
Sepertinya hari ini
Dokter Viona tidak ada jdwal untuk pergi ke rumah sakit sama sekali. Lagi pula
sekarang sudah cukup malam. Pasti ia sudah pulang bekerja sejak tadi siang.
Sehingga bisa menghabiskan banyak waktu di rumah seperti ini.
“Sudah!” celeutk wanita
itu.
Agatha langsung
membenarkan posisi duduknya. Lalu merapihkan tatanan rambutnya.
“Ini!” ujar Dokter
Viona sambi lmenyodorkan sesuatu.
“Apa ini?” tanya Agatha
penasaran.
“Salep untuk luka
memar. Jangan lupa dipakai rutin sebanyak tiga kali dalam satu hari,” jelasnya
dengan singkat.
“Dan bersihkan dulu
kulitnya sebelum diberikan salep,” peringati wanita itu sekali lagi.
“Baiklah,” balas
Agatha.
“Berapa yang haus ku
bayar untuk pengobatan kali ini?” tanya gadis itu sambil mengeluarkan
dompetnya.
“Tidak perlu!” cegah Dokter
Viona.
“Kau tidak perlu
membayar apa pun untuk yang satu ini,” ungkapnya kemudian.
Dokter Viona sungguh
melakukan semua ini atas dasar kemanusiaan. Bukan kareha semata-mata untuk
mencari uang. Bahkan sepertinya ia sudah tidak memerlukan hal itu lagi. Jika
dilihat dari tempat tinggalnya saat ini, kelihatannya hidup Dokter Viona sudah
lebih dari cukup. Ia bahkan tidak perlu pusing akan hidup seperti apa besok. Rumah
ini memiliki fasilitas moderan yang sangat lengkap. Pasti cukup untuk
membantunya dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekali lagi terima
kasih banyak karena telah membantuku,” ucap Agatha.
“Aku tidak tahu harus
membalas kebaikanmu dengan cara apa,” lanjutnya.
“Tidak perlu merasa
berhutang budi seperti ini!” larang Dokter Viona.
“Aku malah senang bisa
membantu orang sepertimu,” timpalnya.
“Memangnya kenapa aku
harus perhitungan kepada anakku sendiri?” batinnya di dalam hati.
Wanita itu kemudian
mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding dengan tampilan klasik di salah
satu sisi ruangan. Benda tersebut sudah menunjukkan pukul setengah dua belas
malam.
“Sekarang sudah hampir
tengah malam!” celetuk Dokter Viona.
Agatha yang mendengar
kalimat tersebut, sontak langsung menoleh ke arah jam dinding. Ternyata benar.
Kurang dari tiga puluh menit lagi sudah tengah malam. Ia harus pulang sekarang.
Tidak baik berlama-lama di rumah orang seperti ini.
“Baiklah, kalau begitu
aku pulang lebih dulu,” pamit Agatha lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kuantar?” tawar
wanita tersebut.
“Tidak perlu
repot-repot. Aku bisa naik taksi,” jawab Agatha.
Gadis itu berusaha
untuk menolak tawaran dari Dokter Viona dengan sangat hati-hati. Ia sama sekali
tidak bermaksud untuk melukai perasaan wanita itu, tapi Agatha sudah banyak
merepotkannya sejauh ini. Dan ia tidak mau Dokter Viona jadi lebih repot lagi
sekarang.
“Tapi ini sudah larut
malam!” cegah Dokter Viona.
“Di luar sana terlalu
bahaya. Tidak baik bagi seorang perempuan berkeliaran di luar sendirian pada
waktu seperti ini,” celotehnya dengan panjang lebar.
Saat ini ia tidak jauh
berbeda dengan seorang ibu yang sedang mengomeli anaknya. Agatha bisa merasakan
hal tersebut dengan sangat jelas.
“Kau juga seorang
perempuan. Jadi, tidak baik berada di luar sendirian. Apalagi hanya untuk
mengantarkanku pulang,” jelas gadis itu dengan penuh pengertian.
“Tidak perlu cemas. Aku
tejraid sesuatu yang tidak diinginkan nantinya pada saat perjalanan pulang,”
sambungnya.
“Bagaimana kalau kau
tinggal di sini saja untuk sementara? Untuk malam ini saja paling tidak,”
Dokter Viona malah menawarkan opsi lainnya.
