga gadis
itu,” timpalnya kemudian.
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau
katakan,” ujar Aaron.
“Sudah berapa lama ayahmu berselingkuh sebelum kedua
orang tuamu saling bercerai?” tanya Mico.
“Maaf kalau lancang. Tapi, aku harus menanyakan yang
satu ini,” akunya.
“Mungkin sekitar lima atau enam tahun,” ungkap
Aaron.
“Entahlah! Aku juga tidak terlalu ingat. Lagipula bukan
urusanku sama sekali,” timpalnya acuh tak acuh.
Sepertinya pria itu sungguh tidak peduli lagi
sedikit pun tentang ayahnya. Buktinya semenjak ia dan ibunya pergi meninggalkan
rumah pria itu, mereka tidak pernah saling bertemu sama sekali. Jangankan bertemu,
menjalin komunikasi saja tidak. Semuanya sungguh berubah drastis sejak hari
dimana keputusan pengadilan tersebut ditetapkan.
Rasa bencinya terhadap pria itu tidak pernah
berkurang sedikit pun. alih-alih berkuran dan hilang, semakin hari dendamnya
semakin memuncak. Ingin rasanya ia membalaskan dendamnya.
adalah jika pria itu dan keluarga kecilnya pergi ke luar negeri. Mereka secara
resmi menikah dan memulai kehidupan baru di sana. Itu sudah sangat lama sekali.
Entah apa kabarnya sekarang. Mungkin ia dan keluarga kecilnya masih hidup
dengan harmonis. Atau malah sebaliknya. Tidak ada yang tidak mungkin, mengingat
semesta bisa berbuat apa saja. Waktu bisa mengubah apa saja.
“Ku dengar terakhir kali mereka pergi ke luar negeri
dan menjual rumah yang sempat kami tempati bersama,” ungkap pria itu secara
terang-terangan.
Tidak ada yang perlu dicemaskan. Lagipula Mico
merupakan teman dekatnya. Sejak dulu ia sudah mempercayakan berbagai rahasia
serta sisi gelap tentang kehidupannya kepada pria itu. Aaron sudah banyak
bercerita ke Mico. Begitu pula sebaliknya.
“Aku baru saja mendapatkan informasi akun sosial
media pribadi Agatha,” ujar Mico secara gamblang.
“Apa kau tahu kalau ternyata dirimua memiliki
saudara lainnya?” tanya pria itu.
“Saudara kandung maksudmu?” tanya Aaron balik yang
kemudian diangguki oleh Mico.
“Hahaha! Mana mungkin!” balas pria itu.
“Kau tahu jika aku adalah anak satu-satunya di
keluargaku saat ini,” beber Aaron.
“Setelah kepergian adikku,” gumamnya lemah.
Jika dipikir-pikir, sepertinya ia sudah cukup tahan
banting. Semesta menyuguhkan kehidupan yang tidak pernah membuatnya merasa
baik-baik saja sejak dulu. Bahkan keluarga yang menjadi tempatnya pulang, kini
tak lagi ada. Ia kehilangan arah. Tidak ada siapa-siapa yang bisa dijadikan
sebagai tiang tempatnya berdiri.
Terkadang Aaron merasa
iri dengan mereka yang bisa memiliki hubungan baik dengan keluarganya. Andai saja
perselingkuhan itu tidak terjadi, maka bencana sebesar ini mungkin juga tidak
akan pernah terjadi. Keluarganya pasti masih baik-baik saja sampai sekarang.