
Beberapa orang kerap
kali tidak sadar jika mereka ternyata berada di sisi keluarganya sendiri. Ada
begitu banyak alasan. Mulai karena memang tidak tahu, atau memang sengaja
menghindar. Terkadang untuk beberapa situasi tertentu tidak bisa dijelaskan apa
alasannya.
05.42
Hari ini Agatha dan
Dokter Viona terpaksa berangkat lebih dulu. Mereka sudah bersiap jauh-jauh
sebelum ini. Lebih tepatnya sudah bangun lebih awal. Karena hari ini keduanya
akan kembali bekerja seperti biasa, jadi mau tak mau Agatha harus kembali ke
apartmentnya. Minimal untuk mengambil seragam dan perlengkapan lainnya. Dokter
Viona akan mengantarkannya ke sana, sekaligus berkunjung.
Matahari bahkan belum
keluar dari sarangnya sama sekali saat mereka memutuskan untuk berangkat.
Suasananya tidak jauh berbeda dnegan malam hari.
“Jangan lupa pasang
sabuk pengamanmu!” peringati Dokter Viona sekali lagi.
“Baiklah,” balas Agatha.
Wanita itu sudah siap
dengan seragam dan tas kerjanya. Setelah selesai mengantar Agatha ke kantor, ia
pun akan langsung pergi ke rumah sakit utuk memulai rutinitasnya sebagai
seorang dokter.
Karena berangkat
terlalu pagi, jalanan masih sangat sepi. Jadi mereka bisa bergerak bebas, tanpa
khawatira akan terjebak macet. Kebanyakan orang baru bangun atau malam masih
bersiap pada jam segini. Jarang yang sudah keluar.
Lalu lintas terlalu
lancar. Hingga mereka sampai lebih cepat dari apa yang pernah mereka bayangkan
sebelumnya. Begitu turun dari mobil, keduanya tampak berjalan beriringan ke
dalam lift. Apartment ini pun tampaknya masih sepi. Hanya ada beberapa orang
yang berlalu lalang di lantai paling bawah. Dan sepertinya sebagian besar dari
mereka adalah karyawan yang bekerja di sini.
“Ada di lantai berapa
unit apartmentmu?” tanya Dokter Viona.
“Di lantai dua puluh
tujuh,” jawabnya.
Wanita itu hanya
mengangguk sebagai bentuk balasan. Sebenarnya tidak maalah sama sekali mau di
lantai berapa pun itu unitnya berada. Hanya saja ia memang ingin tahu. Jadi,
seandainya lain kali ingin berkunjung kemari ia sudah tahu kemana harus pergi.
Begitu sampai di depan
pintu apartmentnya, perhatian Agatha langsung tertuju kepada sebuah kardus yang
terletak begitu saja di depan pintunya dan menghalangi jalan masuk. Ia masih
bisa mengingat semuanya dengan jelas. Ini adalah kardus yang diberikan oleh si
kurir palsu semalam. Kardus tersebut tampak tersegel rapih dari luar. Entah apa
isi di dalamnya. Meski sebenarnya ia merasa penasaran, Agatha tetap tidak akan
membukanya sampai kapan pun. Terkadang memang ada beberapa hal yang tidak perlu
kita ketahui.
Tanpa pikir panjang, ia
segera membawa kardus tersebut ke saluran pembuangan sampah. Ia tidak ingin
melihatnya lagi. Satu-satunya hal yang terlintas di dalam kepala Agatha saat
melihat kardus tersebut adalah memori buruk soal kemarin malam. Kalau Dokter
Viona tidak ada di sana, mungkin ia tidak bisa melarikan diri. Agatha berharap
dengan menghilangnya kardus tersebut, maka memori buruk itu pun juga akan ikut
lenyap bersamanya.
“Kenapa dibuang?” tanya
Dokter Viona.
“Itu memang berisi
sampah yang harus dibuang. Kemarin aku lupa membuangnya, padahal sudah sengaja
kuletakkan di depan pintu,” dalih gadis itu yang kemudian diangguki oleh Dokter
Viona.
Wanita itu sama sekali
tidak merasa curiga sedikit pun, meski saat ini Agatha sedang tidak bicara
jujur. Mungkin karena sikap tenang Agatha, ia jadi tidak mencuri perhatian
terlalu banyak. Sehingga orang-orang di sekitarnya beranggapan kalau tidak ada
hal serius yang terjadi.