Yang jelas Agatha tidak
akan memilih salah satu dari keduanya. Entah kenapa Dokter Viona selalu saja
membuat pilihan yang menyulitkan bagi dirinya sendiri. Tidakkah ia menyadari
hal tersebut.
“Tidak mungkin aku
menginap di sini,” ungkap Agatha.
“Kenapa tidak?” tanya
wanita itu.
“Anggota keluargamu
yang lain pasti akan merasa terganggu dengan kehadiran orang asing sepertiku di
rumahmu,” ujar Agatha.
“Tenang saja. Aku tidak
perlu izin siapa pun untuk mengajak orang asing ke rumah ini. Tidak ada anggota
keluarga. Aku tinggal sendirian di sini. Tidak sendirian juga. Bersama beberapa
asisten rumah tangga dan pekerja lainnya. Tapi mereka berada di kamar yang
berbeda. Ku rasa mereka tidak akan masalah jika aku mengajakmu untuk menginap
di sini malam ini,” jelas Dokter Viona dengan panjang lebar.
Tunggu dulu! Jadi dia
benar-benar tinggal sendirian di sini. Pantas saja tidak ada foto keluarga atau
keramaian. Atau bahkan hal lainnya yang menunjukkan kalau ia memiliki kerabat
satu darah yang tinggal bersamanya di sini.
“Aku tahu ini lancang.
Tapi, kalau boleh tahu memangnya dimana anggota keluargamu?” tanya Agatha
dengan ragu.
Ia sama sekali tidak
tahu apakah pertanyaan seperti ini diperbolehkan di sini atau tidak. Agatha
tahu kalau ia salah. Tapi, di sisi lain ia juga merasa penasaran.
“Kami sudah berpisah,”
beber wanita itu secara terang-terangan.
“Suamiku mencampakkan
aku saat jatuh sakit beberapa waktu lalu. Dia memalsukan kematianku. Lalu, anak
perempuanku yang satu-satunya pergi dari rumah tepat setelah keluarga kami
hancur. Semua orang memutuskan untuk menjalani kehidupannya masing-masing
setelah hari buruk itu,” ungkapnya.
Agatha terbungkam. Ia
tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sama sekali tidak terduga. Ternyata
harta tidak selamanya menjamin kebahagiaan. Seperti Dokter Viona salah satunya.
Bukan hanya wanita itu saja, sepertinya Narendra juga merasakan hal yang sama.
Ia tidak pernah benar-benar bahagia dengan semua harta dan kehidupannya yang
sekarang.
“Maafkan aku!” ucap
Agatha.
Seketika ia merasa
bersalah karena telah membuka luka masa lalu itu secara tidak sengaja. Tapi,
Agatha sunggu tidak bermaksud untuk membuat Dokter Viona kembali mengingat hal
buruk tersebut. Kalau ia tahu sejak awal akan begini jadinya, Agatha pasti
tidak akan memutuskan bertanya.
“Tidak masalah, lagi
pula itu sudah berlalu,” ucap wanita itu.
Meski sang pemilik
kisah tidak merasa keberatan sama sekali, tapi tetap saja Agatha sudah
kelewatan batas. Setelah ini ia pasti akan mendapatkan pertanyaan apakah ibunya
pernah mengajarinya tentang sopan santun atau tidak.
Tapi, setelah
dipikir-pikir lagi, sepertinya mereka memiliki kisah hidup yang sama. Mulai
dari awal mula kenapa Narendra bisa meninggalkan istrinya begitu saja, hingga
sampai posisi mereka sekarang. Sejak kematian ibunya, Agatha dan Narendra
memilih untuk hidup masing-masing. Mereka akan menjalani hidupnya sendiri tanpa
perlu saling mempedulikan satu sama lain.
Hanya ada satu yang
berbeda. Yaitu, soal kematian ibunya. Jika Dokter Viona bilang kalau suaminya
memalsukan kematiannya dengan sengaja, maka Agatha tidak pernah tahu bagaimana
kisah terakhir ibunya sekarang. Wanita itu menghembuskan napas terakhirnya pada
saat pesawat yang ia tumpangi terpaksa harus mengalami kecelakaan. Padahal
waktu itu ia akan melakukan pengobatan ke Kota Penang.
Jasadnya
berhasil ditemukan beberapa hari setelahnya. Namun, dalam kondisi yang sudah
tidak berbentuk. Sehingga Agatha tidak bisa melihat jasad ibunya untuk yang
terakhir kalinya. Tapi, menurut hasil tes DNA, memang benar jika itu adalah
ibunya.