
“Siapa yang menghabisi
mereka sampai jadi seperti ini?”
“Kurasa mereka belum
mati. Apakah kita perlu membawanya ke rumah sakit?”
“Ide bagus. Apa pun
yang terjadi, mereka harus tetap hidup.”
“Tapi bukankah sekarang
mereka sudah cukup menderita?”
“Ini masih belum ada
apa-apanya ketimbang dengan kejahatan yang telah mereka lakukan selama ini.”
“Kalau begitu harus
kita apakan mereka sekarang?”
“Panggil ambulans
sebelum mereka kehabisan semakin banyak darah!”
“Baiklah!”
“Sebagian dari kalian
ikut pergi mengawal mereka. Ingat! Jangan sampai ada yang berhasil melepaskan
diri lagi.”
“Baik pak!”
Sementara itu di sisi
lain Agatha tampak berjalan masuk melalui pintu gerbang utama. Ia terlihat
begitu tenang. Seolah yang barusan tidak terjadi apa-apa. Kedatangan Agatha
berhasil memecahkan keheningan suasana pada hari itu.
“Dari mana saja kau?”
interupsi Jeff begitu ia sampai.
“Apa yang tadi itu
benar kau?” sambung Arjuna.
“Kalian harus berterima
kasih kepadaku untuk yang satu itu,” balas Agatha dengan acuh.
Untuk sekarang ini ia
sama sekali tidak mau ambil pusing soal hal tersebut. Masa lalu adalah masa
lalu. Tidak ada gunanya untuk dibahas pada masa sekarang ini.
“Tenang saja, mereka
tidak akan langsung mati,” kata Agatha sambil melemparkan pandangannya ke arah
para mafia yang tak berdaya itu.
“Kecuali kalau
terlambat mendapatkan penanganan,” final gadis itu di akhir.
“Kami sudah meminta
ambulan untuk datang kemari,” ungkap Thomas.
“Baguslah,” balas gadis
itu.
Entah apa yang ada di
pikiran Arjuna sekarang ini. Seharusnya orang seperti mereka tidak diberikan
kesempatan sama sekali. Terlepas dari dalih hukuman. Jika Agatha berada di
posisi pria itu, maka ia tak akan mempedulikan apa pun. Selama mereka masih
bisa dienyahkan secepat mungkin, kenapa tidak. Arjuna terlalu bertele-tele
baginya. Lagi pula perbuatan Hiraeth dan anak buahnya selama ini juga tidak
tergolong kepada kejahatan ringan. Bahkan sudah melewati batas.
Namun, di sisi lain
Agatha masih tidak menyangka jika ia sungguh melakukan semuanya sendiri. Lebih
tepatnya, otak gadis itu masih belum bisa menerima fakta kalau ia nyaris
membunuh orang lain. Bukan lagi satu, tapi lebih dari itu.
“Aku nyaris berubah
menjadi pembunuh tadi,” batinnya dalam hati.
Entahlah, dia pun tak
tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Sulit untuk dideskripsikan dengan
kata-kata. Di satu sisi ia merasa puas karena telah berhasil menggagalkan aksi
melarikan diri mereka. Dan yang terpenting rencana mereka sama sekali tidak
sempat terjadi. Namun, tetap saja ia merasa bersalah. Sebagai manusia normal,
ia merasa bersalah karena telah berbuat jahat kepada orang lain. Padahal mereka
memang berhak untuk menerima hal tersebut.
“Kau terlihat pucat,”
ungkap Arjuna.
“Apa kau baik-baik
saja?” tanya pria itu cemas.
Agatha mengangguk untuk
mengiyakan perkataan pria itu, kemudian berkata, “Aku tidak apa-apa.”
Jangan kira jika Arjuna
percaya dengan semua itu begitu saja. Bahkan jika Agatha sunggu baik-baik saja
pun, dia tidak akan mudah percaya. Pasalnya kebanyakan orang memang lebih
sering berbohong ketika ditanyai apakah ia merasa baik-baik saja atau tidak.
Mereka cenderung menjawab dengan jawaban yang positif. Mereka mengatakan ya,
padahal kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. Alasannya hanya satu.
Mereka tidak ingin membuat orang lain cemas atas dirinya. Dan semua itu adalah
“Kau sungguh tidak
apa-apa?” tanya Arjuna sekali lagi untuk memastikan. Namun, seperti yang sudah
diduga. Jawabannya masih sama.
