
Mereka masih tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Aneh saja rasanya ketika ada orang asing yang tidak dikenal tiba-tiba
mengatakan ingin bergabung. Masalahnya, ini bukan perkumpulan seperti
kebanyakan orang di luar sana. Melainkan perkumpulan yang berbasis kriminal dan
juga tergolong illegal. Tidak sembarang orang bisa berada di dalamnya. Hanya
mereka yang melawan arus tatanan hukum di negara. Menantang setiap peraturan
yang dan perbuatannya tidak bisa ditoleransi lagi.
Yang jelas mereka adalah para penjahat. Pelaku
kriminal yang kerap meresahkan masyarakat di sekitarnya. Si pembuat onar yang
sudah melewati batas. Melanggar segala aturan negara.
“Seorang gadis sepertimu ingin menjadi salah satu
dari kami?” tanya si pria berjaket untuk
memastikan sekali lagi.
Terkadang beberapa orang suka mengalami halusinasi
atau tidak fokus. Terutama pada siang hari seperti ini. Tepat ketika mereka
berada dalam fase yang melelahkan. Sehingga tubuhnya tidka bisa bekerja dengan
optimal.
“Apa kalian masih tidak percaya?” tanya Agatha
balik.
Orang-orang di depannya hanya menggeleng pelan
sambil menahan tawa. Tampak seperti sedang meledek gadis itu. Tapi, tak apa.
Agatha sedang tidak ingin mempermasalahkan hal itu sekarang. Lagipula mereka
sudah meledek Agatha sejak pertama kali ia datang kemari.
Gadis itu menghela napasnya dengan pasrah. Alih-alih
takut, ia malah merasa hampir putus asa. Tidak tahu mau melakukan apa lagi
untuk meyakinkan orang-orang di hadapannya ini. Mereka sungguh keras kepala. Tapi,
satu sisi baiknya adalah mereka tidak mudah percaya. Setiap manusia setidaknya
harus memiliki sikap yang satu itu agar tidak mudah tertipu. Pasalnya, memang
tidak ada satu pun manusia yang dapat dipercaya sepenuhnya.
Kesabarannya sungguh diuji di sini. Jika bukan
karena dalih melaksanakan misi, mungkin ia sudah pergi saja dari tempat ini.
Kalau bisa sekaligus memberikan pelajaran kepada orang-orang menyebalkan yang
barusaja ia temui. Agatha sungguh ingin melampiaskan emosinya. Tapi tidak
sekarang.
“Siapa namamu?” tanya si pria berkaos putih.
“Haruskan aku memberi tahu yang satu itu? Padahal
aku belum resmi bergabung dengan kalian,” kata Agatha.
“Kalau kau mengatakannya, maka itu berarti kau sudah
menjadi salah satu bagian dari tim kami,” jelas pria itu setelahnya.
Agatha tampak tak begitu yakin dengan penawaran
tersebut. Sejak awal mereka terus
meremehkan gadis ini. Dan sekarang, hanya dengan menyebutkan namanya saja ia
sudah bisa tergabung di dalam kelompok mereka. Masalahnya bukan soal nama.
Tapi, tentang prinsip orang-orang itu yang tidak stabil. Mereka terus
berubah-ubah. Tak tentu.
“Apa kalian bersungguh-sungguh?” tanya gadis itu
sekali lagi untuk memastikan.
“Tentu saja!” balas si pria berjaket dengan yakin.
Tapi, tetap saja. Jawaban dari mereka masih terasa
kurang meyakinkan bagi Agatha. Entah ini benar atau hanya sekedar ingin
mengecoh. Tidak ada yang tahu.
“Sepertinya kalian cukup manipulatif. Tapi, aku bisa
melakukannya lebih dari itu,” batin Agatha di dalam hati.
Sebelum pergi kemari, mereka sudah merencanakan
semuanya dengan sedemikian rupa. Ada banyak hal yang dipersiapkan. Bahkan sampai
hal paling kecil dan tidak penting sekali pun. Hal tersebut memang sengaja
dilakukan, guna untuk mengurangi kecurigaan mereka.
Termasuk soal identitas. Arjuna sudah menyiapkan
identitas rahasia untuk gadis ini. Persiapan mereka sudah cukup bagus, sehingga
kemungkinan untuk gagal sangat kecil. Bahkan nyaris tidak ada sama sekali.
“Jadi, siapa namamu?” tanya si pria berjaket.
“Rienna,” jawab gadis itu.
