The Riot

The Riot
Attack



“Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu


yang tadi itu?” tanya Aaron sambil tersenyum miring.


“Dasar!” sarkas Agatha.


Andai saja ada sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai


senjata. Apa pun itu, asal cukup kuat untuk mempertahankan dirinya sendiri.


Tapi, sayangnya di sini sama sekali tidak ada apa pun. Sepanjang koridor


sungguh kosong melompong. Sepertinya Aaron bukan tipikal orang yang suka


memenuhi tempat tinggalnya sendiri dengan berbagai perabotan rumah.


Sekarang Agatha sedang berusaha keras memutar otak


untuk mencari jalan keluar. Ia tidak bisa terjebak lebih lama lagi di tempat


ini. Tugasnya belum selesai. Agatha harus segera menuntaskan kasus pembunuhan


berantai tersebut. Lagipula ia sama sekali tidak habis pikir, kenapa atasannya


memberikan tugas tersebut kepadanya. Padahal bisa dikatakan jika itu bukan


termasuk tugas yang mudah. Apalagi untuk ukuran seorang gadis sepertinya.


“Sebaiknya biarkan aku pergi dari sini sekarang


juga,” ujar Agatha dengan pasrah.


“Apa


kau pikir aku akan melepaskanmu dengan begitu saja?” tanya pria itu sambil


menaikkan salah satu alisnya.


Agatha


lantas mendengus sebal. Padahal ia sudah memintanya dengan cara yang baik-baik.


Lantas kenapa pria itu masih begitu sulit untuk diluluhkan. Sepertinya memang


tidak bisa menggunakan cara yang baik-baik saja. Ia harus sedikit lebih keras.


Bersikap tegas dan kalau boleh memberontak.


Setidaknya


dengan begitu, Aaron tidak akan menganggapnya sebagai seorang gadis yang lemah.


Paling tidak Agatha memang harus melawan untuk membela dirinya sendiri.


Pasalnya, saat ini tidak ada seorang pun yang bisa melindunginya kecuali


dirinya sendiri.


‘DOR!!!’


‘PRANG!!!’


Belum


sempat Agatha melawan, secara tiba-tiba tedengar suara ledakan yang cukup


besar. Di tambah dengan suara pecahan kaca di lantai bawah. Tampaknya ada


seseorang yang berusaha untuk menyerang rumah ini. Kemungkinan besar, serangan


itu pasti berasal dari pihak yang bertentangan dengan pria ini.


Tanpa


aba-aba sama sekali, Aaron lantas menarik salah satu tangan gadis ini. Menuntun


langkahnya untuk pergi bersama ke suatu tempat yang hanya Aaron ketahui.


Mungkin sebentar lagi Agatha juga akan segera tahu.


“Sial!”


umpat Aaron sambil tetap bergerak.


Mereka


kembali ke ruangan yang sebelumnya sempat ditempati oleh Agatha. Kemudian pria


itu mengunci pintunya rapat-rapat. Meski mereka berdua tahu, jika itu tidak


akan cukup aman. Orang tersebut pasti akan memeriksa keseluruhan tempat ini


secara satu-persatu. Bahkan sampai sudut terkecil sekali pun. Ruangan yang


terkunci pasti akan memancing rasa penasaran mereka. Lebih tepatnya rasa


curiga.


Dari


semua kemungkinan terburuk yang sudah diprediksi akan terjadi, setidaknya


Agatha dan Aaron akan tetap aman di sini sampai beberapa menit ke depan. Untuk


sementara waktu, mereka bisa menggunakan ruangan ini sebagai tempat berlindung


dari berbagai macam serangan. Meski pada akhirnya pasti akan tetap ketahuan


juga.


Kurang


dari lima menit lagi, orang-orang itu akan segera naik ke atas. Begitu tahu


jika mereka tidak bisa menemukan apa pun di lantai bawah. Saat ini keduanya


sedang berusaha keras untuk memutar otak. Berpacu dengan waktu. Cepat atau


lambat, mereka harus pergi dari sini jika ingin selamat. Oleh sebab itu, baik


Agatha maupun Aaron harus memikirkan jalan keluarnya.


Beberapa


menit yang lalu mungkin mereka adalah pihak yang saling berselisih.


