
“Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu
yang tadi itu?” tanya Aaron sambil tersenyum miring.
“Dasar!” sarkas Agatha.
Andai saja ada sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai
senjata. Apa pun itu, asal cukup kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri.
Tapi, sayangnya di sini sama sekali tidak ada apa pun. Sepanjang koridor
sungguh kosong melompong. Sepertinya Aaron bukan tipikal orang yang suka
memenuhi tempat tinggalnya sendiri dengan berbagai perabotan rumah.
Sekarang Agatha sedang berusaha keras memutar otak
untuk mencari jalan keluar. Ia tidak bisa terjebak lebih lama lagi di tempat
ini. Tugasnya belum selesai. Agatha harus segera menuntaskan kasus pembunuhan
berantai tersebut. Lagipula ia sama sekali tidak habis pikir, kenapa atasannya
memberikan tugas tersebut kepadanya. Padahal bisa dikatakan jika itu bukan
termasuk tugas yang mudah. Apalagi untuk ukuran seorang gadis sepertinya.
“Sebaiknya biarkan aku pergi dari sini sekarang
juga,” ujar Agatha dengan pasrah.
“Apa
kau pikir aku akan melepaskanmu dengan begitu saja?” tanya pria itu sambil
menaikkan salah satu alisnya.
Agatha
lantas mendengus sebal. Padahal ia sudah memintanya dengan cara yang baik-baik.
Lantas kenapa pria itu masih begitu sulit untuk diluluhkan. Sepertinya memang
tidak bisa menggunakan cara yang baik-baik saja. Ia harus sedikit lebih keras.
Bersikap tegas dan kalau boleh memberontak.
Setidaknya
dengan begitu, Aaron tidak akan menganggapnya sebagai seorang gadis yang lemah.
Paling tidak Agatha memang harus melawan untuk membela dirinya sendiri.
Pasalnya, saat ini tidak ada seorang pun yang bisa melindunginya kecuali
dirinya sendiri.
‘DOR!!!’
‘PRANG!!!’
Belum
sempat Agatha melawan, secara tiba-tiba tedengar suara ledakan yang cukup
besar. Di tambah dengan suara pecahan kaca di lantai bawah. Tampaknya ada
seseorang yang berusaha untuk menyerang rumah ini. Kemungkinan besar, serangan
itu pasti berasal dari pihak yang bertentangan dengan pria ini.
Tanpa
aba-aba sama sekali, Aaron lantas menarik salah satu tangan gadis ini. Menuntun
langkahnya untuk pergi bersama ke suatu tempat yang hanya Aaron ketahui.
Mungkin sebentar lagi Agatha juga akan segera tahu.
“Sial!”
umpat Aaron sambil tetap bergerak.
Mereka
kembali ke ruangan yang sebelumnya sempat ditempati oleh Agatha. Kemudian pria
itu mengunci pintunya rapat-rapat. Meski mereka berdua tahu, jika itu tidak
akan cukup aman. Orang tersebut pasti akan memeriksa keseluruhan tempat ini
secara satu-persatu. Bahkan sampai sudut terkecil sekali pun. Ruangan yang
terkunci pasti akan memancing rasa penasaran mereka. Lebih tepatnya rasa
curiga.
Dari
semua kemungkinan terburuk yang sudah diprediksi akan terjadi, setidaknya
Agatha dan Aaron akan tetap aman di sini sampai beberapa menit ke depan. Untuk
sementara waktu, mereka bisa menggunakan ruangan ini sebagai tempat berlindung
dari berbagai macam serangan. Meski pada akhirnya pasti akan tetap ketahuan
juga.
Kurang
dari lima menit lagi, orang-orang itu akan segera naik ke atas. Begitu tahu
jika mereka tidak bisa menemukan apa pun di lantai bawah. Saat ini keduanya
sedang berusaha keras untuk memutar otak. Berpacu dengan waktu. Cepat atau
lambat, mereka harus pergi dari sini jika ingin selamat. Oleh sebab itu, baik
Agatha maupun Aaron harus memikirkan jalan keluarnya.
Beberapa
menit yang lalu mungkin mereka adalah pihak yang saling berselisih.
