The Riot

The Riot
Ride or Die



Setelah selesai mengisi ulang tenaga dengan beberapa


makanan, kini mereka sudah siap untuk melaksanakan misinya. Bukan misi, lebih


tepatnya tugas. Sebelumnya mereka sudah sering melakukan tugas yang satu ini.


Jadi, seharusnya tidak akan terlalu sulit. Mungkin ditambah oleh satu orang


anggota yang belum mengerti apa-apa tidak akan menjadi masalah sama sekali.


Agatha juga akan terbiasa dengan seiring berjalannya


waktu nanti. Mereka pasti akan sering menghabiskan waktu bersama mulai


sekarang. Ada begitu banyak pekerjaan yang ternyata harus dilakukan oleh tim


mereka.


Mulai hari ini dan beberapa hari ke depan, mungkin


Agatha akan mulai terbiasa untuk menjadi Rienna. Seorang gadis yang pandai


berkelahi dan juga tidak banyak bicara. Namun, ia cukup mematikan. Karakter


Rienna tidak jauh berbeda dengan karakternya saat ini. Mereka hampir tidak ada


bedanya.


“Aku akan pergi bersama Rienna!” seru Zean dengan


antusias.


“Seperti yang kalian tahu jika sepeda motorku masih


berada di bengkel untuk karena kejadian kemarin,” pria itu kemudian menjelaskan


kondisinya saat ini.


Kemarin saat mereka berkelahi untuk menguji keahlian


Agatha sebagai Rienna, sepeda motor pria itu ikut terlibat jadi salah satu


korbannya. Agatha dengan sengaja menjatuhkan sepeda motor tersebut untuk


mmblokir aksesorang-orang itu. Sehingga mereka tidak akan bisa menyerang Agatha


dengan leluasa. Pergerakannya serba terbatas pada saat itu.


“Kau harus bertanggung jawab untuk yang satu itu!”


celetuk Zean sambil melemparkan pandangannya ke arah gadis itu. Memangnya siapa


lagi jika bukan Agatha.


“Selama sepeda motorku masih diperbaiki, aku akan


menumpang bersamamu,” jelasnya kemudian.


“Mana bisa begitu!” protes Agatha tak terima.


“Bukankah aku sudah bertanggung jawab dengan


membayar semua biaya perbaikan sepeda motormu?” tanya gadis itu.


Hal itu memang benar. Agatha sudah membayar


semuanya. Meskipun tidak seharusnya ia yang menanggung semua itu. Sebab, mereka


lah yang menyerangnya lebih dulu. Yang Agatha lakukan pada saat itu hanya upaya


untuk mempertahankan dirinya sendiri. Agatha tidak bisa disalahkan sepenuhnya


atas kejadian yang kemarin. Mau bagaimanapun, mereka tetap sama-sama bersalah.


Tapi, rasanya terlalu rumit jika Agatha harus menuntut


keadilan. Sebab tidak pernah ada hal yang adil di dunia ini. Lagipula untuk apa


menyalahkan orang lain jika diri mereka sendiri juga bersalah. Pada kasus ini


mereka juga sama-sama bersalah.


Menentang arus permainan hanya akan membuat Agatha


kesulitan. Selama berada di sini, ia akan tetap mengikuti rencana. Ia dan


Arjuna telah mengabiskan begitu banyak waktu hanya untuk mendiskusikan rencana


tersebut. Jadi, kalau bisa jangan sampai gagal.


***


Tanpa pikir panjang lagi, Zean segera naik ke atas


sepeda motor gadis itu. Kali ini ia akan bertindak sebagai pengemudi. Meski sebenarnya


Zean sedang menumpang di sepeda motor Agatha.


“Siapa yang menyuruhmu untuk naik?” interupsi


Immanuel.


“Benar! Aku bahkan belum menyuruhmu untuk naik!”


timpal Agatha yang sependapat dengan pria itu.


“Kau bisa denganku atau yang lainnya. Sepeda motor


kami juga masih bisa untuk satu orang lagi,” jelas Immanuel.


Sepertinya pria itu sedang menawarkan tumpangan


kepada temannya yang satu itu secara tidak langsung. Tidak harus bersama


Agatha. Dia paling tidaksuka jika melihat orang lain sedang berusaha untuk


mendekati gadis itu. Entahlah. Tidak ada yang tahu. Mungkin ia suka atau bahkan


malah sebaliknya.