Bertentangan. Saling tidak berkesinambungan sama sekali. Namun, yang tadi sudah


berlalu. Masa sekarang jelas berbeda jauh. Agatha dan Aaron sudah berada di


pihak yang sama sekarang. Keduanya sepakat untuk berada di dalam satu tim yang


sama. Setidaknya demi kepentingan mereka bersama juga. Mari lupakan balas


dendam atau rasa egois.


“Sepertinya


mereka berjumlah lebih dari dua orang,” ungkap Agatha sambil mengintip ke luar


Ia


terpaksa harus bersikap seperti ini, karena di luar sana masih ada beberapa


orang yang berjaga. Mungkin sekitar tiga orang dengan senjata jika memang


pengelihatan gadis itu tidak salah. Jika diperhatikan secara baik-baik,


sepertinya mereka tidak berasal dari pihak kepolisian. Sebagai seorang anggota


polisi juga, Agatha tahu betul soal itu.


Alilh-alih


terlihat seperti sekelompok pasukan polisi yang sedang berusaha untuk meringkus


pelaku kriminal, merkea jauh lebih terlihat seperti seorang gangster. Entah tebakannya


benar atau tidak. Tapi, sejauh ini Agatha berasumsi demikian.


“Itu


pasti Devano,” ujar Aaron sambil menggertakkan giginya.


“Siapa


itu?” tanya Agatha.


“Kau


mengenalnya?” sambung gadis itu.


Ia


bahkan tidak memberikan jeda sama sekali kepada Aaron untuk menjawab


pertanyaannya yang sebelumnya.


“Dia


musuhku,” beber pria itu secara gamblang.


Sekarang


semuanya terasa sudah jelas. Mulai dari alasan serta motif pelaku untuk


melakukan penyergapan secara mendadak seperti ini.


Bisa


disimpulkan, jika sejak awal orang tersebut dan timnya sudah tahu jika Aaron


sedang berada di rumahnya. Kalau tidak , mana mungkin mereka akan menyerang


langsung ke tempt kediamannya.


“Sekarang,


itu tidak penting!” celetuk Agatha.


“Yang


harus kita lakukan adalah mencari jalan keluar dari sini,” jelasnya secara


singkat.


“Bagaimana


caranya?! Apa kau buta dan tidak bisa melihat?!” sarkas Aaron tanpa merasa


bersalah sama sekali.


“Kita


sudah dikepung seperti ini!” tegasnya sekali lagi.


Sementara


itu, di sisi lain Agatha sama sekali tidak berniat untuk membalas ucapan pria


itu barusan. Tidak ada gunanya. Dia sedang terpengaruh oleh emosinya sendiri. Pria


itu tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Orang yang sedang terpancing emosi


tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Jadi percuma saja. Tidak ada gunanya.


Alih-alih


meminta Aaron untuk memikirkan jalan keluarnya, Agatha lantas jauh lebih


memilih untuk tidak melibatkan pria itu sama sekali. Terutama pada situasi yang


cukup genting seperti ini. Pria itu hanya akan mengacaukan keseluruhan rencana


yang sudah Agatha atur dengan sedemikian rupa sejak awal. Ia jelas tidak akan


membiarkan hal tersebut terjadi. Pasalnya, saat ini nyawanya sedang


dipertaruhkan. Bukan pekara yang main-main.


Tepat


setelah ia mendapatkan ide cemerlang, gadis itu lantas menjentikkan jarinya.


Kemudian, tanpa pikir panjang ia beralih ke tepi pintu. Seolah bersiap jika


sewaktu-waktu mereka datang. Terkesan seperti menantang maut memang. Tapi,


bukan itu yang ia rencanakan sejak awal. Malah sebaliknya.


Selama


ini ia sudah cukup terbiasa dalam hal mengambil keputusan. Bahkan dengan resiko


yang terbilang cukup besar sekali pun. Untuk saat ini, sudah tidak ada raa


takut sama sekali tidak dalam dirinya.


“Hei!


Apa yang kau lakukan di sana?!” seru Aaron.


Pria


itu buru-buru menghampiri Agatha. Nyaris menarik tubuh gadis itu untuk menjauh


dari sana, namun malah mendapatkan perlawanan dari sang empunya. Sepertinya Aaron


juga tidak ingin gadis ini terluka. Padahal sejak awal dia terus mengancam akan


melukai Agatha jika tidak berkata jujur.


“Dia hanya boleh terluka di


tanganku. Tidak dengan orang lain,” batinnya di dalam hati.