Setelah urusannya
Viona untuk masuk. Agatha berharap agar wanita itu tidak terlalu mengomentari
soal tempat tinggalnya yang sedikit berantakan. Karena memang kemarin ia bahkan
sama sekali belum sempat untuk membereskan semua kekacauan ini. Agatha baru
meluruskan pinggangnya untuk beberapa menit, lalu masalah baru sudah datang.
“Maaf kalau tempat ini
sedikit berantakan,” ujar Agatha tanpa mengurangi rasa hormat.
“Tidak masalah sama
sekali,” balas wanita itu.
“Ini adalah hal wajar.
Terkadang rumahku juga tampak seperti kapal pecah,” sambungnya.
Meskipun wanita itu
mengatakan hal yang demikian, tetap saja ia tidak bisa percaya sepenuhnya.
Bagaimana rumah seorang dokter yang bisa dikatakan sebagai orang yang lumayan
penting sepertinya bisa berantakan. Kalau memang karena Dokter Viona tidak
sempat untuk membereskannya akibat jadwalnya yang terlalu padat di rumah sakit,
bukankah masih ada asisten rumah tangga yang bisa ia andalkan di sini. Lagi
pula Dokter Viona hanya hidup sendirian, jadi pasti berantakan yang ia maksud
tidak akan separah ini.
“Mau aku buatkan
minuman apa?” tanya Agatha dengan ramah.
“Ah, itu tidak perlu
sama sekali,” balas Dokter Viona sambil tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin
merepotkanmu,” imbuhnya.
“Sekarang pergilah
masuk ke kamar dan bersiap. Setelah itu aku akan mengantarmu ke kantor,”
finalnya.
Tanpa banyak bicara
lagi, Agatha langsung mengiyakan perkataan wanita itu. Kemudian setelahnya ia
pergi ke kamar untuk bersiap. Yang jelas Agaha akan melakukan segala sesuatunya
dengan cepat. Ia tidak membuat Dokter Viona menunggu terlalu lama di luar sana.
Memangnya ia siapa sampai harus membuat orang lain menunggu seperti itu.
“Ini benar-benar tidak
adil!” celetuk Agatha secara tiba-tiba.
“Bagaimana bisa ia
bersikap seperti itu. Kemarin aku sudah banyak membuatnya kerepotan. Tapi,
kenapa sekarang ia malah menolak tawaranku dan bersikap seolah-olah tidak ingin
merepotkan diriku?” gerutunya dengan panjang lebar.
Agatha benar-benar
kesal pagi ini karena hal tersebut. Bagaimana bisa ia merepotkan orang lain,
tapi orang itu malah tidak ingin merepotkan dirinya. Sungguh tidak adil. Bukankah
semua manusia yang hidup di dunia ini harus saling bersikap timbal balik,
karena mereka merupakan mahluk sosial.
Jangan pikir jika
Agatha akan tidak masalah sama sekali soal yang satu ini. Ia ingin agar posisi
mereka saat ini seimbang. Paling tidak Agatha ingin melakukan sesuatu untuk
membalas budi kepada wanita itu. Jika dipikir-pikir, sekarang ini apa yang bisa
ia lakukan. Yang jelas tidak memakan waktu terlalu lama.
Tidak perlu waktu lama
baginya untuk berpikir, Agatha sudah langsung menemukan sebuah jalan keluar. Ilham
datang dengan begitu cepat kepadanya. Sekarang Agatha tahu apa yang harus ia
lakukan. Gadis itu memutuskan untuk membuat sarapan. Sepertinya roti gandum
dengan selai saja sudah cukup untuk mengganjal perut sampai siang nanti. Tidak hanya
itu, Agatha juga tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membuat
sarapan sederhana seperti itu. Dan yang jelas rasanya sudah pasti dijamin enak.
“Masih ada beberapa
menit lagi sebelum kami berangkat,” gumam Agatha sambil melihat ke arah jam
tangannya.
Sebelumnya
mereka sudah sepakat untuk berangkat tepat pada pukul enam nanti. Dan sekarang
masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi sebelum pukul enam. Agatha bisa
memanfaatkannya untuk membuat sarapan lebih dulu. Mereka pasti akan langsung
dibombardir oleh daftar pekerjaan begitu sampai di kantor nanti. Jadi, amunisi
seperti persediaan energi dan kesiapan mental sepertinya memang harus
diperhatikan sebelum berangkat ke kantor.