“Rienna Zoe,” sambungnya.
“Nama yang bagus,” puji si pria berkaos putih yang
Jelas saja bagus. Itu adalah nama yang dipilihkan
oleh Arjuna. Entah darimana asal-usul serta filosofi nama tersebut. Tapi, yang
jelas Agatha juga mengakui hal tersebut. Mulai hari ini, beberapa orang akan
memanggilnya dengan sebutan Rienna. Sementara sisanya tetap mengenalnya sebagai
Agatha yang biasa mereka temui di kantor atau bahkan tempat lainnya.
Omong-omong, berhubung karena ini adalah misi
rahasia, jadi tidak semua orang tahu. Hanya Arjuna, pimpinan pusat dan Agatha.
Teman satu tim mereka yang biasanya bekerja sama saja bahkan tidak tahu
apa-apa. Yang mereka tahu hanyalah jika gadis itu mengambil cuti selama
beberapa pekan untuk menjalani perawatan.
Arjuna memberi tahu rekan-rekan di kantornya jika
Agatha sedang mengalami cedera dibagian pergelangan kakinya. Sehingga tidak
bisa banyak bergerak lebih dulu. Itu sebabnya Agatha mengambil cuti. Sekaligus
untuk menjalani terapi.
Alasan yang diberikan pria itu cukup masuk akal.
Ternyata Arjuna tidak buruk-buruk amat dalam mengarang. Dia bisa melakukannya
dengan mudah. Sepertinya ada begitu banyak ide yang tersimpan di dalam
kepalanya saat ini.
***
“Jadi, bagaimana kronologinya Agatha bisa sampai mengalami
kecelakaan tunggal?” tanya Robi sambil melahap makan siangnya.
“Entahlah, aku juga tidak tahu bagaimana pastinya,”
kata Arjuna.
“Aku sedang tak berada di tempat kejadian saat itu.
Agatha hanya mengirimiku foto dan mengatakan kalau ia mengalami kecelakaan.
Jadi, Agatha memutuskan untuk mengambil cuti selama beberapa pekan. Setidaknya
sampai kondisinya kembali membaik,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Orang-orang yang mendengarkan pemaparan tersebut,
lantas hanya mengangguk paham. Mereka sedang berkumpul di kantin. Sekarang
adalah waktunya pergantian shift. Para pria itu baru saja selesai bekerja. Tapi
tak langsung kembali ke rumahnya, melainkan malah bersantai lebih dulu di sudut
kantin. Mereka bahkan memesan beberapa menu makanan serta cemilan untuk
menemani acara mengobrol sore itu.
“Kuharap ia segera sembuh,” ujar Thomas.
“Apa Agatha terluka parah?” tanya Jeff cemas.
“Tidak. Tulang kakinya hanya retak,” jawab Arjuna.
“Kau bilang itu tidak parah?!” seru Jeff tak habis
pikir.
“Selama tulangnya masih utuh dan tidak patah, itu
tidak termasuk kepada kategori parah,” ujar pria itu secara gamblang.
“Lagipula kenapa kau jadi begitu mengkhawatirkan Agatha?
Apa jangan-jangan kau menyukainya?” tebak Arjuna setelahnya.
“Jangan mengada-ada hal yang konyol!” tepis pria itu
dengan segera.
Ia tidak ingin sampai terjadi kesalahpahaman di
antara mereka semua.
“Apakah mencemaskan teman sendiri bukanlah sesuatu
yang wajar?” tanya Jeff sambil menggerutu.
“Lagipula memangnya sejak kapan aku menyukainya?”
sambung pria itu.
Jeff masih tidak habis pikir. Darimana Arjuna bisa
menyimpulkan hal seperti itu. Atau jangan-jangan gosipnya sudah menyebar. Tapi tidak
mungkin. Memangnya siapa yang mau menyebarkan gosip tidak masuk akal seperti
itu. Sungguh kurang kerjaan.
“Bagaimana kalau kita menjenguk Agatha saja untuk
memastikan keadaannya?” usul Robi.
“Kau tahu jika gadis itu tidak suka jika kita
berkunjung kerumahnya,” balas Arjuna.
“Benar juga,” timpal Jeff.
“Lalu bagaimana?” tanya Thomas.
“Kita tunggu saja
sampai dia kembali lagi ke kantor. Setelah itu kalian bisa menginterogasinya
dengan sesuka hati. Tidak ada yang melarang,” jelas Arjuna dengan panjang lebar.