
Setelah selesai mengisi ulang tenaga dengan beberapa
makanan, kini mereka sudah siap untuk melaksanakan misinya. Bukan misi, lebih
tepatnya tugas. Sebelumnya mereka sudah sering melakukan tugas yang satu ini.
Jadi, seharusnya tidak akan terlalu sulit. Mungkin ditambah oleh satu orang
anggota yang belum mengerti apa-apa tidak akan menjadi masalah sama sekali.
Agatha juga akan terbiasa dengan seiring berjalannya
waktu nanti. Mereka pasti akan sering menghabiskan waktu bersama mulai
sekarang. Ada begitu banyak pekerjaan yang ternyata harus dilakukan oleh tim
mereka.
Mulai hari ini dan beberapa hari ke depan, mungkin
Agatha akan mulai terbiasa untuk menjadi Rienna. Seorang gadis yang pandai
berkelahi dan juga tidak banyak bicara. Namun, ia cukup mematikan. Karakter
Rienna tidak jauh berbeda dengan karakternya saat ini. Mereka hampir tidak ada
bedanya.
“Aku akan pergi bersama Rienna!” seru Zean dengan
antusias.
“Seperti yang kalian tahu jika sepeda motorku masih
berada di bengkel untuk karena kejadian kemarin,” pria itu kemudian menjelaskan
kondisinya saat ini.
Kemarin saat mereka berkelahi untuk menguji keahlian
Agatha sebagai Rienna, sepeda motor pria itu ikut terlibat jadi salah satu
korbannya. Agatha dengan sengaja menjatuhkan sepeda motor tersebut untuk
mmblokir aksesorang-orang itu. Sehingga mereka tidak akan bisa menyerang Agatha
dengan leluasa. Pergerakannya serba terbatas pada saat itu.
“Kau harus bertanggung jawab untuk yang satu itu!”
celetuk Zean sambil melemparkan pandangannya ke arah gadis itu. Memangnya siapa
lagi jika bukan Agatha.
“Selama sepeda motorku masih diperbaiki, aku akan
menumpang bersamamu,” jelasnya kemudian.
“Mana bisa begitu!” protes Agatha tak terima.
“Bukankah aku sudah bertanggung jawab dengan
membayar semua biaya perbaikan sepeda motormu?” tanya gadis itu.
Hal itu memang benar. Agatha sudah membayar
semuanya. Meskipun tidak seharusnya ia yang menanggung semua itu. Sebab, mereka
lah yang menyerangnya lebih dulu. Yang Agatha lakukan pada saat itu hanya upaya
untuk mempertahankan dirinya sendiri. Agatha tidak bisa disalahkan sepenuhnya
atas kejadian yang kemarin. Mau bagaimanapun, mereka tetap sama-sama bersalah.
Tapi, rasanya terlalu rumit jika Agatha harus menuntut
keadilan. Sebab tidak pernah ada hal yang adil di dunia ini. Lagipula untuk apa
menyalahkan orang lain jika diri mereka sendiri juga bersalah. Pada kasus ini
mereka juga sama-sama bersalah.
Menentang arus permainan hanya akan membuat Agatha
kesulitan. Selama berada di sini, ia akan tetap mengikuti rencana. Ia dan
Arjuna telah mengabiskan begitu banyak waktu hanya untuk mendiskusikan rencana
tersebut. Jadi, kalau bisa jangan sampai gagal.
***
Tanpa pikir panjang lagi, Zean segera naik ke atas
sepeda motor gadis itu. Kali ini ia akan bertindak sebagai pengemudi. Meski sebenarnya
Zean sedang menumpang di sepeda motor Agatha.
“Siapa yang menyuruhmu untuk naik?” interupsi
Immanuel.
“Benar! Aku bahkan belum menyuruhmu untuk naik!”
timpal Agatha yang sependapat dengan pria itu.
“Kau bisa denganku atau yang lainnya. Sepeda motor
kami juga masih bisa untuk satu orang lagi,” jelas Immanuel.
Sepertinya pria itu sedang menawarkan tumpangan
kepada temannya yang satu itu secara tidak langsung. Tidak harus bersama
Agatha. Dia paling tidaksuka jika melihat orang lain sedang berusaha untuk
mendekati gadis itu. Entahlah. Tidak ada yang tahu. Mungkin ia suka atau bahkan
malah sebaliknya.
