The Riot

The Riot
Manipulative



Mereka masih tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Aneh saja rasanya ketika ada orang asing yang tidak dikenal tiba-tiba


mengatakan ingin bergabung. Masalahnya, ini bukan perkumpulan seperti


kebanyakan orang di luar sana. Melainkan perkumpulan yang berbasis kriminal dan


juga tergolong illegal. Tidak sembarang orang bisa berada di dalamnya. Hanya


mereka yang melawan arus tatanan hukum di negara. Menantang setiap peraturan


yang dan perbuatannya tidak bisa ditoleransi lagi.


Yang jelas mereka adalah para penjahat. Pelaku


kriminal yang kerap meresahkan masyarakat di sekitarnya. Si pembuat onar yang


sudah melewati batas. Melanggar segala aturan negara.


“Seorang gadis sepertimu ingin menjadi salah satu


dari kami?”  tanya si pria berjaket untuk


memastikan sekali lagi.


Terkadang beberapa orang suka mengalami halusinasi


atau tidak fokus. Terutama pada siang hari seperti ini. Tepat ketika mereka


berada dalam fase yang melelahkan. Sehingga tubuhnya tidka bisa bekerja dengan


optimal.


“Apa kalian masih tidak percaya?” tanya Agatha


balik.


Orang-orang di depannya hanya menggeleng pelan


sambil menahan tawa. Tampak seperti sedang meledek gadis itu. Tapi, tak apa.


Agatha sedang tidak ingin mempermasalahkan hal itu sekarang. Lagipula mereka


sudah meledek Agatha sejak pertama kali ia datang kemari.


Gadis itu menghela napasnya dengan pasrah. Alih-alih


takut, ia malah merasa hampir putus asa. Tidak tahu mau melakukan apa lagi


untuk meyakinkan orang-orang di hadapannya ini. Mereka sungguh keras kepala. Tapi,


satu sisi baiknya adalah mereka tidak mudah percaya. Setiap manusia setidaknya


harus memiliki sikap yang satu itu agar tidak mudah tertipu. Pasalnya, memang


tidak ada satu pun manusia yang dapat dipercaya sepenuhnya.


Kesabarannya sungguh diuji di sini. Jika bukan


karena dalih melaksanakan misi, mungkin ia sudah pergi saja dari tempat ini.


Kalau bisa sekaligus memberikan pelajaran kepada orang-orang menyebalkan yang


barusaja ia temui. Agatha sungguh ingin melampiaskan emosinya. Tapi tidak


sekarang.


“Siapa namamu?” tanya si pria berkaos putih.


“Haruskan aku memberi tahu yang satu itu? Padahal


aku belum resmi bergabung dengan kalian,” kata Agatha.


“Kalau kau mengatakannya, maka itu berarti kau sudah


menjadi salah satu bagian dari tim kami,” jelas pria itu setelahnya.


Agatha tampak tak begitu yakin dengan penawaran


tersebut. Sejak awal mereka  terus


meremehkan gadis ini. Dan sekarang, hanya dengan menyebutkan namanya saja ia


sudah bisa tergabung di dalam kelompok mereka. Masalahnya bukan soal nama.


Tapi, tentang prinsip orang-orang itu yang tidak stabil. Mereka terus


berubah-ubah. Tak tentu.


“Apa kalian bersungguh-sungguh?” tanya gadis itu


sekali lagi untuk memastikan.


“Tentu saja!” balas si pria berjaket dengan yakin.


Tapi, tetap saja. Jawaban dari mereka masih terasa


kurang meyakinkan bagi Agatha. Entah ini benar atau hanya sekedar ingin


mengecoh. Tidak ada yang tahu.


“Sepertinya kalian cukup manipulatif. Tapi, aku bisa


melakukannya lebih dari itu,” batin Agatha di dalam hati.


Sebelum pergi kemari, mereka sudah merencanakan


semuanya dengan sedemikian rupa. Ada banyak hal yang dipersiapkan. Bahkan sampai


hal paling kecil dan tidak penting sekali pun. Hal tersebut memang sengaja


dilakukan, guna untuk mengurangi kecurigaan mereka.


Termasuk soal identitas. Arjuna sudah menyiapkan


identitas rahasia untuk gadis ini. Persiapan mereka sudah cukup bagus, sehingga


kemungkinan untuk gagal sangat kecil. Bahkan nyaris tidak ada sama sekali.


“Jadi, siapa namamu?” tanya si pria berjaket.


“Rienna,” jawab gadis itu.


