
“Jadi apa rencanamu?”
tanya Agatha sambil meneguk minumannya.
“Kita akan menyesuaikan
dengan situasinya. Sesuai dengan yang kau katakan tadi,” jawab Arjuna.
Saat ini keduanya
sedang berada di salah satu café. Mereka memang sengaja memutuskan untuk
bertemu secara langsung. Pasalnya ada hal penting yang perlu dibahas. Rencana
utama penyerangan. Jika semuanya berjalan dengan lancar, maka misinya selesai.
Agatha bisa kembali ke kehidupan normalnya seperti dulu lagi.
“Nanti malam mereka
akan melakukan pencurian ke museum. Orang-orang itu mengincar lukisan yang baru
saja datang dari London kemarin,” beber Agatha secara terang-terangan.
Jadi, nanti malam
Agatha dan rekan-rekan satu timnya yang lain akan melakukan diskusi singkat
sebelum pergi ke sana. Ya, kalian benar. Gadis itu akan terlibat langsung dalam
aksi pencurian tersebut, tapi namanya sama sekali tidak terdaftar dalam daftar
orang-orang yang menjadi incaran polisi. Posisinya begitu istimewa. Agatha bisa
berada di kedua pihak yang saling berselisih pada saat bersamaan tanpa takut
terlibat masalah.
“Apa duplikat kartu
aksesku sudah selesai dibuat?” tanya Agatha.
“Ya, baru saja selesai
tadi,” jawab pria itu dengan apa adanya.
“Baguslah kalau
begitu,” kata Agatha sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Satu-satunya jalan
untuk menuju markas adalah lift khusus. Tidak ada cara lain ternyata setelah
diselidiki. Untuk menggunakan lift tersebut, mereka harus memiliki kartu akses.
Tenang saja, Agatha akan meminjamkan karu miliknya secara suka rela demi
keberhasilan misi ini.
Jika di awal mereka
hanya bekerja berdua saja dalam satu tim. Namun, sekarang Arjuna sudah
mengumpulkan anggota lainnya. Mereka akan menghimpun kekuatan. Orang-orang
bilang, mereka akan semakin kuat jika bersama-sama dan akan jadi semakin lemah
jika sendirian.
Arjuna dan anggota lain
yang ia pilih sudah membuat rencana cadangan sebelumnya. Semua hal sudah
dirancang dengan sedemikian rupa. Sehingga kecil kemungkinan untuk gagal.
Mereka hanya bisa berharap yang terbaik saja. Meski kemungkinan untuk gagal
sangat sedikit, bukan berarti tidak mungkin sama sekali bukan. Masih ada celah
bagi kegagalan.
“Nanti rapatnya akan
selesai pada pukul sepuluh malam,” ujar gadis itu.
“Seharusnya tidak ada
orang lagi di markas, karena kami akan berangkat dalam jumlah besar. Tapi, kalian
tetap harus mengamankan markas utama,” jelasnya kemudian.
“Apa kau sungguh yakin
kalau semua orang akan pergi ke museum?” tanya Arjuna untuk memastikan sekali
lagi.
“Ya, aku mendengarnya
langsung. Kau juga mendengar hal yang sama, bukan?” tanya Agatha balik yang
kemudian ikut diangguki oleh pria itu.
“Tapi sebelum masuk ke
dalam gedung, kalian perlu mengamankan petugas keamanan yang berjaga di dekat
pintu keluar. Dia bersekongkol dengan Hiraeth. Lebih tepatnya kurasa ia adalah
anak buah pria itu,” jelas Agatha dengan panjang lebar.
“Kalau begitu apakah
tidak sebaiknya kau pergi sekarang ke markas?” tanya Arjuna sambil melihat jam
tangannya.
Sekarang sudah pukul
delapan. Sudah sekitar satu jam mereka berada di sini. Sepertinya waktu
tersebut sudah lebih dari cukup untuk membicarakan semuanya.
“Aku masih punya sisa
waktu sekitar satu setengah jam lagi. Jadi, tidak perlu terburu-buru,” kata
Agatha.
“Baiklah kalau beigtu,”
balas Arjuna.