Kali ini ia mulai mempertegas maksud dari kalimatnya
yang sebelumnya.
“Biarkan Rienna pergi sendirian. Kau hanya akan
mempersulit perjalanannya nanti,” sarkas pria itu setelahnya.
Meski merasa sedikit tersindir, Zean sama sekali
tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tidak, dia tidak sakit hati. Bukan sesuatu
yang mengejutkan lagi jika kau akan disindir dengan perkataan yang sedikit
kasar.
“Aku tetap akan menaiki sepeda motor yang satu ini
sebagai bentuuk ganti ruginya!” tegas Zean sekali lagi.
Dia tetap pada pendiriannya. Pria itu sama sekali
tidak berubah. Dia masih tetap berada pada keputusannya yang sebelumnya. Tidak
ada yang berubah. Zean akan tetap mempertahankan kemauannya. Dia tidak akan
mudah menyerah begitu saja. Sekali pun itu terhadap Immanuel.
Di sisi lain, Agatha hanya bisa menghela napasnya
dengan kasar. Kali ini dia sudah benar-benar pasrah. Ia bahkan tidak akan bisa
mencegah pria itu lagi. Terserahnya saja. Agatha tidak mau jadi pusing sendiri
karena yang satu itu.
“Baiklah, kalau begitu kau bisa menggunakan sepeda
motor Rienna,” kata Immanuel.
“Kau, ikut bersamaku!” perintah pria itu kepada
Agatha.
Sekarang ia tidak akan melarang Zean lagi untuk
menumpang di sepeda motor Agatha atau yang selama ini mereka kenal sebagai
Rienna. Dia tetap bisa pergi ke markas utama dengan menggunakan kendaraan yang
satu itu. Tapi, dengan persyaratan Agatha harus pergi bersama Immanuel.
Sebagai pemimpin di antara mereka semua, Immanuel
berhak untuk membuat keputusan apa saja. Dan tidak ada alasan bagi mereka untuk
menolak keputusan tersebut, selama dirasa masih cukup masuk akal. Sepertinya
keputusan yang dibuat oleh pria itu tadi sudah tepat dengan mengambil jalan
tengahnya.
Agatha tampaknya sama sekali tidak keberatan jika
harus satu kendaraan dengan Immanuel. Setidaknya untuk saat ini dia sudah bisa
mempercayai pria itu. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan juga. Sehingga
tidak perlu khawatir. Kalau pun sampai terjadi sesuatu yang berada di luar
dugaannya, Agatha sudah cukup terbiasa menghadai situasi darurat. Dia bisa
melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya. Terlebih mengingat status
pekerjaan gadis itu sebagai salah satu enggota kepolisian yang kerap berhadapan
dengan para penjahat kelas kakap, menangani para mafia seperti mereka pasti
bukan sesuatu yang sulit lagi.
“Baiklah kalau begitu!” seru Zean dengan antusias. Menandakan jika kali ini ia juga
setuju dengan pria itu.
“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Immanuel kepada
satu-satunya gadis yang ada di sana.
“Aku tidak masalah!” balas gadis itu.
Setelah semua masalahnya selesai, mereka segera naik
ke kendaraannya masing-masing. Bersiap untuk berangkat ke markas utama. Seperti
yang sudah mereka sepakati sebelumnya, jika Agatha akan pergi bersama Immanuel.
Sementara itu Zean akan menggunakan sepeda motor gadis itu.
“Pegangan yang erat!” peringati Immanuel.
Dengan perasaan ragu-ragu, Agatha mulai mengeratkan
pegangannya. Mau tidak mau ia harus menuruti perkataan pria ini. Kalau tidak
bisa-bisa ia terjatuh dari atas kereta. Daripada harus celaka, lebih baik ia
mengikuti apa yang dikatakan pria itu saja.
Sebenarnya Immanuel
tidak berkendara dengan terlalu kencang. Biasa saja. masih tergolong kecepatan
standar. Namun, terkadang secara mengejutkan ia suka menaikkan kecepatannya
secara tiba-tiba.