“Rienna Zoe,” sambungnya.


“Nama yang bagus,” puji si pria berkaos putih yang


Jelas saja bagus. Itu adalah nama yang dipilihkan


oleh Arjuna. Entah darimana asal-usul serta filosofi nama tersebut. Tapi, yang


jelas Agatha juga mengakui hal tersebut. Mulai hari ini, beberapa orang akan


memanggilnya dengan sebutan Rienna. Sementara sisanya tetap mengenalnya sebagai


Agatha yang biasa mereka temui di kantor atau bahkan tempat lainnya.


Omong-omong, berhubung karena ini adalah misi


rahasia, jadi tidak semua orang tahu. Hanya Arjuna, pimpinan pusat dan Agatha.


Teman satu tim mereka yang biasanya bekerja sama saja bahkan tidak tahu


apa-apa. Yang mereka tahu hanyalah jika gadis itu mengambil cuti selama


beberapa pekan untuk menjalani perawatan.


Arjuna memberi tahu rekan-rekan di kantornya jika


Agatha sedang mengalami cedera dibagian pergelangan kakinya. Sehingga tidak


bisa banyak bergerak lebih dulu. Itu sebabnya Agatha mengambil cuti. Sekaligus


untuk menjalani terapi.


Alasan yang diberikan pria itu cukup masuk akal.


Ternyata Arjuna tidak buruk-buruk amat dalam mengarang. Dia bisa melakukannya


dengan mudah. Sepertinya ada begitu banyak ide yang tersimpan di dalam


kepalanya saat ini.


***


“Jadi, bagaimana kronologinya Agatha bisa sampai mengalami


kecelakaan tunggal?” tanya Robi sambil melahap makan siangnya.


“Entahlah, aku juga tidak tahu bagaimana pastinya,”


kata Arjuna.


“Aku sedang tak berada di tempat kejadian saat itu.


Agatha hanya mengirimiku foto dan mengatakan kalau ia mengalami kecelakaan.


Jadi, Agatha memutuskan untuk mengambil cuti selama beberapa pekan. Setidaknya


sampai kondisinya kembali membaik,” jelas pria itu dengan panjang lebar.


Orang-orang yang mendengarkan pemaparan tersebut,


lantas hanya mengangguk paham. Mereka sedang berkumpul di kantin. Sekarang


adalah waktunya pergantian shift. Para pria itu baru saja selesai bekerja. Tapi


tak langsung kembali ke rumahnya, melainkan malah bersantai lebih dulu di sudut


kantin. Mereka bahkan memesan beberapa menu makanan serta cemilan untuk


menemani acara mengobrol sore itu.


“Kuharap ia segera sembuh,” ujar Thomas.


“Apa Agatha terluka parah?” tanya Jeff cemas.


“Tidak. Tulang kakinya hanya retak,” jawab Arjuna.


“Kau bilang itu tidak parah?!” seru Jeff tak habis


pikir.


“Selama tulangnya masih utuh dan tidak patah, itu


tidak termasuk kepada kategori parah,” ujar pria itu secara gamblang.


“Lagipula kenapa kau jadi begitu mengkhawatirkan Agatha?


Apa jangan-jangan kau menyukainya?” tebak Arjuna setelahnya.


“Jangan mengada-ada hal yang konyol!” tepis pria itu


dengan segera.


Ia tidak ingin sampai terjadi kesalahpahaman di


antara mereka semua.


“Apakah mencemaskan teman sendiri bukanlah sesuatu


yang wajar?” tanya Jeff sambil menggerutu.


“Lagipula memangnya sejak kapan aku menyukainya?”


sambung pria itu.


Jeff masih tidak habis pikir. Darimana Arjuna bisa


menyimpulkan hal seperti itu. Atau jangan-jangan gosipnya sudah menyebar. Tapi tidak


mungkin. Memangnya siapa yang mau menyebarkan gosip tidak masuk akal seperti


itu. Sungguh kurang kerjaan.


“Bagaimana kalau kita menjenguk Agatha saja untuk


memastikan keadaannya?” usul Robi.


“Kau tahu jika gadis itu tidak suka jika kita


berkunjung kerumahnya,” balas Arjuna.


“Benar juga,” timpal Jeff.


“Lalu bagaimana?”  tanya Thomas.


“Kita tunggu saja


sampai dia kembali lagi ke kantor. Setelah itu kalian bisa menginterogasinya


dengan sesuka hati. Tidak ada yang melarang,” jelas Arjuna dengan panjang lebar.