Belum ada lima detik
setelah gadis itu menjawab pertanyaan Arjuna untuk yang kedua kalinya, mendadak
pandangannya mulai berubah gelap. Kepalanya juga terasa pusing. Bukan pusing
biasa. Rasanya lebih mirip seperti serangan vertigo. Entah apa yang salah
dengan tubuhnya sampai semua ini terjadi.
Kemudian barulah ia
sampai pada klimaksnya. Tubuh Agatha tiba-tiba roboh begitu saja. Kini
posisinya sudah sejajar dengan Immanuel dan yang lainnya. Sontak kejadian itu
memicu keriuhan. Orang-orang berubah jadi panik.
Arjuna dan yang lainnya
sepakat untuk menggunakan mobil dinas yang terparkir di pelataran saja. Kalau
harus memanggil ambulans lagi, maka akan memakan waktu terlalu lama. Agatha
tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Siapa yang tahu kalau ternyata kondisinya
saat ini bisa berubah jadi semakin parah.
Tubuh gadis itu
dibaringkan pada kursi penumpang di belakang dengan Jeff yang ikut bersamanya.
Pria itu akan menjaga Agatha selama perjalanan berlangsung. Setidaknya
memastikan kalau kondisi Agatha tidak akan semakin buruk. Di sisi lain Arjuna
mengambil alih sebagai pengemudi yang akan mengantarkan sang pasien ke rumah
sakit. Dia perlu mendapatkan pertolongan pertama dengan segera.
“Dasar lemah!” umpat
Kinan di dalam hati.
“Sebenarnya kau tengah
mencari perhatian dengan Arjuna kan?” gumamnya.
Wajar saja jika Kinan
tidak berempati kepada gadis itu. Padahal sekarang kondisi Agatha memang
benar-benar tidak sehat. Sejak awal hubungan keduanya memang tidak pernah
baik-baik saja. Terutama ketika Kinan tahu kalau Arjuna jauh lebih banyak
menghabiskan waktu bersama Agatha.
Sepertinya mereka
memang tidak akan pernah akrab satu sama lain. Bahkan setelah hubungannya
dengan Arjuna sudah tidak sedekat dulu lagi. Setiap hal yang dilakukan oleh
Agatha selalu saja terlihat salah dimata gadis itu.
“Ck! Sudahlah!” celetuk
gadis itu.
Kinan buru-buru masuk
kembali ke dalam kantor. Memastikan jika tahanan lainnya tidak ikut melarikan
diri selama mereka disekap tadi. Beruntung Hiraeth dan anak buahnya hanya
memikirkan diri mereka sendiri saja. Sehingga mereka tidak ikut membantu para
tahanan lain untuk pergi juga. Kalau tidak situasinya bisa benar-benar kacau.
“Apa yang terjadi
dengan Agatha?” tanya Thomas kepada salah satu teman baiknya.
“Entahlah,” balas Robi
singkat.
“Tapi yang jelas ia
sedang tidak baik-baik saja. Tadi terlihat pucat. Saat berjalan kemari pun ia
tampak seperti mayat hidup,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
“Hei! Apa kau sedang
menyumpahi Agatha?!” seru Thomas sambil menepuk pundak pria itu dengan sekuat
tenaga.
Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman
yang perlu diluruskan di sini. Bukan begitu makna yang sesungguhnya dari
kalimat pria itu barusan. Robi sama sekali tidak bermaksud untuk menyumpahi
Agatha agar meninggal. Sebagai seorang teman, ia sama sekali tidak pernah
berharap seperti itu.
“Bukan begitu!” tepis
Robi dengan cepat.
“Maksudku dia tampak
lemas dan pucat tadi ketika berjalan kemari,” jelasnya kemudian.
Robi akan melakukan
berbagai jenis pembelaan untuk membela dirinya. Karena ia sadar kalau dirinya
memang tidak bersalah sama sekali. Robi berani bersumpah kalau ia sungguh tak
bermaksud begitu.
“Terserah saja!” balas
Thomas acuh tak acuh.
Jangan
sampai hubungan mereka ikut merenggang juga hanya karena hal sepele. Bukan itu
yang mereka inginkan selama ini. Bukankan Agatha selalu mengingatkan untuk tidak
membesarkan masalah kecil yang masih bisa diselesaikan.