Bertentangan. Saling tidak berkesinambungan sama sekali. Namun, yang tadi sudah
berlalu. Masa sekarang jelas berbeda jauh. Agatha dan Aaron sudah berada di
pihak yang sama sekarang. Keduanya sepakat untuk berada di dalam satu tim yang
sama. Setidaknya demi kepentingan mereka bersama juga. Mari lupakan balas
dendam atau rasa egois.
“Sepertinya
mereka berjumlah lebih dari dua orang,” ungkap Agatha sambil mengintip ke luar
Ia
terpaksa harus bersikap seperti ini, karena di luar sana masih ada beberapa
orang yang berjaga. Mungkin sekitar tiga orang dengan senjata jika memang
pengelihatan gadis itu tidak salah. Jika diperhatikan secara baik-baik,
sepertinya mereka tidak berasal dari pihak kepolisian. Sebagai seorang anggota
polisi juga, Agatha tahu betul soal itu.
Alilh-alih
terlihat seperti sekelompok pasukan polisi yang sedang berusaha untuk meringkus
pelaku kriminal, merkea jauh lebih terlihat seperti seorang gangster. Entah tebakannya
benar atau tidak. Tapi, sejauh ini Agatha berasumsi demikian.
“Itu
pasti Devano,” ujar Aaron sambil menggertakkan giginya.
“Siapa
itu?” tanya Agatha.
“Kau
mengenalnya?” sambung gadis itu.
Ia
bahkan tidak memberikan jeda sama sekali kepada Aaron untuk menjawab
pertanyaannya yang sebelumnya.
“Dia
musuhku,” beber pria itu secara gamblang.
Sekarang
semuanya terasa sudah jelas. Mulai dari alasan serta motif pelaku untuk
melakukan penyergapan secara mendadak seperti ini.
Bisa
disimpulkan, jika sejak awal orang tersebut dan timnya sudah tahu jika Aaron
sedang berada di rumahnya. Kalau tidak , mana mungkin mereka akan menyerang
langsung ke tempt kediamannya.
“Sekarang,
itu tidak penting!” celetuk Agatha.
“Yang
harus kita lakukan adalah mencari jalan keluar dari sini,” jelasnya secara
singkat.
“Bagaimana
caranya?! Apa kau buta dan tidak bisa melihat?!” sarkas Aaron tanpa merasa
bersalah sama sekali.
“Kita
sudah dikepung seperti ini!” tegasnya sekali lagi.
Sementara
itu, di sisi lain Agatha sama sekali tidak berniat untuk membalas ucapan pria
itu barusan. Tidak ada gunanya. Dia sedang terpengaruh oleh emosinya sendiri. Pria
itu tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Orang yang sedang terpancing emosi
tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Jadi percuma saja. Tidak ada gunanya.
Alih-alih
meminta Aaron untuk memikirkan jalan keluarnya, Agatha lantas jauh lebih
memilih untuk tidak melibatkan pria itu sama sekali. Terutama pada situasi yang
cukup genting seperti ini. Pria itu hanya akan mengacaukan keseluruhan rencana
yang sudah Agatha atur dengan sedemikian rupa sejak awal. Ia jelas tidak akan
membiarkan hal tersebut terjadi. Pasalnya, saat ini nyawanya sedang
dipertaruhkan. Bukan pekara yang main-main.
Tepat
setelah ia mendapatkan ide cemerlang, gadis itu lantas menjentikkan jarinya.
Kemudian, tanpa pikir panjang ia beralih ke tepi pintu. Seolah bersiap jika
sewaktu-waktu mereka datang. Terkesan seperti menantang maut memang. Tapi,
bukan itu yang ia rencanakan sejak awal. Malah sebaliknya.
Selama
ini ia sudah cukup terbiasa dalam hal mengambil keputusan. Bahkan dengan resiko
yang terbilang cukup besar sekali pun. Untuk saat ini, sudah tidak ada raa
takut sama sekali tidak dalam dirinya.
“Hei!
Apa yang kau lakukan di sana?!” seru Aaron.
Pria
itu buru-buru menghampiri Agatha. Nyaris menarik tubuh gadis itu untuk menjauh
dari sana, namun malah mendapatkan perlawanan dari sang empunya. Sepertinya Aaron
juga tidak ingin gadis ini terluka. Padahal sejak awal dia terus mengancam akan
melukai Agatha jika tidak berkata jujur.
“Dia hanya boleh terluka di
tanganku. Tidak dengan orang lain,” batinnya di dalam hati.