The Riot

The Riot
Failed



Gadis itu mengambil


tempat duduk tepat di samping Agatha. Mereka berdua akan menunggu Arjuna sampai


sadarkan diri. Seharusnya tidak lama lagi. Menurut perkiraan Zura, seharusnya


sebentar lagi. Itu pun kalau tidak ada yang berusaha untuk mengacaukan


rencananya.


“Sial! Bagaimana bisa


ia tetap terjaga?” batinnya dalam hati.


Di sekitar sini sama


sekali tidak ada plastik makanan yang tadi Zura berikan. Sepertinya Agatha


benar sudah memakannya.


“Apa kau sudah makan?”


tanya Zura untuk memastikan.


“Sudah,” jawab gadis


itu singkat.


“Apa kau kira aku


sebodoh itu?” batin Agatha dalam hati.


Diam-diam ternyata


gadis ini sudah tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Zura memang


sahabatnya. Tapi, kembali lagi ke prinsip awalnya. Kita tidak bisa mempercayai


siapa pun lebih dari rasa pecaya ke diri kita sendiri.


Agatha tahu kalau


makanan itu telah dicampur oleh sesuatu yang lain. Tercim dari baunya.


Beruntung gadis itu tidak sempat memakannya dan langsung membuang makanan


tersebut ke tempat sampah. Untuk mengganjal rasa laparnya, Agatha memutuskan


untuk membeli roti di kantin rumah sakit. Setidaknya tidak makan siang dan


makan malam tidak akan membuatnya langsung mati. Agatha masih bisa bertahan


sampai besok pagi.


“Arjuna!” seru Zura


kemudian bangkit dari tempat duduknya.


Perkataan Zura benar.


Pria itu tampaknya sudah mulai siuman. Agatha lantas mengecek jam tangannya.


Sekarang sudah pukul sembilan lebih dua puluh menit. Prediksi Zura soal pria


itu benar.


“Kau tidak apa-apa?”


tanya Zura cemas.


Sementara itu, di sisi


lan sosok yang ditanyai tidak menjawab sama sekali. Arjuna masih berusaha untuk


mengumpulkan kesadarannya.


“Jangan terlalu


antusias begitu, beri dia waktu untuk menarik napas,” sindir Agatha.


“Ah? Baiklah,” balas


Zura.


Sepertinya gadis itu


hampir lupa kalau ada Agatha di sini. Jelas ia pasti merasa curiga dan


bertanya-tanya kenapa bisa dirinya secemas ini. Padahal mereka belum saling


mengenal sebelumnya. Menurut yang Agatha tahu, hubungan mereka hanya sebatas


dokter dan pasien. Tapi sekarang sudut pandanganya soal mereka berdua sudah


berubah. Agatha berasumsi jika keduanya sudah saling mengenal satu sama lain.


Ia berani bertaruh untuk yang satu itu.


“Kau bilang ingin


memeriksa keadaannya bukan?” tanya Agatha untuk memastikan.


“Kurasa sepertinya


sudah bisa dimulai sekarang,” imbuh gadis itu.


Sepertinya Agatha


sedikit banyaknya sudah mulai tahu tentang rencana Zura. Mulai sekarang ia harus


jadi ekstra hati-hati. Selama ini judulnya memang bersahabat. Tapi, ada begitu


banyak persaingan yang terjadi di antara mereka berdua. Tidak seperti sahabat


pada umumnya.


Agatha bergerak sedikit


menjauh. Memberikan ruang kepada gadis itu untuk memeriksa kondisi terkini pria


itu. Tenang saja, menjauh bukan berarti lepas tangan. Agatha masih akan tetap


mengawasinya. Sehingga Zura tidak bisa bertindak dengan lancang. Apalagi sampai


melancarkan aksinya dengan leluasa. Ada batasan-batasan yang tak terlihat di


sini, namun cukup untuk dipahami oleh semua orang.


Setelah selesai


melakukan pemeriksaan, Zura lantas berpamitan pergi. Tentu saja. Dia memang


harus segera pergi. Untuk apa berlama-lama di ruangan pasien jika sudah tidak


ada urusan lagi.


“Apa yang terjadi


denganku? Kenapa bisa sampai berada di rumah sakit seperti ini?” tanya Arjuna.