Kali ini ia mulai mempertegas maksud dari kalimatnya


yang sebelumnya.


“Biarkan Rienna pergi sendirian. Kau hanya akan


mempersulit perjalanannya nanti,” sarkas pria itu setelahnya.


Meski merasa sedikit tersindir, Zean sama sekali


tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tidak, dia tidak sakit hati. Bukan sesuatu


yang mengejutkan lagi jika kau akan disindir dengan perkataan yang sedikit


kasar.


“Aku tetap akan menaiki sepeda motor yang satu ini


sebagai bentuuk ganti ruginya!” tegas Zean sekali lagi.


Dia tetap pada pendiriannya. Pria itu sama sekali


tidak berubah. Dia masih tetap berada pada keputusannya yang sebelumnya. Tidak


ada yang berubah. Zean akan tetap mempertahankan kemauannya. Dia tidak akan


mudah menyerah begitu saja. Sekali pun itu terhadap Immanuel.


Di sisi lain, Agatha hanya bisa menghela napasnya


dengan kasar. Kali ini dia sudah benar-benar pasrah. Ia bahkan tidak akan bisa


mencegah pria itu lagi. Terserahnya saja. Agatha tidak mau jadi pusing sendiri


karena yang satu itu.


“Baiklah, kalau begitu kau bisa menggunakan sepeda


motor Rienna,” kata Immanuel.


“Kau, ikut bersamaku!” perintah pria itu kepada


Agatha.


Sekarang ia tidak akan melarang Zean lagi untuk


menumpang di sepeda motor Agatha atau yang selama ini mereka kenal sebagai


Rienna. Dia tetap bisa pergi ke markas utama dengan menggunakan kendaraan yang


satu itu. Tapi, dengan persyaratan Agatha harus pergi bersama Immanuel.


Sebagai pemimpin di antara mereka semua, Immanuel


berhak untuk membuat keputusan apa saja. Dan tidak ada alasan bagi mereka untuk


menolak keputusan tersebut, selama dirasa masih cukup masuk akal. Sepertinya


keputusan yang dibuat oleh pria itu tadi sudah tepat dengan mengambil jalan


tengahnya.


Agatha tampaknya sama sekali tidak keberatan jika


harus satu kendaraan dengan Immanuel. Setidaknya untuk saat ini dia sudah bisa


mempercayai pria itu. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan juga. Sehingga


tidak perlu khawatir. Kalau pun sampai terjadi sesuatu yang berada di luar


dugaannya, Agatha sudah cukup terbiasa menghadai situasi darurat. Dia bisa


melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya. Terlebih mengingat status


pekerjaan gadis itu sebagai salah satu enggota kepolisian yang kerap berhadapan


dengan para penjahat kelas kakap, menangani para mafia seperti mereka pasti


bukan sesuatu yang sulit lagi.


“Baiklah kalau begitu!” seru Zean dengan  antusias. Menandakan jika kali ini ia juga


setuju dengan pria itu.


“Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Immanuel kepada


satu-satunya gadis yang ada di sana.


“Aku tidak masalah!” balas gadis itu.


Setelah semua masalahnya selesai, mereka segera naik


ke kendaraannya masing-masing. Bersiap untuk berangkat ke markas utama. Seperti


yang sudah mereka sepakati sebelumnya, jika Agatha akan pergi bersama Immanuel.


Sementara itu Zean akan menggunakan sepeda motor gadis itu.


“Pegangan yang erat!” peringati Immanuel.


Dengan perasaan ragu-ragu, Agatha mulai mengeratkan


pegangannya. Mau tidak mau ia harus menuruti perkataan pria ini. Kalau tidak


bisa-bisa ia terjatuh dari atas kereta. Daripada harus celaka, lebih baik ia


mengikuti apa yang dikatakan pria itu saja.


Sebenarnya Immanuel


tidak berkendara dengan terlalu kencang. Biasa saja. masih tergolong kecepatan


standar. Namun, terkadang secara mengejutkan ia suka menaikkan kecepatannya


secara tiba-tiba.