“Lantas, apa kau tidak
perlu kembali ke kantor untuk menyiapkan segala sesuatunya?” tanya Agatha
balik.
sudah berinisiatif untuk melakukannya sendiri tanpaku,” jawab Arjuna.
“Tapi tetap saja kau
harus mengawasinya. Itu adalah tugas seorang pemimpin,” balas gadis itu.
Di sisi lain Arjuna
tampaknya sama sekali tidak berminat untuk membalas ucapan lawan bicaraanya. Ia
malah mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Memandangi kendaraan yang lalu
lalang di luar sana.
“Ini petanya,” ucap
gadis itu sambil menyodorkan selembar kertas.
“Tim kami akan tersebar
di titik-titik yang sudah aku tandai ini. Sementara aku akan berada di taman
bermain yang berada tepat di halaman depan,” jelas Agatha.
Salah satu jari
telunjuknya sibuk mengarahkan pandangan pria itu. Ia menjelaskan setiap detail
titik yang menjadi tempat berdiam mereka nantinya.
“Apa yang kau lakukan
di taman bermain? Apa tidak ikut ke dalam?” tanya Arjuna sambil mengerutkan
dahinya karena tak mengerti.
“Sepertinya kau lupa
kalau mereka selalu menunjukku sebagai sniper,” ucap gadis itu secara gamblang.
Arjuna mengangguk paham
dengan penjelasan gadis tersebut.
“Apa kau sehebat itu
sampai mereka menunjukmu sebagai sniper?”
“Jadi kau meremehkanku
ya? Apa perlu kubuktikan nanti kepada salah satu dari kalian?”
“Tidak, aku percaya
kalau kau bisa melakukannya. Tapi, tetap saja aku yang lebih hebat.
“Terserahmu saja.”
“Omong-omong siapa saja
yang akan ikut berjaga di luar bersamamu nanti?”
“Hanya aku dan Alexa.
Sementara itu untuk misi kali ini Immanuel tidak akan menjadi sniper.”
“Baiklah kalau begitu,
aku paham. Kau bisa membereskan gadis yang bernama Alexa itu, kan?”
“Tenang saja, tidak
perlu khawatir. Serahkan saja semuanya kepadaku.”
Sejauh ini rencana
mereka semakin tampak sempurna. Malam ini adalam malam kemenangan bagi semua
orang. Termasuk Agatha. Dia sudah tidak sabar untuk merebut kebebasannya kembali.
Setelah selama ini ia terpaksa terus berpura-pura. Hidup dalam kebohongan demu
kelangsungan hidup. Misi yang memberatkan baginya. Tapi, hari ini semua itu
akan segera berakhir.
***
Beruntung tidak ada
salah satu anak buah atau bahkan anggota yang menguntitnya saat bertemu dengan
Arjuna tadi. Kalau sampai ada, bisa kacau semua rencana mereka. Hari ini semua
orang sedang begitu sibuk. Mempersiapkan diri untuk rencana malam nanti.
Sepertinya hanya Agatha lah satu-satunya orang yang bersikap santai di sini.
Semua orang sudah
berkumpul di ruangan rapat. Mereka hanya tinggal menunggu Hiraeth. Katanya
sebentar lagi ia akan segera sampai. Kita lihat saja apakah nanti pria itu akan
terlambat atau tidak. Bisakah Hiraeth memegang perkataannya sendiri?
Secara tak sengaja
Agatha dan Immanuel saling beradu pandang. Medua netra mereka bertemu secara
tidak sengaja. Kemudian tanpa basa-basi sama sekali, gadis itu langsung
mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan. Sejak Immanuel ketahuan menguntit
gadis itu secara diam-diam di mall, hubungan mereka jadi semakin tidak baik-baik
saja. Bahkan sebelum itu saja mereka sudah tidak saling bicara lagi satu sama
lain.
‘CEKLEK!’
Suara tersebut berhasil
mengalihkan perhatiannya. Hiraeth baru saja sampai. Spontan semua orang berdiri
untuk memberi hormat. Tepat setelah pria itu duduk, barulah mereka ikut duduk
juga.
“Apa semuanya sudah
berada di sini?” tanya Hiraeth.
“Sudah
tuan!” jawab semua orang secara serentak.