Ternyata pria itu telah


memutuskan untuk buka suara lebih dulu. Padahal Agatha belum sempat menanyakan


sekali. Tapi, ternyata Agatha malah harus menjawab pertanyaannya lebih dulu. Tidak


masalah. Agatha masih bisa bertanya nanti.


“Entahlah, aku juga


tidak tahu,” jawab gadis itu dengan apa adanya.


Mendengar jawaban


tersebut, Arjuna lantas mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti


dengan apa yang dimaksud oleh gadis itu. Di sisi lain, tampaknya Agatha


menyadari hal tersebut. Setelah menghela napas dengan kasar, ia lantas langsung


menjelaskan kembali kalimat yang sebelumnya secara lebih detail. Agatha hampir


lupa kalau Arjuna tidak bisa terlalu memaksakan dirinya sendiri untuk berpikir


terlalu keras. Ia baru saja sadar.


“Aku tadi hanya


mengikuti ambulans yang membawamu dari belakang, tanpa tahu apa yang terjadi,”


ungkap Agatha.


“Bagaimana kau bisa


menemukan ambulan itu?” tanya Arjuna penasaran.


“Tadinya aku berniat


untuk pergi ke kantor sebentar untuk menemuimu. Tapi, ternyata tempat itu sudah


kacau. Dan aku melihatmu dibawa ke dalam ambulans,” jelas gadis itu dengan


panjang lebar.


Semoga saja jawabannya


sudah cukup. Sehingga ia tidak perlu menjelaskan lebih banyak lagi kepada


Arjuna.


“Memangnya ada urusan


apa sampai kau menghampiriku ke kantor? Bukakah sudah kukatakan jangan pernah


menginjakkan kaki di tempat itu sebelum misinya selesai?!” pekik Arjuna.


Agatha berdecak sebal. Ia


sama sekali tidak habis pikir. Bagaimana bisa emosinya begitu meluap-luap. Padahal


belum ada lima menit sejak ia sadarkan diri. Sepertinya memang Arjuna termasuk


kepada tipikal orang yang mudah terpancing emosinya sejak awal.


“Aku bahkan belum


sempat menginjakkan kakiku di sana. Hanya sampai di seberang jalan saja!” seru


Agatha yang tak ingin kalah.


“Terserahmu saja!”


balas pria itu acuh tak acuh.


“Jadi, memangnya hal


macam apa yang perlu kau bicarakan denganku?” tanyanya. Kali ini nada bicara


Arjuna terdengar sedikit lebih santai dari pada sebelumnya. Emosi tak lagi


menguasai dirinya.


“Sekarang bahkan sudah


tidak penting lagi untuk dibahas,” ucap Agatha.


“Jadi, lupakan saja!”


imbuhnya.


Setelah mendengar


pernyataan tersebut, tampaknya Arjuna jadi tidak terlalu berminat dengan topik


itu lagi. Mereka saling membuang pandangan satu sama lain. Bersikap seolah-olah


tidak peduli, padahal Agatha adalah orang yang paling khawatir tadinya. Bahkan


mungkin ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi


sesuatu yang tidak diinginkan kepada pria itu.


“Kau tidak pulang?”


tanya Arjuna. Lagi-lagi selalu pria itu yang memulai lebih dulu.


“Apa kau mengusirku?”


tuduh Agatha.


“Padahal aku sudah


berada di sini sejak tadi siang hanya untuk memastikan kalau kau benar


baik-baik saja,” gerutu gadis itu sebal.


“Mau kemana?” tanya


Arjuna ketika mendapati Agatha beranjak dari tempat duduknya.


“Pulang!” jawab gadis


itu dengan ketus.


Tanpa pikir panjang


lagi, pria itu segera menarik tangan Agatha dengan cepat. Mencegahnya untuk


beranjak kemana-mana. Ia tidak boleh pergi, karena Arjuna sama sekali tidak


mengizinkanmu. Akibat hal tersebut, Agatha kembali ke tempat duduknya. Hampir


saja ia kehilangan keseimbangan karena aksi Arjuna yang terkesan mendadak.


“Memangnya siapa yang


menyuruhmu untuk pergi?” interupsi Arjuna dengan suara beratnya.


Agatha


tidak langsung menjawab. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sedang berusaha


untuk mencerna situasi yang baru saja terjadi. Otaknya mendadak tidak mampu


bekerja seperti biasanya.